I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 126 : Fall of The Lombart Capital City, part 4



Tahun 1237, 25 Maret.


Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.


Malam Hari.


"Robert, aku akan bergerak sendiri mulai saat ini."


Kedua mata Robert terbuka lebar, kata-kata Tuannya membuat Robert seketika dilanda kepanikan, "Mo—mohon tunggu!"


Tidak mengacuhkan jawaban Robert, Ares segera berlari dengan Rapier yang terhunus di tangan kanannya. Robert tidak dapat mengejar Tuannya yang telah pergi sangat jauh, dirinya bersama seorang ksatria kelompok Ares mengemban tugas berat untuk menguburkan Evan tepat di samping makam ibunya.


Tentu, keduanya tidak dapat meninggalkan bayi yang terselimuti oleh kain tebal di dalam pelukan Robert. Tidak mungkin mereka berdua akan meninggalkan Evan tepat setelah mendengarkan pembicaraan Ares dan Katherine yang juga sangat menyayat hati keduanya.


Memanfaatkan statistik kecepatannya yang sangat tinggi, Ares bergerak cepat dan segera bertemu dengan kelompok ksatria kerajaan yang berjumlah tak kurang dari 30 ksatria.


Pandangan Ares diliputi oleh kekosongan, dia benar-benar tidak kuasa lagi menahan beban mentalnya dan berkeinginan untuk segera menjatuhkan kekuasaan Ectave di ibukota.


"Itu Margrave! Serang dia!"


Berbeda dengan para ksatria yang mengenakan armor full plate, Ares hanya membalut tubuhnya dengan armor ringan karena bertujuan agar tidak menghambat satupun gerakannya yang selalu memanfaatkan kecepatan.


Tiga puluh orang bergerak mendekat dengan 6 orang berada di barisan terdepan. Tanpa ragu, Ares menghunuskan Rapiernya dengan kekuatan penuhnya.


KRAK!


"Argh!"


Dua orang terdepan seketika tertusuk setelah armor mereka hancur. Tanpa penundaan, Ares menarik kembali Rapiernya dan berputar sembari mengarahkan ujung Rapiernya pada masing-masing wajah para ksatria yang hendak mengepungnya.


JRASH!


Efek fatal. Meskipun wajah mereka hanya terkena sebagian kecil dari bilah Rapier, beberapa tulang hidung para ksatria seketika hancur, beberapa wajah mereka seketika tersayat hingga merusak jaringan kulit mereka, beberapa kelopak serta mata mereka seketika hancur.


Melihatnya, para ksatria yang berada di belakang mereka hanya dapat dibuat kebingungan. Sangat tidak mungkin Ares dapat menusuk tubuh seorang ksatria hingga armor mereka hancur.


Ares melompat, dia bertujuan untuk berada di tengah-tengah musuh untuk membuat mereka secara keseluruhan terluka hingga tidak dapat bergerak. Ares tidak lagi memiliki waktu, melumpuhkan gerakan para ksatria dengan menghancurkan alat gerak vital mereka seperti mata, wajah, dan kaki adalah sesuatu yang sangat dia prioritaskan untuk saat ini.


JRASH!


"Ugh!"


"Argh!"


Jeritan para ksatria seketika memenuhi lorong istana. Ares sekali lagi menggunakan cara yang sama dengan memanfaatkan efek "Piercing" Rapiernya hingga membuat para ksatria menjadi mainan untuknya. Mayoritas dari mereka masih hidup, namun tidak mungkin para ksatria dapat bergerak karena rasa sakit yang begitu parah.


Meninggalkan para ksatria, Ares berlari dengan sangat cepat menuju sebuah ruangan yang muncul di dalam benaknya.


Tatapan kedua matanya kosong, hanya satu hal yang ada di dalam benak Ares disaat dia mendengar para ksatria istana yang tetap melakukan sebuah perlawanan di beberapa sudut istana, meskipun mereka berada dalam kekacauan dan tidak memiliki komando terstruktur karena pada awal operasi, Ares telah membidik para bangsawan militer serta ksatria tingkat tinggi terlebih dahulu.


Ruang tahta.


Setelah menebas ksatria terakhir, langkah Ares berakhir di depan sebuah pintu kembar berlapiskan emas yang terlihat sangat megah. Beberapa kali Ares telah memasukinya. Namun, dia selalu memiliki dua orang ksatria yang selalu membuka pintu untuknya sebelumnya.


Tendangan kuat seketika membuat pintu terdobrak hingga terbuka lebar. Menggeser tubuhnya dengan gerakan minimal, beberapa anak panah menancap di tempat Ares sebelumnya berpijak.


