I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Interlude : Dua Sisi Ares Aubert



Tahun 1237, 9 Juni.


Ibukota Lombart, Kekaisaran Arestia.


Sore Hari.


"Aku tidak keberatan bila kamu mengambil Lucy sebagai selirmu, Sayang."


Perkataan Excel selalu terngiang dalam benak sejak beberapa hari terakhir, membuat Ares sangat sakit kepala karenanya.


Bukan tanpa alasan, setelah menawan para bangsawan Faksi Zee dan mengembalikan mereka ke ibukota, Lucy meminta agar kedua orang tuanya serta semua saudaranya dijatuhi hukuman mati dengan wajah kuat, menjadikan ia keturunan terakhir dari House of Larcia.


Akibat dari hal tersebut, Ares dan Excel menilai kepribadian Lucy telah rusak, menyebabkan ia tinggal di Mansion Rueter di ibukota karena Lucy akan melakukan suatu hal aneh bila dia tinggal di Mansion Larcia serta bekas Istana Kerajaan Rowling.


Tentu, Excel tidak memutuskan hal tersebut tanpa sedikitpun pertimbangan sebelumnya. Excel menilai suaminya juga memiliki kepribadian yang aneh, bahkan hampir dikatakan menyimpang baginya.


Berbeda dengan kehidupan abad modern, banyak pria melakukan poligami pada zaman yang Ares kini tinggali, menyebabkan Excel tidak mempermasalahkan bila Ares mengambil satu atau dua wanita semasa perang, meskipun Excel tidak menampik bila dia akan merasakan sebuah kecemburuan karenanya.


Namun, Ares tidaklah melakukannya, yang sangat membuat Excel merasakan ketidaknormalan terhadapnya.


Di samping hal tersebut, bila melihat keadaan Lucy, Excel teringat akan masa lalunya yang sangat pahit. Lucy tidak lagi memiliki seseorang yang berpihak padanya, bahkan kedua orang tuanya membunuh putra semata wayangnya dengan tangannya sendiri demi terjaganya nama baik Pangeran Kedua.


Demi terjaganya mental Lucy serta kewarasan suaminya agar tidak meledak, Excel memutuskan untuk membuat Lucy—yang merupakan anggota keluarga bangsawan berperingkat Marquis—sebagai selir suaminya mengingat posisi permaisuri kedua dapat dimanfaatkan untuk kepentingan negara di masa depan.


Meskipun Excel memiliki pemikiran seperti itu, Ares tidaklah berpikir demikian. Perasaannya gundah, hatinya menjerit ketakutan, Ares sangat bingung dengan kata-kata Excel yang sangat bertolak belakang dibandingkan perkataannya pada masa lampau.


"Um... apakah Anda memiliki sebuah permasalahan, Yang Mulia?" Lucy—yang berdiri di pintu mansion tepat di hadapan Ares—melukiskan kekhawatiran di atas wajahnya setelah melihat raut wajah Ares yang berkerut.


"Tidak." Kembali memasang senyuman, Ares menyembunyikan pemikirannya jauh di dalam benak, berharap Lucy tidak mengetahuinya, "Jangan khawatir."


"Begitu..." Lucy memutuskan untuk menghentikan percakapan, akan sangat lancang jika Lucy bersikap memaksa kepada pria yang saat ini telah menjadi penguasa tertinggi sebuah negara, walau kekhawatiran tetap dapat terlihat jelas pada ekspresinya.


Meskipun begitu, Lucy sangat bersyukur, ia telah menghabiskan seharian penuh bersama pria yang ia cintai. Terlebih lagi, beberapa hari yang lalu, Excel telah memberikan restu kepadanya untuk menjadi seorang selir, meski Lucy merasakan perasaan bersalah terhadapnya.


"Ada apa?" Melihat wajah sedih Lucy, Ares bertanya dengan lembut, berusaha menenangkannya.


