
Tahun 1236, 11 April.
Benteng Ligard, Wilayah Perbatasan Kerajaan Natrehn.
Siang Hari.
Pernahkah kamu mendengar sesuatu hal mengenai perang psikologis?
Perang psikologis adalah perang yang menargetkan pemikiran, emosi, perilaku, hingga kepercayaan musuh sehingga mereka mengubah sikap untuk mengurangi militansi serta penentangannya.
Benteng Ligard, benteng yang difungsikan sebagai titik penyimpanan pasokan makanan utama bagi Tentara Kerajaan Natrehn, harus sekali lagi mengalami kekacauan akibat serangan psikologis yang diberikan oleh pasukan yang telah mengepung benteng.
Banyak prajurit yang gemetar, putus asa, serta menyerah pada takdirnya hanya karena melihat sebuah benda yang berada di samping bendera Margrave Rueter.
Tentu saja, itu tidak terkecuali para perwira. Apalagi, beberapa sosok yang telah sangat mengenal Jenderal Barlock secara langsung.
Apa yang ada di benak para prajurit jika pasukan utama mereka, yang berperang melawan Kerajaan Rowling dengan kekuatan sebesar 100.000 prajurit dan dipimpin oleh salah satu dari tiga jenderal besar mereka, mengalami kekalahan telak yang menyebabkan semua pasukannya dibantai habis?
Apalagi, itu dibuktikan dengan adanya kepala jenderal besar tersebut yang dipajang di sebelah bendera terbesar musuh.
PRANG!
Seorang perwira yang berafiliasi dengan salah satu ordo ksatria Kerajaan Natrehn, melempar gelas keramik hijau ke arah jendela yang menyebabkan gelas tersebut pecah akibat mengenai tembok.
"Sialan! Siapa yang menyangka mereka dapat mengalahkan tentara yang dipimpin oleh Jenderal Barlock?!" teriak seorang pria paruh baya dengan rambut oranye pendek yang mengenakan armor ringan berwarna keperakan.
"Ma—Mayor Azter, mohon tenang!" ujar seorang pria berusia lanjut berambut silver yang mengenakan seragam birokrat dengan ketakutan.
"Kami sudah kalah, Tuan Selvan! Moral para prajurit tidak akan dapat bangkit lagi! Apalagi, mereka juga memiliki pasukan yang hampir setara dengan kita!" teriak Azter kesal.
Ya, meskipun pengepung membutuhkan ukuran pasukan yang setidaknya harus empat kali lebih besar daripada pasukan yang berada di dalam Benteng Ligard, namun mereka menyadari bahwa pasukan pengepung merupakan pasukan yang telah membabat habis 80.000 orang.
Selvan hanya terdiam dengan memasang ekspresi rumit karena tidak dapat membalas perkataan Azter yang sangat tepat tersebut.
Setelah mendengar laporan dari seorang perwira yang mengatakan bahwa musuh telah mengepung Benteng Ligard, Azter dan Selvan masih memiliki ketenangan di dalam hatinya.
Namun, ketenangan tersebut segera pupus saat perwira tersebut melaporkan tentang kepala Jenderal Barlock yang dipajang di sebelah bendera tertinggi musuh.
Dengan menyembunyikan kegelisahannya, Azter memerintahkan semua perwiranya yang telah gemetar di dalam ruangan, untuk segera pergi menenangkan diri mereka.
"Aku bahkan tidak mengerti bagaimana cara mereka membabat habis pasukan Jenderal Barlock meskipun mereka hanya memiliki sekitar 15.000 prajurit! Mereka pasti memiliki sesuatu seperti senjata rahasia!" ujar Azter yang panik.
Tentu saja, mereka tidak mengetahui bahwa pasukan utama hancur dengan sendirinya karena kesalahan Barlock yang memerintahkan pasukan untuk menaiki gunung tidak secara bertahap.
Barlock tidak mungkin mengirim pesan burung karena posisi Benteng Veldaz yang terlampau tinggi. Meskipun ia dapat memerintahkan satu regu untuk kembali, Barlock lebih memprioritaskan untuk menyelesaikan masalah yang sudah sangat kritis pada saat itu.
Melihat keadaan komandan utama pasukan bala bantuan yang panik dan gelisah karena tidak mengetahui harus berbuat apa, Selvan, yang berperan sebagai birokrat pasukan untuk mengurus perjanjian pasca perang, merasa keadaan ini sudah sangat sulit karena moral pasukan yang telah hancur.
"Saya pikir... kami harus menyerah... untuk saat ini. Setidaknya, mereka juga pasti kelelahan setelah berperang dengan pasukan utama," ujar Selvan dengan nada yang terdengar terpaksa.
Mendengarnya, Azter hanya dapat menghela napas. Seolah menyerah, dia berkata, "Saya juga tidak berpikir mereka ingin melanjutkan perang ini lebih jauh lagi karena mungkin mereka juga telah menderita kerugian besar mengingat mereka bertempur melawan 80.000 orang."
