I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 106 : Kekeruhan Ibukota Lombart



Tahun 1236, 8 Oktober.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Siang Hari.


Seorang pria berambut putih yang memiliki jenggot putih pendek memandangi taman bunga yang disinari oleh sinar matahari cerah dari dalam sebuah gazebo di salah satu sudut taman istana.


Nampak pada wajahnya ekspresi keruh. Terbesit kembali ingatannya beberapa hari lalu bahwa kedua anaknya berkemungkinan besar akan melakukan sebuah perang saudara.


Ectave I, Raja Kerajaan Rowling saat ini, tentu mengetahui bila kedua anaknya akan bermain secara halus. Tidak mungkin keduanya akan membumihanguskan ibukota kerajaan yang dapat membuat nama baik mereka jatuh ke tanah.


Ada sedikit harapan di dalam hatinya, Ectave memiliki sebuah keinginan kecil agar Ares dapat menghentikan kedua anaknya yang berseteru.


Meskipun Ectave juga memahami perebutan diantara dua anaknya tersebut—yang juga dia lakukan disaat dirinya masih merupakan seorang pangeran—namun tetap terdapat rasa kasih sayang sebagai seorang ayah kepada Lucas dan Zee, meskipun hal itu tidaklah ditampakkannya.


Tentu, hal tersebut tidaklah disadari olehnya. Ectave memiliki kebencian yang mendalam pada Ratu Ketiga, yang dikatakan dapat membawa malapetaka pada kekuasaannya oleh seorang ahli nujum puluhan tahun lalu.


Tidak mungkin membunuh Ratu Ketiga dengan tindakan sembrono karena dirinya telah dikenal oleh banyak bangsawan, yang mana merupakan kesalahan pendahulu Duke Linius, kakek Excel, yang tidak menyembunyikan keberadaannya.


Rencana kematian Ratu Ketiga secara alami.


Bersama dengan Duke Linius, Duke Holfart, dan beberapa bangsawan tingkat tinggi lain yang berada di dalam lingkaran kekuasaan pusat, Ectave merencanakan akan membuat Sang Ratu menjadi seorang tahanan rumah selama beberapa tahun dengan alasan sakit agar dapat menimbulkan kematian secara wajar.


Tidak hanya hal tersebut, bahkan untuk membuat kematiannya terjadi secara alami, faksi istana bahkan menunggu hingga Ratu Ketiga memiliki seorang anak, yang tidak lain adalah Excel.


Namun, terdapat salah langkah diantara rencana mereka. Pembunuh yang mereka persiapkan sebelumnya salah perhitungan hingga membuat Excel mengetahuinya.


"Hah..." Ectave menghela napas.


Tap.


Tap.


Tap.


Langkah kaki beberapa orang terdengar semakin keras mendekat, perhatian Ectave teralihkan kepada sumber suara dan menemukan istri sekaligus sepupunya, Ratu Pertama Milaine, memiliki wajah yang sangat jelek.


Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Menunggu hingga Milaine memasuki gazebo dan duduk di hadapannya, Ectave pun menepukkan kedua tangannya yang menyebabkan para pelayan jauh melangkah mundur.


"Ada apa?" tanya Ectave yang juga memiliki ekspresi curam.


"Margrave Rueter mengirimkan surat kepada Lucas. Kemungkinan besar, dia juga mengirimkannya kepada Alein." Penuh kekesalan, Milaine memiliki kerutan di atas wajahnya.


Sejenak terdiam, Ectave memberanikan dirinya untuk bertanya, "Apa isinya?"


"Dukungan finansial dan militer." Milaine menjawab penuh kekesalan tanpa sedikitpun penundaan.


Tentu, surat tersebut mengatakannya secara tersirat. Tidak mungkin Ares, suami dari putri kerajaan yang berada pada posisi keempat dalam pewarisan tahta, akan mengatakannya dengan jelas.


Apa yang sebenarnya diinginkan olehnya?


Apakah dia...


