
Tahun 1236, 1 Juli.
Istana Kerajaan Rowling, Ibukota Lombart.
Setelah Matahari Terbenam.
Dengan bangga melangkahkan kaki, Ares dan Excel seolah tidak peduli dengan tatapan bangsawan faksi istana yang sangat mengancam terhadap mereka.
Pun tidak dapat dipungkiri, para bangsawan tersebut juga sedikit menunjukkan kekaguman terhadap pasangan yang melangkah dengan sangat elegan dan penuh keanggunan tersebut.
Tetap saja, terdapat rasa khawatir yang besar diantara para bangsawan.
Apakah Ares dan Excel akan mendukung Pangeran Lucas dalam perebutan tahta?
Ataukah akan menyatakan bahwa dirinya akan ikut serta?
Tidak ada yang mengetahuinya, para bangsawan hanya dapat memasang sikap waspada pada setiap gerak politik yang ditunjukkan olehnya.
Datang untuk ikut berbaris, secara naluriah para bangsawan yang hendak bersalaman dengan Lucas pun segera membuka jalan untuk Excel—seorang anggota royalti—dan Ares—yang merupakan bangsawan dengan prestasi yang melebihi siapapun di tempat ini.
Keduanya berjalan sembari mengekspresikan senyuman yang memberikan ketenangan.
Tidak mengira bahwa Excel akan terlihat sangat cantik dan anggun, sedikit membuat kening Lucas dan istrinya, Katherine von Linius, berkerut, meskipun itu hanya sejenak.
"Selamat malam, Kakak, Saudariku," ujar Excel.
"Selamat malam, Yang Mulia, Putri Katherine," ujar Ares dengan menundukkan dalam kepalanya.
Menahan hatinya yang sedikit panas. Excel tahu bahwa kakak sepupunya sangat dicintai dan selalu mendapatkan segalanya, yang sangat berbeda dengan dirinya sejak dia kecil.
Secara samar, tatapannya tertuju pada rambut merah mudanya yang tergerai panjang dengan hiasan bunga perak di dekat dahinya, perlahan turun hingga menatap gaun merah rajutannya dengan aksen dewasa, yang menunjukkan belahan dadanya yang sangat kaya, hingga menuruni kakinya yang sangat terawat mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah, sangat membuat Excel kesal.
Excel benar-benar memandang kakak sepupunya dengan tatapan penuh permusuhan, meskipun hal tersebut tidak ditampakkannya.
Kakeknya yang sedari kecil selalu menyanyangi Katherine, bahkan tidak pernah menganggap dan meninggalkan ibunya—yang merupakan saudara dari ayah Katherine—hidup menderita di istana kerajaan.
Pun tidak berbeda dengan Katherine, yang sangat tidak menyukai Excel karena membuat nama baik House of Linius jatuh ke tanah akibat tindakannya yang selalu melampaui batas.
"Selamat malam, Adikku, Margrave," jawab Lucas.
"Selamat malam, Saudariku, Margrave," jawab Katherine.
Saling melukiskan ekspresi yang sedap dipandang, namun sangat berbeda dengan hati masing-masing dari mereka yang sangat menginginkan kehancuran lawan bicaranya.
"Saya benar-benar bahagia karena dapat bertemu dengan Anda kembali dalam keadaan yang baik-baik saja, Yang Mulia," timpal Ares hangat.
"Hahaha, itu benar. Aku mungkin akan sangat kelelahan jika tidak mendapat bantuanmu beberapa bulan lalu, Margrave," balas Lucas.
Pembawaannya menyenangkan, tidak terasa sedikitpun kemunafikan dalam kata-katanya, membuat Ares sangat mengutuk Lucas di dalam hatinya.
"Bagaimana Anda dapat mengalahkan Natrehn dalam jangka waktu secepat itu, Margrave? Mungkin, saya membutuhkan sedikit pembelajaran dari Anda," sambung Katherine.
Nadanya terdapat sedikit dendam yang muncul, pun tidak berbeda dengan tatapannya yang terlihat sangat tajam kepada Ares.
Ares segera mengetahui tatapannya yang sesekali terarah pada Excel. Tersenyum masam dan berkata dengan nada yang menyenangkan, "Saya... hanya cukup beruntung karena mendapat bantuan dari Yang Mulia Putri yang telah menjadi tunangan saya."
Ancaman.
Tidak membiarkan dirinya untuk menyentuh Excel, Ares mengatakan dengan sangat jelas bahwa Excel telah berada di bawah perlindungannya.
Tentu, hanya beberapa bangsawan tingkat tinggi yang dapat mengerti tentang arti percakapan seperti ini—bahkan tidak dipahami oleh Excel yang saat ini wajahnya sedikit memerah.
Selama beberapa tahun terakhir, Katherine selalu membuat rencana agar Excel tewas terbunuh seperti di medan perang ataupun di dalam perjalanan—yang selalu mendapat dukungan penuh dari Sang Raja dan Duke Linius. Tetap saja, tidak mungkin baginya untuk membunuh sepupunya di ibukota karena akan sangat mempengaruhi prestise keluarga kerajaan.
