
Tahun 1237, 30 April.
Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva.
Pagi Hari.
Sinar cerah mentari pagi sekali lagi menerpa Ibukota Scandiva yang sejak beberapa hari terakhir telah berada dalam kerunyaman, yang mana disebabkan oleh dua pasukan besar yang sebelumnya telah bertempur lebih dari 2 pekan lamanya.
Dua puluh ribu Tentara Reguler Kerajaan Rowling—sebelumnya telah ditempatkan di Vietra dan diperintahkan untuk bergerak menuju Ibukota Scandiva atas perintah Lucas—telah tiba tepat satu hari setelah Pasukan Ares tiba. Tidak berbeda dengan para prajurit, para bangsawan yang menjadi perwira sangat terkejut dengan gencatan senjata yang terjadi.
Keterkejutan mereka bertambah disaat mereka melihat jasad Lucas, yang telah tercerai berai hingga membuat mereka merasa sedih. Meskipun telah diperintahkan untuk melawan Ares, satu-satunya anggota keluarga kerajaan yang tersisa di Scandiva hanyalah Excel seorang.
Tidak mungkin Tentara Reguler Rowling menentang perintah Excel, membuat mereka tunduk patuh mengikuti perintahnya.
Selama masa gencatan senjata, Pasukan Rowling disiagakan di luar tembok kota, jaminan bila penduduk ibukota dapat pergi dengan aman telah terucap dari lidah Ares, membuat ketentraman ibukota secara berangsur membaik.
Semenjak beberapa hari terakhir, Ares membagikan banyak koin perak serta gandum kepada para penduduk ibukota dan desa-desa sekitar yang terdampak peperangan, membuat perekonomian ibukota dan daerah sekitar kembali membaik.
Tidak hanya itu, buah usaha Ares untuk melejitkan namanya juga berasal dari kegiatannya dalam merekonstruksi ibukota, walau banyak bangsawan Rowling telah menentang sebelumnya, bahkan termasuk istrinya sendiri.
Banyak bangunan dan jembatan dalam kota telah dibangun kembali, membuat para bangsawan Natrehn menjadi sangat panik dan memprotes tindakan Ares, yang segera disanggahnya dengan kalimat "Aku dapat melakukan apapun karena aku memiliki banyak uang."
Sarkasme Ares membuat para bangsawan Natrehn menutup rapat kedua bibirnya, hanya dapat menggertakkan giginya karena tidak mampu menjawab. Perang yang mereka lakukan telah sangat menguras dompet para bangsawan, membuat mereka akan segera bangkrut jika mereka tidak dapat mengatur keuangannya dengan baik.
Kening Ares muncul sebuah kerutan. Dia tidak menyangka bila terdapat dua orang yang dengan percaya diri mengganggu sebuah konvensi yang telah disepakati dalam perjanjian dengan para bangsawan Natrehn sebelumnya.
"Kau sangat sombong untuk seekor bangsawan pedesaan." Seorang pemuda berwajah sombong yang memiliki rambut pirang meletakkan kedua kakinya yang menyilang di atas meja.
"Dan juga, mengapa kau mengundang orang barbar untuk duduk di meja yang sama dengan seseorang yang memiliki kasta tinggi sepertiku?" Seorang wanita muda berambut twintail kuning kemerahan yang memiliki wajah imut segera meneguk tehnya dengan etiket tingkat tinggi.
Kenapa... aku harus berurusan dengan sebuah karakter badut?
Terlebih lagi, ada dua diantara mereka!
Duduk bersama dengan para bangsawan tingkat tinggi Natrehn—termasuk Kristin—yang diikuti oleh Sieg sebagai perwakilan Konfederasi Lemane, Alfr dan Astrid yang bertindak sebagai perwakilan Suku Utara, serta Excel yang bertindak sebagai delegasi Kerajaan Rowling, Ares merasa sakit kepala karena keikutsertaan dua orang anggota Keluarga Kerajaan Natrehn—yang tidak memiliki nama "Kona"—dalam konvensi yang ditujukan untuk penyelesaian masalah diantara semua pihak.
Melirik pada lengan kanannya yang terasa sangat sakit, cubitan Excel membuat kulitnya sangat merah, yang sejak beberapa hari terakhir bersikap jengkel kepada Ares, meskipun ia tetap bertahan untuk tidak menampakkan rasa sakit di atas wajahnya.
Kuh...
Ares menghela napas berat. "Lalu, Yang Mulia Pangeran Hewrick, Yang Mulia Putri Tier... gerangan apa yang membuat Anda berdua juga turut menghadiri konvensi ini?"
"Hah? Aku adalah penerus sah tahta! Sudah sepantasnya bila aku juga berhak untuk mengatur negaraku!" timpal Hewrick dengan kesal.
"Meskipun aku membencinya, apa yang dikatakan saudaraku merupakan sebuah kebenaran," sambung Tier acuh tak acuh.
"Begitukah..." Ares menampakkan sebuah senyuman.
Pembawaannya terasa penuh hormat, sangat menghargai pihak lain yang telah menjadi musuhnya hingga beberapa saat lalu.
Terlebih lagi, Ares yang tanpa pamrih turut membantu kehidupan para prajurit Natrehn dan bahkan para penduduk Scandiva membuat para bangsawan mempertanyakan kewarasan Ares—yang juga tidak berbeda dengan Excel, meskipun dia hanya terdiam hingga suaminya menjelaskan alasan tersebut kepadanya.
