I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 145 : The New Era – Arc 2 <End>



Tahun 1237, 5 Juni.


Ibukota Lombart.


Pagi Hari.


Pahlawan dan Raja Iblis.


Dua gelar tersebut telah kuat melekat sebagai penilaian atas Ares von Rueter di dalam benak banyak orang dari berbagai kalangan.


Banyak penduduk yang menganggap Ares bak seorang pahlawan. Berhasil menaklukkan Wilayah Natrehn secara keseluruhan sekaligus membalas dendam sabotase mereka dengan mengabarkan bila seluruh anggota Keluarga Kerajaan Natrehn telah tewas terbunuh.


Begitu pula dengan penduduk Scandiva, penilaian tentang Ares begitu tinggi hingga membuatnya diidolakan oleh seorang anak kecil. Strateginya mengambil hati para penduduk dengan memutar roda perekonomian yang lesu, membantu dengan bantuan langsung berupa uang dan makanan, serta memperbaiki infrastruktur ibukota dan sekitarnya sangat sukses.


Pun hal tersebut juga terjadi pada penduduk Kerajaan Lethiel, yang terselamatkan dari maut musim dingin karena bantuan makanan dan pakaian yang dikirimkan Ares. Terlebih lagi, penduduk Lethiel merasa sangat bahagia karena mendapat janji bila Ares akan memperbaiki kondisi negara mereka.


Tidak berbeda dengan sebagian orang dari kalangan aristokrat. Sebuah bantuan besar telah datang dari Ares berupa pemulihan wilayah serta rumah bangsawan yang terdampak invasi militer Lucas dan Zee, hingga membuat banyak dari mereka merasa sangat bersyukur dan berhutang budi.


Tidak luput dari anggapan, orang-orang yang tinggal di Tanah Utara juga merasakan keselamatan akibat apa yang telah Ares lakukan. Jika Ares tidak membantu peperangan Suku Barat serta Suku Timur, besar kemungkinan bila seluruh barbarian akan punah.


Rasa syukur yang sangat dalam juga telah berada jauh dalam hati, banyak persenjataan serta bantuan makanan telah Ares kirimkan, hingga persatuan yang terbentuk atas suku-suku barbarian secara keseluruhan, membuat mereka benar-benar ingin berubah untuk mengenal dunia luar yang sangat asing bagi mereka.


Namun, sebagian orang menilai bahwa Ares merupakan sosok raja iblis yang baru saja terbangkitkan, terutama berasal dari kalangan aristokrat tingkat tinggi.


Memiliki kekuatan berupa fisik; militer; finansial; hingga diplomasi, pengetahuan, informasi, pengaruh politik, hingga dukungan besar dari para penduduk, para bangsawan tingkat tinggi menilai bahwa Ares bisa saja mengadu domba dua kekuatan besar dunia demi keuntungannya sendiri.


Namun, tidak ada diantara para bangsawan tersebut yang menilai bila Ares memiliki kepribadian seperti itu. Mereka sangat memahami bila Ares juga akan memberikan yang terbaik bagi para pengikutnya, sebanyak yang ia mampu.


Karenanya, dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki oleh Sang Raja Iblis, para bangsawan bersumpah setia kepadanya agar dapat meraih impian serta tujuan mereka, yaitu wilayah yang kaya serta keamanan yang terjamin di bawah perlindungannya.


Rekam jejak telah membuktikan. Ares mampu menyelesaikan kekacauan yang menimpa West Continent, membuat para bangsawan serta dua pejuang barbarian menyepakati sebuah pakta yang kini telah menjadi tonggak sejarah.


Pakta Scandiva.


Pakta yang disepakati oleh ratusan keluarga bangsawan, baik berasal dari Rowling maupun Natrehn, hingga Keluarga Kerajaan Lethiel serta para barbarian yang diwakilkan oleh delegasi mereka, mengenai dasar yang menjadi landasan pendirian sebuah negara baru, yang mempersatukan sebagian besar wilayah benua barat.


Membentuk sebuah negara dengan sistem pemerintahan monarki absolut, membuat seluruh dekrit yang Ares serta Excel keluarkan, menjadi sebuah sumber hukum, ketetapan, hingga pemutusan yang telah bersifat final untuk sebuah persengketaan, meskipun Ares memahami bila ia memiliki banyak pekerjaan seperti mempersatukan kembali penduduk Rowling dan Natrehn yang sejak dahulu telah saling berperang.


Kini, Kerajaan Natrehn telah berada dalam angan, telah melebur menjadi sebuah negara baru bersama Kerajaan Rowling, Kerajaan Lethiel, serta suku-suku utara, yang menyebabkan munculnya kekuatan ketiga terbesar dunia serta menciptakan sebuah golongan baru.


Pedagang.


Ares telah mengatakan pada para bangsawan bahwa ia akan membuat hak-hak para pedagang terlindungi, dengan memberikan janji kepada para bangsawan sebuah pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.


