I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 61 : Excel Menyerang?!



Tahun 1236, 30 Juni.


Istana Kerajaan Rowling, Ibukota Lombart.


Beberapa saat sebelum Excel menyerang.


Di dalam kamar istana yang diperuntukkan bagi Putri Kerajaan Rowling, seorang ksatria wanita yang terlihat seperti wanita yang baru saja menikah dengan rambut kuning panjangnya yang diikat ekor kuda, sedang mengalami masalah besar dikarenakan seorang wanita di depannya.


Meskipun keadaan kamar cukup gelap dikarenakan hanya memiliki penerangan berupa lentera, ksatria wanita tersebut dapat melihat cukup jelas keadaan di sekelilingnya yang mana ia sangat waspada terhadap suatu percobaan pembunuhan. Namun, bukannya kewaspadaan tinggi yang menjadi objek utama perhatiannya, akan tetapi perintah wanita di depannya yang baginya benar-benar sangat tidak masuk akal.


"Dia, aku benar-benar ingin keluar dari istana!" teriak Excel sedikit kesal.


"Mohon tunggu, Yang Mulia! Nama baik Anda akan jatuh apabila Anda keluar dari kamar di malam hari!" balas Dia sedikit keras.


Dia menyadari bahwa wanita yang akan menjadi istri Tuannya tersebut sedang mengalami emosi yang sangat tidak stabil dikarenakan dirinya sedang berada dalam masa awal kehamilan—yang mana Excel sangat menginginkan kue buatan Ares yang memiliki warna beragam.


Sangat kesal karena Dia—pengawal yang ditunjuk Ares untuk melayani dan melindungi dirinya—tidak kunjung menyetujui permintaannya, Excel segera berdiri dari kursi meja riasannya dan mengarahkan tangannya yang mengepal menuju perut Dia.


BUGH!


"Ugh!" teriak Dia kesakitan sembari memegangi perutnya.


Melihat Dia yang tersungkur jatuh, dua pengawal wanita bawahannya yang berjaga di sudut ruangan segera mendatanginya dan satu orang lainnya segera menahan Excel yang terlihat hendak kabur melompat jendela.


BUAK!


Bertentangan dengan harapannya, pengawal wanita yang hendak menahan pelariannya segera jatuh tersungkur karena terkena bogem mentah Excel.


"Ukh..." rintih pengawal wanita tersebut dengan memegangi perutnya.


Menarik pegangan jendela, Excel segera berlari untuk melompat turun dari balkon kamarnya yang berada di lantai tiga.


Tentu saja, Excel tidaklah ragu dikarenakan dia yang telah berkali-kali mencoba hal ini sebelumnya. Menapaki pijakan-pijakan yang berada di dinding kastil, dia pun segera berlari menyusuri atap istana dan melompati tembok istana yang cukup tinggi bagi orang biasa—yang mungkin saja dilakukannya karena Excel masihlah memiliki statistik Tubuh yang berkisar pada angka 60 poin.


Dua pengawal lain yang melihat pelarian Excel hanya dapat terpana karena hal tersebut yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang putri.


"Kejar dia!" perintah Dia dengan sedikit kesal.


"Baik, Bu!" jawab dua pengawal wanita lain dan segera terjun dari balkon kamar Excel.


Karena para ksatria pengawal Excel merupakan prajurit yang dipindah tugaskan dari pasukan khusus, mereka dapat dengan mudah mengikuti gerakan dan cara Excel menuruni tembok istana.


Tentu saja, meskipun statistik kecerdasan Excel termasuk rendah, namun dia bukanlah orang bodoh.


Dengan hanya mengenakan baju tidur serta sepatu tipis yang diperuntukkan untuk kegiatan dalam ruangannya, Excel berlari dengan menapaki jalanan gelap distrik bangsawan sembari menghindari beberapa kereta kuda yang sesekali terlihat. Akan sangat buruk bagi dirinya dan tunangannya apabila mereka diketahui bertemu di malam hari.


Berlari melalui gang-gang sempit yang ada diantara pagar mansion bangsawan, Excel segera melihat sebuah gerbong kereta mewah dengan dua kuda yang menariknya, terlihat menuju arah yang berlawanan dari mansion tunangannya disaat dia hendak keluar dari gang untuk memasuki jalan besar distrik bangsawan.


Ketika dia membalikkan wajahnya menuju gang yang baru saja dilaluinya, Excel melihat 9 orang ksatria pengawalnya—termasuk Dia—hendak mencapai tempatnya berada.


"Cih," ujar Excel mendecakkan lidahnya karena sangat kesal.


Excel pun melangkahkan kakinya untuk berlari kembali menuju ksatria yang mengejarnya dan segera berbelok di sebuah gang sempit yang bercabang diantara mereka.