Ares mengalihkan wajah kepada Kristin yang duduk berhadapan dengannya, sebagai tanda agar Kristin membuka mulutnya, walaupun hal tersebut membuat Kristin bertanya-tanya mengapa Ares dapat mengetahui isi statuta pendirian Kerajaan Natrehn, seperti disaat Kristin tersadar akan hal tersebut setelah Ares merawatnya.
Walaupun dia tempramen, bukankah Kristin sangat mencerminkan sosok seorang ksatria?
Terlebih lagi...
Secara naluriah, tatapan Ares tertuju pada seragam militer Kristin, yang tidak terlalu menonjolkan dadanya, walau Ares mengetahui bila ia memiliki dada yang cukup besar, yang mungkin dapat disandingkan dengan Milly.
Melirik kembali wanita yang duduk tepat di sampingnya, tatapan Ares tanpa sadar tertuju pada dada—yang segera teralihkan pada wajah istrinya tercinta.
Excel samar mengangkat salah satu sudut bibirnya, sebuah kerutan kecil pun tampak di atas keningnya. Ada perasaan bila suaminya baru saja membandingkan dirinya dengan wanita lain, membuat Excel mengencangkan cubitannya hingga membuat kulit Ares ruam kebiruan.
"Mohon maafkan saya, Yang Mulia." Kristin menyela, tidak sedikitpun merendahkan kepalanya, membuat Hewrick dan Tier merasa sangat jengkel.
"Perhatikan sikapmu, Orang Pedesaan!" umpat Hewrick.
Kristin tidak bergeming, membuatnya membuka kedua bibirnya kembali dengan acuh tak acuh, "Statuta Yang Mulia Raja Pertama Natrehn, Hubert I."
"Pasal 1 ayat 2, 'Kerajaan Natrehn didirikan oleh Keluarga Natrehn, yang merupakan Keluarga Keuskupan Gereja Arafant, serta empat keluarga yang menjadi ksatrianya, House of Arwain, House of Giroud, House of Ollys, serta House of Ulrich.' Bukankah Anda mengetahui bila darah keturunan seluruh keluarga pendiri telah terputus?"
"Pasal 2 ayat 3, 'Raja dan Putra Mahkota Natrehn berasal dari keturunan asli Keluarga Natrehn dan keluarga cabangnya, yang mana nama 'Kona' mengikuti nama pribadinya.' Apakah Anda berdua memiliki kualifikasi untuk menjadi penerus tahta jika syarat tersebut bahkan tidak dapat Anda penuhi?"
Cercaan Kristin membuat wajah Hewrick memerah, merasa sangat kesal karena tidak dapat membalas, berbeda dengan Tier yang hanya dapat diam mendendam sembari mengumpat di dalam hatinya.
"Pasal 4 ayat 1, 'Kerajaan Natrehn adalah negara yang berdiri kokoh di atas garis keturunan asli para rajanya, yaitu seorang pendeta.'" Perkataan Ares yang menyambung cercaan Kristin membuat mayoritas orang di dalam ruang terbesar istana tercengang.
"Ba—bagaimana kau dapat mengetahuinya?!" Teriakan Hewrick membuat Ares tersenyum masam.
"Walaupun aku tidak ingin mengatakannya dengan lugas karena dapat menyinggung Keluarga Kerajaan Natrehn yang tidak sekalipun menjalankan peribadatan agamanya, namun... Natrehn telah binasa," ucap Ares tanpa sedikitpun mengindahkan pertanyaan Hewrick.
Kristin bangkit dari kursinya, "Perintah penahanan dua mantan keluarga royalti Natrehn diberikan atas nama Kristin von Ginnes!"
"Ya, Bu!" Para ksatria segera mengepung Hewrick dan Tier untuk dibawa pergi, tidak berbeda dengan para bangsawan yang mendukung keduanya.
Diskusi selama beberapa hari terakhir telah memberikan sebuah keputusan bulat. Bersama dengan para bangsawan bawahan Zelhard—yang diketahui merupakan kelompok militer terkuat di seluruh Kerajaan Natrehn—Kristin telah bertekad untuk mempersatukan wilayahnya di bawah tangan Ares, yang tentunya memiliki syarat serta kondisi yang harus dipenuhi olehnya.
Tentu, hal tersebut berakar pada ancaman Tentara Suci serta Kekaisaran Alven. Kristin dan para sekutunya tidak akan dapat mengatasinya, yang diketahui merupakan salah satu kekuatan militer terbesar di Dunia Regulus.
Memandang wanita yang terduduk tepat di samping Ares, timbul sedikit perasaan iri terhadapnya. Kristin menilai bahwa keduanya sangat serasi, membuatnya bermimpi bila ia memiliki suami seperti dirinya.
Kekuatan, kecerdasan, finansial, pengaruh politik, teknologi militer, hingga kemampuan berdiplomasi. Ares dan Excel saling melengkapi, seolah telah memiliki segala hal yang sangat didambakan seorang aristokrat seperti Kristin.
Terlebih lagi, dari posisinya yang lebih tinggi, Kristin melirik pada Ares yang tidak sedikitpun keberatan memiliki kulit lengan yang biru akibat cubitan Excel membuat rasa iri hatinya kian bertambah.
Kristin mengalihkan pemikirannya yang telah terpaut jauh. Ia pun kembali tersenyum yang diikuti oleh tundukan kepalanya tepat setelah dirinya kembali terduduk sebagai permohonan maaf.
"Permintaan maaf terdalam kami atas gangguan kecil tersebut." Ekspresi tegas segera terukir, kepercayaan dirinya kembali terbangkit. Kristin memantapkan hatinya untuk membawa nama Ginnes menuju masa depan yang cerah.
"Mari mulai konvensi yang telah kita sepakati sebelumnya."
...----------------...