
Tahun 1236, 12 November.
Istana Kerajaan, Ibukota Lombart.
Malam Hari.
"Nick, tinggalah di ibukota dan awasi pergerakan Ares."
Kata-kata tersebut terngiang dalam benak Pangeran Ketiga Kerajaan Rowling, Nick von Holfart Rowling, yang sedang terbaring di atas ranjang besar di dalam kamarnya.
Beberapa kali dia telah menggulingkan tubuh gemuknya, namun tidak sekalipun dirinya dapat tertidur nyenyak seperti hal yang dapat ia lakukan setiap harinya.
"Sial." Perlahan bangkit, Nick meratapi suasana ruangan yang remang karena pencahayaan lentera.
Bergerak menuju salah satu meja di sudut ruangan, Nick mengambil sebuah gulungan perkamen kecil yang diberikan oleh kakak kandungnya, Lucas, dari laci meja tersebut.
Sembari duduk tepat di hadapan jendela yang menampilkan kegelapan malam, Nick mendekatkan perkamen kepada cahaya lentera dan sekali lagi membaca isinya dengan seksama.
Perasaannya entah mengapa sangat gundah, Nick benar-benar tidak mengerti mengapa perasaannya tidak menyenangkan sejak beberapa hari terakhir.
Berisikan langkah-langkah apa saja yang dapat terjadi jika tiga faksi lain bergerak, Nick pada awalnya berpikir jika kakaknya terlalu waspada. Namun, beberapa diantara hal tersebut telah menjadi kenyataan.
Lebih dari 2 pekan semenjak kedua pangeran meninggalkan ibukota untuk mempersiapkan pasukan militer yang akan melakukan invasi menuju Natrehn tepat setelah musim dingin berakhir.
Sesuatu yang diwaspadai Lucas telah terjadi, Faksi Pangeran Kedua berusaha untuk memblokade barang-barang yang berasal dari Wilayah Duke Holfart yang berada di wilayah selatan kerajaan yang berbatasan langsung dengan laut.
Bagi Duke Alein, wilayah sentral kerajaan adalah domain miliknya dimana ia memegang kekuasaan penuh. Wilayah Alein terletak di selatan dari wilayah para bangsawan utara, yang membuatnya dapat mengendalikan seluruh pergerakan logistik dari timur kerajaan menuju ibukota.
Ada rasa kekhawatiran tinggi, meskipun sebelumnya rencana tersebut telah digagalkan oleh para bangsawan Faksi Lucas, Nick tidak mengerti mengapa Margrave Francois belum bergerak hingga saat ini.
Nick tentu memahami alasan kakaknya meninggalkan ibukota. Bagi Lucas, memiliki prestasi militer yang lebih baik dari Ares adalah sesuatu yang sangat penting—yang juga tidak berbeda dengan anggapan Zee.
Dengan terpaksa, keduanya bergerak menuju utara dimana Lucas mempersiapkan diri di Pangkalan Militer yang telah dibuat di Tanah Vietra dengan 7 ordo ksatria beserta 80.000 tentara reguler kerajaan, sedangkan Zee mengerahkan 5 ordo ksatria beserta 70.000 tentara reguler—meninggalkan sekitar 60.000 tentara reguler yang tersebar di seluruh penjuru kerajaan dengan hanya 5.000 prajurit untuk menjaga keamanan ibukota.
Tentu, hal tersebut tidaklah termasuk pasukan dari para bangsawan faksi. Jika pasukan militer tersebut dibentuk menjadi sebuah pasukan gabungan, kekuatan Lucas akan membengkak menjadi sekitar 200.000 prajurit di samping Zee yang juga bertambah hingga berjumlah sekitar 180.000 prajurit.
Akibat dari hal tersebut, ibukota tidak lagi dapat dikatakan aman untuk kehidupan para bangsawan. Intaian para pembunuh seolah menjadi momok menakutkan semenjak para tentara meninggalkan penjagaan ibukota—yang menyebabkan banyak dari mereka yang kembali menuju wilayahnya, termasuk juga Ares.
"Francois... mengapa kalian belum bergerak hingga saat ini?" Kata-kata Nick terasa sangat gelisah.
Jika Francois dan Rueter telah menunjukkan suatu gerak-gerik—meskipun itu hanya sedikit, sebuah ketenangan tentu akan menyelimuti pikiran Nick.
Namun, hal tersebut sangatlah berbeda jika mereka tidak melakukan apapun.
Nick mengerti permusuhan ayahnya, Duke Linius, serta Duke Holfart dengan Margrave Francois. Menimbang-nimbang keadaan ibukota yang menurutnya terlalu banyak celah keamanan, akan aneh jika Francois tidak melancarkan setidaknya sebuah manuver politik.
Memandang bulan yang sinarnya terpancar hingga memasuki jendela di hadapannya, Nick benar-benar berharap setidaknya dirinya dapat kembali menjalani rutinitas hariannya dengan normal.
Pun tidak berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Lucy—yang terlelap di atas ranjangnya namun terlihat tidak memiliki sedikitpun ketenangan dalam tidurnya.
Beberapa kali dia telah terbangun karena mengalami mimpi buruk. Hingga membuatnya kembali terbangun, dia segera mengingat ancaman Zee jika tidak mematuhi apa yang telah diperintahkan kepadanya.
"Hah!" Lucy sekali lagi terbangun hingga terduduk. Tubuhnya dipenuhi oleh derasnya keringat, wajahnya terlihat penuh kegelisahan.
