I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 103 : Perubahan Sieg



Tahun 1236, 21 September.


Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Sore Hari.


"Berapa banyak?" Sieg sekali lagi mengulangi ucapannya.


"Setengah G, Nak. Lagipula, ada apa dengan wajahmu?" Penjual tusuk daging bakar menatap aneh pada Sieg yang sejenak mematung di depannya.


"Kakak..." panggil Claire mengingatkannya.


Kembali tersadar, Sieg segera mengambil dua koin perunggu serta beberapa koin besi dari kantungnya dan menyerahkannya kepada pedagang di hadapannya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu, tapi berhati-hatilah, Nak. Meskipun ketertiban umum dapat dikatakan baik, tapi masih banyak pencopet dan pencuri yang berkeliaran di sekitar tempat ini." Pedagang tersebut menerima dengan ekspresi sulit, dia menilai Sieg berasal dari ibukota karena ekspresi tercengang yang ditunjukkan oleh Sieg disaat dia menerima jumlah tusuk daging yang sangat banyak.


"Ah, baik. Terima kasih untuk peringatannya." Berbalik pergi bersama Claire serta beberapa orang pengawal—yang bersama-sama berada dalam penyamaran—mereka memutuskan untuk kembali menuju penginapan.


Tentu saja, beberapa ksatria pengawal Ares juga menyamar di sekitar mereka untuk menjaga keamanan dari Putra Mahkota serta Putri Kerajaan Lethiel yang memiliki keinginan untuk berkeliling kota.


Tepat satu hari telah berlalu semenjak Ares dan Sieg melakukan pertemuan yang menghasilkan sebuah pakta rahasia.


Tidak hanya sebuah bantuan berupa pasokan makanan yang dikirimkan Ares secara berkala dalam waktu dua tahun, Sieg juga mendapatkan banyak persenjataan militer yang akan dikirimkan tepat setelah pasokan makanan berhasil diserahkan.


Bersama para pejabatnya, Sieg dan Claire telah menyepakati bahwa Kerajaan Lethiel secara keseluruhan akan berada di bawah kekuasaan Ares dengan syarat mereka tetap memiliki kedaulatan penuh terhadap wilayahnya.


Terdapat keberatan yang begitu besar sebelumnya, namun Ares berhasil meyakinkan para pejabat kerajaan dimana dia akan membimbing Kerajaan Lethiel secara menyeluruh untuk mengembangkan wilayahnya.


Memiliki jumlah penduduk yang kecil serta banyak wilayah yang belum terjamah, membuat para pejabat tidak dapat berkutik. Bagi mereka, para penduduk adalah benang merah negara.


Apa yang akan terjadi bila kematian massal akibat kelaparan melanda negara mereka?


Bersama Sieg dan Claire, para pejabat telah memikirkannya dengan seksama. Tidak hanya pendapatan pajak yang akan menurun, namun harga diri mereka sebagai seorang penguasa wilayah juga akan terinjak-injak karena tidak dapat mengurus wilayahnya dengan benar.


Meskipun terdapat beberapa orang yang sangat berat untuk menerima, namun mereka tahu jika mereka tidak lagi dapat berkutik.


Mustahil menerima sebuah suntikan dana dan bantuan dari pihak lain, mereka pun tahu jika peperangan yang akan terjadi tidak lama lagi berkemungkinan besar melesukan perekonomian di benua barat secara keseluruhan.


Secercah harapan muncul, tidak ada para bangsawan yang dapat menahan air liurnya yang hendak terjatuh. Tidak ada diantara mereka yang tidak tertarik dengan visi pembangunan yang dicanangkan Ares setelah mendengarnya.


Sekali lagi berkeliling Kota Ereth, mereka tahu bahwa kehidupan di tempat ini berkali-kali lebih baik dibandingkan dengan Ibukota Kerajaan Lethiel.


Tatapan Sieg tidak teralihkan pada kantung penuh tusuk daging yang saat ini berada dalam genggamannya. Ares telah membuktikan bahwa revitalisasi serta pengembangan wilayah yang keluar dari mulutnya bukanlah sesuatu yang kosong.


"Ini." Sieg menyerahkan salah satu tusuk daging tersebut kepada Claire yang berjalan tepat di sampingnya.


"Terima kasih..." Kata-kata Claire terputus, dia sangat mengetahui apa yang ada di dalam benak saudaranya tersebut.


Sieg pun memasukkan sebuah daging ke dalam mulutnya, yang membuat kedua kakinya sejenak berhenti melangkah.


"Ada apa, Kakak?" tanya Claire yang juga mengentikan kakinya bersama dengan para pengawal.


"Makanlah." Sieg berkata tanpa penundaan dan kembali memakan tusuk daging tersebut dengan sedikit menambah kecepatan makannya.


Memandang penuh keanehan pada saudaranya, sebuah potongan daging pun tenggelam ke dalam mulut Claire yang membuatnya sangat terkejut—yang tidak berbeda dengan reaksi para ksatria yang sebelumnya telah berkeliling kota.