"Aku... tidak tahu bagaimana harus membalas seluruh perbuatanmu." Kata-kata informal Lucy lirih, tidak sedikitpun terdengar oleh para pengawal yang berada tak jauh dari tempat mereka.


Ares hanya terdiam, ia tidak mengerti bagaimana harus membalas, perasaannya begitu kompleks.


"Aku... tidak lagi memiliki apapun yang berharga... bahkan jika Yang Mulia Excel telah mengatakan kepadaku untuk menjadi selirmu... aku tidak dapat melakukannya... Tubuhku telah kotor, tercemar oleh perbuatannya," sambung Lucy dengan sedikit terisak.


Ares mengambil pipi Lucy dengan tangan kanannya, menyeka wajahnya yang berurai air mata, "Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menganggapmu seperti itu."


Kelegaan, bahagia, senang, Lucy sangat terkejut oleh perkataannya. Bahkan untuk seorang bangsawan pada umumnya, mereka tidak akan pernah menerima seorang wanita—telah bertunangan dengan pihak lain—yang telah digunakan.


Tentu, hal tersebut menyangkut dengan kehormatan rumah, sangat tidak pantas apabila seorang aristokrat tidak mampu untuk menjaga kehormatannya, yang sangat mencerminkan kehormatan rumahnya.


"Terima kasih..." Lucy kembali tersenyum, wajahnya terlukis sebuah kebahagiaan, walau matanya basah oleh air mata.


Meskipun begitu, Ares tetaplah harus membuat Lucy membalas budi kepadanya, agar dapat membebaskan Lucy dari rasa bersalah dan hutang budi.


"Apakah kamu ingin membantuku, Lucy?" Ares tersenyum, berusaha kembali menenangkan Lucy.


"Apakah itu mungkin? Aku tidak memiliki bakat dan keahlian apapun... bukankah aku hanya akan menjadi beban untukmu?" tanya Lucy, terdengar sangat menyesal.


Ares kembali tersenyum, "Tidak masalah, aku membutuhkan seseorang dengan tulisan yang cukup baik dan rajin. Bukankah kamu sangat bersemangat belajar saat berada di Akademi dahulu?"


"I—itu..." Rona merah muncul, membuat Lucy mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak pernah menyangka bila Ares akan memberi perhatian kepadanya yang berbeda kelas dengannya.


Tentu, hal tersebut dikarenakan Ares dahulu merupakan anggota dewan siswa, membuatnya memiliki ingatan terhadap Lucy yang sering mengunjungi perpustakaan Akademi untuk belajar.


Meskipun begitu, Lucy melakukannya hanya karena menginginkan untuk berada di kelas yang sama dengan Zee, yang ia tidak pernah capai hingga upacara kelulusan Akademi, sedikit membuat Lucy merasakan sebuah perasaan bersalah kepada Ares.


"Aku akan mengirimkan seorang ksatria sebagai utusan besok, jadi tolong beristirahatlah." Ares menepuk ringan kepala Lucy, membuatnya bahagia karena merasa dibutuhkan oleh orang yang dicintainya.


Bukan tanpa alasan. Bagi Ares, walau ia memahami bila Lucy mencintainya, namun bukan sebuah hubungan saling mengikat seperti pernikahan yang benar-benar ia inginkan.


Terlebih lagi, Lucy menganggap dirinya merupakan sebuah barang kotor, yang membuatnya merasa tidak dapat menyerahkan tubuhnya pada orang yang dicintainya, walau Lucy tahu bila Ares tidak akan pernah menganggap dirinya merupakan wanita seperti itu.


"Terima kasih... karena selalu memikirkan diriku..." Tanpa sadar, setetes air mata sekali lagi membasahi wajah, membuat Lucy menyekanya dengan lengan pakaiannya.


"Aku akan pergi sebentar, tolong jaga dirimu." Perkataan Ares segera membuat Lucy tersenyum cerah, penuh akan keceriaan yang sebelumnya tidak pernah ia tampakkan.


