I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 81 : Ayo Rencanakan Kudeta!



Tahun 1236, 24 Juli.


Kastil Rueter, Kota Ereth.


Menjelang Siang Hari.


Srrk!


Srrk!


Setelah memberi tanda tangannya, Ares menyerahkan perkamen yang baru saja diberikan persetujuan olehnya kepada Ivy—yang berada di meja sampingnya—sembari berkata, "Ivy, tolong berikan segel."


"Baik, Tuan," jawab Ivy dengan sedikit memerah karena menahan malu sembari menerimanya.


Hm?


Bukankah mereka selalu saja bersikap seperti itu kepadaku setelah melakukan pertemuan dengan Excel?


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan kemarin?" tanya Ares penasaran.


"A—apa yang Anda maksud... Tuan?" tanya Ivy gugup.


"Pembicaraan kalian dengan Excel kemarin," jawab Ares sembari memeriksa kembali perkamen selanjutnya.


Hening.


Meskipun tidak menghadirinya, Elsa dan Renne—seorang wanita yang telah berumur—tentu mengetahui hal apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut saat mereka melihat sikap Milly dan para gundik Tuannya yang berubah sejak pertemuan itu.


Perhatian Ivy teralihkan kembali menuju Elsa. Menggunakan tatapan berharap agar Elsa membantunya, namun harapannya segera sirna karena Elsa menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Begitu pula dengan Renne yang berpura-pura tidak mengacuhkan Ivy dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Karena tidak mendapatkan bantuan, wajah Ivy seketika memerah. Dia benar-benar tidak ingin Tuannya mengetahui pembahasan para wanita tersebut.


"Yah... jika itu merupakan sesuatu hal yang kalian tidak ingin beritahu kepadaku, kurasa tidak apa-apa," ujar Ares disaat matanya melirik Ivy yang sangat malu.


"T—terima kasih... Tuan," balas Ivy lega.


Oh, benar.


"Bagaimana perkembangan kapal induk yang telah kuperintahkan?" tanya Ares.


Renne kembali mengubah wajahnya menjadi serius. Sedikit ragu menjawabnya, Renne pun berkata, "Apakah tidak apa-apa, Tuan?"


Bagi Elsa dan Ivy, tentu tidak diperkenankan untuk mengetahui rahasia militer—yang mana membuat mereka saat ini bermaksud untuk meninggalkan ruangan.


"Tidak apa-apa, aku tidak berpikir Elsa dan Ivy akan mengkhianatiku. Aku berpikir akan sangat mengejutkan mereka apabila mereka tidak sedikitpun mengerti mengenai rahasia militer kita," jawab Ares acuh tak acuh.


Ares tentu menganggap Elsa dan Ivy sebagai keluarganya, meskipun para bangsawan lain tidak akan melakukan hal demikian. Tidak ada seorang bangsawan yang menganggap gundik dan saudara tiri yang lahir dari gundik ayahnya sebagai keluarganya.


Singkatnya, bagi para bangsawan, mereka hanyalah wanita pemuas nafsu—yang tentu tidak mungkin Ares memiliki anggapan seperti itu terhadap mereka.


Lega.


Senang.


Kepercayaan besar telah dilimpahkan kepada mereka.


Meskipun sedikit merasakan keanehan bahwa Tuannya tidak seperti seorang bangsawan pada umumnya, mereka memutuskan untuk mensyukurinya dan menjaga kepercayaan yang diberikan Ares.


"Untuk kapal induk... penelitian kami telah memasuki tahap akhir. Mengingat tenaga kerja yang kami kerahkan melebihi 10.000 orang, mungkin dalam waktu sekitar dua setengah tahun, proses pembuatan dua kapal perang berskala 85 meter tersebut diperkirakan akan selesai," jawab Renne.


"Untuk pengembangan meriam... mohon maaf, namun kami masih sedikit mengalami kebuntuan," sambung Renne.


"Begitukah? Yah, kurasa tidak apa-apa, aku akan meninggalkan catatan untukmu nanti," jawab Ares.


"Baik, terima kasih, Tuan," timpal Renne.


Beberapa saat kemudian, Renne kembali menghentikan pekerjaannya dan berkata, "Untuk Sekolah Dasar... lembaga pendidikan tersebut tidak menerima banyak tanggapan positif... Tuan."


Keningnya berkerut, Ares tahu bahwa kebudayaan belajar tidak akan mudah diterima oleh masyarakat. Ia pun menjawab dengan nada menyerah, "Begitu... kurasa tidak apa-apa untuk saat ini. Lakukan sebagaimana adanya terlebih dahulu."


"Baik, Tuan," jawab Renne.


Suasana hening kembali.


Tak lama berselang, Ares berkata dengan nada tegas, "Setelah matahari berada di puncaknya, panggil seluruh petinggi wilayah yang tersedia di ruang pertemuan."


