I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 89 : Unpredicted War Event, part 3



Tahun 1236, 11 Agustus.


Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.


Malam Hari.


"Tembak!"


Tanda dan perintah telah diberikan oleh Val yang menjadi komandan unit kilat kavaleri yang memiliki pelana berwarna keperakan sebagai ciri khas mereka.


GREK!


GREK!


GREK!


Meskipun berada di tengah keriuhan medan perang, bunyi suara gemerisik khas persenjataan kayu terdengar keras. Suatu kendaraan beroda empat yang setiap sisinya tertutupi oleh dinding kayu yang memiliki tiga lubang tembak di setiap dindingnya melaju dengan anak panah yang siap menembak dari lubang tembaknya.


Ya, kendaraan tersebut adalah War Wagon, kendaraan militer yang baru saja berhasil dikembangkan oleh militer Kerajaan Natrehn.


Dengan dua kuda yang menarik kendaraan tersebut, anak panah segera melesat menuju Suku Timur yang memiliki pasukan Coumbi Elephant.


Tidak hanya hal tersebut, bersamaan dengannya, beberapa War Wagon juga menembakkan sebuah tombak pendek ke arah Coumbi Elephant yang diketahui memiliki kulit tebal serta beberapa ketapel yang melemparkan batu dari barisan belakang formasi Tentara Natrehn.


JRASH!


JRASH!


BLAR!


BLAR!


"Aaarrgghh!"


Rintihan dan teriakan akibat terkena serangan secara tiba-tiba membuat keadaan medan perang yang semakin kacau. Batu-batu besar berjatuhan dari langit membuat para pejuang Suku Timur luluh lantak.


Meskipun mereka memiliki senjata berupa anak panah serta tombak dengan jangkar tali yang digunakan untuk menembak pasukan kavaleri Natrehn dari atas punggung gajah, namun keadaan medan perang menjadi tidak sesuai dengan apa yang mereka telah prediksi sebelumnya.


Didukung oleh gelapnya malam, tidak ada yang mengetahui berapa banyak pejuang Suku Timur yang telah mati sia-sia karena terinjak-injak oleh rekan mereka sendiri.


Tidak berbeda dengan Astrid dan para pejuang bawahannya yang berusaha melarikan diri karena telah terjebak di tengah medan perang.


BLAR!


BLAR!


BLAR!


"Aaaarrghh!"


"Lari!"


Tepat berada di tepian padang rumput, Thorgils hanya dapat menatap takjub pada pemandangan neraka di hadapannya. Meskipun keponakannya berada dalam bahaya, dirinya tidak dapat membiarkan pejuang lain mati dengan sia-sia.


Air mata tanpa sadar menetes. Emosi telah menguasai pikirannya yang tidak berbeda dengan para pejuang suku di belakangnya karena beberapa keluarga mereka telah terjebak di tengah keganasan medan perang.


"Serang kedua sisi mereka!"


Perintah keras telah terucap. Dengan tangan yang mengangkat pedang besar miliknya, Thorgils memimpin seluruh pejuang sukunya dengan memacu tunggangannya menuju barisan Tentara Natrehn.


Di sisi lain, keadaan pasukan pejuang Suku Timur sangat kacau. Rentetan anak panah, tombak pendek, hingga batu besar dilemparkan ke arah mereka. Suku Timur tidak dapat bersembunyi dan melarikan diri dengan cepat karena pasukan mereka yang memiliki banyak hewan raksasa.


"Kepala Havarr!" teriak seorang pejuang di sisi Sang Kepala Suku dengan panik.


BWOOSSH!


Sebongkah batu besar terlempar ke arah Havarr yang berada di atas seekor Coumbi Elephant yang memiliki hiasan terbaik.


Tatapan Havarr sejenak menjadi kosong, ia tidak menyangka bahwa ambisinya akan berakhir di tempat ini.


Siulet asing yang tidak seperti seseorang yang berasal suku barbarian samar terlihat di gelapnya medan perang. Meskipun berada di tengah gempuran batu-batu besar yang datang dari langit serta serangan tombak pendek dan anak panah, sosok tersebut tidaklah panik dan bergerak sembari melewati beberapa pejuang dengan tenang.


Sosok berjubah tersebut pun melompat tinggi dan menapak pada kepala gajah Havarr yang akan tertimpa oleh bongkahan batu raksasa.


Ujung runcing sebuah bilah pedang tersingkap dari balik jubahnya. Berada tepat di depan bongkahan batu raksasa yang hanya berjarak sekitar 3 meter darinya, sosok tersebut segera menusukkan ujung runcing pedangnya kepada batu yang terlempar dengan menggunakan kekuatan penuhnya.


