I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 45 : Dendam? Itu Tidak Baik, Kau Tahu?



Tahun 1236, 1 Mei.


Istana Kerajaan Natrehn, Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva.


Pagi Hari.


Tap.


Tap.


Tap.


Seorang perwira militer muda berambut coklat pendek yang mengenakan seragam militer berwarna biru dan dibalut dengan armor ringan hingga terkesan mengintimidasi sedang melangkahkan kakinya menyusuri koridor istana kerajaan.


Pada dinding berbatu koridor yang memiliki banyak jendela dimana cahaya mentari masuk, dia sejenak menghentikan langkahnya untuk melihat para ksatria yang sedang berlatih menggunakan berbagai macam peralatan kayu.


"Apakah kamu telah bertemu dengan ayah, Val?" tanya seorang pria di belakangnya secara tiba-tiba.


Karena terkejut, seketika ia membalikkan tubuhnya menuju sumber suara dan menemukan pemuda tampan berambut emas yang mengenakan jubah putih. Val pun segera membungkuk dalam dikarenakan pemuda tersebut merupakan Putra Mahkota Kerajaan Natrehn, Julius von Runel Kona Nathren.


"Sudah lama tidak bersua, Yang Mulia. Saya baru saja hendak bertemu dengan Yang Mulia Raja," jawab Val dengan penuh hormat.


"Bagaimana keadaan di utara?" tanya Julius dengan memancarkan ketenangan.


"Kami telah memenangkan pertempuran di daerah lembah. Namun, seperti yang dapat Anda duga," jawab Val lugas.


"Melarikan diri lagi, kah..." timpal Julius dengan mengerutkan kening.


Di perbatasan utara Kerajaan Natrehn, terdapat wilayah yang tidak memiliki tuan dikarenakan wilayah tersebut dihuni oleh puluhan suku barbar.


Meskipun militer kerajaan tidak terlalu menghiraukan wilayah tersebut dikarenakan mereka yang bertahun-tahun fokus untuk memperebutkan Tanah Vietra dengan Kerajaan Rowling, pada akhirnya wilayah utara menjadi zona konsentrasi militer kerajaan dikarenakan suku-suku barbar tersebut sering menyerang dan menjarah desa-desa di perbatasan utara kerajaan.


Karenanya, sebagian besar Tentara Kerajaan Natrehn ditempatkan di perbatasan utara untuk melindungi wilayah utara serta diperintahkan untuk menggarap tanah yang tidak memiliki penduduk.


"Jadi, mohon maafkan saya untuk undur diri terlebih dahulu dikarenakan saya telah mendapat panggilan Yang Mulia Raja," timpal Val dengan nada menyesal.


"Ah, ya. Maaf telah menahanmu," balas Julius yang menyesal.


Val pun segera membungkuk dalam. Setelah menegakkan kembali tubuhnya, ia berkata, "Permisi."


Melihat Val yang telah berbalik pergi, Julius berkata dengan nada meminta maaf, "Aku turut menyesal atas apa yang terjadi kepada ayahmu, Earl Renus."


Val sekali lagi menghentikan langkahnya. Meskipun tidak sopan kepada Sang Putra Mahkota, ia berkata dengan nada berat, "Ya," dan melangkahkan kakinya kembali.


Apakah aku harus memanfaatkan dendamnya itu untuk merebut Tanah Vietra kembali?


Atau bahkan menyerang Kerajaan Rowling?


Dengan memanfaatkannya, aku dapat menggunakan militer House of Renus.


Melihat Val yang dipenuhi dendam, Julius hanya dapat melukiskan senyuman yang terlihat menakutkan di wajahnya.


Tak lama berselang, Val telah mencapai pintu besar yang memiliki hiasan yang sangat mewah dengan kedua sisinya yang dijaga oleh dua ksatria berarmor full plate berwarna biru.


"Ahli waris House of Renus, Val von Renus, telah tiba di Istana Kerajaan Natrehn untuk memenuhi dekrit Yang Mulia Raja," ujar Val tegas.


Kedua ksatria itupun dengan sigap membuka pintu. Melangkahkan kakinya untuk memasuki ruang tahta dengan banyak tiang yang berjejer di dalamnya, Val sedikit keheranan karena hanya terdapat ruang kosong di balik pintu.


Tetap saja, sebagai seorang bangsawan tingkat tinggi dan merupakan seorang ksatria, Val tetap melangkah maju tanpa menghiraukan hal tersebut.


"Aku sudah menunggumu, Val," ujar seseorang yang bersandar di salah satu tiang ruangan.


Mendengar suara dari belakang, Val berbalik dan melihat seorang wanita tua beruban dengan seragam militer berwarna hijau yang memiliki jubah berwarna hitam.


"Marquess—tidak, Jenderal Eina, sudah lama tidak berjumpa," ujar Val dengan menunduk ringan.


"Aku akan mengantarmu menuju ruang pribadi Yang Mulia Raja," ajak Eina dengan melangkahkan kakinya kembali ke luar ruang tahta.


"Baik," balas Val lalu mengikuti Eina.


Tok.


Tok.


"Yang Mulia, saya telah membawanya," ujar Eina setelah mengetuk pintu.


"Masuk," timpal suara berat dari dalam ruangan.


Diikuti oleh Val, Eina membuka pintu dan memasuki ruangan tersebut. Di dalamnya terdapat seorang pria tua yang mengenakan seragam militer berwarna hijau yang duduk di sofa yang di depannya juga terduduk pria paruh baya berambut emas panjang dengan mahkota dan mengenakan jubah.


Tentu saja, pria tua adalah salah satu dari tiga Jenderal Besar Kerajaan Natrehn, Zelhard von Ginnes. Yang lainnya adalah Raja Kerajaan Natrehn saat ini, Movic I.