"Apakah tujuannya adalah Nick?" tanya Ectave.


Seketika memuncak, kemarahan pun terpancar dari ekspresi Milaine, "Aku akan mencabik-cabiknya jika dia berani menyentuh Nick!"


Sebagai anak bungsu yang sangat disayangi oleh Milaine, Pangeran Nick selalu dimanjakan dan hidup dengan melakukan apapun yang dia inginkan.


Tidak memiliki peluang untuk mendapatkan kursi tahta, Perdana Menteri—yang merupakan saudara laki-laki Milaine sekaligus Duke Holfart—serta Duke Linius membuat Pangeran Ketiga Nick menjauh dari kursi tahta dan mengalihkannya pada kesenangan hidup.


Ectave sejenak termenung. Pikirannya tertuju pada segala kemungkinan yang dapat memberi keuntungan pada Ares jika Lucas atau Zee menerimanya.


Tetap saja, Ectave tidak dapat memikirkan keuntungan apapun yang dapat diperoleh Ares selain mengamankan posisinya agar tetap netral. Tidak pernah terpikirkan oleh Ectave bila Ares dapat melawan tentara reguler kerajaan, yang bahkan memiliki rasio prajurit kurang dari 1 banding 4.


"Apa yang kamu pikirkan, Milaine?" tanya Ectave bernada rendah.


"Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkan uang sebanyak itu, tapi aku benar-benar ingin merebut wilayahnya," jawab Milaine seolah tidak peduli.


"Tidak semudah apa yang kamu katakan, Milaine. Aku tidak tahu bagaimana Francois akan bergerak, tapi Alein tidak akan membiarkanmu melakukan apapun yang kamu inginkan," timpal Ectave.


"Aku tahu." Milaine menjawab ketus.


Sejenak keheningan dengan hempasan semilir angin menyelimuti suasana diantara keduanya.


Berbeda dengan Milaine yang meminum secangkir teh dengan penuh kekesalan sembari memandangi taman bunga untuk menenangkan hatinya, tatapan Ectave tertuju kepada bunga yang berada tepat di hadapannya.


Kupikir, Zee akan mengerahkan ordo ksatria sebanding dengan banyaknya ordo yang akan dikerahkan Lucas.


Ectave bangkit dari kursinya. Sedikit memiliki ketenangan hati, Milaine pun menoleh dengan tatapan heran, "Ke mana kamu akan pergi? Ini hari liburmu, bukan?"


"Aku... akan menemui kedua putraku," jawab Ectave dengan sedikit berat.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Milaine keheranan hingga membuatnya menatap suaminya dengan tatapan aneh.


"Memperingatkan mereka." Ectave melangkah pergi dengan acuh tak acuh meninggalkan Milaine yang sejenak ingin menyegarkan perasaannya.


Meminta seorang pelayan tingkat tinggi yang berasal dari rumah bangsawan, Ectave pun menunggu hingga matahari hendak terbenam di dalam ruangan yang berada di istana bagian dalam.


Tok.


Tok.


"Ayah," panggil Lucas dari luar ruangan.


"Masuklah," perintah Ectave.


Pintu ruangan kayu yang telihat berat perlahan terbuka. Lucas dan Zee secara bergantian memasuki ruangan yang di dalamnya terdapat banyak lemari kayu berisikan banyak dokumen sejarah penting.


Kedua anaknya—yang saling bermusuhan—terlihat berada dalam hubungan yang baik. Meskipun itu hanyalah kepura-puraan yang mereka tampakkan di depan ayahnya, namun muncul sedikit rasa syukur serta kelegaan di hati Ectave yang membuatnya samar mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Duduklah." Ectave menatap sebuah sofa panjang yang berada di hadapannya seolah memerintahkan mereka untuk duduk di depannya.


Keraguan muncul di dalam benak Lucas dan Zee, mereka tidak pernah mendapati ayahnya bersikap seperti ini kepada mereka—yang bahkan hampir tidak pernah dirinya mengundang mereka secara bersama-sama untuk melakukan pembicaraan pribadi dengannya.