"Baik!" timpal Lucy.


Sejenak tersenyum, Ares berbalik untuk memasuki kembali gerbongnya yang hanya ditarik oleh seekor kuda, disebabkan oleh Ares yang berada dalam sebuah penyamaran. Tidak terasa sedikitpun getaran saat Ares melambaikan tangannya dari balik jendela kepada Lucy.


Nah sekarang...


Meski masih banyak orang berlalu lalang, jalanan perlahan menjadi gelap, lentera-lentera yang menerangi jalanan utama telah menyala, membuat Ares sedikit bangga dengan perubahan kecil yang sangat memberikan dampak luar biasa bagi para penduduk ibukota yang sejak dahulu tidak sedikitpun memiliki penerangan kecuali hanya di beberapa titik ibukota.


Tak lama berselang, kereta kuda membawanya kepada sebuah mansion yang sangat kotor. Walau memiliki tembok yang tinggi, namun warna bangunannya telah pudar hingga terasa sangat kumuh, banyak ilalang dan rumput tinggi yang menjadi hama di halaman serta di beberapa sudut mansion yang lain.


Tepat setelah turun di halaman—jauh dari pintu masuk mansion—Ares berbalik, memandang ksatria elitnya yang berdiri tegap, "Jaga tempat ini."


"Ya, Yang Mulia." Para ksatria menjawab tegas, sebuah tanda bila Ares tidak ingin diikuti.


Pada awalnya, para ksatria merasa keberatan terhadapnya. Namun, mereka akhirnya mengerti bila mereka hanya menjadi beban bagi Tuannya karena beberapa kali telah terkena perangkap di dalamnya.


Terdapat keinginan untuk menghancurkan mansion tersebut, yang segera Ares alihkan menjadi properti pribadinya hingga membuat pihak birokrasi tidak dapat menghancurkannya.


KRIIEETT!


Tepat setelah membuka pintu kayu kusam yang menjadi pintu utama mansion, sebuah anak panah segera meluncur cepat kepadanya, membuat Ares cepat menebasnya menggunakan Rapier.


"Night Walker, apakah tidak ada sambutan yang lebih baik untukku?" Ares acuh tak acuh kembali menyarungkan Rapiernya, tidak sedikitpun kekesalan berada dalam nadanya.


Seorang wanita berambut bob berwajah imut perlahan keluar dari balik bayang-bayang, segera membungkuk dalam setelah berada tak jauh dari tempat Ares berada.


"Tuan, saya lebih menyukai nama yang telah Anda berikan kepada saya dahulu," timpal Night Walker tanpa nada, namun terasa kesal dari nadanya.


"Apakah kau ingin kembali berpura-pura menjadi pengawal Kristin? Dan juga, mewarisi nama 'Rea' dari seseorang yang telah kau bunuh sebelumnya sangatlah tidak baik, kau tahu?" Ares mengerutkan kening, menilai permintaan Night Walker sangatlah tidak wajar.


"Saya hanya sangat menyukainya, Tuan. Tidak ada alasan lain," timpal Night Walker.


"Yah, lakukan apa yang kau inginkan. Namun, laporkanlah namamu kepada Connor terlebih dahulu," balas Ares.


"Baik, Tuan. Terima kasih atas pertimbangan yang telah Anda berikan." Night Walker—atau Rea—membungkuk dalam, kedua kakinya menggeser ke samping, mempersilakan Ares memasuki lorong gelap di belakangnya.


Hmm...


Apa yang akan terjadi dengan statusnya?


"Appraisal." Ares menargetkan Rea dengan lirih.


......................


...[Status]...


Nama : – (Rea, suggested by Arestia's Emperor)


Umur : 20 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : Actress, Night Walker


Afiliasi : Klan Cornwall, Kekaisaran Arestia


Statistik


Keahlian Senjata : 83 (+0)


Kelincahan : 78 (+0)


Kepandaian : 46 (+0)


Tubuh : 79 (+0)


Kepemimpinan : 44 (+0)


Loyalitas : 88


Moral : 72


Pelatihan : 82


......................