Perbedaan dari takaran suatu bumbu masak tentu sangat terasa pada lidah keduanya.


Rasa hambar pada sebuah daging yang berasal dari pedagang pasar tentu telah melekat kuat pada lidah keduanya—yang membuat keduanya sangat terkejut karena mengecap rasa asin kuat pada daging yang baru saja masuk ke dalam kerongkongan mereka.


Hingga mereka tiba di kamar tamu dari sebuah penginapan berlantai dua yang memiliki atap merah, Sieg pun memandang wajah adiknya dengan tatapan penuh keseriusan.


"Claire, jujurlah, bagaimana perasaanmu terhadap Margrave?" Sieg berkata dengan sangat terus terang.


Ada sedikit perasaan tertekan dalam hati Claire. Memikirkannya dengan seksama, Claire memahami jika dia menikahi Ares, dirinya dapat memperkaya Wilayah Lethiel dengan pengalaman-pengalaman yang akan didapatnya nanti.


Claire tersenyum lemah. Tidak memiliki perasaan menyukai seorang pria sebelumnya, Claire memantapkan hatinya untuk menjadi alat politik, "Aku... menyukainya."


"Tidak, bukan itu maksudku." Balasan cepat Sieg membuat Claire tertegun.


Meskipun tidak ditampakkannya, ada sedikit rasa kesal pada saudaranya karena telah membuat Claire mengatakan sesuatu hal yang baginya sangat memalukan.


Mendengar jawaban dari perkataan yang dapat membuat lawan bicara salah paham, Sieg tersenyum tipis, "Aku bersyukur jika kamu berpendapat seperti itu terhadapnya. Tapi..." Segera mengubah wajahnya menjadi penuh keseriusan kembali, Sieg menatap kuat pada adiknya tersebut, "Aku berencana untuk meninggalkanmu di kota ini."


"Eh? Mengapa?" tanya Claire bingung.


"Wilayah Lethiel akan menjadi semakin tidak kondusif di masa depan. Aku ingin membuatmu tetap aman dengan meninggalkanmu di kota ini," jawab Sieg.


Penolakan keras segera terpancar dari hati Claire, "Tidak! Aku akan ikut kembali—"


"Claire." Panggilan berat Sieg memutus protes saudara perempuannya. Tatapan tajam seolah seperti seorang pembesar negara, sedikit membuat Claire kembali memiliki perasaan tertekan.


"Selama masa bergejolak di waktu yang akan datang, tinggallah di kota ini. Aku tidak akan membuatmu hanya berdiam diri, pelajarilah semua hal yang dapat kau pelajari di kota ini. Bagaimana Margrave memerintah wilayahnya, mengalokasikan anggarannya, serta apa saja yang sebelumnya telah dia lakukan... catatlah setiap hal yang dapat memperbaiki seluruh kerajaan di wilayah ini hingga perang berakhir," sambung Sieg.


Claire hanya dapat terdiam, menggigit bibir bawahnya, tanpa sadar setetes air mata terjatuh dari salah satu sudut matanya.


Mereka berdua tahu, jika saat ini dapat menjadi pertemuan terakhir bagi keduanya—yang mana Claire juga memahami bahwa dia bisa saja tidak akan pernah melihat kedua orang tuanya di masa yang akan datang.


Suasana hening terasa sangat berat bagi keduanya. Namun, Sieg kembali melukiskan senyuman tipis sembari meletakkan telapak tangannya di atas kepala Claire.


Puk.


"Tidak apa-apa bagimu untuk memiliki anak dengan Margrave... jika kamu menyukainya. Aku akan mendukung penuh hubungan asmaramu dengannya." Kata-kata Sieg yang terasa penuh candaan menghangatkan kembali suasana mendung diantara keduanya.


Claire melempar tangan Sieg yang memegang kepalanya tersebut dengan penuh kekesalan. Akan tetapi, kedua sudut bibirnya samar terangkat.


Sembari tersenyum, Sieg menatap penuh kasih sayang kepada adiknya. Dia pun berbalik untuk keluar dari ruangan dengan langkah yang terlihat sangat berwibawa, "Aku akan berbicara dengan Margrave setelah ini. Kuharap, kamu benar-benar menikmati masa tinggalmu di kota ini."


Sieg segera menghentikan langkahnya tepat disaat dirinya hendak keluar dari ruangan, "Lain kali, kamu tidak akan menemui sosok pangeran yang sangat menyedihkan."


"Eh?" ujar Claire yang kebingungan.


Mengabaikan perkataan Claire, Sieg melukiskan senyuman tipis di atas wajahnya, "Tapi... sesosok jenderal perang yang sangat agung," dan melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari ruangan.


Melihat kepergian Sieg, Claire entah mengapa merasa punggung kakaknya terlihat begitu besar, sangat memberikan kesan luar biasa yang mengakar kuat di dalam hatinya.


Saat itu, Ares tidak pernah memperkirakan jika pertemuan Sieg dengannya akan menjadi sebuah titik balik, yang tidak berbeda dengan anak dari pewaris perusahaan terbesar di dunia, Loic Coulent.


...----------------...