Semua pena bulu terhenti, mereka bertiga serempak bangkit dari kursinya dan menghadap Ares lalu berkata, "Baik, Tuan."


Mereka bertiga pun pergi dari ruangan setelah memberikan salam dan penghormatan kepada Ares.


Hah...


Sudah saatnya.


Bangkit dari kursinya, Ares segera bergerak mendekati jendela dan memberi tanda tangan kepada anggota Klan Cornwall yang berjaga di luar.


Tanda telah ditanggapi. Setelah menunggu beberapa lama, Ares—yang dibersamai dengan seorang pelayan di belakangnya—bergerak menuju ruang pertemuan dengan langkah yang terlihat santai agar memberikan kesempatan bagi bawahannya untuk berkumpul.


Setelah tiba di depan pintu putih ruang pertemuan, pelayan tersebut mendekati pintu dan hendak membukanya. Namun, pelayan tersebut menghentikannya karena melihat seorang wanita yang berjalan mendekat bersama beberapa pelayan di belakangnya.


"Apakah kamu juga memanggilku, Sayang?" tanya Excel.


Suara istrinya tiba-tiba terdengar dari belakang tubuhnya. Berbalik, Ares menemukan Excel yang tersenyum gembira kepadanya seolah telah menebak sesuatu.


"Apakah kamu baik-baik saja? Bukankah sebaiknya kamu beristirahat?" tanya Ares khawatir.


Menggelengkan kecil kepalanya, Excel menjawab, "Tidak, aku tetap ingin menemanimu. Bukankah kita telah bersumpah pada hari itu?"


"Begitu..." timpal Ares dengan tersenyum lembut.


"Tapi... aku minta maaf karena mungkin tidak dapat membantumu hingga dia terlahir..." balas Excel dengan mengalihkan tatapan sesalnya menuju perutnya dan membelainya.


"Tidak perlu meminta maaf... aku lebih menyukai jika kamu tidak memiliki banyak beban pikiran dan lebih fokus dengan kondisimu," timpal Ares.


"Baik, terima kasih, Sayang," balas Excel dengan tersenyum bahagia.


Cklek.


Setelah diberikan tanda oleh Ares, pelayan tersebut membuka pintu ganda ruang pertemuan dan mempersilakan Ares serta Excel masuk. Di dalam ruangan, mereka melihat Kepala Pelayan Owen, pejabat inti wilayah, serta atase militer telah duduk dan segera bangkit menyambut kehadirannya.


Ares memposisikan dirinya untuk duduk di ujung meja berbentuk lingkaran bersama Excel di sampingnya agar dirinya dapat terlihat oleh semua bawahannya.


"Maaf karena telah memanggil kalian secara mendadak, tapi aku memiliki sesuatu hal yang sangat ingin kudiskusikan dengan kalian semua," ungkap Ares dengan nada sedikit menyesal.


"Kami tidak keberatan, Tuan," balas Renne.


Terdiam sejenak, Ares memejamkan matanya dan mengambil napas dalam lalu perlahan mengeluarkannya.


Ketenangan pikiran telah ada. Ares pun mengatakan apa yang ada di benaknya.


"Sekitar dua bulan yang lalu, aku telah mengirimkan pesan melalui Gnery mengenai rencanaku secara garis besar," ungkap Ares.


Terdiam, para pejabat dan atase militer menunggu Ares melanjutkan perkataannya.


"Berbeda dengan wilayah kami yang hanya memiliki musim panas dan hujan, wilayah utara Kerajaan Rowling hingga ujung utara benua sangat dipengaruhi oleh empat musim. Karenanya, seperti yang kalian tahu, Nathren tidak akan menggerakkan tentaranya hingga musim dingin berakhir di akhir Bulan Februari nanti," sambung Ares.


"Jadi, sebelum Natrehn bergerak untuk menyerang konfederasi, aku akan membuat tentaraku secara bertahap untuk menyelinap ke ibukota dengan menyamar sebagai warga sipil biasa," sambung Ares.


"Apakah Anda telah memutuskan berapa banyak prajurit yang akan Anda terjunkan dalam operasi ini, Tuan?" tanya Don.


"Berapa banyak populasi ibukota?" tanya Ares kembali untuk memastikan.


"Saya memperkirakan akan berkisar antara 400.000 orang, Tuan," jawab Canaria.


Hmm, jika aku memutuskan untuk melakukan penyerangan malam... mungkin sekitar 4.000 prajurit akan cukup.


Namun, jika aku hanya mengerahkan tentara sebanyak itu... target dari operasi ini harus tercapai sebelum fajar.


Yah, kurasa itu tidak masalah.


Mari jalankan rencana ini.


...----------------...