Melihat dua orang yang masing-masing mengenakan jubah hitam besar berada di ujung gang sedang bercakap-cakap dengan membawa suatu tas, Excel segera mengerutkan keningnya.


Cih, jangan menghalangi!


Segera mendekati mereka dengan langkah kakinya yang tidak menimbulkan suara, Excel—yang telah memfokuskan pendengarannya agar menghindari suara kereta kuda yang melalui jalanan distrik bangsawan—mendengar salah satu pria tersebut berkata, "Kami telah menculik 45 wanita muda dari desa-desa terdekat. Mereka saat ini telah berada di ruang bawah tanah Kota Pos yang berada di utara ibukota, tolong sampaikan salamku kepada Yang Mulia Duke Alein dan Yang Mulia Pangeran Zee."


"Ah, baik. Senang bekerja sama dengan An—" timpal seorang pria lainnya.


BUAK!


Sangat kesal karena mereka berdua yang menghalangi jalan Excel menuju mansion tunangannya tercinta, dia pun meninju wajah pria tersebut hingga terpental jauh.


"Argh!" teriak pria yang terpental tersebut.


Merasakan keanehan, pria berjubah lainnya segera mengalihkan wajahnya ke arah Excel—


BUAK!


"Argh!" teriak pria tersebut kesakitan.


Melakukan hal yang sama, Excel meninju wajah pria yang membuatnya sangat kesal dan segera menendang perutnya disaat dia telah jatuh tersungkur.


BUGH!


"Ugh!" teriak pria tersebut.


"Minggir, sialan!" teriak Excel kesal dan segera berlari meninggalkan mereka.


Beberapa detik kemudian, seorang prajurit pria paruh baya pengawal Excel yang berada di depan, segera memeriksa pria yang baru saja terkena bogem Excel dan sangat terkejut saat melihat wajahnya yang sebelumnya tertutupi topeng.


"Dia merupakan buronan dari Dark Guild Laguna, Bu!" lapor ksatria pria paruh baya dengan tegas.


"Hah?! Kami tidak memiliki waktu untuk itu! Tinggalkan lima orang untuk mengurus mereka, tiga orang ikut denganku!" perintah Dia dengan keras.


Tersentak dengan sikap Dia yang tidak pernah diperlihatkannya sebelumnya, ksatria pengawal tersebut berkata dengan sedikit terbata, "Y—ya, Bu!"


Disaat dia hendak mencapai pagar mansion tunangannya yang entah mengapa terbuka—karena kereta kuda Keluarga Francois yang baru saja keluar darinya—Excel segera memasukinya dan menemukan beberapa ksatria yang sangat terkejut hingga sedikit gemetaran.


Ya, mereka mengingat Excel yang mengarahkan nafsu membunuhnya disaat mengunjungi Ares dahulu sebelum melakukan pencarian hadiah pernikahan.


Namun, Dia—yang berada di belakang Excel—segera berteriak, "Tahan dia!"


Dia tidak mengatakan "Yang Mulia Putri" agar tidak membuat rumor buruk apabila teriakannya terdengar.


Meskipun sedikit gemetar, para prajurit penjaga mansion dan beberapa pelayan segera mengepung Excel karena perintah Dia adalah sesuatu yang mutlak mereka ikuti.


Terkepung, hati Excel benar-benar menjadi sangat runyam. Dia pun berlari mendekati salah satu prajurit penjaga dan merebut pedangnya.


"Eh?!" ujar prajurit tersebut terkejut pedangnya menghilang.


BUK!


"Ugh!" teriak prajurit tersebut saat jatuh tersungkur.


Melihat salah satu prajurit penjaga tersebut seketika terkapar, para prajurit dan pelayan hanya dapat menatap Excel dengan tatapan ketakutan karena mereka hanya dapat menjadi samsak sarung pedang Excel.


BUK!


BAK!


BUK!


Teriakan, rintihan, dan erangan para prajurit dan pelayan yang berusaha untuk menahan keliaran Excel bergema di halaman mansion Ares—yang tentu saja tidak diketahui olehnya.


Tak terkecuali Dia—yang tidak dapat mengarahkan pedangnya kepada Excel—hanya dapat menatap lemah pada tunangan Tuannya disaat dirinya telah terkapar di atas tanah sesaat sebelum jatuh pingsan.


"Fuh, aku harus memeriksa Sayangku," ujar Excel sembari menatap orang-orang yang telah jatuh pingsan di halaman.


Hm?


Pandangannya pun teralihkan menuju seorang pelayan wanita yang terduduk dengan tatapan ketakutan yang mana dia merupakan satu-satunya orang yang masih tersadar.


