
Tahun 1237, 8 Juni.
Basilika St. Our Lady of Naven-Belle, Wilayah Otorita Gereja, Kekaisaran Suci Alven.
Siang Hari.
Sebuah ruangan besar dengan arsitektur emas mewah bergaya romawi dengan banyak lukisan serta pahatan patung pembesar agama masa lampau yang mendiami, menjadi tempat berkumpulnya para pembesar Agama Afarant, sejak dulu hingga kini.
Enam orang duduk melingkar pada sebuah meja bundar, masing-masing dari mereka mengenakan pakaian kebesaran gereja putih berhiaskan emas, dengan seorang pria bertubuh besar berambut pirang yang duduk di kursi tertinggi. Tatapannya tajam, wajahnya memancarkan ketegasan yang luar biasa.
Paus Constantine XIV.
Semua orang yang berada bersamanya mengerti, pria yang memiliki posisi tertinggi tersebut tidak akan pernah membiarkan seorangpun menginjak-injak gereja, bahkan jika itu merupakan "mantan" keluarga yang dahulu pernah melayani Gereja Arafant.
"Yang Mulia Paus, bukankah rencana tersebut terdengar sangat terburu-buru?" Tidak berbeda dengan tiga kardinal lain, seorang kardinal bertubuh gemuk besar—hanya memiliki rambut putih pada tepian ubun-ubunnya walau tertutup oleh penutup kepala kebesarannya—mengerutkan kening, berusaha memperingatkan Paus agar memikirkannya kembali.
"Saya kira seperti yang telah Kardinal Copet utarakan... Meskipun merupakan sebuah kebenaran bila pihak yang membunuh Keluarga Natrehn berada dalam keadaan lemah karena baru saja melakukan sebuah peperangan, namun bukankah kita harus lebih berhati-hati dalam menyikapi mereka?" Seorang kardinal wanita tua kurus berambut putih menyetujui.
"Jika Anda sekalian mengetahui, menurut berita yang saya dapatkan beberapa hari lalu, pihak musuh melakukan sebuah revolusi kurang dari satu tahun... bukankah itu sangat tidak wajar? Saya hanya dapat mengira bila para bangsawan Rowling dan Natrehn telah berkolusi dan mempersiapkannya semenjak dahulu," sambung wanita tua tersebut.
"Hmm." Constantine termenung, memandang sebuah lembar perkamen yang berada di hadapannya.
Kata-kata Kardinal Copet serta Kardinal Julia sangat perlu untuk dipertimbangkan. Terlebih lagi, pihak gereja tidaklah memiliki basis kuat serta pengikut yang taat di benua barat, yang mana gereja hanya memiliki mata-mata yang tersebar di berbagai wilayah di dalamnya.
Besar kemungkinan bila sesuatu yang tidak mereka prediksi sebelumnya dapat menimpa mereka. Constantine juga berpikir bila ia tidak dapat melangkah dengan terburu-buru mengingat pengaruh Mihiral yang semakin menguat.
"Saint Jeanne, apakah Tuhan telah kembali memberkati Anda?" Kardinal Jirgis—seorang pria paruh baya berambut coklat pendek berjenggot tidak panjang—mengalihkan perhatiannya pada seorang gadis berambut pirang panjang bermata biru turkish yang duduk di samping Constantine.
Jeanne menggeleng ringan dengan matanya yang tertutup, sesuai dengan sosoknya yang dianggap sebagai manusia yang memiliki pekerti terbaik diantara para manusia lain.
"Mohon maaf atas ketidakmampuan saya." Jeanne sedikit tertunduk, merasa sedih karena tidak mampu membantu permasalahan agamanya, hingga membuatnya merasa menjadi beban bagi pihak gereja.
"Tidak perlu terlalu bersedih hati, Saint." Copet berusaha menenangkannya, merasa sangat iba dengan gadis yang semenjak kecil telah ia rawat dengan penuh kasih sayang, "Saya yakin pada kesempatan lain Anda akan kembali menerimanya."
"Terima kasih... Kardinal Copet," balas Jeanne dengan penuh syukur, walau dia hendak memanggilnya "Ayah" seperti masa lalu, yang segera Jeanne tahan karena panggilan tersebut tidaklah berada pada tempatnya.
Tiga kardinal lain memandang Copet dengan tatapan rendah, menganggapnya membawa keburukan bagi gereja karena membuat salah satu anak yatim piatu yang ia rawat menjadi seorang saint.
Bukan tanpa alasan, terpilihnya Jeanne berawal dari penerimaannya atas sebuah tanda, sebuah bisikan dari Yang Maha Kuasa, walau Copet tidaklah menginginkannya, yang mana bagi Ares hal tersebut hanyalah fitur dalam game semata.
Berbeda dengan tiga kardinal lain yang berambisi besar atas kursi paus setelah wafatnya Constantine XIV, Copet bukanlah seseorang yang memiliki ambisi terhadap kedudukan. Bahkan, dia dilantik untuk menduduki kursi kardinal atas pemaksaan Kaisar Suci sebelumnya, walaupun jika orang memandangnya, ia akan memiliki pendapat terhadap Copet sebagai seorang "koruptor" akibat penampilannya.