Begitu, sebuah nama berasal pengakuan... kah?


Tersenyum masam, Ares melangkahkan kakinya menyusuri lorong hingga berada di daerah dalam mansion. Sembari menuruni anak tangga licin, salah satu tangannya membawa lentera yang telah ia persiapkan sebelumnya.


Ruang bawah tanah.


Ruangan yang digunakan Ares untuk menempatkan dua tawanannya yang hanya diketahui oleh Night Walker. Berbeda dengan Lean, Marie, serta Gale yang telah diketahui oleh beberapa orang terdekat Ares, bahkan diantara para anggota klan, tidak ada seorangpun yang mengetahui bagaimana rupa Night Walker yang sejak dahulu telah menutupi wajahnya dengan topeng, terkecuali Connor serta Ares yang kini telah menjadi Tuannya.


Terlebih lagi, keahliannya untuk merancang serta membuat sebuah jebakan sangatlah tinggi, membuat Ares mempercayakan keamanan mansion ini kepadanya.


"Bajingan kau, Ares! Kau tidak akan bisa lolos dari ini! Sialan!"


Sebuah kalimat umpatan terdengar semakin keras, menandakan ia telah dekat dengan tempat yang menjadi tujuannya, membuat Ares segera mengubah wajahnya menjadi datar.


Berada di hadapan sel besi yang sangat kuat, Ares sedikit bingung dengan pemilik mansion sebelumnya, hingga ia berpikir bila bangsawan pemilik mansion terdahulu merupakan seseorang yang sering melakukan penyiksaan atau sebuah eksperimen manusia, karena tidak terdapat karakter yang mirip dengannya yang berasal dari Kerajaan Rowling di dalam game.


"Bagaimana kabarmu, Zee?" tanya Ares.


"Bajingan!" Dari sela-sela jeruji, Zee menjulurkan kedua lengannya untuk mengambil kerah Ares, yang segera ia hindari dengan melangkah mundur.


Ares tersenyum masam, berpikir bila semua hal telah selesai dipersiapkan.


Pada awalnya, Ares berniat mengajak Lucy untuk membalas dendam kepada Zee, yang ia urungkan kembali. Ares berpikir apabila Lucy tidaklah menginginkannya, memiliki rasa takut yang begitu besar menyebabkan Lucy sangat gemetar ketakutan jika ia mendengar nama mantan tunangannya tersebut.


Bahkan, disaat ia meminta Ares untuk mengeksekusi keluarganya, Lucy tidak lagi ingin melihat mereka untuk terakhir kalinya. Entah itu disebabkan oleh kesedihannya akibat membunuh keluarganya sendiri, atau karena ketakutannya yang teramat sangat dengan mereka, Ares hanya dapat menuruti apa yang diinginkan oleh Lucy demi kebaikan mental dan hatinya.


Sebuah perasaan aneh sekali lagi terasa, Ares merasakan sebuah jiwa yang memasuki baju besi di belakangnya, membuatnya kembali memandang pria di depannya dengan tatapan mencemooh.


Melirik helm sebuah armor full plate yang menampilkan dua buah mata merah, Ares menargetkannya dengan lirih, "Appraisal."


......................


...[Status]...


Nama : – (Ares von Rueter)


Umur : –


Jenis Kelamin : –


Gelar : –


Afiliasi : House of Rueter


Statistik


Keahlian Senjata : 0 (+90)


Kelincahan : 0 (+90)


Kepandaian : 0 (+45)


Tubuh : 0 (+90)


Loyalitas : 0


Moral : 0


Pelatihan : 0


......................


Statistiknya berbeda dengan apa yang dia miliki dahulu...


Apakah dia melakukan sesuatu setelah berubah menjadi roh bergentayangan?