Eina dan Val segera berlutut di samping Movic lalu berkata, "Kami telah memenuhi perintah Anda, Yang Mulia."


"Silakan ambil tempatmu, aku ingin mengadakan pertemuan dengan santai dan tidak formal," balas Movic.


"Baik," balas Val dan Eina serentak dan duduk di sofa yang berada di dekat mereka berdua.


Setelah melihat mereka berdua terduduk, Movic berkata dengan nada menyesal, "Pada akhirnya, aku harus kehilangan salah satu dari kalian bertiga."


Tidak ada yang membalas perkataan Raja Natrehn tersebut. Mereka bertiga ingin menghindari topik karena ingin melangkah maju meninggalkan hal yang telah terjadi di masa lalu.


"Dua pekan yang lalu, aku telah menerima kabar dari salah satu ksatria yang berafiliasi dengan Ordo Ksatria Ketiga Kerajaan dan merupakan anak kedua dari mantan Count Utred, Azter von Utred, dimana dia mendapat informasi dimana perwira dan pejabat kerajaan yang berasal dari kalangan aristokrat telah berkhianat," ujar Movic dengan rumit.


Setelah melihat mereka bertiga tetap terdiam karena sangat terkejut, Movic melanjutkan penjelasannya dengan berkata, "Mendapati informasi tersebut akurat, aku telah membersihkan beberapa orang di lingkungan istana dan hingga saat ini masih terus berlangsung. Jadi, aku, Movic I, Raja Kerajaan Natrehn saat ini, memerintahkan kalian bertiga untuk mereformasi militer untuk menemukan orang-orang tersebut."


Mereka bertiga segera bangkit dari tempat duduknya dan berlutut dengan menundukkan kepalanya sembari berkata, "Baik, Yang Mulia."


"Duduklah kembali," ujar Movic dengan acuh tak acuh.


Setelah melihat mereka bertiga terduduk kembali di atas sofa, Movic berkata, "Dan juga, Val, aku akan mengangkatmu menjadi Earl Renus untuk saat ini dan mewarisi posisi pendahulumu yang telah meninggal."


Val hanya dapat dibuat keheranan setelah mendengar kata-kata Movic. Jika itu untuk mewarisi posisi ayahnya, itu adalah hal yang wajar mengingat usia Val yang berumur 18 tahun.


Namun, jika ia diangkat menjadi salah satu Jenderal Besar, Val tentu saja merasa tidak mampu dikarenakan ia yang hanyalah seorang perwira menengah di kemiliteran yang membuatnya tidak memiliki banyak pengalaman, meskipun ia akan diangkat menjadi seorang jenderal di masa depan.


"Saya... belum memiliki cukup pengalaman untuk memimpin pasukan besar, Yang Mulia," timpal Val yang keberatan dengan sopan.


"Saya rasa itu benar, Yang Mulia," ujar Zelhard yang setuju dengan pendapat Val.


Merasa disalahpahami, Movic berkata, "Tidak, aku akan mengangkatmu dalam dua tahun. Jadi, dalam dua tahun ini, pelajarilah hal yang dapat kamu pelajari dari Eina dan Zelhard."


"Apa pertimbangan Anda untuk memutuskan hal ini, Yang Mulia?" tanya Eina heran.


"Kami telah mengikat perjanjian gencatan senjata dalam dua tahun kedepan dengan Kerajaan Rowling. Untuk satu tahun ke depan, aku ingin meminimalisir semua gerakan militer kerajaan dan mengumpulkan kekuatan. Tentu saja, itu termasuk gerakan militer di utara dengan meminimalisirnya dengan hanya melakukan pertempuran kecil saja," jawab Movic lugas.


"Apakah Anda ingin menyerang konfederasi karena mereka telah menghina kami? Mengapa Anda sangat terburu-buru, Yang Mulia?" tanya Eina kembali dengan mengerutkan kening.


"Apakah Anda tidak khawatir apabila Kerajaan Rowling akan menyerang kami kembali dalam dua tahun setelah gencatan senjata berakhir?" tanya Zelhard serius.


"Tidak. Justru ini adalah kesempatan kami untuk menguasai seluruh benua bagian barat," jawab Movic serius.


"Mengapa Anda dapat merencanakan hal tersebut, Yang Mulia?" tanya Val yang kebingungan.


"Putri Excel, atau lebih tepatnya orang yang membunuh ayahmu, Margrave Rueter, telah membuat politik Kerajaan Rowling menjadi tidak stabil hingga tiga atau empat tahun ke depan. Karenanya, kami akan menggunakan kesempatan ini untuk menyerang konfederasi dimana kami pasti tidak akan diganggu oleh Kerajaan Rowling," jawab Movic lugas.


Mengetahui orang yang telah membunuh ayahnya, sedikit membuat perasaan Val menjadi panas. Namun, dia menahannya karena tidak mungkin melampiaskan kemarahannya di tempat ini.


"Begitu," timpal Eina yang memahami rencana Movic.


"Setelah itu, saat kondisi politik Kerajaan Rowling telah sangat memanas, kami akan menyerang mereka dimana mereka tidak akan siap. Jadi, gunakan ini sebagai kesempatanmu, Val. Selain aku yang ingin merasakan angin sejuk, aku juga sedikit kesal apabila salah satu jenderal terbaikku dipermalukan di atas tombak," sambung Movic dengan tersenyum.


"Baik, Yang Mulia," balas Val, Eina, dan Zelhard serempak dengan menundukkan dalam kepalanya.


Dalam hati Val, ia telah menetapkan tujuannya dengan mantap untuk membalas dendam meskipun ia harus bersabar dan berlatih selama satu tahun ke depan.


...----------------...