Serentak membungkuk ringan sebagai penghormatan, Lucas dan Zee serentak menuju sofa di depan Ectave dan duduk dari dua arah yang berbeda.


Memandang kedua wajah anaknya, samar ekspresi penuh kekhawatiran muncul di atas wajah Ectave yang segera diubahnya kembali, "Zee, apakah kamu juga menerima sebuah surat dari Margrave seperti Lucas?"


"...Benar." Sedikit terkejut bahwa ayahnya mengetahuinya, Zee memutuskan untuk mengatakannya karena merasa sia-sia jika dia menyembunyikannya.


Ectave sejenak memejamkan kedua matanya, ia pun membuka kembali dengan melukiskan ekspresi sulit, "Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Margrave. Tapi, berhati-hatilah."


Meskipun Zee berada pada faksi yang bersebrangan dengan dirinya, Ectave tetaplah memiliki perasaan seorang ayah yang menyayangi putranya—meskipun itu tidak sebesar perasaannya kepada Nick dan Lucas.


Sedikit terkejut dan merasa aneh, keduanya tidak pernah berpikir bahwa ayahnya akan memberi peringatan mengenai Ares.


Keduanya mengerti, mereka tidak lagi dapat mengabaikan pengaruh Ares. Bahkan, sebagian bangsawan pendukung faksi memiliki penilaian tinggi terhadapnya dan sering menyarankan agar menariknya untuk bergabung dengan faksi mengingat prestasinya yang telah merebut Tanah Vietra yang sedari dulu menjadi impian para raja.


Mayoritas para bangsawan pendukung keduanya menganggap jika Ares bergabung dengan faksi, maka tahta dapat dipastikan jatuh ke tangan mereka.


"Baik, Ayah." Lucas menjawab dengan keseriusan tinggi.


"Ya," timpal Zee.


"Bagaimana keadaan kalian berdua?" Terdapat perasaan ingin bencengkrama ringan dengan kedua putranya. Ectave tidak mengerti mengapa perasaan tersebut seketika muncul di dalam hatinya.


"Saya berada dalam keadaan baik, Ayah," timpal Zee.


"Saya juga," balas Lucas.


"Bagaimana keadaan cucuku, Lucas?" tanya Ectave.


"Dia baik-baik saja, Ayah. Tidak perlu khawatir, Katherine selalu bersamanya," jawab Lucas.


"Begitu..." Ectave mengalihkan wajahnya ke sudut ruangan dengan ekspresi mendung.


Kesal.


Menjadi panas, keduanya benar-benar ingin segera mengakhiri pertemuan jika Ectave tidak lagi memiliki sesuatu yang penting bagi mereka.


Bagi Lucas dan Zee, yang memiliki aktivitas sangat padat, tentu menganggap jika panggilan ayahnya yang hanya membicarakan sesuatu tidak berguna bagi mereka sangatlah sia-sia. Namun tetap saja, mereka tidak dapat menolak perintah ayahnya yang merupakan seorang Raja.


Kegelisahan melanda. Meskipun tidak ditampakkannya, Ectave tidak mengerti mengapa perasaannya seolah menjadi kacau.


"Minumlah teh hangat yang terseduh di depan kalian, aku... ingin sejenak berbincang-bincang dengan kalian berdua dan menghapus keformalan kita," pinta Ectave.


Lucas dan Zee melirikkan kedua matanya pada satu sama lain. Mereka tentu menganggap sikap ayahnya sangat aneh, sangat berbeda dengan sikap yang biasanya ia tunjukkan pada orang lain.


Dalam diam, sebuah kesepakatan terbentuk diantara keduanya. Sejenak menghentikan rasa permusuhan, mereka mengambil kedua cangkir teh untuk menenangkan diri serta bercengkrama ringan dengan Ectave hingga malam tiba.


...----------------...