Katherine mengira bahwa Excel akan tewas disaat dirinya merencanakan hal tersebut bersama Sang Raja, Lucas, Duke Linius, dan Duke Holfart untuk berperang melawan Kerajaan Nathrehn 3 tahun yang lalu—yang mana merupakan peperangan yang membuat ayah Ares tewas. Bertentangan dengan harapannya, Excel dapat kembali dengan selamat dan bahkan menerima sebuah julukan "White Demon" dari para prajurit musuh yang segera menyebar luas.
"Begitu... saya benar-benar menantikan sesuatu yang menarik dari Anda di masa depan, Margrave," sambung Lucas dengan tersenyum masam.
Berbalik dengan ancaman yang serupa. Lucas memperingatkan agar Ares tidak bergerak di masa depan—dalam perebutan tahta—jika dia menginginkan agar Excel tetap tidak tersentuh.
Lucas, Katherine, dan Ares mengerti, meskipun Excel memiliki kekuatan yang luar biasa, dia tetap tidak dapat lepas dari ancaman pembunuhan—yang bahkan Ares mengetahui jika tunangannya sedang mengandung anaknya.
Begitukah?
Yah, memang sesuai dengan rencanaku untuk saat ini.
Memahaminya, Ares berkata, "Terima kasih, Yang Mulia. Harapan Anda adalah sesuatu yang dapat membuat saya, yang hanyalah seorang bangsawan wilayah biasa, termotivasi."
"Begitu," timpal Lucas.
Merendahkan dirinya, Ares tentu saja mengatakan secara tersirat bahwa dirinya berada dalam posisi yang sangat rendah—yang bahkan tidak pantas untuk memperebutkan kursi raja.
Lucas dan Katherine sedikit terkejut dengan jawaban yang diberikan olehnya. Mewaspadai kebohongannya, mereka berdua memutuskan untuk benar-benar akan bergerak jika Ares tidak menepati perkataannya.
"Baik, Yang Mulia, Putri Katherine. Kami mohon untuk undur diri terlebih dahulu," ujar Ares dengan menundukkan dalam kepalanya.
"Selamat malam, Kakak, Saudariku," ujar Excel.
"Ya, semoga Anda menikmati malam hari ini, Margrave, Adikku," timpal Lucas.
"Saya menantikan pertemuan dengan Anda kembali di masa depan, Margrave, Saudariku," timpal Katherine.
Tak berbeda dengan sebelumnya, para bangsawan lain yang hendak menyalami Pangeran Zee dan tunangannya, segera menjauh untuk mendahulukan Excel dan Ares yang mendekat.
Tentu, bukti telah berada di dalam genggaman. Senyuman tipis pun terukir di wajahnya, Ares benar-benar sangat ingin melihat bagaimana Zee menyudutkan dirinya.
"Selamat malam, Yang Mulia, Putri Lucy," ujar Ares dengan menundukkan dalam kepalanya.
"Selamat malam, Saudaraku, Putri Lucy," sambung Excel.
Nada Excel sedikit menghinakan. Jika saja Zee tidak memiliki postur tubuh yang bagus, Excel benar-benar akan menganggap bahwa saudaranya hanyalah seekor babi.
Tak bermoral, memakan semua yang ada di hadapannya, anggapan tersebut benar-benar melekat jauh di dalam benak Excel.
Pun tidak berbeda dengan Ares yang sedang menahan amarahnya. Terlihat tenang dan menenangkan bagi orang di sekitarnya, pembawaannya membuatnya disalahpahami bahwa dirinya benar-benar dekat dengan Sang Pangeran.
"Lama tidak berjumpa, Saudariku, Ares," timpal Zee dengan senyum cerah.
"Selamat malam, Yang Mulia, Margrave," balas Lucy.
Tatapan kedua matanya melirik gadis yang berdiri di samping Sang Pangeran.
Tubuh proporsional yang dibalut dengan gaun biru muda mewah yang sedikit menunjukkan dadanya yang besar, kulit putih yang sangat menggairahkan, rambut panjang yang dikepang hanya pada salah satu bagian rambut pirangnya hingga membuat telinga kirinya terlihat, sangat membuat dirinya merasa sedikit aneh karena senyuman yang diperlihatkannya tidak sesuai dengan tempatnya—yang mana hanya Ares yang dapat memahaminya.
Melirik kembali Excel, yang sedikit merasa rendah diri di hadapan Lucy karena kehadirannya yang luar biasa, Ares sedikit menguatkan genggamannya bermaksud untuk menenangkannya.
"Saya... hanya bermaksud untuk melihat keadaan Yang Mulia dan Putri Lucy yang merupakan teman saya di Akademi dahulu. Saya sangat bersyukur bahwa Anda berdua terlihat baik-baik saja," ujar Ares yang penuh syukur.
Karena tidak memiliki bukti di tangannya, Zee tidak dapat bergerak untuk memojokkan Ares, yang mana kekesalannya tersebut dilampiaskan kepada tunangannya beberapa saat sebelum acara pertemuan para aristokrat berlangsung.