Merasakan sebuah mahkota berwarna ungu dengan balutan emas, Ares perlahan mengadahkan wajahnya, kembali menatap sosok ratu yang pernah ia tawan sebelumnya, menyebabkannya memiliki sebuah perasaan rumit.


"Selamat, Yang Mulia." Nieve tersenyum, cerah penuh kebahagiaan, tanpa sedikitpun mempedulikan keadaan putranya yang kini menghilang.


Tanpa membalas, kening Ares muncul sebuah kerutan kecil, menyebabkan Nieve kembali membuka kedua bibirnya dengan ekspresi khawatir, "Ada apa?"


"Apakah Anda... tidak sedikitpun khawatir kepada Zee?" bisik Ares.


"Tidak." Nieve kembali tersenyum, namun Ares segera mengerti bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang Nieve tidak ingin orang lain sentuh, menyebabkan Ares kembali melangkah mundur.


"Maaf," bisik Ares.


"Benar. Bagaimanapun... saya adalah ibunya, mohon setidaknya berikan sebuah kematian tanpa rasa sakit kepadanya," bisik Nieve.


"Maaf, saya tidak dapat melakukannya," timpal Ares lirih.


"Begitu." Nieve kembali melukiskan kecerahan dalam ekspresinya, "Sangat disesalkan."


Orang sinting.


Kurasa, dari seluruh anggota keluarga kerajaan, hanya Exce—tidak. Menurut ingatan yang telah kuwarisi, Excel tumbuh dewasa dengan sifat sadis yang menyertainya...


Ya, tidak ada seorangpun diantara mereka yang waras, hingga Excel menikah denganku.


Benar.


Ares perlahan bangkit, diikuti oleh Excel yang juga berlutut tepat di sampingnya, bersama-sama mengenakan pakaian kebesaran seorang pemimpin negara dengan sebuah mahkota di atas ubun-ubun keduanya.


Keduanya saling melirik, saling menganggukkan ringan kepalanya, tanda agar keduanya berbalik bersama-sama.


"Selamat, Yang Mulia!" Astrid berteriak keras, terasa penuh amarah. Ada kekesalan di dalam hatinya karena telah dibohongi bila Gnery bukanlah nama asli Ares, yang hanyalah seorang pria paruh baya yang lebih lemah darinya, meskipun hal itu telah disadarinya lebih dari satu bulan yang lalu.


"Selamat!"


"Kejayaan untuk Kekaisaran Arestia!"


Hah?!


"Kemakmuran untuk Kekaisaran Arestia!"


Ares tanpa sadar mengalihkan pandangannya kepada istrinya dan menemukannya sedang terkikik kecil.


Kau?!


Kau merencanakannya?!


"Kami telah memutuskannya disaat kamu tiada. Bukankah itu luar biasa? Menggunakan nama negara dengan nama pribadimu," ujar Excel dengan bahagia.


"Si—siapa itu 'kami'?" tanya Ares dengan sangat gelisah.


"Hm? Warren, Duke Alein, Mantan Ratu Nieve, Pangeran Sieg, beberapa bangsawan Rowling dan Natrehn, dan juga... dua wanita yang kau sayangi, Kristin dan Astrid." Excel memberikan penekanan di akhir nada, terasa sangat mendendam, membuat hati Ares menjerit ketakutan.


"Ti—tidak, itu tidak benar!" balas Ares kuat dengan lirih.


"Sangat menyenangkan menggoda dirimu, Sayang." Excel kembali terkikik, menutupi bibirnya dengan lengan gaun putihnya yang sangat glamor.


Mengalihkan wajahnya kepada Kristin yang berdiri tidak jauh darinya, Ares menemukan ia menjulurkan lidah kepadanya, membuat Ares merasa sangat diejek. Salah satu kelopak mata Ares berkedut, ia benar-benar menginginkan untuk membalas dendam pada istrinya tersebut.


Sebuah gapaian tangan menarik telapak tangan kanannya, membuat Ares menyamakan langkah kakinya dengan Excel dengan pasrah, tidak mungkin ia akan mengubah nama sebuah negara yang telah ditetapkan karena perasaannya. Terlebih lagi, hal tersebut telah berada dalam sebuah kesepakatan diantara para bangsawan.


Sebuah pintu putih kembar bercorak emas terbuka lebar bagi keduanya, membuat mereka melewatinya dengan langkah penuh kebanggaan diri.


"Woaaahh!"


Sinar cerah mentari pagi menerpa. Sorak-sorai para penduduk ibukota menyambut dua orang pembesar negara mereka yang baru saja dilantik.


Hanya untuk hari perayaan terbesar, Ares membuka gerbang istana hingga membuat banyak rakyat jelata memasukinya, walau ia diharuskan untuk mengerahkan 20.000 prajurit demi stabilitas keamanan.


Tidak berbeda dengan kota-kota lain, jalan-jalan besar ibukota terasa sangat riuh, semerbak dengan para pedagang yang membagikan makanan gratis kepada siapapun, yang tentunya diperintahkan oleh Ares. Rumah-rumah baik itu sebuah mansion hingga panti asuhan, dihias oleh banyak dekorasi indah, banyak bunga-bunga yang juga menyertainya.