Sering kali mendedikasikan hidupnya untuk Tuhannya, Copet dikenal sebagai pribadi yang baik. Copet memiliki banyak panti asuhan yang ia dedikasikan sebagai rumah bagi yatim piatu serta anak terlantar, di samping dia yang sering membuka dapur umum bagi para tunawisma di dalam kekaisaran serta wilayah yang ia kunjungi.
Jirgis kembali tersenyum masam, mengejek Jeanne dan Copet yang tidak mampu memberikan nubuat kepada forum.
"Ada apa, Kardinal Aulus?" Perhatian Constantine teralihkan dari lembar perkamen yang berisi laporan situasi benua barat.
"Saya yakin Yang Mulia memiliki kebimbangan besar atas situasi ini... namun, bukankah Keluarga Natrehn tidak lagi melakukan peribadatan setelah meninggalkan gereja? Terlebih lagi, setelah terpengaruh budaya sesat Kerajaan Rowling, Keluarga Natrehn melarang misi misionaris kita dan menghancurkan banyak Gereja Arafant. Bukankah Yang Mulia tidak perlu merisaukan kehancuran keluarga mereka?" timpal Aulus.
Constantine hanya dapat terdiam, memikirkan hal apa yang sebaiknya pihak gereja tempuh di masa depan. Berbeda dengan para kardinal—yang bertindak sebagai penasehat paus—bobot perkataan Constantine sangatlah berat, membuatnya sangat berhati-hati dalam memilih sebuah kalimat.
Meskipun begitu, Constantine, para kardinal, serta Jeanne memahami, mereka tidak dapat membiarkan Kekaisaran Arestia—negara yang baru saja berdiri di atas beberapa negara yang sebelumnya bergejolak—menyebarkan pengaruhnya yang menolak misi misionaris Gereja Arafant.
"Saint Jeanne." Constantine mengubah wajahnya menjadi tegas, menatap Jeanne dengan kuat hingga menyebabkan Jeanne sedikit terintimidasi, "Dalam waktu dua tahun ke depan, aku akan mengutusmu ke Benua Barat untuk misi misionaris gereja."
"Baik, Yang Mulia." Sebagai hamba yang taat, Jeanne menundukkan kepalanya, dengan tulus menerima sebuah perintah yang berasal dari pemimpin tertinggi agamanya.
"Bersama dengan seorang uskup dan beberapa pendeta, aku mempercayakan kepadamu 3 Ordo Ksatria Suci. Persiapkan dan jaga dengan baik amanat yang telah diberikan kepadamu," perintah Constantine tegas.
"Saya dengan rendah hati menerima amanat yang telah Yang Mulia berikan." Jeanne menunduk dalam, merasa sangat terkejut dengan keputusan Constantine yang sangat tiba-tiba, membuatnya merasakan kebahagiaan karena sekali lagi mampu berkontribusi bagi gereja hingga tanpa sadar meneteskan air mata.
"Cerahkanlah para pemimpin mereka jika Arafant adalah kebenaran mutlak yang diturunkan dari langit." Constantine bangkit dari kursinya, melangkah pergi keluar ruangan bersama beberapa ksatria suci pengawalnya.
Para kardinal serentak terkejut, kebingungan dengan alasan yang mendasari Constantine mengeluarkan maklumat tersebut. Terlebih lagi, Jeanne hanya memiliki pengalaman menyerukan ajaran Arafant ke perbatasan Kekaisaran Suci Alven, yang membuat para kardinal berpikir bila Paus Constantine hendak mengujinya.
Berbeda dengan Copet yang melukiskan kesedihan di atas wajahnya, tiga kardinal hanya dapat berwajah datar. Namun, hati mereka dipenuhi oleh kebahagiaan besar, sebuah kesempatan untuk menggagalkan Jeanne serta menurunkan pamor Kardinal Copet terbuka lebar tepat di hadapan mereka.
Tiga kardinal segera berpamitan pergi, menyisakan Jeanne dan Copet di dalam ruangan.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Copet khawatir, membuang keformalannya karena hanya terdapat mereka berdua di dalam ruangan.
"Tidak, Ayah. Saya hanya sangat bahagia... saya sekali lagi mampu berguna bagi gereja." Jeanne tersenyum lebar, membuat Copet melukiskan ketenangan di atas wajahnya, walau dia belum dapat menyingkirkan kekhawatirannya.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu, katakanlah padaku." Copet memutuskan untuk mendukung Jeanne, seseorang yang telah ia anggap sebagai putrinya sendiri, untuk memiliki kebahagiaannya sendiri.
"Baik, terima kasih, Ayah!" Jeanne tersenyum penuh kebahagiaan.
Memandang senyuman cerah Jeanne, Copet hanya dapat berharap, berdoa kepada Tuhannya, agar Jeanne tidak terseret ke dalam kegelapan yang dimiliki oleh Gereja Arafant.
...----------------...
Catatan :
Aku menggunakan kata "pendeta" karena ini bukan bumi, oke?
...----------------...