Sekitar 6 Ksatria Pengawal Raja bersenjatakan busur telah bersiap kembali untuk sekali lagi menembakkan anak panah dari dalam ruang tahta. Tidak hanya itu, dua pengawal terbaik Ectave juga berada di setiap sisi singgasana dimana Ectave mendudukinya.


Prediksinya menjadi kenyataan. Berbeda dengan game sebelumnya, Ares merasakan sesuatu hal yang aneh karena Ectave tidak melarikan diri seperti timeline yang telah tertulis dalam plot game, yang mana pemain menjadi seorang Raja dari kerajaan yang berbeda.


Apakah ini... dikarenakan aku yang telah menjadi seorang bangsawan Kerajaan Rowling?


"Mengapa kau tidak melarikan diri?" Kata-kata Ares sejenak membuat Ectave tersenyum penuh kebanggaan.


Arogansi, kehormatan, kebangaan diri, hal-hal tersebut tidak membiarkan Ectave untuk lari dari kenyataan pahit yang akan terjadi. Meskipun dia sangatlah korup, sebagai seorang Raja, sebagai orang termahsyur di seantero Kerajaan Rowling, Ectave tidak akan pernah membiarkan seorang aristokrat kecil seperti Ares menginjak-injaknya.


Sekali lagi beberapa anak panah terbang menyerang Ares. Penghindaran dengan gerakan minimal sembari menebas beberapa anak panah, Ectave tidak terkejut dengan kemampuan yang dimiliki oleh Ares. Tidak mungkin seseorang yang telah melakukan kudeta memiliki kemampuan bertarung yang sangat rendah, meskipun beberapa ksatria lain sangat terkejut tidak mempercayainya.


"Aku bukanlah seorang pengecut seperti orang tua itu," jawab Ectave dengan raut wajah serius.


Bersamaan dengan kata-kata Ectave, 6 ksatria lain menyerang Ares dengan kombinasi pertarungan jarak dekat dan menengah serta seorang Ksatria Pengawal Raja yang melesat dengan pedang yang terhunus.


Tiga anak panah yang mengarah menuju kepala, tiga bilah pedang yang hendak menebas tubuh, sebuah mata tombak yang hendak menusuk perut, Ares menggunakan statistik penuhnya untuk menerjang maju menghindari target anak panah sembari menghancurkan persenjataan para ksatria dengan langkah cepat.


KRAK!


"Argh!"


JLEB!


Menghalangi jalannya menuju singgasana, Ares menusuk perut ksatria tombak dan segera menendangnya menjauh dengan kuat. Tanpa penundaan, Ares menerjang maju menuju singgasana untuk segera membunuh Ectave.


KRAK!


Meskipun telah melihat pemandangan di hadapannya sebelumnya, seorang Ksatria Pengawal Raja yang masih berdiri di samping Ectave beberapa saat lalu memandang seolah tidak percaya terhadap pedangnya yang seketika hancur berkeping-keping.


Bersamaan dengan serangan Ares, dua unit kecil prajurit Rueter yang baru saja tiba pun menerobos aula dengan panik dan menerjang ke arah para Ksatria Pengawal Raja. Tidak mungkin mereka hanya berdiam diri disaat Tuan mereka sedang berada dalam medan pertarungan 1 banding 9.


"Urgh!"


Tanpa penundaan, Ares menusukkan ujung bilah runcing Rapiernya menuju dada ksatria tersebut dan bergerak maju sembari melemparkan ksatria yang baru saja menyerangnya.


Dengan Rapier yang tetap terhunus, langkah Ares pun terhenti. Ectave sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, entah itu melawan atau melarikan diri, Ectave sangat menunjukkan perilaku yang sangat tidak wajar baginya.


Ekspresi Ares berubah menjadi keruh, menilai dari lingkungan di sekitarnya yang telah berada dalam kuasanya, Ares tidak berpikir jika Ectave telah mempersiapkan sebuah jebakan yang dapat mencelakainya.


"Apa yang kau inginkan?" Ares bertanya dengan nada mengintimidasi, tidak berbeda dengan aura yang terpancar darinya yang menunjukkan hawa membunuh yang sangat intens.


Ectave merebahkan tubuhnya di atas singgasana, kedua sudut mulutnya terangkat, tatapan kedua matanya pun terasa sangat mencemooh kepada pria di hadapannya. Entah mengapa, walaupun Ectave tidak mungkin memenangkan pertempuran melawan Ares dan akan menghadapi kematian yang pasti terjadi, namun perasaannya dipenuhi kebahagiaan akibat telah memperoleh kemenangan yang luar biasa.


Ectave menghirup napas dalam sembari menutup kedua matanya. Perlahan, Ectave membuka kembali kedua matanya, sebuah senyuman pun terlukis di atas wajahnya, "Excel tidak sekalipun memiliki hak untuk mahkota."


...----------------...