
Tahun 1237, 6 April.
10 km Selatan Ibukota Scandiva, Kerajaan Natrehn.
Siang Hari.
Dengan langkah tegas, ribuan prajurit bergerak memasuki perkemahan Julius yang berada tak jauh dari sisi selatan tembok Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva.
Banyak gerbong-gerbong mewah para bangsawan yang menjadi jenderal pasukan menyertai, kuda-kuda perang besar para ksatria juga berbaris mengikuti.
Gerbong kereta kuda termewah tiba di depan tenda terbesar di dalam perkemahan. Setelah pintu terbuka, Eina perlahan turun dan menatap dengan sedikit kekaguman karena gerak cepat Julius menghadapi invasi Rowling, meskipun dia memiliki banyak pertentangan yang berasal dari para bangsawan pendukung adik kandung serta para pangeran lainnya.
"Selamat datang, Marquess Fonca!" Beberapa ksatria serta perwira dari kalangan aristokrat tegas menyambut dengan menunduk dalam, tanda pengaruh Eina yang begitu besar, hingga dapat menyebabkan beberapa bangsawan bertekuk lutut tanpa harus bersusah payah.
Hanya membalas dengan tundukan ringan kepala, Eina dengan segera melangkah masuk dan menemukan pemuda berambut pirang dengan jubah militer berwarna putih sedang terduduk di hadapannya.
Bertekuk lutut, Eina menundukkan dalam kepalanya, sesuai dengan surat yang ia telah tuliskan sebelumnya yang berisi sumpah setianya kepada Julius, "Marquess Fonca telah datang memenuhi panggilan Anda, Yang Mulia Raja."
Penekanan pada kata "Raja" membuat Julius sedikit sumringah. Memandang wanita tua yang berlutut di hadapannya, Julius kembali mengubah ekspresinya menjadi penuh ketegasan, "Salah satu jenderal terbaik Kerajaan Natrehn telah berkhianat kepadaku. Aku, Raja Kerajaan Natrehn, Julius III, memerintahkan Marquess Fonca untuk mengambil kepala Margrave Ginnes."
"Titahmu adalah kewajibanku, Yang Mulia." Eina sekali lagi menundukkan dalam kepalanya, menerima mandat yang baru saja diserahkan kepadanya.
"Lakukan dewan perang serta koordinasi penumpasan pengkhianatan Zelhard dengan komandan pasukan lain, aku sedang sibuk merencanakan penumpasan para pangeran lain yang tidak ingin bersumpah setia kepadaku." Kata-kata acuh tak acuh Julius membuat kening Eina berkerut.
"Ya, Yang Mulia." Tidak ia tampakkan, Eina sekali lagi menunduk dalam saat dia berlutut.
Perlahan kembali berdiri, Eina membungkuk dan berbalik untuk keluar tenda dengan langkah tegas. Namun dia tahu, jika Julius telah sangat terlena, yang membuat Eina sangat muak padanya.
Kepercayaan diri besar telah menyelimuti hatinya, Julius benar-benar yakin bila dia dapat mendapatkan apapun yang dia inginkan jika dia memiliki kartu bernama Eina.
Meskipun pada awalnya Eina telah mempengaruhi Julius untuk mengkudeta ayahnya, Eina tidak pernah menyangka bila Julius akan menjadi sangat bodoh.
Hanya ada satu jawaban dari perubahan sikap Julius yang terlihat sangat drastis tersebut.
Sampah Kerajaan Natrehn.
Tidak berbeda dengan para aristokrat Kerajaan Rowling, banyak dari para bangsawan Kerajaan Natrehn yang juga sering kali melakukan korupsi dan berbagai penyelewengan lain.
Terlebih lagi, para bangsawan Natrehn sering kali mengandalkan ilmu hitam jika mengalami masalah besar, yang juga dilakukan oleh Eina saat dirinya muda dahulu.
Eina telah membidik beberapa rumah bangsawan Natrehn yang harus dia hancurkan, yang mana hal tersebut juga merupakan salah satu perjanjian yang dibuatnya dengan "Silver Mask" atau Ares yang mengenakan topeng keperakan.
"Apakah kau mendengar kabar tentang Val?" Kata-kata Julius menghentikan langkah kaki Eina.
Sekali lagi berbalik dan membungkuk ringan, Eina menjawab, "Saya belum sekalipun menerima kabar dari perbatasan utara, Yang Mulia."
"Begitu. Meskipun Val dikalahkan, selama para barbarian tidak menyebrangi Sungai Besar Hoellen, aku akan memprioritaskan para pengkhianat terlebih dahulu," timpal Julius acuh tak acuh tanpa sedikitpun memandang Eina.
