
Tahun 1236, 25 November.
Lepas Pantai Wilayah Utara Benua Barat.
Pagi Hari.
"Apa... yang sebenarnya kamu ingin katakan, Marie?" Arthur sekali lagi mengulangi pertanyaannya disaat dirinya tercengang oleh kata-kata yang Marie ungkapkan sebelumnya.
"Bagaimana pendapatmu terhadap hubungan Tuan dengan para wanitanya, Arthur?" Sekali lagi mengulangi perkataannya, Marie tidak sedikitpun menoleh kepada Arthur dan tetap terfokuskan kepada sebuah lembar perkamen kecil yang ada dalam genggamannya.
Arthur hanya dapat terdiam, seolah melihat sesuatu yang berada di luar nalarnya.
Bagi para ksatria dan bawahan, sangat tidak pantas untuk berbicara mengenai perlakuan Tuannya terkecuali tindakannya yang dipastikan membahayakan kepentingan rumah dan wilayah—tidak termasuk keluarga ksatria yang berhubungan darah dengan Tuannya serta para punggawa senior seperti Mayor Jenderal Renne dan Kepala Pelayan Owen, meskipun mereka diharuskan untuk tetap berada dalam batas kesopanan.
Di bawah langit biru yang menandakan matahari baru saja terbit, Marie bersama Arthur sedang beristirahat di bagian buritan kapal perang—yang berukuran sekitar 20 meter—tepat setelah keduanya memeriksa muatan kargo.
Sekitar satu bulan sejak pasukan ekspedisi diterjunkan Ares untuk berlayar menuju wilayah utara.
Setelah dia memerintahkan untuk melakukan pengumpulan terhadap persediaan makanan yang ada di beberapa kota besar serta melengkapinya dengan membeli panen gandum para petani kecil di banyak desa yang tersebar di seluruh Wilayah Rueter, Ares juga memutuskan untuk membeli kapal-kapal kargo dari para nelayan pengrajin serta para bangsawan yang memiliki wilayah di pesisir selatan Kerajaan Rowling.
Tepat di belakang kapal terbesar yang dinaiki oleh keduanya, Arthur dapat melihat puluhan kapal yang berlayar mengikutinya.
Mengenakan pakaian tebal untuk menahan dinginnya angin musim gugur, Arthur serta Marie menjaga kondisi tubuh mereka agar tetap dalam keadaan prima—yang juga dilakukan oleh para prajurit lain.
Keningnya berkerut, Arthur benar-benar menahan kedua bibirnya agar tidak terbuka.
Tanpa mengacuhkan Arthur yang tidak merespon, Marie membaca catatan kecil yang tertulis pada perkamen di atas tangannya, "Terlentang, duduk berpelukan dengan Milly, Woman on top dengan Amalia, Sixty nine dengan Ivy, Doggy dan Paizuri dengan Mia, Bondage dengan Ody, Reverse rap—"
"Ap—apa yang baru saja kau katakan?!" Arthur terpaksa menghentikan ucapan Marie yang sangat tidak terkontrol, meskipun wajahnya memerah karena malu.
Marie berpaling. Melihat Arthur yang wajahnya memerah, pandangannya kembali tertuju kepada catatan di tangannya, "Terlentang, duduk berpelukan dengan Milly—"
"Hentikan! Jangan ulangi lagi!" Arthur berteriak keras, wajahnya benar-benar sangat merah.
Seketika menatap sekelilingnya, Arthur menemukan banyak prajurit kapal yang sejenak menghentikan aktivitasnya dan menatap mereka berdua.
Jari telunjuknya membuat isyarat untuk diam. Tanpa penundaan, Arthur menambahkan sebuah tanda berupa garis horizontal tepat di depan lehernya.
Semua prajurit mengangguk cepat. Sepakat dalam diam untuk tidak mengatakannya kepada siapapun dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"La—lagipula, dari mana kamu mendapatkan itu?!" tanya Arthur dengan menahan urat malunya.
"Aku..." Marie kesulitan melanjutkan perkataanya, dia mengakui bahwa mengambil barang tanpa izin adalah perbuatan yang tidak benar.
Karena tatapan Arthur yang semakin terarah tajam padanya, Marie terpaksa membuka kedua bibirnya, "...mendapatkannya dari laci meja kamar tidur Tuan Ares."
Arthur menahan kepalanya. Tidak menyangka bahwa keamanan kamar Tuannya akan memiliki banyak celah, Arthur seketika kembali tersadar jika gadis di hadapannya adalah seorang pembunuh yang sangat lihai dalam melakukan sebuah operasi penyusupan.
Tetap saja, tidak sedikitpun terdapat rasa bersalah dalam diri Marie. Dengan wajah tanpa dosa, ia kembali mengungkapkan apa yang seharusnya hanya diketahui Ares seorang, "Apakah kamu tahu apa itu 'Tentacles' dan 'Ahegao'?"
"Hm? Apa yang kau maksud?" Arthur sangat bingung, tidak mengerti kata-kata yang baru saja didengarnya.
"Di sini tertulis jika hal tersebut sangat tidak mungkin dilakukan pada era ini," jawab Marie acuh tak acuh sembari menunjukkan catatan di tangannya.
"Aku tidak tahu apa itu, tapi tetap saja! Jangan melanjutkannya!" protes Arthur.
"Hmm... Kau tahu, yang paling berkesan bagiku adalah pada saat pertama kali mengintip mereka. Saat itu, Nyonya menahan kedua pergelangan kaki Tuan dan mengangkatnya ke atas lalu Nyonya memasukkannya. Aku merasa bahwa pada saat itu Nyonya mengeluarkan suara yang sangat berbeda daripada biasanya," timpal Marie acuh tak acuh.