"Bagaimana dengan mayat yang telah kupersiapkan? Dan juga, mengapa kau tidak merasuki diriku seperti yang kau lakukan dulu?" Ares tersenyum masam, membuat Zee terdiam karena merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.


"Aku... berterima... kasih... atas bantuan... yang telah... kau... berikan." Sebuah suara serak terpancar dari zirah yang perlahan berjalan mendekat.


"Apa... itu?" Zee sangat tercengang, berada dalam kebingungan karena sejak ia ditempatkan di dalam sel, zirah yang berada di sudut ruangan tersebut tidak dapat bergerak.


"Dan juga... tubuh itu... adalah... sesuatu... yang... telah aku... korbankan... sehingga... itu... bukan lagi... merupakan... milikku..." sambung suara serak zirah tersebut setelah berdiri berdampingan dengan Ares, mengabaikan pertanyaan Zee.


"Begitu." Sejenak, Ares ingin bertanya mengenai apa yang telah dia lakukan sebelumnya sehingga dapat membuatnya bertransmigrasi jiwa, namun Ares merasa akan mengusik kehidupan pribadi masa lampaunya yang membuat Ares mengurungkannya.


"Sebagai... balas... budiku... aku... memiliki... sebuah... buku tua... yang mengungkap... rahasia... dunia ini... Buku... itu... ada di... ruang... bawah tanah... Kastil... Kota... Ereth..." ujar mayat dalam zirah tersebut.


"Terima kasih, aku akan menerimanya." Kata-kata cerah Ares membuat Zee sadar akan dirinya yang telah berada dalam bahaya.


"Si—siapa kau?!" Zee gelisah, langkah kakinya perlahan mundur karena ketakutan.


"Apa kau... mengingat... Lily? Gadis... Kelas B... Akademi... yang telah... kau perkosa... hingga tewas?" tanya mayat dalam zirah tersebut.


"Hah?" Sedikit bingung, Zee perlahan mengingatnya kembali dengan baik, membuatnya membuka lebar kedua matanya dengan ketakutan yang terpancar darinya.


"Nikmati waktumu, aku tidak akan pernah lagi membuka ruangan ini." Ares berbalik pergi, meninggalkan Zee yang seketika menjadi panik.


"A—Ares! Tolong aku! Ares! Selamatkan aku!" Merasakan zirah perlahan mendekat, Zee dengan panik mencari pertolongan.


Ares sejenak menghentikan langkahnya, berbalik dengan sebuah senyuman cerah, "Maaf, aku bukanlah Ares."


"Hah?! A—apa... yang kau maksud?" tanya Zee sangat bingung.


"Aku adalah seseorang yang dipanggil oleh zirah—tidak, Ares von Rueter dari dunia lain dan menempati tubuhnya." Bersamaan dengan kata-katanya, Ares melangkah pergi, meninggalkan Zee yang berteriak memohon pertolongan.


"Ares! Ares! Selamatka—aaaaarrrghhh!" Dengan acuh tak acuh, Ares mengunci pintu besi yang tidak akan pernah kembali terbuka, menghancurkan kunci tersebut dengan bilah Rapiernya.


Nah, sekarang...


"Appraisal." Ares menargetkan dirinya sendiri dengan menggenggam Rapiernya.


......................


...[Status]...


Nama : Ares Aubert


Umur : 18 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Kaisar Arestia, Ares I


Afiliasi : Kekaisaran Arestia


Statistik


Keahlian Senjata : 88 (+50)


Kelincahan : 85 (+60)


Kepandaian : 77 (+70)


Tubuh : 89 (+50)


Kepemimpinan : 81 (+80)


Kewilayahan dan Militer


Jumlah Prajurit : 750.000 (200.000 Personel Aktif)


Moral : 64


Pelatihan : 53


Pasokan Makanan : 21.452.811.102


Jumlah Dana : 6.026.815.273 G (+8.500.855.020 G)


......................