"Permisi." Eina menunduk dan segera keluar dari tenda, hatinya benar-benar muak dan tidak berkeinginan untuk sekali lagi melakukan pertemuan dengan Julius.
Tepat setelah keluar, Eina dibimbing oleh para ksatria menuju tenda para bangsawan yang menjadi jenderal pasukan untuk melakukan dewan perang, yang mana secara diam-diam Eina juga merencanakan pembunuhan para bangsawan yang sebelumnya telah ditargetkan.
Jauh di sisi timur dimana perkemahan Pasukan Zelhard berada, Kristin terduduk lemas di atas sebuah batang kayu besar seusai latihan berpedang, kedua tangannya menahan tubuhnya di balik punggung dengan wajah lelah yang mengadah ke langit.
Tak jauh darinya, seorang ksatria wanita yang telah menjadi ajudan Kristin mendekatinya dengan langkah cepat, kedua tangannya membawa nampan yang berisi dua mangkuk kayu berisi sup yang mengepul, "Nona!"
Memperbaiki posisinya, perhatian Kristin tertuju pada wanita berambut bob hitam dengan wajah bulat yang mengenakan baju besi dengan pedang yang tersarung di salah satu pinggulnya, "Hati-hati, Rea!"
Di luar dugaan, Rea dengan aman dapat mencapai tempat Kristin berada, meskipun dia sesekali terlihat tersandung ringan karena medan perkemahan yang tidak datar.
"Hah... hah... hah..." Rea mengambil napas berat, sangat bersemangat karena dirinya telah ditunjuk sebagai ajudan cucu Sang Jenderal Besar. Terlebih lagi, Rea juga merupakan putri dari keluarga bangsawan berpangkat Baron yang menjadi korban kudeta Julius beberapa pekan lalu.
Kristin mengambil nampan Rea yang terlihat hendak terjatuh, hingga membuat Rea terkejut dan segera membungkuk meminta maaf, "Mo—mohon maafkan saya, Nona!"
"Sudahlah, duduk saja." Kristin menyerahkan salah satu mangkuk sup pada Rea dengan menggeser pantatnya untuk memberikan ruang bagi Rea duduk di sampingnya.
"Terima kasih, Nona." Sekali lagi menunduk, Rea dengan patuh duduk di samping Kristin dan mulai menyantapnya.
"Tidak apa-apa. Lain kali, tidak perlu terburu-buru seperti itu. Aku tidak akan pergi kemanapun," balas Kristin lalu tersenyum masam.
"Baik..." Rea menunduk patuh.
"Jika begitu, ayo makan." Kristin pun menyendok dan hendak memasukkannya ke dalam mulut—
"Kristin, ikut denganku."
Kristin mengingat jika di sampingnya terdapat Rea, akan menunjukkan contoh buruk bila dalam dinas militer Kristin memanggil Zelhard dengan panggilan kekeluargaan.
Rea dengan panik berbalik. Meskipun termasuk dalam jajaran elit, bagi seorang ksatria tingkat rendah seperti dirinya, mengabaikan seorang jenderal seperti Zelhard merupakan perilaku yang sangat tidak pantas.
"Se—selamat siang, Jenderal!" Rea tergagap, perasaannya sangat gelisah karena tidak pernah sekalipun berhadapan secara langsung dengan Zelhard sebelumnya.
"Ya," jawab Zelhard singkat.
"Saya sedang makan, Jenderal." Kristin memprotes, raut wajahnya menunjukkan ketidakpuasan yang sangat besar.
"Ikutlah denganku." Acuh tak acuh, Zelhard berbalik dan melangkah pergi, seolah hal yang akan dia sampaikan lebih penting daripada makanan Kristin.
Mendengus kesal, Kristin meletakkan kembali mangkuknya di atas nampan yang berada di sisi lain kotak, "Aku pergi sebentar."
"Um... hati-hati, Nona." Terhadap perkataan Rea, Kristin hanya tersenyum dan melambaikan tangannya saat dia pergi menjauh.
Mengikuti langkah Zelhard menuju salah satu tenda besar, Kristin mengerutkan kening. Dia merasa terdapat sesuatu yang salah mengenai kakeknya, yang sebelumnya tidak akan pernah memanggilnya secara langsung.
Hanya terdapat dua orang ksatria tua di dalam tenda. Kristin mengikuti Zelhard mendekati mereka dengan langkah yang sedikit ragu, walaupun dia tentu telah mengetahui identitas keduanya.
"Kristin, duduklah," ucap Zelhard setelah duduk bersama dua ksatria tua tersebut.