"Jika begitu, saya akan mengirimkan pembawa pesan untuk mengirim permintaan perundingan pasca perang," timpal Selvan yang telah pasrah.
Azter hanya dapat tertunduk lesu saat mendengarnya. Karena tidak ingin menunggu lebih lama, Selvan pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar ruangan untuk mengutus pembawa pesan.
"Permisi," ujar Selvan saat akan menutup pintu.
BAM!
Azter hanya berharap agar Selvan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dimana mereka tidak menderita kerugian yang besar dalam melakukan perjanjian nantinya.
Di sisi luar Tembok Benteng Ligard, seorang aristokrat muda berambut biru ditemani oleh seorang gadis cantik yang memiliki julukan White Demon dan Jenderal Tanpa Pasukan yang berdiri di sampingnya, berada dalam keheningan saat mereka menatap tembok benteng.
Ya, itu karena Excel sangat sebal dengan keputusan Ares yang tidak bermain dengan cara barbar seperti pada dua medan perang sebelumnya.
"Maafkan saya..." ujar Ares yang memiliki ekspresi sulit.
"Seharusnya kamu membantai mereka, Ares!" timpal Excel dengan nada sebal.
Mendengar perkataan dari tunangan tidak resminya, Ares hanya dapat mengerutkan keningnya karena perkataannya yang sangat tidak masuk akal.
Singkatnya, Excel hanya tahu bagaimana caranya membantai orang lain.
Perang itu merupakan lintah ganas yang menyedot dompet seorang bangsawan dengan sangat cepat, kau tahu?
Kuh, apa yang harus kukatakan kepadanya?!
Aku tidak dapat meneruskan situasi ini lebih lama lagi!
Oh, benar!
"I—itu... karena saya ingin meluangkan lebih banyak waktu bersama Anda..." balas Ares lalu tersenyum dengan mengerutkan dahinya.
Meskipun terlihat tenang dari luar, Excel menjadi sangat malu dan bersalah karena telah melampiaskan kekesalannya kepada Ares sejak tadi.
Tentu saja, Excel tidak memikirkan perasaan Ares yang ingin lebih lama bersamanya sehingga dia melancarkan strategi seperti ini.
Dengan menahan malu, Excel berkata dengan nada menyesal, "Maaf... karena aku tidak memikirkan hal itu."
"Terima kasih... Excel," timpal Ares dengan nada yang terdengar bahagia.
Ya, Ares bahagia karena berhasil menyimpan uangnya dari lintah yang bernama perang!
Namun, dia menjadi teringat akan suatu hal.
Hah?!
Bukankah aku ingin menjauhkannya agar dia tidak merepotkanku?!
Me—mengapa aku beralasan seperti itu?!
Ares pun menundukkan kepalanya dengan lesu karena menyesal.
"Ada apa denganmu?" tanya Excel setelah mengalihkan pandangannya kepada Ares.
"Tidak... apa-apa..." jawab Ares dengan lesu.
Excel pun menggandeng tangan Ares dan berkata dengan nada yang terdengar bersemangat, "Ayo bersemangatlah! Bagaimana kamu akan membunuh ayahku dalam kudeta nantinya jika kamu lesu seperti itu?"
Punggung Ares seketika begidik ketakutan karena mendengar wanita di sampingnya yang mengatakan "membunuh ayahku" dengan nada cerah. Ares pun segera berdoa di dalam hatinya agar anaknya dengan Excel tidak membunuhnya jika dia sudah besar.
K—kupikir... aku harus merawat anakku agar aku tidak membesarkan seseorang seperti wanita ini.
Ares mengubah ekspresinya menjadi tersenyum cerah. Lalu, ia berkata, "Baik, terima kasih."
Tak lama kemudian, seorang perwira mendekati mereka berdua dan berlutut dengan menundukkan kepalanya. Ia pun berkata, "Yang Mulia, Tuan, Natrehn telah menyerah! Seorang utusan dari pihak Natrehn telah datang untuk mengantarkan surat dan permohonan untuk melakukan perundingan!"
Hmm, cepat.
Aku tidak berpikir hanya dalam beberapa jam, moral mereka telah terperosok jatuh.
Apakah pengaruh Jenderal Barlock terlalu luar biasa hingga Natrehn bersikap seperti itu?
Yah, ini juga menghemat waktuku.
"Bawa ke tenda, aku akan menemuinya di sana," perintah Ares tegas.
"Ya, Pak!" jawab prajurit itu lalu bangkit dan pergi.
Di mana langit biru berada, Ares hanya menatapnya dengan perasaan rumit.
...----------------...
Catatan :
Aku akan beristirahat, jadi tidak akan update selama sekitar 3 hari.
Menurut kalian, apa yang kurang dari novel ini?
...----------------...