Hmm...


Yah, aku tidak terlalu merugi.


Ares tentu mengeluarkan uang yang sangat banyak sebagai pendanaan kudeta. Meski telah tertutupi oleh rampasan perang yang berasal dari Kerajaan Natrehn; Ruang Harta Istana Kerajaan Rowling; serta banyak bangsawan lain; itu tetap mengurangi uangnya lebih dari 800 juta G, walau Ares tidak mempermasalahkannya.


Kembali melangkah meninggalkan ruang terdalam bawah tanah yang penuh suara teriakan, Ares menuju salah satu ruangan yang tidak berada jauh dari tempatnya berada. Tidak lagi mendengar teriakan Zee karena tembok yang sangat tebal.


Tok.


Tok.


Tok.


Cklek.


Setelah mengetuk, Ares dengan acuh tak acuh membuka pintu, membuat sosok seorang wanita tua yang terbaring di atas sebuah kasur di balik jeruji besi bangkit dari tidurnya, membuat Ares tersenyum kecut, "Appraisal."


......................


...[Status]...


Nama : Eina von Fonca


Umur : 57 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : –


Afiliasi : –


Statistik


Keahlian Senjata : 105 (+0)


Kelincahan : 102 (+0)


Kepandaian : 85 (+0)


Tubuh : 110 (+0)


Kepemimpinan : 75 (+0)


Loyalitas : 0


Moral : 0


Pelatihan : 65


......................


"Bagaimana keadaanmu, Eina?" tanya Ares.


"Aku tidak menyangka bila kau tidak membiarkan keinginanku mati di medan perang menjadi kenyataan." Eina tersenyum kecut, sangat penasaran dengan apa yang Ares lakukan hingga dapat membawa pergi tubuhnya dari para ksatrianya, "Yah, berkat obat yang diberikan oleh gadis itu, tubuhku kini telah berada dalam keadaan baik."


"Begitu. Jika kau penasaran, aku menukarmu dengan tubuh seorang mayat wanita tua yang wajahnya telah diserupakan denganmu, meskipun pada awalnya dia memiliki wajah yang mirip denganmu," timpal Ares.


"Bagaimana kau dapat mengenalnya?" Eina keheranan, menganggap perkataan serta perbuatan Ares sangat tidak wajar.


Yah... dia adalah NPC sub-quest...


"Keberuntungan... mungkin?" timpal Ares bertanya-tanya.


Eina memahami bila Ares tidak menginginkan dirinya mengulik rahasianya, menyebabkan ia mengalihkan topik, "Bersiaplah untuk menghadapi—"


"Ksatria Suci?" Ares menyela, melengkapi perkataannya, "Mereka tidak akan datang menyerang dalam tiga tahun ke depan."


"Apa... yang kau maksud?" Eina sedikit terkejut.


Dari dalam sakunya, Ares mengambil sebuah gulungan perkamen dan melemparkannya kepada Eina, "Bacalah."


Eina menangkap, tangannya terasa asing dengan perkamen yang berada di tangannya karena memiliki kontur yang sangat berbeda dengan perkamen pada umumnya, yang mana merupakan gulungan perkamen yang lebih besar dan panjang daripada perkamen lain.


Berbagai informasi yang tidak diketahuinya memasuki kepalanya dengan sangat cepat, membuat Eina beberapa kali terkejut karenanya. Seusai membacanya dengan cermat, Eina perlahan menurunkan kedua tangannya, melukiskan senyuman masam, sebuah pengakuan bila Ares lebih baik dibandingkan dengan dirinya.


"Aku tidak akan pernah terkejut lagi." Eina memandang Ares dengan rindu, teringat kembali dirinya di masa lalu yang memiliki banyak rencana serta perjuangan untuk membalas dendamnya, "Setelah membuat para bangsawan dari lima negara menjadi bidak, kau berniat untuk mengadu domba dua agama besar di dunia ini?"