Ya, pelayan wanita tersebut merupakan Gale, anggota Clan Cornwall yang memiliki posisi sebagai "Clown" di dalam klan.


Tentu saja, Gale tidak melakukan apapun sebelumnya dikarenakan belum memasuki tanggal 1 Juli dimana hari pertemuan tengah tahun bangsawan kerajaan akan berlangsung dan hanya melakukan beberapa persiapan sebelum Klan Cornwall melancarkan operasi pembunuhan Ares saat dini hari.


Bertugas untuk menyelinap ke dalam kediaman Ares dengan menyamar sebagai seorang pelayan wanita, Gale tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan White Demon tepat sebelum melancarkan operasinya.


Tap.


Tap.


Kesal karena terdapat seseorang yang masih tersadar, Excel segera berjalan mendekati Gale yang memiliki tatapan sangat panik ketakutan sembari mempersiapkan pedang curiannya.


"Mo—mohon tunggu, Yang Mulia!" ujar Gale panik dengan nada wanita.


"Kamu... bukankah kamu juga akan menggangguku?" ujar Excel yang sebal.


Meskipun Gale sangat panik, dia tetap dapat berpikir dengan tenang. Dirinya pun segera teringat akan Excel yang seketika pingsan tepat setelah meminum sebuah alkohol berkadar rendah.


Dengan panik, Gale berkata, "I—itu tidak benar, Yang Mulia! Bahkan, saya akan membimbing Anda menuju kamar Tuan!" sembari mempersiapkan alkohol kadar rendah di saku belakang seragam pelayannya.


Berdiri tepat di depannya, Excel pun memandang Gale dengan tajam dan berkata, "Benarkah?"


"Benar, Yang Mulia! Benar, mengapa Anda tidak minum bersama Tuan untuk meringankan hari Anda?" balas Gale sembari menyerahkan botol kecil kepada Excel.


Melihat pelayan tersebut yang perhatian kepadanya, Excel pun sedikit tersentuh. Namun, dia teringat akan dirinya yang saat ini sedang mengandung anaknya tercinta.


"Um... tidak, terima kasih," timpal Excel.


Sangat panik karena diberikan jawaban yang tidak sesuai, Gale segera membuka tutup botol alkohol tersebut dengan cepat dan memasukkan ujungnya ke mulut Excel.


Sangat terkejut, namun apa daya beberapa teguk telah mengalir masuk ke dalam kerongkongannya yang menyebabkan Excel segera jatuh tersungkur.


BRUK!


Lega.


Hanya hal tersebut yang ada di perasaan Gale saat ini. Dia tidak mungkin membunuh Excel dikarenakan professionalitas dan nama baik Cornwall.


Sejenak bernapas untuk menenangkan dirinya, Gale pun mengarahkan tangannya menuju Excel setelah beberapa saat mengambil napas.


Grep!


Tangannya seketika digenggam oleh Excel. Melihat Excel yang seketika terbangun kembali dengan linglung, sangat membuat Gale menjadi gelisah kembali.


Panas.


Tubuhnya mulai panas karena efek alkohol.


Excel merindukan sentuhan tunangannya yang membuatnya merasakan kenikmatan luar biasa, membuat dirinya melupakan tujuan awalnya datang ke tempat ini.


"Kamu... antarkan aku menuju kamar Ares," pinta Excel dengan linglung.


Gyaaaa!


Me—mengapa?!


Bukankah kamu seharusnya pingsan?!


Gale seketika menjadi panik. Dikarenakan pikirannya yang sudah tidak lagi dapat berpikir dengan jernih, Gale pun berkata, "Saya akan menunjukkan jendela kamar Tuan, Yang Mulia!"


Karena belum menghafal denah mansion Ares, Gale pun dengan terpaksa membawa Excel menuju halaman yang berada tepat di bawah kamar pribadinya.


"Mengapa... kamu membawaku ke sini?" tanya Excel sedikit kesal dengan linglung.


Melempar tali yang telah dipersiapkan Gale menuju batu balkon kamar Ares, Gale pun berkata, "Ji—jika Anda memanjat, Anda akan tiba lebih cepat di kamar Tuan, Yang Mulia."


"Begitukah? Kau boleh pergi," balas Excel acuh tak acuh.


"Baik, Yang Mulia!" timpal Gale dengan menunduk dalam lalu pergi dengan terbirit-birit.


Matanya pun melirik Excel—yang sedang memanjat meskipun dia sedang mabuk—sedikit membuat Gale terkagum.


Namun, pikirannya hanya berpacu kepada satu hal.


Ak—aku bebas!


Aku benar-benar dapat lepas darinya!


Tetap saja, aku harus kabur terlebih dahulu dari sini!


...----------------...