Mengambil salah satu gelas yang penuh air yang berada di atas meja di samping ranjangnya, Lucy menegaknya dengan cepat.
TAK!
Sekali lagi gelas kosong bertambah di samping ranjangnya, Lucy mengambil napas dalam untuk menenangkan dirinya. Tidak dapat tidur dengan nyenyak, Lucy pun bangkit dari tidurnya.
Dok.
Dok.
Tampak sebuah topeng yang sangat berbeda dengan apa yang biasanya dikenakan oleh Night Walker dari balik jendela.
Lucy melangkah mundur, seketika tubuhnya dipenuhi ketakutan disaat orang bertopeng yang mengenakan jubah hitam memasuki kamarnya.
"Apa yang terjadi denganmu, Lucy?" Dari balik topengnya, pria tersebut menatap Lucy dengan penuh keheranan.
Lucy benar-benar mengingat dengan jelas siapa sosok tersebut, pria yang setiap malam mengirimkan bawahannya, pria yang akan menyelamatkannya dari genggaman faksi, dan juga pria yang tidak dapat dimiliki olehnya.
Sedikit menjadi bersemangat, Lucy kembali mendekati sosok tersebut dengan langkah cepat, "Aku tidak menyangka bila kamu akan menyelinap ke kamarku. Kudengar, kamu telah meninggalkan ibukota, Ares."
"Aku memiliki sedikit urusan yang harus aku lakukan di ibukota." Ares membuka topengnya yang berwarna keperakan. Untuk sesaat, dia melihat getaran samar yang dialami oleh tubuh Lucy, "Apakah kamu baik-baik saja?"
"Um... aku dalam keadaan baik..." Lucy menggeleng ringan dengan wajahnya yang tampak penuh kebahagiaan, yang segera berubah kembali menjadi keruh, "Hanya saja... entah mengapa beberapa hari terakhir aku selalu bermimpi buruk."
"Begitu." Ares mengeluarkan beberapa botol dari dalam tas kecilnya. Menyerahkan salah satunya kepada Lucy, Ares tersenyum dengan niat menghangatkan perasaannya, "Ciumlah aroma dari botol ini."
"Apa... ini?" tanya Lucy.
"Yah, cium saja." Ares berjalan mendekati meja yang berada di samping ranjang dan meletakkan beberapa botol obat di atasnya.
Melihat banyak gelas berada di atasnya, kening Ares seketika berkerut. Pandangannya pun teralihkan kembali menuju Lucy, "Aku akan menunggumu hingga tertidur kembali."
Ada sedikit rasa kesepian di dalam hatinya. Meskipun begitu, Lucy sangat bersyukur jika Ares melakukan hal tersebut padanya. Kedua sudut bibirnya pun terangkat, Lucy kembali melangkah menuju ranjangnya dan hendak kembali terbaring.
Namun, sodoran sebuah perkamen yang diberikan kepadanya sejenak menahan tubuhnya yang hendak terbaring, "Bolehkah aku... mengetahuinya?"
"Di dalamnya berisi beberapa hal yang dapat kamu lakukan jika keadaanmu terdesak serta apabila kedua faksi pangeran bermanuver dengan kasar yang dapat membahayakan keselamatan penduduk ibukota. Aku telah menyiapkan beberapa tempat persembunyian sementara di ibukota." Lugas, namun terasa penuh perhatian kepada Lucy yang membuatnya tersenyum penuh syukur.
Salah satu tangannya menepuk-nepuk ranjang untuk memberi tanda hingga Lucy kembali terbaring, Ares pun menatap Lucy kembali dengan penuh penyesalan, "Meskipun tidak sebaik mansion ini... Kuharap, kamu dapat bertahan sejenak di tempat itu..."
"Tidak! Aku sangat bersyukur atas bantuanmu! Bahkan, aku tidak keberatan jika itu adalah kandang kuda!" timpal Lucy sedikit keras.
"Begitu..." Tersenyum penuh syukur, Ares merasa bahwa semua hal yang dia lakukan tidak dapat dibandingkan dengan informasi yang selama ini Lucy serahkan, "Aku meninggalkan beberapa obat untukmu karena mungkin Night Walker tidak akan dapat menjengukmu sesering dahulu."
"Eh?!" Lucy terkejut, perhatiannya kembali terfokuskan kepada Ares yang terduduk di sampingnya, "Bolehkah aku mengetahui alasannya?"
"Maaf... aku tidak dapat memberitahumu. Kupikir... itu akan sangat berbahaya untuk hidupmu jika kamu mengetahuinya," sesal Ares.
"Begitu... aku mohon untuk memberikan rasa terima kasihku padanya. Karena dia... telah kuanggap sebagai temanku, meskipun aku tidak benar-benar mengetahui siapa dia sebenarnya," ujar Lucy dengan nada menyesal.
Senyuman kembali nampak, Ares sangat bersyukur jika Night Walker dapat setidaknya memulihkan kondisi mental Lucy yang baginya telah dianggap rusak.
"Baik, aku berjanji." Kata-kata Ares sekali lagi membuat cerah perasaan Lucy.
Pandangannya perlahan kembali tertutup, entah mengapa hatinya tidak lagi dipenuhi kegelisahan. Memandang Ares disaat dia memutup kedua matanya, Lucy benar-benar bersyukur bahwa malam ini dirinya dipertemukan oleh Ares kembali.
Meskipun aku tahu jika kamu tidaklah mencintaiku...
Meskipun ini adalah sesuatu yang sangat mustahil...
Kuharap... kesempatan ini dapat berlangsung selamanya.
...----------------...