
Tahun 1236, 19 Agustus.
Wilayah Utara Benua Barat.
Pagi Hari.
JRASH!
Kepala seorang wanita seketika terputus dari tubuhnya akibat terkena tebasan Greatsword seorang pejuang muda Suku Utara berbadan kekar yang memiliki rambut keriting hitam dengan jenggot coklat tipis, yang mengangkat kerah Ares tepat setelah dirinya membunuh Harek.
Sembari menatap mayat tiga orang di depannya, pejuang tersebut meletakkan Greatswordnya kembali di punggungnya.
"Bagaimana perasaanmu, Vigfuss?" tanya Ares.
"Aku... baik-baik saja, karena hal ini adalah apa yang diwasiatkan oleh ay—tidak, Kepala Suku Harek sebelumnya," jawab Vigfuss bernada berat.
Vigfuss kembali membalikkan badannya dan melihat Ares beserta para calon kepala suku selanjutnya. Sejenak memandang mereka dengan seksama, muncul suatu kelegaan tersendiri di dalam hati Vigfuss—meskipun rasa pertentangan terhadap pembunuhan ketiga calon murid Shaman yang baru saja dilakukannya tetap ada.
Moldan, yang berdiri dengan bantuan calon kepala suku lain, memandang ekspresi rumit yang ditampakkan Vigfuss dengan sedikit sebal.
"Ayo pergi," ajak Moldan.
Para calon kepala suku selanjutnya pun segera meninggalkan Vigfuss dan Ares sendirian di dalam sebuah rumah kayu.
"Mungkin ini sedikit berat, tapi kau tetap tidak dapat menolak kenyataan. Cobalah untuk menerimanya secara perlahan," timpal Ares.
"Ya..." jawab Vigfuss.
Melangkahkan kakinya, Ares pun pergi meninggalkan Vigfuss sendirian untuk memberinya suatu ruang pribadi.
Lebih dari satu hari telah berlalu semenjak kematian Harek, Sang Kepala Suku Utara. Tentu saja, akibat dari Hukum Nord—sebuah hukum yang melarang adanya dendam dan pembalasan—serta kematian Harek yang terlihat sangat damai, tidak ada seorangpun dari anggota suku yang menyerang Ares, meskipun beberapa diantara mereka masih memiliki perasaan berat.
Disaat mereka telah menguburkan mayatnya, putranya, Vigfuss, menemukan suatu surat wasiat yang diletakkan di dalam kamarnya.
Tidak dapat membaca dan menulis, Vigfuss menyerahkan surat wasiat tersebut kepada Ares untuk membacanya.
Awalnya, Vigfuss berniat untuk memberikan surat wasiat Harek kepada seorang tetua yang diketahuinya dapat membaca dan menulis, namun dia segera mengurungkan niatnya karena merasa akan membuat kekacauan lebih lanjut jika dia menyerahkannya kepada tetua suku tersebut.
Saat membacanya, mata Ares sedikit terbuka lebar. Ares tidak menyangka bahwa surat tersebut berisi mengenai semua informasi suku-suku yang berdiam di tanah utara, yang juga berisikan informasi mendetail tentang calon murid Sang Shaman—yang mana tidak ada diantara calon murid tersebut yang merupakan anggota Suku Utara.
Akibat belum diputuskan secara resmi, tidak ada seorangpun penduduk Suku Utara yang mengetahui sosok calon murid Sang Shaman, bahkan seorang tetua pun tidak mengetahui keberadaannya.
Sekali lagi memberikan penghormatan dengan sikap seorang ksatria yang membuat Vigfuss kebingungan, Ares pun mengumpulkan semua calon kepala suku berikutnya dan mengadakan suatu musyawarah dengan mereka.
Hasil mufakat telah tercapai, mereka sepakat untuk membunuh ketiga calon murid tersebut tanpa mengumumkannya kepada penduduk desa karena mempertimbangkan isi surat wasiat Harek sebelumnya.
Hasil lainnya adalah adanya putusan untuk secara perlahan meninggalkan ibadat kepada Dewa Kronos, walaupun mereka mengetahui jika hal tersebut dapat berlangsung hingga puluhan tahun lamanya.
Walaupun pada awalnya tidak ada yang merasa sanggup, Ares memancing mereka dengan memanfaatkan posisi yang mereka miliki sebagai calon kepala suku dan meremehkan gelar tersebut, yang membuat mereka dengan terpaksa menerimanya karena harga diri dan kebanggaan mereka yang sangat tinggi.
Tentu saja, meskipun hal ini akan memiliki banyak rintangan, bersama dengan ketiga perwakilan suku besar lain, kesepakatan untuk mempersatukan seluruh suku-suku barbarian telah tercapai demi terciptanya kedamaian di tanah utara dan sebagai langkah untuk mengantisipasi pergerakan militer Natrehn di masa depan, yang tentu memiliki Ares sebagai pihak penengah yang memiliki posisi setara dengan empat kepala suku besar.
Keluar dari sebuah bangunan kayu sederhana yang di sekitarnya tidak terdapat bangunan lain, Ares memandang penuh takjub kepada padang rumput di hadapannya.
Merasakan hilir angin yang berhembus dengan suasana yang tidak begitu panas karena langit yang berawan, sedikit membuat Ares menyadari bahwa musim panas akan segera berganti.
"Gnery, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Havarr.
Perhatian Ares teralihkan menuju Havarr, Astrid, Alfr, dan Askarr yang berdiri tidak jauh darinya. Memandang teduh pada beberapa orang yang sejenak mengisi kesehariannya, Ares berpikir bahwa dia sedikit merindukan waktu bersama dengan mereka.
