I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 26 : Kuh, Kembali Menuju Rutinitas Harianku? Menyebalkan!



Tahun 1236, 25 Maret.


Kamar Pribadi Amalia, Mansion Margrave Rueter, Kota Ereth.


Saat Matahari Terbit.


Ares membuka matanya secara perlahan karena telah merasakan sinar mentari yang masuk ke dalam kamar. Saat ia melihat seseorang yang terbaring di sebelahnya yang hanya ditutupi oleh selimut, ia mendekatkan wajahnya menuju telinga wanita tersebut dan berbisik, "Bangun, Amalia."


Karena menunggunya yang tidak kunjung terbangun, Ares mencium kelopak matanya yang menyebabkan Amalia membuka matanya dengan perlahan.


"Um... Tuan?" ujar Amalia yang telah membuka matanya.


"Selamat pagi," sapa Ares dan tersenyum kepadanya.


Amalia segera tersadar dengan sapaan Ares. Karena mengingat kejadian semalam, ia memiliki wajah yang memerah dan berkata dengan malu, "S—selamat pagi, Tuan."


"Aku akan pergi ke kastil untuk saat ini, tolong jaga dirimu," timpal Ares lembut.


"Baik, Tuan," balas Amalia yang masih memiliki wajah merah.


Meskipun Ares telah tiba di Kota Ereth pada siang hari tepat pada satu hari yang lalu, ia tidak langsung pergi menuju kastil karena menginginkan untuk melihat anaknya yang sedang tumbuh.


Setelah tiba di mansion, ia langsung membersihkan dirinya dan bermain dengan Lia serta Leon yang saat ini telah berumur sekitar 2 bulan bersama dengan Amalia dan Ody.


Karena kehidupan sebelumnya yang belum memiliki seorang anak, Ares sangat menikmati waktunya ketika bermain dengan kedua anaknya yang telah dapat merespon perkataannya dan tertawa.


Saat bermain dengan kedua anaknya, Ares hanya dapat berkata di dalam hatinya,


Gila.


Mengapa kalian benar-benar sangat lucu?!


Tak lupa, Ares juga mengunjungi kamar Milly dengan Wilma untuk melihat keadaannya dan Sena yang saat ini telah merasa baikan yang telah memiliki perut sedikit membuncit sebelum bermain dengan kedua anaknya.


Setelah makan malam bersama para gundiknya, Ares berbisik kepada Amalia untuk menemaninya tidur. Amalia yang telah membuka hatinya untuk Ares, hanya dapat menerimanya dengan malu.


Ares pun mengenakan kembali bajunya dan meninggalkan Amalia yang masih terduduk di tempat tidur dengan wajah merah. Ia ditemani oleh dua pelayan yang telah berjaga di luar kamar meninggalkan beberapa pelayan lain untuk membersihkan kamar Amalia.


Dengan sengaja, Ares melangkahkan kakinya yang tidak menuju ruang makan yang membuat dua orang di belakangnya sedikit gelisah.


Saat mendekati kamar kedua anaknya, Ares menemukan seorang wanita yang menghalangi pintu masuk kamar yang membuatnya sangat terkejut.


"Me—mengapa?" ujar Ares gelisah.


"Tuan, Anda memiliki banyak pekerjaan yang harus segera Anda selesaikan mengingat Anda telah pergi dari Kota Ereth selama lebih dari satu bulan," timpal Ivy dengan wajah yang tidak menerima penolakan.


Karena tidak ingin tertimbun oleh tumpukan perkamen, dengan panik Ares berkata, "Aku ingin melihat kedua anakku!"


"Tuan, Anda memiliki laporan yang berasal dari Tuan Detro, Nyonya Wien, serta Letnan Jenderal," timpal Ivy yang tidak menerima penolakan.


"Gut!" balas Ares yang kalah.


Karena merasa sia-sia untuk melanjutkan percakapannya dengan Ivy, Ares berbalik dan menuju ruang makan.


Saat berjalan, Ares segera tersadar akan sesuatu yang aneh.


"Ivy, mengapa kamu dapat mengetahui hal itu?" tanya Ares penasaran kepada Ivy yang berjalan di belakangnya dan diikuti oleh kedua pelayan.


"Saya telah mengajukan diri untuk menjadi Asisten Kepala Urusan Wilayah, Tuan," jawab Ivy lugas.


Gut!


Me—mengapa?!


Apakah Renne sangat putus asa dengan pekerjaannya yang sangat banyak sehingga meminta bantuan Ivy?!


Ares hanya dapat terpana dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Ivy.


"Jika begitu... tolong panggil Esther. Aku akan membawanya menuju kastil," timpal Ares yang telah menyerah.


"Baik, Tuan," balas Ivy.


Hanya dua kata yang ada di dalam benak para gundiknya selain Mia saat Ares memperkenalkan seorang gadis muda kepada mereka ketika makan malam bersama.


Gundik baru...


Tentu saja, para gundiknya tidak dapat berkata apapun karena hal tersebut telah menjadi keputusan Ares.


