
Tahun 1237, 23 Maret.
Benteng Ulsic, Perbatasan Selatan Kerajaan Natrehn.
Saat Matahari Terbenam.
"Lapor! Tidak ada tanda penyerangan di gerbang selatan!" Menjadi perwira terakhir yang melapor, Kristin membuat sikap kepada kakeknya yang duduk tepat di hadapannya bersama 4 perwira lain.
Zelhard merebahkan tubuhnya di atas kursi kantornya yang empuk. Kedua matanya terpejam, ada sedikit keraguan di dalam benaknya mengenai keputusan mengenai waktu dilancarkannya serangan terakhir.
Lebih dari dua pekan telah berlalu semenjak Pasukan Kerajaan Rowling yang dipimpin oleh Count Dupent mengepung Benteng Ulsic yang kini menjadi basis pertahanan Pasukan Zelhard.
Hanya berujung kebuntuan, tidak sekalipun Tentara Rowling dapat membuat serangan yang menyebabkan dampak kerusakan yang signifikan bagi Zelhard dan pasukannya.
Meskipun Tentara Rowling memiliki persenjataan berat, namun tidak ada diantara mereka yang berguna. Tentu, hal tersebut tidaklah lepas dari campur tangan Lucas sebelumnya.
Anggapan "beban" yang hanya dapat menyusahkan terhadap Lavreigh telah melekat di dalam benak Lucas. Bagi Lucas, akan sangat menyia-nyiakan apabila dirinya memberikan pasukan elit serta persenjataan militer yang bagus kepada Lavreigh.
Akibatnya, mayoritas prajurit infanteri yang dikirimkan kepada Lavreigh hanyalah seorang wajib militer biasa, meskipun tidak dapat dipungkiri jika Lucas tetap mengirimkan beberapa ksatria elitnya untuk menemaninya melawan Zelhard.
Zelhard bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela yang berada tepat di balik punggungnya. Pemandangan langit malam yang dipenuhi oleh bulan dan bintang memenuhi bidang pandangannya.
Zelhard sejenak termenung. Perlahan, tatapannya melirik sebuah perkamen kecil yang tertempel di sudut jendela yang menunjukkan bila telah memasuki akhir bulan.
Kurasa, ini sudah waktunya untuk menyerang.
Zelhard berbalik kembali menghadap para perwiranya dengan tegap, pun tidak berbeda dengan mimik wajahnya yang sangat menunjukkan ketegasan, "Segera siapkan pasukan! Kita akan menyerang mereka dalam skala penuh saat tengah malam!"
Termasuk Kristin, dua orang perwira samar terlihat terkejut dengan perilaku Zelhard yang sangat kontras secara tiba-tiba, meskipun dua perwira lain juga terkejut namun tidak mereka tampakkan.
"Ya, Pak!"
Keempat perwira di hadapan Zelhard menjawab dengan ketegasan. Tanpa penundaan, mereka segera menunduk ringan sebagai kehormatan dan berbalik pergi meninggalkan ruangan.
"Kristin." Panggilan Zelhard membuat langkah Kristin—yang paling akhir meninggalkan ruangan—terhenti.
Kembali berbalik, Kristin memiliki tanda tanya besar di dalam benaknya, "Apa itu, Kek?"
"Bunuh semua bangsawan musuh yang berperingkat Count dengan pasti. Lakukan sebelum penyerangan dimulai," jawab Zelhard dengan tegas.
Kristin memahami perintah. Zelhard menyiratkan jika Kristin harus mengerahkan mata-mata berupa budak yang akan memasuki ranjang Lavreigh dan para bangsawan lain.
Mereka bukanlah para mata-mata internal Natrehn, namun para budak yang sengaja dibeli dan diberikan kesepakatan akan dibebaskan hanya jika mereka telah berhasil melaksanakan perintah.
"Ya, Pak!" Kristin menjawab tegas dan segera kembali berbalik.
Tepat sebelum Kristin menutup pintu, Zelhard teringat akan sesuatu hal yang telah dia lupakan karena perhatiannya hanya terfokuskan kepada peperangan, "Setelah penyerangan selesai, laporkan padaku kriteria calon suamimu."
BRAK!
"Sial!" Kristin membanting pintu sembari mengumpat kesal.
Kehadiran Kristin di balik pintu perlahan memudar. Zelhard segera menutup kembali kedua matanya dan menghela napas berat.
"Apakah gadis itu tidak mengerti jika aku bisa mati kapan saja?" ujar Zelhard dengan nada lelah.
Sekali lagi terduduk di atas kursinya, Zelhard kembali mengerjakan laporannya mengenai perkembangan peperangan dan menyusun strategi yang akan diambilnya di masa depan.