"Kami selalu baik-baik saja, Ares. Bukankah begitu, Lucy?" timpal Zee riang.
"Ya... itu benar," sambung Lucy dengan tersenyum.
Tenang, namun sedikit bergetar jika didengar oleh orang yang benar-benar memahaminya.
Sebagai salah satu bangsawan terkuat yang mendukung Pangeran Zee untuk naik tahta selain dari Duke Alein, Marquis Larcia mengirimkan putri tertuanya, Lucy, untuk dinikahkan secara politik dengan Zee yang bertujuan untuk memperkuat hubungan di dalam faksi.
Lucy tentunya tidak dapat menolak perannya sebagai putri yang akan dikorbankan untuk kepentingan rumahnya. Tidak berbeda dengan dirinya, keluarganya pun juga mengetahui tabiat buruk Pangeran Kedua—yang mereka tak acuhkan demi tercapainya kepentingan House of Larcia.
Air matanya telah kering, dirinya telah disiksa berkali-kali hingga banyak memar yang tersembunyi di balik gaunnya yang sangat glamor, pun tidak berbeda dengan keperawanannya yang telah terenggut sebelum dirinya menikah. Namun, kesedihan tidak diperlihatkannya dalam ekspresi wajahnya dimana saat ini dirinya hadir dalam sebuah acara resmi.
Tidak ada yang mengetahui bergetarnya nada Lucy selain Ares. Meskipun dirinya sangat kasihan dengan teman yang berbeda kelas dengannya dahulu, dia tidak dapat bergerak bebas karena Lucy yang saat ini merupakan tunangan Zee—yang mana Ares juga tidak menginginkan Excel bersedih karena disalahpahami berselingkuh.
Hmm, haruskah aku memberinya permen?
Tapi... aku rasa aku harus menjelaskannya kepada Excel setelah ini.
"Saudaraku, kapan pernikahanmu akan berlangsung?" tanya Excel.
Akan aneh jika Zee—yang telah bertunangan dengan Lucy sejak tahun lalu—belum melaksanakan pernikahan hingga kini, yang mana hal tersebut adalah perintah Zee untuk menundanya karena dirinya yang ingin lebih banyak bermain dengan para wanita—yang juga sangat disyukuri oleh Lucy karena tidak segera terjebak dalam pernikahan dengan hewan buas di sampingnya, meskipun itu hanya sebentar.
"Di bulan Maret nanti," jawab Zee jelas.
Berharap agar Lucy memahaminya, Ares berkata, "Saya... sedikit khawatir dengan hari pernikahan Anda yang begitu lama, Yang Mulia," sembari melirik kecil kepada Lucy.
Tentunya, hal ini bukanlah bantuan tanpa pamrih. Ares bermaksud untuk memanfaatkan Lucy agar dirinya bertindak sebagai mata-mata di dalam faksi Pangeran Kedua—hingga dapat membebaskan dirinya sebelum hari pernikahannya tiba. Makna tersebut tersirat pada kata "khawatir" dan kalimat "hari pernikahan Anda yang begitu lama."
Samar, tidak ada yang memahami kode yang diberikan oleh Ares—yang tidak berlaku hanya untuk Lucy.
Secercah harapan muncul. Matanya sedikit terbuka karena terkejut, Lucy segera membalas, "Saya pun juga demikian, Margrave."
Menyetujui perkataannya, makna terselubung bahwa dirinya benar-benar meminta bantuan Ares.
Berbeda dengan Zee—yang sedikit terkejut dengan tanggapan yang diberikan oleh Lucy—dirinya tidak menyangka bahwa tunangannya mengatakan hal seperti itu.
"Yah, hari tersebut telah menjadi pertimbangan bagi kami dan ayah," balas Zee.
Menahan Ares agar tidak memasuki ranah pribadinya, Zee memperingatkan Ares agar dirinya berhenti menyentuh topik yang sangat sensitif baginya.
"Begitu, kami sangat menantikan pembicaraan dengan Anda berdua di kemudian hari, Yang Mulia, Putri Lucy," ungkap Ares dengan menunduk.
"Saya juga, Saudaraku, Putri Lucy," sambung Excel.
"Nikmati harimu," balas Zee.
"Saya juga, Yang Mulia, Margrave," timpal Lucy.
Berbalik, sedikit kepuasan muncul di dalam hati Ares dikarenakan setidaknya dirinya telah mendapatkan dua hasil yang sangat baik dalam waktu yang singkat. Meskipun Zee tidak mengatakan apapun tentang isi perkamen tersebut, namun itu tetap sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Lucy mengetahui kode yang diberikan Ares dimana dirinya akan dihubungi di masa depan. Melihat pasangan tersebut yang berjalan sangat serasi, perasaan iri muncul di dalam hatinya.
Tatapannya sejenak terlihat sedih. Lucy benar-benar sangat memimpikan dirinya dapat berada di posisi yang Excel saat ini miliki.
Meskipun aku tahu bahwa ini tidaklah mungkin...
Aku benar-benar sangat ingin menjadi seorang gadis sepertimu...
Walaupun... itu hanya sebentar saja.
...----------------...