BLAAARR!


Hancur berkeping-keping.


Pemandangan yang sangat tidak masuk akal bagi semua orang yang melihatnya. Tidak terkecuali Sang Kepala Suku Timur, Havarr, yang terdiam dengan tatapan seolah melihat hal di luar nalar, para pejuang di sekitarnya juga secara mayoritas melakukan hal yang serupa.


Pandangan Havarr secara perlahan teralihkan untuk menatap sosok berjubah di depannya yang telah berbalik untuk menghadapnya. Meskipun berada di tengah kegelapan, dia dapat melihat dengan jelas nyala kedua mata kuningnya yang sangat menakutkan dari dalam tudungnya.


Berkesan, meskipun tidak menggenggam sabit di tangannya, sosok Ares sangat mengingatkan pada wujud "Grim Reaper" bagi seseorang yang melihatnya.


Ketakutan segera merasuk pada hatinya. Tidak pernah menghadapi seseorang dengan kemampuan sangat luar biasa seperti Ares, tubuh Havarr pun samar terlihat gemetar.


"Si—siapa?!" tanya Havarr dengan nada penuh ketakutan.


"Gnery," jawab Ares singkat.


Sesaat setelah mengatakannya, Ares melompat jauh dari atas kepala gajah dan dengan cepat bergerak menjauh darinya.


"The War Witch..." Havarr tanpa sadar bergumam saat melihat kepergian Ares.


Kesan kuat karena kekaguman yang luar biasa. Havarr melihat Ares seperti seorang penyihir karena memiliki kemampuan luar biasa yang dapat menghancurkan bongkahan batu berdiameter sekitar dua meter hanya dengan satu serangan.


Pun tidak berbeda dengan sikap misteriusnya yang membuat Havarr semakin meningkatkan kekagumannya.


Havarr segera tersadar akan perbuatan dan sukunya yang sangat menyedihkan. Memantapkan hatinya, ia mengangkat tinggi kapak perangnya dan berteriak, "Kita adalah suku yang ditakuti! Jangan biarkan harga diri kita terinjak-injak!"


"Serang musuh dari sisi lain! Berpencar!"


Perintah bernada kuat membuat semangat dan moral para pejuang Suku Timur meningkat kembali. Masing-masing para pejuang segera mengangkat kapak dan bergerak mengikuti perintah Havarr.


Kesepakatan yang tidak terucap tercipta diantara kedua kelompok pejuang. Entah itu dari Suku Timur ataupun Barat, raungan yang sangat meningkatkan moral keluar dari mulut banyak pejuang. Menggetarkan jiwa, kedua suku serentak bergerak untuk menyerang Natrehn dari kedua sisi yang berbeda.


Begitu pula dengan Astrid dan para pejuang bawahannya—yang sebagian besar telah tewas—yang dapat sejenak menjauh dari medan perang untuk mengambil napas. Namun, dia merasa sangat aneh dengan kejadian lemparan bongkahan batu raksasa yang hendak menimpa Havarr.


Sejenak... aku merasa dia menatap ke arahku...


Memutuskan untuk mencari sosok tersebut terlebih dahulu, Astrid pun berteriak, "Jika kalian masih kuat, ikuti aku! Jika tidak, mundurlah!"


Para pejuang bawahan Astrid hanya dapat menerima perintah karena banyak dari mereka yang berada dalam kondisi mengenaskan.


"Apa... yang telah terjadi?" gumam Zelhard dengan nada yang menunjukkan kebingungan setelah melihat satu batu besar hancur berkeping-keping.


Berada di bawah pancaran sinar bulan membuat aksi Ares dapat dilihat hingga kejauhan, yang tentunya Zelhard pun dapat melihatnya.


Terdapat sedikit rasa ketidakpercayaan kuat pada kedua matanya. Namun, dia memutuskan untuk sejenak mengabaikannya karena penyerangan terhadap kedua sisi formasi pasukannya oleh para barbarian.


"Ooohhhh!"


Jarak serang para pejuang yang berteriak menjadi semakin dekat tidak lagi membuat pasukan Natrehn dapat memanfaatkan senjata militernya secara penuh.


Zelhard tentu telah memprediksikan hal ini. Meskipun dia merasa serangan para barbarian sedikit lebih cepat daripada yang telah dia prediksikan sebelumnya, namun Zelhard menganggap strategi yang dijalankannya telah dapat dikatakan sukses.


Tersenyum lebar sembari merentangkan tangan kanannya, Zelhard—yang berdiri di atas gerbong kereta kuda terbuka—pun mengambil napas dalam dan berteriak,


"Formasi pertahanan!"


...----------------...