Tidak menjawab, Ares membiarkan Eina berspekulasi, membiarkan ia menyimpulkan sendiri.


"Terlebih lagi, jika senjata yang kau ungkapkan kepadaku ini adalah benar... aku tidak dapat membayangkannya lebih jauh lagi," Eina menggulung kembali perkamen tersebut dengan rapi.


"Aku telah menepati janjiku, menyerahkan senjatamu kepada Alfr serta menjamin keselamatannya. Jadi, apa jawabanmu?" Setelah Eina sadar, melalui Night Walker—yang akan bernama Rea—Ares merekrut Eina sebagai bawahan langsungnya, tanpa sepengetahuan orang lain bahkan Excel, terkecuali Rea.


"Izinkan aku bertanya mengenai satu hal. Apa tugas organisasi itu?" tanya Eina.


"Menyusup, membunuh, menyamar, semua hal yang dapat dilakukan oleh sebuah pasukan khusus. Tentu saja, aku akan menjamin kerahasiaan kalian bahkan dari keluargaku sendiri," jawab Ares.


Dengan kata-kata Ares, Eina memahami bila ia akan ditugaskan tidak hanya untuk aksi intelejen luar negeri, namun juga dalam negeri. Terlebih lagi, ucapan Ares mengindikasikan sebuah kebebasan bagi Eina untuk merancangnya sendiri, yang mana membuatnya dapat menyusupkan anggotanya bahkan sebagai seorang prajurit biasa di tengah Pasukan Kekaisaran Arestia.


"Permasalahan klise bagi sebuah negara baru... kah? Namun, apakah kamu tidak khawatir? Aku memiliki kesempatan besar untuk membunuhmu jika aku melakukan itu," timpal Eina.


"Aku telah mengantisipasi semua tindakan yang dapat kau lakukan, bahkan jika kau mengumpulkan orang-orang untuk bersumpah setia kepadamu dan membunuhku," balas Ares.


Tersenyum masam, Eina perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan bergerak selangkah, segera berlutut dengan menundukkan dalam kepalanya.


"Kini, Eina von Fonca telah tiada, hanya sebuah keberadaan Eina yang tersisa. Saya, Eina, bersumpah setia kepada Ares serta penguasa Arestia selanjutnya, dan menerima amanat sebagai Kepala Biro Intelejen Kekaisaran Arestia hingga masa bakti saya usai," ucap Eina.


Ares sedikit terkejut, Eina dapat menebak niatnya dengan baik. Ares tidak pernah menyangka bila Eina dapat menebak niatnya yang ingin membuat kekuasaan Kekaisaran Arestia berada di balik bayang-bayang, serta kesediaan Eina mendedikasikan kesetiaannya hingga ia mati.


"Kontrak telah disepakati." Bersamaan dengan kata-katanya, Ares berbalik, pergi meninggalkan ruangan dengan membuang kunci sel di dekat jeruji penjara yang membatasinya dengan Eina sebelumnya.


"Apa yang akan terjadi bila putra dan putrimu bergerak melawan Anda?" Kata-kata Eina sejenak menghentikan langkah Ares.


"Aku akan mendidik mereka dengan baik." Ares kembali melanjutkan langkah kakinya.


Perkataan Ares memiliki indikasi jika ia dapat memerintahkan Eina untuk membunuh anak-anaknya sendiri, apabila perkataan Eina menjadi sebuah kenyataan dan dapat membahayakan keutuhan negara, walau Eina mengerti bila Ares tidaklah mengharapkannya.


"Jika Anda tahu, saya benar-benar memiliki keinginan untuk menikahi Anda," ujar Eina tersenyum masam.


Sesaat sebelum menutup pintu, Ares kembali menatap Eina dengan sebuah senyuman kecut, "Ya, aku juga menginginkannya, jika kamu berusia 27 tahun lebih muda."


...----------------...