Suasana perkemahan Tentara Rowling menjadi riuh di malam hari, yang mana selalu terjadi pada malam-malam sebelumnya. Karena tidak mendapatkan persediaan makanan apapun di desa sekitar serta mendapati sumur banyak desa yang telah diracun dengan bangkai, Lavreigh tidak memiliki sedikitpun ketenangan pikiran setelah tiga hari melakukan pengepungan terhadap Benteng Ulsic.
Akibatnya, para bangsawan memerintahkan para prajurit kavaleri yang masih tersisa untuk mengambil air dari tempat yang cukup jauh serta memanfaatkan jasa para pedagang yang melewati daerah sekitar untuk menjual makanan pada mereka dengan harga murah.
Meskipun mereka sebelumnya telah melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi serta bergerak memutar, prajurit Rowling dengan sengaja menyergap mereka dan mengarahkan mereka menuju perkemahan Tentara Rowling.
Tentu saja, hal tersebut tidak berlaku bagi para pedagang yang sejak awal telah berdagang dengan Tentara Rowling sebelum Natrehn melancarkan serangan malam.
BRAK!
Sekali lagi menggebrak meja, Lavreigh mendengus kesal. Ekspresinya keruh, tubuhnya bercucuran keringat, kerutan pun tampak di atas keningnya.
Para pelayan serta beberapa ksatria House of Dupent hanya dapat terdiam, mereka tentu tidak ingin menjadi obyek tujuan dari kemarahan Lavreigh.
"Sialan!" Lavreigh berteriak penuh amarah.
Hatinya sangat tidak puas, Lavreigh benar-benar memiliki keinginan besar untuk melampiaskan rasa frustasinya. Namun, akal sehatnya menahan tindakannya.
Tidak mungkin Lavreigh meletakkan tangan pada pelayan serta memperlakukan ksatrianya dengan kejam. Meskipun mayoritas para pelayan yang bekerja pada sebuah keluarga bangsawan dimaksudkan untuk menjadi gundik bangsawan tersebut, Lavreigh benar-benar tidak ingin membuat namanya memburuk.
Terlebih lagi, jumlah para pelayan yang dia bawa ke medan perang sangatlah terbatas. Akan sangat merepotkan untuk mengurus kebutuhan sehari-harinya bahkan jika dia kehilangan seorang pelayan.
Tidak hanya itu, ksatria yang mendapat perlakuan buruk Lavreigh tentu akan melaksanakan tugasnya dengan buruk, yang mana akan terus memperpanjang kebuntuan peperangan.
Lavreigh mengalihkan perhatiannya kepada ksatria yang memanggilnya di sudut tenda dengan kekesalan, "Apa?!"
"Mengapa Anda tidak mengambil seorang budak, Tuan?" tanya Ksatria paruh baya tersebut dengan sedikit takut.
Lavreigh tersadar akan sesuatu yang dia lupakan hingga sejenak membuatnya mematung. Semenjak mengalami kebuntuan, pikiran Lavreigh dipenuhi dengan cara-cara yang dapat pasukannya lakukan agar memenangkan peperangan, yang mana sangat berbeda dengan kondisinya sebelum melakukan pengepungan.
Teringat kembali pada seorang pedagang yang menjual beberapa budak cantik kepadanya, Lavreigh seketika menjadi bersemangat, "Panggil dia! Bawakan aku budak terbaik!"
"Ya, Tuan." Serempak, para ksatria dan pelayan merasakan kelegaan besar. Kepuasan dimana mereka terhindar dari bahaya menyelimuti hati mereka.
"Cih, kalian mengganggu pemandangan. Pergilah." Lavreigh mengusir dengan gerakan tangan.
Semua orang membungkuk dalam. Secara bergantian, satu persatu orang keluar dari tenda pribadi Lavreigh.
Tak berselang lama, dua orang ksatria, seorang pedagang budak, serta beberapa gadis budak cantik memasuki tenda pribadi Lavreigh dengan membungkuk dalam. Gairah pada diri Lavreigh pun muncul, ***** buas seorang tentara yang berada di tengah medan perang menyelimuti dirinya.
Meskipun begitu, tidak ada diantara prajurit Rowling serta Lavreigh yang mengetahui jika pedagang budak di hadapan mereka telah memiliki kontrak khusus dan perjanjian rahasia dengan Natrehn.
Tentu, keselamatan pedagang budak tersebut telah terjamin. Dia telah mendapat kabar jika Natrehn sekali lagi akan melancarkan serangan malam.
"Silakan, Tuan." Pedagang budak berucap dengan menunduk sopan.