"Kupikir, aku akan kembali untuk saat ini," jawab Ares sembari tersenyum masam.
"Eh?!"
"Hah?!"
"Ap—apa yang kau katakan?!" teriak Alfr sedikit panik.
"Apakah kau benar-benar memiliki sebuah tempat tinggal?!" teriak Havarr yang sangat terkejut.
"Bawa aku!" teriak Astrid penuh paksaan.
Sembari berteriak karena sangat terkejut, mereka bertiga pun mendekati Ares dengan langkah cepat.
"Hah..." Ares menghela napas dalam sembari menutup kedua matanya.
Pandangan Ares sekali lagi tertuju kepada tiga orang yang baginya sangat merepotkan tersebut.
"Dengar, aku akan memberi tahu namaku yang sebenarnya," ujar Ares dengan wajah penuh keseriusan.
Glup.
Sedikit tersentak dengan perubahan ekspresi Ares secara tiba-tiba dengan nada yang serius, mereka bertiga segera terdiam untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya.
"Dan jangan katakan kepada siapapun karena ini menyangkut keselamatanku pribadi," jawab Ares menatap kuat pada mereka bertiga.
Astrid, Havarr, dan Alfr mengangguk ringan sebagai tanggapan sembari tetap memfokuskan perhatiannya kepada Ares.
"Aku adalah seorang bangsawan dari negara yang berada jauh di selatan," ujar Ares.
Glup.
Sekali lagi mereka bertiga menelan ludah. Mereka tentu telah diajarkan sebuah kasta sosial yang berlaku pada masyarakat yang hidup di selatan benua.
Tetap saja, tidak ada satupun diantara mereka yang menyangka bahwa Ares adalah seorang bangsawan.
Hmm, ayo beri Gnery nama keluarga setelah aku menjadi Raja.
Kupikir, dia akan sangat mensyukurinya.
"Namaku adalah... Gnery von Arcs," jawab Ares.
"Sama saja, Sialan!" teriak Astrid, Havarr, dan Alfr serempak dengan ekspresi penuh kekesalan.
Seketika, Havarr dan Alfr tersadar akan hal darurat yang pasti terjadi setelah ini, yang sangat membuat mereka panik.
Berbeda dengan Astrid yang menerjang Ares yang segera dibalas dengan kekerasan fisik karena tekad pantang menyerahnya, Havarr dan Alfr mengalihkan perhatiannya kepada Gale yang berdiri di kejauhan.
Ya, Gale merupakan seorang bawahan Ares. Tidak ada diantara mereka berdua yang tidak berpikir jika Gale akan tetap tinggal.
Mendekatinya dengan langkah cepat, mereka berdua pun segera dihadang oleh barisan calon kepala Suku Utara selanjutnya.
"Apa yang kalian ingin lakukan?" ungkap seorang calon kepala suku.
BUAGH!
Kepanikan yang begitu besar melanda, tubuh seketika dipenuhi oleh kekuatan, mereka berdua pun mengepalkan erat tangannya dan memukul beberapa calon kepala suku tersebut.
Entah mengapa, meskipun beberapa calon kepala suku memiliki statistik yang lebih tinggi, namun mereka tetaplah kalah hingga jatuh tersungkur.
Namun, pandangan mereka segera dipenuhi oleh sesuatu yang membuat mereka menjadi lebih panik.
Ya, Moldan dan Askarr telah mendekati tempat Gale berada.
Wajah Gale telah menjadi jelek, yang sangat berbeda dengan Lean, Marie, dan Arthur yang tertawa kecil di kejauhan.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" teriak Alfr.
"Minggir!" teriak Havarr.
BRUGH!
"Urgh!" teriak Askarr kesakitan.
Moldan seketika berlindung di balik rekannya yang menopang tubuhnya, meninggalkan Askarr yang diterjang kedua orang tersebut hingga terjatuh.
Mengabaikan mereka, Moldan pun mendekati Gale tanpa bantuan untuk menunjukkan keperkasaan dirinya.
Sembari tersenyum cerah, Moldan berkata, "Jadilah wanitaku, aku akan memberimu apapun."
Tidak berbeda dengan Astrid yang menyukai orang kuat, Moldan dan Askarr pun juga demikian. Seketika, tiga orang tersebut berpaling kepada Gale dengan ekspresi seolah dunia akan hancur.
Gale menutup kedua matanya sembari menghela napas dalam. Memasang ekspresi lelah di atas wajahnya, Gale pun membalas, "Maaf, aku tidak dapat melakukannya."
"Kenapa?" tanya Moldan yang sangat terkejut.
Tidak hanya Moldan, Havarr dan Askarr juga sangat percaya diri dengan wajah, postur tubuh, kekuasaan, serta kekuatan yang dimilikinya hingga membuat mereka sangat percaya diri jika mereka hendak meminang seorang wanita.
"Karena aku... adalah seorang pria," jawab Gale.
"Buahahaha!"
"Wahahaha!"
Tawa lepas pun bergema di padang rumput luas. Berbeda dengan tiga orang tersebut, Moldan, Havarr, Alrf, serta Askarr membelalakkan kedua matanya karena sangat terkejut.
Malam itu, tidak ada diantara mereka berempat yang dapat tidur dengan nyenyak akibat memikirkan jawaban luar biasa yang diberikan oleh Gale sebelumnya.
...----------------...
Catatan :
Sub arc terakhir, Chaos of The West Continent!
...----------------...