
Tahun 1236, 20 Juli.
Jalan Utama, Kota Ereth.
Siang Hari.
Hmm, untuk kehamilan yang berusia sekitar satu bulan...
Bukankah perut istriku terlihat sedikit lebih besar?
Tatapan Ares sangat terfokus kepada perut Excel yang telah terlihat membuncit saat mereka berada di dalam gerbong kereta kuda.
Beberapa hari berlalu semenjak Ares beserta rombongannya meninggalkan ibukota. Selama perjalanan, Ares memerintahkan untuk menurunkan kecepatan kereta lebih lambat dibandingkan dengan biasanya mengingat kondisi fisik Excel yang perutnya semakin membuncit.
Hal lain yang membuat Ares lega adalah dirinya yang tidak perlu untuk melakukan pertemuan dengan para bangsawan teritorial yang wilayahnya terletak di antara ibukota dan Wilayah Rueter mengingat mereka telah bertemu selama pertemuan aristokrat di ibukota.
Meskipun hal ini dapat dikatakan tidak sopan, namun tidak ada bangsawan teritorial yang mengeluh karena mereka memahami bahwa diri mereka sendiri yang juga terlampau lelah.
Tetap saja, meskipun sebuah parade telah disiapkan untuk kedatangan rombongan mereka, Ares menolak dan melarangnya mengingat Excel yang baginya lebih membutuhkan suatu ketenangan dibandingkan dengan sambutan meriah.
Melihat suaminya yang diam termenung dan menatap perutnya, sedikit membuat Excel sebal, ia pun berkata, "Aaa!" sembari menutupi perutnya dengan kedua tangannya.
Kuh, baik...
Pandangannya teralihkan kembali menuju istrinya. Ares menusuk buah yang ada di atas piring di pangkuannya dengan menggunakan garpu kembali dan mengarahkannya menuju mulut Excel.
"Aahm!" ujar Excel saat melahap buah dan mengunyahnya kembali.
Seketika, raut wajah Excel diliputi kebahagiaan kembali hingga tersenyum cerah yang membuat Ares terpana akan kecepatan perubahan hatinya yang sangat luar biasa.
Sembari dirinya yang disuapi Ares, Excel seketika mengingat suatu hal yang telah dilupakannya. Sedikit rasa kesal yang tercampur di dalam nadanya, Excel berkata sembari tersenyum, "Jadi... berapa banyak wanita yang telah kamu sentuh sebelum menikahiku?"
Apa yang terjadi pada seorang pria yang baru saja menikah diberi pertanyaan seperti itu oleh istrinya?
Tentu saja, kepanikan yang luar biasa.
Wajah Ares seketika teralihkan menuju sisi lain istrinya tersebut secara patah seperti robot. Tangan kanan Excel segera menggenggam erat pergelangan tangan suaminya yang memiliki gerak-gerik akan melompat keluar gerbong.
Rasa takut menghantuinya.
Ares tahu bahwa dirinya tidak dapat terselamatkan lagi, bagai seseorang yang terjebak di atas kapal yang karam di lautan lepas.
Menyerah, Ares dengan jujur menjawab, "E—enam..." sembari menunduk karena sangat takut.
Ya, aku tidak berbohong!
Aku belum pernah menyentuh Esther!
Namun, bertentangan dengan harapannya, Excel segera melepaskan genggaman tangannya yang membuat Ares sedikit terkejut. Pandangannya teralihkan kembali menuju istrinya. Ares menemukan Excel sedang menatapnya dengan tajam.
"Jadi, kamu tidak melepaskan mereka, bukan?" tanya Excel.
Mengandung penuh dendam, Ares tahu bahwa pertanyaan ini merupakan suatu ujian kepadanya.
Bagi Excel, seorang pria yang memiliki sifat seperti saudaranya, Pangeran Kedua, beserta ayahnya, sangat membuatnya kesal.
Meskipun Excel benar-benar ingin membuat Ares hanya untuk dirinya sendiri, dia tidak dapat menutup mata dengan perlakuan masa lalu suaminya—yang mana Excel tidak ingin Ares memiliki sifat seperti dua orang dari keluarganya tersebut.
Ayahnya, seorang bangsawan yang tidak pernah mempedulikan ibunya dan bahkan melakukan suatu pembunuhan berencana terhadapnya, beserta Zee, seorang bangsawan yang hanya ingin bermain-main, sangat membuat Excel muak.
Kepanikan tetap melanda. Bagi Ares—seseorang yang hidup di era modern dimana monogami merupakan akal sehat—tentu merasakan rasa bersalah dan rasa takut yang luar biasa kepada Excel. Berbeda dengan Excel yang merupakan seseorang yang menganggap poligami sebagai akal sehat masyarakat bangsawan dan orang kaya.