Lavreigh mendekati gadis-gadis budak dengan tangannya yang melecehkan mereka. Membelai tubuh mereka yang sengaja dikenakan pakaian terbuka, Lavreigh beberapa kali mencium leher para gadis budak hingga mereka merasa sangat ketakutan.
Hatinya telah membuat pilihan, Lavreigh memutuskan untuk mengambil seorang orang gadis pendek berambut hitam bob serta seorang gadis dengan tubuh yang sangat kaya berambut pirang, yang memiliki ekspresi ketakutan yang terukir di atas wajahnya, "Aku ambil mereka berdua, lakukan pembayaran atas namaku dengan Ksatria Tingkat Tinggi House of Dupent. Pergilah."
Sejenak, pedagang tersebut tersenyum, "Baik, Tuan," serta membungkuk dalam.
Melihat mereka telah keluar dari tenda, Lavreigh menarik kedua rantai yang terikat pada kalung budak dua gadis tersebut dengan paksa hingga keduanya menjerit kesakitan.
"Akh."
"Diam!" Lavreigh berteriak penuh amarah.
Tarikannya terasa semakin kuat serta langkahnya yang semakin cepat mendekati ranjang besarnya.
"Tanggalkan pakaianmu." Perintah Lavreigh sangat membuat keduanya ketakutan.
Meskipun bertentangan keras dengan hatinya, meskipun keduanya tidak menginginkan kesuciannya terenggut, keduanya perlahan menanggalkan pakaian mereka dengan air mata yang menetes dari masing-masing keempat sudut matanya.
Tangan Lavreigh mengambil dada wanita berambut pirang yang sangat besar. Tak kuasa menahan, wanita tersebut jatuh tertidur di atas ranjangnya dengan kesakitan, "Ukh..."
***** Lavreigh telah menggebu-gebu, dia segera menanggalkan celananya dan memasukkan batangnya dengan paksa.
"Aakkhh..." Mimik wajah wanita tersebut terlihat sangat kesakitan. Wajahnya berderai air mata, pun kedua tangannya yang menahan ranjang dengan remasan erat.
JRASH!
Kepala Lavreigh seketika terpenggal.
Gadis tersebut teringat dengan pesan kebebasan yang disampaikan kepadanya oleh pedagang budak beberapa saat lalu, yang berupa kunci kalung budak mereka berdua yang berada di saku pakaian lusuh budaknya.
Ketakutan menguasainya, tidak dapat memikirkan apapun selain mencari keselamatan dirinya, gadis tersebut melihat sebilah belati yang berada di atas meja di samping ranjang dan segera menebas leher Lavreigh.
"Hiii!" Gadis yang sedang diperkosa berteriak ketakutan.
"Ayo!" Gadis pembunuh membuang tubuh Lavreigh untuk menjauh dan segera menarik tangan gadis budak di hadapannya.
Keduanya merasakan rasa panas nyala merah dari lingkungan sekitar tenda. Mata-mata Natrehn telah memulai kembali operasi sabotase perkemahan Tentara Rowling dengan membakar lumbung-lumbung pasokan makanan dan beberapa tenda besar.
Kedua gadis budak segera membuka kunci kalung budaknya dan mengenakan pakaian apapun yang dapat mereka kenakan lalu bersama-sama melarikan diri dari tenda melewati kekacauan yang tengah berlangsung.
"Seraang!" Kristin berteriak sangat keras.
Telah menempatkan unitnya—yang terdiri dari beberapa regu—di dekat perkemahan Tentara Rowling, Unit Kristin bergerak menerjang perkemahan musuh tepat setelah melihat nyala api yang berkobar di dalamnya.
Tidak hanya hal tersebut, gerbang Benteng Ulsic telah diturunkan. Puluhan ribu pasukan infanteri dan ribuan kavaleri digerakkan untuk menyerang musuh hingga titik darah penghabisan.
Kavaleri Kristin melompati pagar pembatas dan segera menerjang musuh-musuhnya dari atas kuda perangnya.
Suasana kacau, tidak memiliki satupun komandan yang cakap, para prajurit Rowling hanya dapat berlarian untuk menyelamatkan diri mereka satu persatu.
Meskipun beberapa ksatria tingkat tinggi berupaya untuk mengambil alih komando, upaya tersebut segera menjadi sia-sia disaat unit Kristin dan unit serangan kilat Natrehn lain memporak-porandakan keadaan perkemahan.
Puluhan ribu Infanteri Natrehn dengan bergerak cepat untuk mendekat. Derap langkah kaki yang semakin keras hanya membuat prajurit Rowling mengurungkan niat mereka untuk berperang dan melarikan diri.
Malam itu, pengepungan Benteng Ulsic oleh Tentara Kerajaan Rowling telah dipastikan berakhir dengan kemenangan untuk Natrehn.
...----------------...