"Baik." Kristin dengan patuh menurut.
Zelhard mengubah ekspresinya menjadi penuh keseriusan, sorot matanya terasa jauh menusuk hingga membuat orang biasa mungkin akan sangat merasa terintimidasi.
"Dengan hanya lima ribu prajurit yang tersisa, kehancuran kita telah berada di pelupuk mata," ujar Zelhard tegas.
"Eh?!" Kristin sangat terkejut.
Sebelumnya, dia benar-benar merasa sangat percaya diri bila pasukan kakeknya dapat menghancurkan Rowling dan Pasukan Eina dengan taktik kilat.
Terlebih lagi, dengan memanfaatkan kedua pasukan besar yang juga akan saling bertempur, menerobos barisan dan menyerang tokoh besar tentu akan sangat mudah, meskipun Kristin mengerti bila itu membutuhkan sebuah pengorbanan besar.
"Tidak mungkin! Kakek adalah—" protes Kristin.
"Kristin." Panggilan kakeknya yang terasa tajam membuat Kristin menggigit bibirnya, dia segera mengerti tentang tujuan Zelhard membawanya berbicara bersama dua jenderal kepercayaan kakeknya.
"Aku mungkin... akan mati dalam beberapa hari ke depan." Dua jenderal tua yang juga terlihat tidak jauh berbeda dengan umur Zelhard hanya dapat terdiam mendengarnya.
"Mustahil!" Kristin menatap kakeknya dengan berlinang air mata, sangat ingin menyangkal, kedua telinganya benar-benar tidak ingin lagi mendengar.
Namun, sebagai seorang ksatria dan atase militer, perilaku tersebut sangatlah tidak diizinkan, walau Zelhard serta dua jenderal lain hanya dapat membiarkannya melakukan apapun yang dia inginkan mengingat Kristin juga merupakan seorang wanita.
Perasaan Zelhard sangat tergores melihat wajah cucunya, ada keinginan terpendam di dalam hatinya bila dirinya ingin melarikan diri. Namun, hal tersebut sangatlah tidak mungkin untuk dilakukan.
Beban tanggung jawab melekat pada kedua pundaknya, yang menyebabkan Zelhard hanya dapat menyembunyikan perasaannya, "Eina adalah jenderal, ahli strategi, dan pemikir ulung, sangat berbeda dengan diriku yang hanyalah merupakan seorang komandan pasukan elit biasa."
Kristin tertunduk lemah, wajahnya berurai air mata. Perasaannya terasa sangat sakit mengetahui satu-satunya keluarga yang tersisa akan tewas terbunuh.
Zelhard mengambil sebuah gulungan perkamen dari sakunya dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan tiga orang di hadapannya, yang sedikit membuat bingung dua orang jenderal tua di hadapannya.
Berbeda dengan dua jenderal lain, Kristin tidak sekalipun menatap perkamen yang terarah padanya, hanya tertunduk lemah dan berharap bila kejadian buruk itu tidak akan pernah terjadi di masa depan.
"Jika aku mati, segera tarik mundur seluruh pasukan ke selatan. Aku akan mempercayakan kehidupan kalian pada Margrave Ru—tidak, Ares von Rueter," ungkap Zelhard.
"Tidak!" Kristin menatap kembali pamannya dengan kuat, ekspresinya terlihat sangat sayu, wajahnya benar-benar sangat basah karena air mata.
"Kristi—" panggil Zelhard.
"Jangan mengatakan omong kosong!" Kristin berteriak keras, seolah ingin menolak kenyataan yang kemungkinan besar akan terjadi kepadanya, "Kakek tidak mungkin mati! Itu tidak akan pernah terjadi!"
"Kristi—" Sekali lagi Zelhard memanggil, namun Kristin segera berdiri dari kursinya dengan perasaan gelisah.
"Aku benci kakek!" Kristin berlari keluar, dia benar-benar muak dengan perkataan kakeknya.
Meskipun dia mengerti bila hal itu kemungkinan besar dapat terjadi, Kristin benar-benar tidak ingin menerimanya. Dia sangat tidak menginginkan bila orang yang dikenalnya sekali lagi tewas terbunuh.
Memandang pelarian cucu perempuannya, Zelhard hanya dapat melukiskan ekspresi sulit, walaupun hatinya juga terasa sangat sakit. Namun, keadaan memaksa Zelhard untuk mengatakannya. Tidak mungkin tidak mempersiapkan antisipasi terhadap kondisi terburuk yang mungkin saja terjadi di masa depan.
...----------------...
jangan lupa likenyaa!