
Tahun 1236, 9 April.
Bagian Utara Kaki Pegunungan Brenne, Wilayah Perbatasan Kerajaan Rowling.
Malam Hari.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Deru langkah kaki yang sangat berat serta gemerisik armor dari para prajurit Natrehn bersenandung seolah menghiasi gelapnya jalanan yang berada di Lereng Pegunungan Brenne.
Menunggang kudanya sembari mengawasi para prajuritnya dari barisan belakang, Barlock memastikan agar semua prajuritnya tidak menimbulkan suatu masalah.
"Jenderal, kami hampir tiba di kaki pegunungan," ujar seorang prajuritnya dengan sedikit lesu.
"Ya, kami akan beristirahat setelah mencapai tanah datar," timpal Barlock cepat.
Dua setengah hari berlalu semenjak mereka meninggalkan Benteng Veldaz yang telah mereka rebut. Bertentangan dengan harapannya, setelah menuruni pegunungan selama dua hari terakhir, keadaan pasukannya berangsur-angsur mulai membaik yang menyebabkan Barlock sedikit bingung.
Barlock telah memerintahkan para prajuritnya untuk menuruni pegunungan dengan cepat karena dia sedikit khawatir dengan keadaan pasukan bala bantuan yang akan tiba sehingga mereka hanya beristirahat selama sekitar 8 jam di malam hari.
"Ya, Pak," jawab prajurit tersebut dengan sedikit lesu.
Beberapa saat berlalu, ia merasakan keanehan ketika prajuritnya berhenti berjalan. Salah satu dari para perwira yang bertugas di bagian depan pun mendatangi Barlock dan berteriak, "Kami berada dalam masalah! Puluhan orang terpeleset di jalanan yang dipenuhi minyak!"
Pikiran Barlock secara naluriah berputar menjadi sangat cepat.
Hah?!
Minyak?!
Dari mana datangnya?!
Namun, Barlock segera pulih dari keterkejutannya saat ia melihat warna kemerahan dari sudut pandangnya. Ketika ia mengadah, Barlock melihat puluhan batu berapi yang sedang dilemparkan menuju ke arahnya serta para prajuritnya.
Hah?!
Apa itu?!
"Lari!"
"Bola api!"
Segera tersadar akan prajuritnya yang panik sembari berteriak, Barlock menahan ketenangannya dan berteriak, "Jangan pani—"
BOOM!
BOOM!
BOOM!
"Aaarrgghhh!"
"Aaaaaaaaa!"
"Panas! Panas! Aaarrrgghh!"
"Tolooong!"
Batu berapi tersebut segera menghantam pasukan Natrehn yang sedang menuruni lereng pegunungan. Karena jalanan yang telah dilumuri oleh minyak, dengan cepat api pun berkobar dan membakar para prajurit Natrehn dan hutan di sekeliling mereka meninggalkan ratusan prajurit yang telah tewas karena terkena batu berapi.
Ak—aku harus kabur!
Ini seperti neraka!
Siapa yang melakukan ini kepada kita?!
Menjadi panik di dalam hatinya, Barlock memutuskan untuk memacu kuda perangnya yang telah terlihat panik dan berteriak, "Kabur! Larilah!"
Bersama dengan puluhan perwira dan prajurit kavaleri, Barlock memutuskan untuk meninggalkan para prajuritnya.
"Toloong!"
"Aaaargghh!"
"Aku terbakar! Tolong!"
Tak lama, Barlock pun merasakan warna kemerahan yang berasal dari langit dimana banyak batu berapi sekali lagi dilemparkan kepada mereka.
Sialan!
Apa-apaan itu?!
Dengan bermanuver menghindari para prajuritnya yang telah terlalap api yang tidak berbeda dengan keadaan hutan, Barlock mengutuk tindakan musuh yang baginya benar-benar licik.
Segera, ia tersadar dengan kemungkinan akan kesengajaan musuh yang memancing mereka untuk merebut Benteng Veldaz agar pasukannya mengalami penyakit.
"Kuh, sialaan!" teriak Barlock kesal.
"Jenderal!" teriak salah satu perwira yang menunggang kuda bersamanya.
Melihat batu berapi segera mencapai tempatnya berada, Barlock membelokkan kudanya yang menyebabkan ia menuju kumpulan prajuritnya yang memiliki pakaian terbakar.
BOOMM!
BOOMM!
BOOMM!
Sebuah batu berapi segera menghantam tempat Barlock sebelumnya berada dengan beberapa yang lainnya menghancurkan para prajuritnya yang telah tercerai berai.
"Arrgghh!"
"Toloong!"
Rintihan karena rasa sakit akibat terinjak-injak prajurit lain yang disebabkan kegelapan malam dimana mereka tidak dapat melihat dengan jelas, karena terbakar oleh api yang ditimbulkan oleh batu berapi, serta karena injakan kuda para prajurit kavaleri, menjadi melodi yang menghiasi Lereng Pegunungan Brenne yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
Karena sudah tidak dapat menghentikan kudanya, Barlock dengan sengaja memacu kudanya yang menyebabkan kudanya menginjak-injak para prajurit yang telah tersungkur jatuh menahan rasa sakit yang luar biasa.
Barlock benar-benar menaruh dendam yang kesumat dengan seseorang yang telah membuat kacau dirinya dan pasukannya.
Sial!
Sialan!
Tidak akan pernah kumaafkan!
Tidak akan pernah kumaafkan penghinaaan ini!
Para perwira dan prajurit kavaleri yang masih tersisa bersama Barlock, memutuskan untuk segera menuruni lereng gunung dengan cepat karena mereka sekali lagi melihat batu berapi yang tertuju kepada mereka.