Setelah sarapan dan membersihkan dirinya, Ares berangkat menuju kastil dengan menggunakan kereta kuda ditemani oleh Ivy, Esther, serta beberapa pengawalnya.


Setelah mencapai kastil, Ares turun dari kereta kudanya dan disambut oleh Kepala Pelayan Owen, Renne, Elsa, serta beberapa prajurit dan pelayan.


"Selamat datang kembali, Tuan," ujar Owen, Renne, dan Elsa serempak dengan membungkuk diikuti oleh prajurit dan pelayan di belakangnya.


"Aku kembali," timpal Ares.


Ketika melihat sikap Elsa, Ares bertanya-tanya mengapa ia menatap Ivy dengan tatapan yang terlihat kesal.


"Ada apa, Elsa?" tanya Ares keheranan.


"Ti—tidak apa-apa, Tuan!" jawab Elsa dengan panik karena tersadar dengan perkataan Ares.


"Oh, benar. Gnery, tolong latih Esther dan biarkan ia mengikuti pelatihan para prajurit," ujar Ares setelah mengalihkan pandangannya menuju Gnery yang berada di belakang Renne.


"Eh?" timpal Gnery yang terkejut.


Ares pun melihat Esther dan bertanya, "Apakah tidak apa-apa?"


"Ya, Tuan," jawab Esther dengan mantap.


"Baik..." timpal Gnery yang masih keheranan.


Ares pun mengalihkan pandangannya menuju Renne. Saat melihatnya, ia hanya menemukan seorang wanita tua dengan wajah yang kulitnya semakin terlihat keriput daripada sebelumnya.


Karena sedikit merasa bersalah terhadapnya, Ares berkata dengan serius, "Renne, tolong laporkan situasi di kantor."


Mereka pun bersama-sama menuju Kantor Urusan Wilayah meninggalkan Gnery serta Esther yang menuju barak. Setelah mereka duduk di kursinya masing-masing dan memerintahkan para pelayan untuk pergi, Ares berkata, "Bagaimana?"


"Baik, Tuan. Kami telah menerima laporan yang berasal dari Kepala Proyek Kartu Identitas, Detro Hills. Ia melaporkan telah menyelesaikan pembagian perkamen berisi nama, kelahiran, serta asal desa dan wilayah yang telah dibubuhi dengan segel Margrave Rueter kepada penduduk yang berasal dari pedesaan di Wilayah Rueter. Untuk penduduk kota, kami akan memulainya pada tanggal 1 April, Tuan," jawab Renne lugas.


Ares mencatat poin-poin yang telah dituturkan oleh Renne sebagai dasar untuk langkah berikutnya. Setelah selesai menuliskannya, Ares bertanya, "Bagaimana dengan perusahaan?"


"Kepala Perusahaan Margrave Rueter, Wien Ugloss, telah memberikan laporan bahwa kami telah merekrut banyak mantan pengrajin yang merupakan pengangguran dan yang telah mengalami kecacatan fisik. Saat ini, kami berada dalam proses pendidikan untuk mengajar para pengrajin baru yang akan membuat berbagai gerabah nantinya. Dalam waktu satu bulan lagi, kami dapat memulai proses produksi secara penuh, Tuan," jawab Renne lugas.


Setelah melihat Ares selesai mencatat, Renne melanjutkan perkatannya, "Untuk penelitian yang telah Anda perintahkan, kami telah berhasil membuat keramik putih yang berasal dari abu tulang sapi dan telah berada dalam tahap penyempurnaan sehingga berada dalam kondisi layak dijual. Untuk madu, kami telah melakukan distribusi menuju seluruh wilayah yang berada di Kerajaan Rowling."


"Oke," timpal Ares sembari mencatat.


"Kami telah membangun sekolah dasar dan akademi militer di kota ini, Tuan. Karena kami membutuhkan suatu model sehingga dapat menjadi objek percontohan kedepannya, kami akan melaksanakannya secara terpusat terlebih dahulu di Kota Ereth dan akan dimulai pada pertengahan tahun ini," sambung Renne.


"Lanjutkan," timpal Ares yang mencatat.


"Untuk perbaikan serta pembangunan jalan, kami telah menyelesaikan pelebaran jalan utama di seluruh Wilayah Rueter dan hendak memasuki tahap pelebaran jalan alternatif dan kecil. Untuk pembiayaan secara keseluruhan, termasuk pembiayaan terhadap kepentingan militer, kami telah menggunakan dana sebesar..." kata Renne yang tidak menyelesaikan perkatannya.


Setelah menunggu selama beberapa saat yang mana Ares tidak memberikan komentar apapun, Renne melanjutkan perkataannya dengan gugup, "Sebesar... 1.767.320.190 G."


CTAK!


Tanpa sadar, Ares mematahkan pena bulu yang digunakannya untuk menulis.


"Hah?!" teriak Ares karena sangat shock.