Ares tentu memahami apa yang diinginkan oleh Excel, namun dirinya hanya dapat pasrah mengenai hal apa yang akan dilakukan oleh wanita yang telah menjadi istri sahnya tersebut.
Dengan sedikit panik, Ares menjawab, "Tidak! Aku benar-benar merawat mereka semua!"
"Begitu..." timpal Excel dengan perlahan menyipitkan kedua matanya.
Ku!
Dengan panik membuka jendela di sampingnya, Ares segera menemukan Dia, kepala pasukan pengawalnya, berkuda tepat di samping gerbong.
"Dia, mansion!" ungkap Ares.
Tak terkecuali Dia, semua pengawal yang mendengar perintah Tuannya seketika menjadi gelisah.
A—apa yang harus kulakukan?!
Apakah akan terjadi suatu pembunuhan?!
Anakku, segeralah bawa Wilma dan kabur!
Berbeda dengan Ares yang telah mengetahui sifat asli istrinya tersebut, Dia dan para ksatria bawahannya hanya dapat berpendapat bahwa sosok Excel merupakan seorang wanita yang sangat egois disaat mereka berperan mengawalnya.
"B—baik, Tuan," timpal Dia.
Suasana yang menyelimuti rombongan segera berubah 180 derajat. Menjadi suram, mereka pun dengan perlahan menurunkan kecepatan agar semakin lama mencapai mansion pribadi Tuannya.
Harapan mereka sirna. Tepat di balik pagar mansion, Milly—yang sedang menggendong Wilma—baru saja memasuki pagar dan hendak memasuki mansion—yang segera ditahannya karena mendengar derap langkah tapal kuda.
Milly berbalik dan segera mengerutkan keningnya. Sedikit aneh melihat kereta Tuannya tersebut yang segera menuju mansion—yang seharusnya menuju kastil terlebih dahulu.
Semakin mendekat, kereta Ares akhirnya tiba tepat di depan gerbang mansion.
"Apakah mansion ini adalah tempatmu merawat mereka?" tanya Excel.
"I—itu... benar..." balas Ares.
Pintu pun terbuka, melihat kaki ramping seorang wanita yang turun dari gerbong tersebut membuat Milly segera tersadar akan sepupu sekaligus Tuannya yang baru saja melangsungkan pernikahan di ibukota.
"Maa," ujar Wilma dari gendongan Milly.
Milly segera merasa sangat panik. Meskipun dirinya telah bertemu secara langsung dengan Excel saat berperang melawan Natrehn beberapa bulan lalu, namun dia belum mengetahui secara pasti sifat dari istri sah Tuannya tersebut—yang bahkan memiliki rumor buruk.
Tidak sesuai dengan harapan Milly, mata Excel segera terbuka lebar disaat dia melihat seorang wanita yang mengenakan seragam militer menggendong seorang bayi setelah turun dari kereta kuda.
Excel pun kembali berbalik kepada Ares—yang telah turun dari gerbong setelahnya—dan berkata, "Siapa dia?"
Sedikit penundaan, Ares menjawab, "Seseorang... yang telah kuberitahukan kepadamu sebelumnya... selir sekaligus sepupuku... Milly, dan anakku... Wilma."
Perasaan yang sangat rumit.
Excel segera tertunduk lesu disaat mengetahui suaminya telah memiliki anak dengan wanita lain.
Meskipun Excel merasakan kelegaan di dalam hatinya karena suaminya tidak seperti kakaknya dan para bangsawan keji lain, tetap saja dia tidak pernah mengira bahwa Ares akan merawat selir dan gundiknya hingga mereka memiliki anak.
"Berapa?" tanya Excel penuh dendam.
"Eh?" balas Ares dengan gugup.
"Berapa anak yang telah kamu miliki?" tanya Excel kembali dengan nada yang sama.
Tatapan mata Ares segera melirik Milly. Melihat reaksi Milly yang menganggukkan kepalanya dengan cepat, Ares pun memutuskan untuk memberi tahu kebenarannya.
"Tiga... dan akan menjadi lima..." jawab Ares sangat gelisah.
Sangat terkejut, Excel kembali menatap suaminya dengan penuh kekesalan sembari berkata, "Hah?!"
"I—itu tidak termasuk... denganmu..." balas Ares.
Wajahnya kembali tersenyum, namun tidak dengan kelopak matanya yang berkedut. Excel menggenggam tangan Ares dengan kuat lalu berkata, "Kupikir... aku membutuhkan suatu pembicaraan pribadi denganmu, Sayang."
Saat itu, Ares tersadar akan suatu hal yang sangat penting.
Kurasa... aku benar-benar tidak dapat memprediksikan sedikitpun emosi dari seorang wanita yang sedang hamil.
...----------------...