BOOM!
BOOM!
BOOM!
Rasa malu, kemarahan, kekesalan, semua hal bercampur aduk di dalam hati Barlock dan para perwiranya. Hanya satu hal yang dapat mereka pikirkan saat ini, balas dendam.
Balas dendam karena merusak kehormatan dan harga diri mereka, balas dendam karena telah menyebabkan kehancuran pasukannya, balas dendam karena ia tidak dapat mempertanggung jawabkan lagi perbuatannya kepada Raja.
Setelah beberapa jam berkuda dimana diterangi oleh cahaya merah yang berasal dari hutan yang terbakar, mereka tiba di dataran yang berada di sisi utara pegunungan dan segera disambut oleh banyak tentara berbaris yang telah siap membantai mereka.
Mata Barlock segera tertuju kepada seorang pemuda berambut biru yang mengenakan seragam militer berwarna hitam tanpa satupun armor serta gadis cantik berambut putih yang juga tidak mengenakan armor yang berdiri di tengah pasukan.
"Seraaang!" teriak Barlock dan segera menghunuskan tombaknya.
"Ooohhh!" teriak perwira dan para prajurit kavaleri Natrehn yang berada di belakang Barlock sembari mempersiapkan senjata mereka.
Melihat mereka dikuasai oleh emosi dan semakin cepat memacu kudanya, ekspresi Ares menjadi bahagia.
Mereka sudah tidak dapat berpikir jernih.
Saatnya menjalankan rencananya!
Beberapa saat melihat mereka mendekati titik yang ditentukan, Ares berteriak, "Angkat!"
BRUGH!
Seketika, Barlock dan para kavaleri yang berada di barisan depan tersungkur jatuh ke depan karena kuda mereka yang tersandung oleh tali yang tiba-tiba terangkat. Para prajurit di belakang mereka menabrak para barisan depan dan tertabrak oleh barisan di belakangnya.
"Argh!"
"Ugh!"
Melihat rencananya yang telah sukses, tanpa penundaan, Ares mengangkat tangannya dan berteriak, "Seraang!"
"Ooohhh!"
Ares bersama Excel, diikuti oleh para prajurit infanterinya yang telah berbaris dengan membentuk formasi U, berlari untuk menyerang Barlock dan para pasukannya yang saat ini berjumlah sekitar 450 prajurit dan telah jatuh tersungkur.
"Excel, sesuai dengan apa yang telah saya katakan!" teriak Ares dengan sedikit gatal.
Bagi Ares, yang berkata sopan kepada Excel namun memanggil namanya, merasa sedikit gatal dengan lidahnya karena ia merasa tidak cocok dengan gaya bicaranya.
"Oke!" teriak Excel riang.
Excel pun mempercepat larinya dan bergerak mendahului Ares menuju ke arah Barlock yang saat ini hendak bangkit.
Sedikit penasaran apakah Ares dapat membunuhnya setelah berada dalam keadaan yang sekarat, Ares merapal, "Appraisal," dengan menargetkan Barlock.
......................
...[Status]...
Nama : Barlock von Renus
Umur : 53 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : Earl, Kerajaan Natrehn
Afiliasi : Earl Renus, Kerajaan Natrehn
Statistik
Keahlian Senjata : 78 (+2)
Kelincahan : 82 (+0)
Kepandaian : 53 (+0)
Tubuh : 49 (+0)
Kepemimpinan : 79 (+0)
Loyalitas : 76
Moral : 54
Pelatihan : 49
......................
Tubuhnya sangat lemah!
Apakah karena kelelahan dan penyakit gunung?!
Tidak masalah, ayo bantai!
Mempersiapkan tombaknya, Barlock segera berlari menuju Excel dengan mengarahkan tombaknya.
TRANG!
Bilah pedang serta tongkat besi tombak saling bersentuhan yang menyebabkan Excel dan Barlock sedikit terdampak mundur. Mengambil keuntungan dari tubuhnya yang ramping, Excel dengan cepat menunduk dan mengarahkan pedangnya menuju kaki Barlock untuk menebasnya.
TRANG!
Barlock dengan sigap menempatkan tongkat besi tombaknya untuk melindungi kakinya dari tebasan Excel.
Seketika, Excel tersenyum bahagia dan menarik kembali pedangnya dengan cepat lalu mengarahkan pedangnya menuju kepala Barlock dari atas.
Kewalahan dengan kecepatan Excel, Barlock sekali lagi hanya dapat melindungi dirinya dengan tombaknya yang diposisikannya secara horizontal untuk menangkis pedang Excel.
Namun...
KRAK!
"Hah?!" teriak Barlock terkejut saat melihat tombak besinya patah.
Excel pun dengan segera menggunakan beban tubuhnya untuk melanjutkan tebasannya menuju kepala Barlock.
JRASH!
"Argh!" teriak Barlock yang tengkorak dahinya tertebas.
JLEB!
Ares, yang baru saja tiba karena tidak mampu menyamai kecepatan Excel, dengan segera menusukkan pedangnya menuju sela-sela armor yang berada di perutnya saat Barlock hendak jatuh.
"Aaarggh!" teriak Barlock kesakitan.
Segera, Ares menarik kembali pedangnya dan segera menebas leher Barlock karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan last hit.
CRASH!
Barlock hanya dapat menatap lemah yang mengandung dendam dan berharap agar mereka berdua juga akan tiba di neraka seperti dirinya.
Saat itu, akibat pembantaian dari tentara Ares, kehancuran Pasukan Utama Kerajaan Natrehn yang dipimpin oleh Barlock telah dapat dipastikan.
...----------------...