Dengan gugup, Renne membalas perkataan Ares dengan berkata, "U—untuk anggaran militer kami... 150 juta G hanya untuk penelitian kapal perang raksasa yang saat ini telah memiliki prototipe... dan 450 juta G hanya untuk membuat 5 kapal tersebut, Tuan. Dan juga... 50 juta G untuk pengembangan senjata baru serta 300 juta G untuk produksi senjata tersebut. Bahkan, kami telah merakitnya secara mandiri agar pembiayaan yang lebih ringan sekaligus agar kerahasiaan tidak bocor... Tuan."


Setelah mendengar penjelasan Renne, Ares hanya dapat memegangi kepalanya.


Kuh!


Mengapa banyak sekali?!


Aku juga tidak menyangka akan menghabiskan anggaran sebanyak itu!


"D—disamping itu... juga terdapat anggaran untuk pengadaan perkamen yang mencapai 40 juta G," tambah Renne dengan gugup.


"Gut," ujar Ares yang semakin shock.


Ya, Ares telah melupakan bahwa perkamen merupakan komoditas mahal di zaman ini. Karena berasal dari kulit hewan dan tidak memiliki pasokan yang stabil, membeli satu buah perkamen saja akan dihargai sangat mahal.


Seolah ingin melupakannya, Ares mengalihkan pandangannya menuju jendela untuk melihat keadaan di luar. Namun, ia menemukan Owen yang memiliki ekspresi sulit.


Dengan gugup, Ares bertanya, "A—apakah kamu memiliki sesuatu, Owen?"


"Sebenarnya... kami telah memiliki 45 proposal pertunangan yang ditujukan untuk Anda, Tuan," jawab Owen dengan hati yang rumit.


Gut!


Kalian hanya menginginkan hubungan dengan rumahku yang sedang naik daun dan memiliki dana yang berlimpah, bukan?!


Tapi, apakah sekarang sudah waktunya?


Yah, ayo lakukan.


Ares hanya terdiam sembari mengutuk mereka di dalam hatinya.


"Tolong tolak semuanya," timpal Ares setelah terdiam beberapa saat.


Tentu saja, perkataan Ares tersebut membuat semua orang sangat terkejut.


Setidaknya, Ares haruslah melakukan beberapa pertemuan dengan beberapa gadis bangsawan yang rumahnya memiliki posisi tinggi untuk menghormati rumah aristokrat lainnya.


Jika Ares telah diketahui telah melakukan pertemuan dengan beberapa gadis bangsawan yang berasal dari rumah yang memiliki pangkat tinggi dan merasa tidak cocok, rumah lain akan diam karena Ares dikatakan telah "menghormati" rumah aristokrat secara keseluruhan.


Namun, apabila Ares menolaknya tanpa melakukan pertemuan terlebih dahulu, House of Rueter akan dipandang sebelah mata oleh rumah aristokrat lain nantinya.


"M—mohon setidaknya untuk melakukan pertemuan dengan salah satu gadis, Tuan," timpal Owen dengan panik.


"Tidak apa-apa. Aku memutuskan hal tersebut karena aku hendak mengirimkan proposal pertunangan kepada Yang Mulia Putri Excel," balas Ares dengan tersenyum.


"Hah?!" ujar Owen, Renne, dan Elsa yang sangat terkejut.


Karena menyadari sikap mereka yang tidak sopan, mereka bertiga serempak berkata, "Maaf, Tuan."


"Tidak apa-apa," balas Ares yang tidak mempermasalahkannya.


"Mohon untuk mempertimbangkan kembali dengan lebih bijak, Tuan!" ujar Elsa dengan keras.


Mengetahui bahwa Putri Excel memiliki rumor yang sangat buruk, Elsa tidak ingin saudaranya yang telah berubah menjadi lebih baik, dipengaruhi oleh kekejaman yang ditimbulkan oleh Putri Excel.


"Hm? Aku sudah memikirkannya dengan matang, kau tahu? Meskipun kalian bersikeras menolaknya, aku telah mengatakannya sendiri kepada Yang Mulia Putri Excel pada suatu pertemuan yang tidak resmi," timpal Ares acuh tak acuh.


Mereka bertiga hanya dapat menyerah dan patuh menerimanya dengan memasang ekspresi kecewa setelah Ares mengatakan hal tersebut.


Tidak mungkin lagi untuk bersikeras menolaknya karena akan mengakibatkan martabat Ares jatuh apabila House of Rueter tidak memberikan proposal pertunangan pada sang putri.


"Um..." sela Ivy dengan gugup.


"Apa itu?" tanya Ares dengan lembut.


"Bolehkah saya mengetahui siapa sebenarnya Yang Mulia Putri Excel itu?" tanya Ivy kembali yang penasaran.


Saat mendengarnya, Ares melihat ke arah langit-langit ruangan seolah memikirkan jawaban tersebut. Lalu, ia kembali menatap Ivy dan tersenyum sembari berkata, "Putri Pertama Kerajaan Rowling yang memiliki julukan White Demon."


Setelah mendengarnya, Ivy hanya kebingungan dan berkata, "Eh?"


Renne, Owen, beserta Elsa hanya memiliki perasaan yang sangat kompleks saat melihat interaksi Ares dengan Ivy yang menyebabkan mereka mengerutkan keningnya.


...----------------...