Bersama dengan Excel, Ares melambaikan tinggi tangan kanannya. Wajahnya tersenyum, sangat menunjukkan bahwa ia adalah sosok "ramah" kepada siapapun, bahkan jika mereka hanyalah seorang budak berkasta rendah.


Sebuah pidato kenegaraan berisi harapan, masa depan, hingga kemakmuran terucap dari lisan, membuat mata para penduduk terbuka, kembali bersorak-sorai atas harapan besar yang telah diberikan penguasa mereka. Beberapa diantara mereka telah percaya, terkhusus bagi pedagang serta pelancong yang berasal dari Wilayah Rueter, yang kini telah makmur dalam segala aspeknya.


Hingga telah terasa cukup, Ares dan Excel kembali berbalik, melangkah memasuki pintu yang akan mengubah hidup mereka di masa depan.


Tepat setelah memasuki pintu kembar tersebut kembali, langkah keduanya semakin besar hingga membuat keduanya berlari, membuat para bangsawan yang menunggu di balik pintu merasa sangat keheranan dan bingung.


Meninggalkan seluruh bangsawan tersebut dalam diam, tanpa mengatakan sepatah katapun, Ares dan Excel semakin berlari kencang dengan wajah yang tersenyum penuh kebahagiaan.


Para bangsawan birokrat, perwira militer, ksatria, hingga pelayan yang dilewati oleh mereka sangat bingung, walau mereka menyembunyikan wajahnya di bawah kepalanya yang tertunduk.


Dua orang yang masing-masing dari mereka mengenakan jubah merah besar yang membalut pakaian putih kebesarannya serta mengenakan gaun putih glamor yang menyeret lantai dengan sebuah mahkota mewah di atas kepalanya, segera melihat sebuah pintu putih kembar ruangan yang menjadi tujuan keduanya.


Berlari kencang, membuat Dia—yang bertugas menjaga pintu tersebut—kebingungan, "A—apa yang terjadi, Yang Mulia?!"


"Kami masuk!" Tanpa penundaan, Ares mengambil pegangan pintu dan memasukinya, yang segera diikuti oleh langkah Excel.


Seorang wanita berambut pirang panjang bertubuh sensual yang mengenakan pakaian pelayan dengan panik bangkit, Mia—pelayan sekaligus gundik Ares—sangat terkejut dengan pintu yang terbuka sangat tiba-tiba, "A—apa yang terjadi, Tuan?! Nyonya?!"


"Tidak perlu khawatir." Excel sejenak mengambil napas karena pernapasannya begitu berat, "Kami hanya ingin segera melihat mereka berdua."


"Syukurlah." Mia menghela napas lega.


Ares dan Excel bergerak mendekat. Dari atas kasur yang sangat empuk, dua bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan yang secara berturut-turut memiliki rambut kekuningan dengan mata yang terasa lembut—yang telah memiliki nama Zack Orient, bersama ibunya, Mia Orient—dan sepasang bayi kembar berambut putih menatap Ares serta Excel dengan bingung.


Excel melangkah mendekat pada putranya, disertai Ares mendekati anak perempuannya dengan cepat.


Berbeda dengan Zack yang telah diberikan nama terlebih dahulu, Excel menginginkan agar pemberian nama kedua anaknya dilakukan setelah keduanya dilantik menjadi seorang kaisar dan permaisuri.


Nama keluarga telah diputuskan. Tidak berbeda dengan Ares dan Excel, keduanya akan mengemban nama keluarga "Aubert" sebagai keluarga kekaisaran.


Bukan tanpa alasan, nama tersebut memiliki arti "mulia" serta merupakan nama yang memiliki kedekatan dengan nama asli Ares di dunia sebelumnya, meskipun ia tidak mengatakan hal tersebut kepada Excel.


Meskipun begitu, keduanya menginginkan sebuah perbedaan dengan penamaan yang dilakukan oleh keluarga royalti lain, tidak menggunakan identitas dengan arti "anak dari—" seperti von, der, dan yang lain sebagainya.


Karenanya, Ares menyarankan agar menambahkan sebuah nama kecil yang berperan sebagai nama tengah bagi kedua anaknya, yang segera disetujui oleh Excel saat mereka mendiskusikannya beberapa waktu lalu.


"Blanc"—"putih" dalam Bahasa Perancis—menjadi kesepakatan diantara keduanya.


Mia melangkah mundur, menatap keduanya dengan sebuah senyuman hangat, sangat menginginkan bila keluarga besarnya berada dalam keutuhan selamanya.


Ares dan Excel saling tersenyum, berada dalam suasana hangat, tidak ada diantara keduanya yang telah memberitahu satu sama lain sebelumnya, "Selamat bergabung dengan keluarga ini—"


"Raze."


"Orcian."


...----------------...