Salah satu kelopak matanya berkedut, Arthur benar-benar sakit kepala dengan Marie yang tidak sedikitpun mengindahkan perkataannya. Sakit kepala Arthur seketika bertambah parah setelah mendengar Marie mengintip aktivitas malam Tuan beserta Nyonya yang seharusnya dia layani.
TANG!
TANG!
"Daratan! Daratan terlihat!"
TANG!
TANG!
Bunyi lonceng sangat keras serta teriakan seorang prajurit dari tempat pijakan tertinggi terdengar. Muncul kelegaan dalam hati Arthur karena dia yang dapat terbebas dari percakapan dengan gadis yang sangat tidak normal di hadapannya.
Menuju geladak dan meninggalkan Marie, Arthur menemukan daratan yang membentang luas di dalam bidang pandangannya.
"Siapkan sekoci!" perintah Arthur dengan keras.
"Ya, Pak!"
Dengan aman telah turun, Arthur bersama puluhan prajurit lain bergerak mendekati daratan—
"Tunggu!" Marie berteriak.
Masih berjarak sekitar 8 meter dari kapal, semua awak sekoci pun mengalihkan perhatiannya menuju sumber suara.
"Hup!"
Terkejut, tidak ada yang menyangka bahwa Marie telah melompat yang membuat mereka seketika panik. Bukan karena Marie yang bisa saja tewas karena tenggelam, namun karena dampak lompatan Marie yang berkemungkinan tinggi dapat menenggelamkan sebuah sekoci.
"Jangan! Jangan kesini!" teriak Arthur panik.
"Jatuhlah ke laut!'
"Jangan kemari!"
Arthur dan para prajurit mengetahui persis tingkat kekuatan seorang gadis aneh yang merupakan bawahan langsung Tuan mereka, namun kata-kata mereka tidak sekalipun diacuhkan olehnya.
KRAK!
"Sialan!" teriak Arthur dan lima prajurit yang bersamanya.
Marie mendarat tepat di atas sekoci Arthur yang menyebabkan muncul sebuah keretakan kecil. Berbeda dengan Marie yang menghela napas lega karena percobaannya berhasil, enam orang lain segera mendayung dengan kekuatan penuh menuju daratan.
"Cepat! cepat! Lebih cepaaat!"
Semua orang panik, besar harapan mereka untuk berhasil mencapai daratan sebelum tenggelam. Mereka tahu, jika sepatu mereka telah terasa basah oleh air yang menggenang.
Para prajurit yang berada di sekoci lain hanya dapat menatap penuh kasihan terhadap sekoci utama yang dinaiki oleh komandan ekspedisi mereka tersebut.
Perasaan lega segera menyelimuti hati Arthur dan para prajurit lain, mereka dipastikan dapat sampai sebelum ketinggian air mencapai betis kaki.
Ada sedikit perasaan aneh, melirik gadis yang berada tepat di sampingnya, Arthur menemukan Marie telah berdiri dan bersiap untuk kembali melompat.
"He—hentikan!" teriak Arthur panik.
"Hup!" Tidak diacuhkan, Marie melompat dengan menapak keras menuju pesisir pantai.
KRAK!
"Siaaal!"
Sekoci pun sekali lagi terdorong ke bawah. Dampak pijakan Marie membuat sekoci yang dinaiki Arthur tenggelam, membuatnya harus berenang mendekati daratan bersama lima prajurit lainnya.
Setelah menyelesaikan persiapan di pantai hingga matahari hendak mencapai puncaknya, dengan Arthur dan para korban lainnya yang terpaksa bertelanjang dada untuk sementara—
"Siapa kalian?!"
Teriakan seseorang dari batu besar yang berada di dekat mereka membuat seluruh prajurit waspada serta menghunus senjatanya.
Keluar sebuah kelompok kecil beranggotakan 7 orang dari samping batu tersebut dan mendekati mereka. Namun, Arthur sangat mengenali ciri khas yang terdapat pada masing-masing diri mereka.
Jenggot tebal dengan tubuh tinggi kekar, pedang besar serta kapak yang terhunus, serta pakaian tebal yang terbuat dari bulu.
Memasang ekspresi cerah, Arthur merasa bahwa dirinya dapat dengan mudah bertemu dengan Astrid, "Pertemukan kami dengan Astrid dari Suku Barat! Aku adalah utusan Gnery dari selatan!"
"Hah?! Mengapa kau ingin bertemu dengan Wanita Besi?!" Tanggapan negatif terlontar dari salah satu barbarian yang menghunuskan sebuah Greatsword.
"Siapa itu Wanita Besi?!" Arthur bingung, dia merasa jika hal ini akan menjadi semakin berlarut-larut.
"Heaaaa!"
Para barbarian seketika menerjang, mereka tidak sedikitpun mengindahkan perkataan Arthur.
Terbesit kembali ingatan disaat dirinya pertama kali bertemu dengan kelompok barbarian, Arthur hanya dapat menghela napas meratapi kesialannya yang telah berlangsung sejak beberapa hari terakhir.
Kupikir, aku harus menghajar mereka terlebih dahulu sebelum meminta untuk bertemu dengan Astrid.
Setelah itu... aku harus meminta mereka untuk mengawal pasokan makanan menuju Kerajaan Lethiel dengan melewati Laut Bercov...
"Hah... lelah sekali," ujar Arthur yang menghunus pedangnya dengan ekspresi lelah.
...----------------...