
Tahun 1237, 18 Januari.
Padang Knovica, 20 km Barat Ibukota Kerajaan Natrehn.
Pagi Hari.
Seorang gadis berambut putih panjang yang rambutnya terurai perlahan membuka kedua matanya disaat dia terbaring di atas ranjangnya.
"Ugh." Kristin merasakan tubuhnya dibalut banyak perban, yang juga terselimuti oleh kain yang cukup tebal.
Perlahan menggerakkan salah satu tangannya, namun rasa sakit hebat segera dirasakan Kristin—yang membuatnya kembali melemaskan seluruh anggota tubuhnya.
"Dimana..." Tatapan Kristin tertuju pada langit-langit yang tidak pernah dirinya lihat sebelumnya.
Mengalihkan perhatiannya kepada lingkungan sekitar, Kristin menemukan dirinya berada di dalam sebuah kamar dari rumah kayu yang cukup terawat.
Beberapa perabotan kayu di sekitarnya memiliki kondisi yang cukup baik, meskipun tidak dapat dikatakan mewah.
"Apa... yang terjadi?" Terbesit kembali ingatannya disaat dia melarikan diri bersama Wilhelm, Pangeran Kedua Kerajaan Natrehn.
Kristin merasakan seharusnya dia telah mati kedinginan setelah mencapai sungai, yang mana seharusnya telah membeku.
Mengingat kembali ayah, ibu, banyak kerabat, Wilhelm, serta orang-orang yang dikenalnya tewas terbunuh, air mata yang semakin deras menetes keluar dari sudut matanya.
Suara lirih, Kristin menangis hingga tersedu-sedu. Dia tidak lagi memperhatikan keadaannya yang seharusnya sangat mustahil terjadi kepadanya. Pikirannya hanya dipenuhi kesedihan yang mendalam.
Krrieet.
Pintu kayu perlahan terbuka. Perhatian Kristin pun teralihkan kepada seorang pemuda berambut biru pendek yang memasuki ruangan.
"Apakah kamu telah terbangun?" tanya Ares sembari tersenyum menenangkan.
"Apa... kah kamu... yang telah menyelamatkanku?" Kristin berkata lirih, suaranya terdengar serak.
"Tidak perlu dipikirkan." Ares menggeleng ringan, "Tolong tunggulah sebentar."
Sesaat setelahnya, Ares kembali perlahan menutup pintu. Melihatnya, Kristin menghela napas lega. Ada sedikit perasaan lega yang muncul setelah melihat bahwa seseorang yang membantunya bukanlah merupakan orang aneh.
Tak lama berselang, Ares kembali membuka pintu. Salah satu tangannya pun membawa nampan dengan sup panas serta segelas air hangat.
Langkah kakinya berjalan mendekat, Ares duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang Kristin.
"Bagaimana keadaanmu saat ini?" Nadanya menenangkan, Ares menempatkan nampan tersebut di atas lemari kayu kecil yang berada di samping kursinya.
"Terima kasih... karena telah menyelamatkanku... Meskipun... aku belum dapat menggerakkan... tubuhku, tapi... aku baik... baik saja..." Kristin memiliki ekspresi sulit.
Tubuh Kristin terasa sangat kaku, pun tidak berbeda dengan perutnya yang terasa sangat lapar. Kristin benar-benar bahagia disaat dia melihat suguhan makanan dibawakan kepadanya, meskipun dia tidak mengekspresikannya karena merasa tidak nyaman karena akan semakin merepotkan pria di hadapannya.
Meskipun dia memikirkan adanya racun di dalam sup tersebut, Kristin segera menepis hal tersebut. Jika pria di depannya akan meracuninya, tidak mungkin dia akan menyelamatkannya dari sungai beku.
"Apakah kamu lapar?" tanya Ares.
Kristin mengangguk kecil. Melihatnya, Ares tersenyum masam dan menahan tengkuk leher Kristin dan mendudukkannya dengan perlahan.
Rintihan lirih Kristin samar terdengar, Ares pun mengubah wajahnya menjadi penuh penyesalan, "Maaf..."
"Tidak..." Kristin menggeleng kecil, "Aku tidak keberatan..."
Mengambil gelas hangat, Ares meminumkannya ke arah mulut kecil Kristin kemudian perlahan menyuapinya.
Beberapa kali menelan, Kristin memiliki perasaan yang sedikit tidak nyaman karena Ares dengan sabar menunggu, meskipun dia mengunyah dengan perlahan.
Meskipun begitu, rasa syukur memenuhi hatinya, dia teringat jika dirinya belum bertanya mengenai asal-usul pria yang menyuapinya.
"Sejak kapan... aku tidak sadarkan diri?" tanya Kristin.
"Aku menemukanmu di sungai beku dua hari yang lalu," jawab Ares.
Sekali lagi sendok makan masuk ke dalam mulutnya. Setelah menelan, Kristin perlahan menolehkan wajahnya menuju Ares, "Bolehkah aku... mengetahui namamu?"
Sekali lagi menyuapi mulut Kristin, Ares pun segera tersenyum kecut, "Margrave Rueter saat ini, Ares von Rueter... Kristin von Ginnes."
Terdiam hingga mematung, matanya terbuka sangat lebar, pun tidak berbeda dengan gerakan mulutnya yang berhenti mengunyah.
Teringat kembali perkataan Wilhelm yang mendapatkan laporan dari ayahnya jika salah satu jenderal Ares telah memukul mundur pasukan kakeknya. Kristin juga tersadar apabila identitasnya telah diketahui.
"Jangan panik, tenang saja. Lagipula, bukankah tubuhmu saat ini sedang kesakitan?" ujar Ares sembari tersenyum masam.
Pikirannya seketika berlarian menuju segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Meskipun tidak dapat berteriak, meskipun hanya dapat mengeluarkan suara serak, Kristin mengeluarkan amarahnya yang terpendam, "Kau... kau telah... merencanakan... ini bersama... Yang Mulia Pangeran Julius... bukan?!"
"Ayahku... ibuku... kerabatku... Wilhelm... semua orang yang aku kenal..." Tidak sanggup melanjutkan perkataannya, Kristin pun semakin terisak.
Meletakkan kembali mangkuk sup di atas pangkuannya, Ares menggeleng ringan, "Tidak, meskipun tidak dipungkiri aku mengharapkan kehancuran Natrehn... aku tidak pernah bekerja sama dengan Julius, kau tahu?"
"La... lalu?!" timpal Kristin.
"Hmm, apakah kau mengingat apa yang Pangeran Kedua katakan kepadamu?" ujar Ares yang mengangkat kembali mangkuk di pangkuannya.
Tersadar, Kristin sekali lagi melepaskan kekesalannya, "Kau... bekerja sama... dengan Eina?!"
Ares menghela napas dalam. Sedikit heran dengan pemikiran gadis di hadapannya yang selalu berprasangka buruk kepadanya—meskipun itu adalah kebenaran bila Ares memiliki kerjasama dengan Eina di balik layar.
"Tenanglah. Aku hanya khawatir terhadap apa yang akan terjadi di benua ini hingga membuatku menyusup ke Ibukota Scandiva. Karenanya, aku dapat menyelamatkanmu, kau tahu?" timpal Ares.
"Maaf..." Kristin tertunduk malu, sekali lagi tersadar jika Ares tetaplah menyelamatkannya. Meskipun begitu, dia memiliki tanda tanya besar di dalam benaknya, "Tapi... apa yang... kamu maksud?"
Kristin memfokuskan perhatiannya kepada gulungan yang saat ini sedang dibuka oleh Ares. Samar dengan lirikan, Kristin mengetahui jika kedua gulungan tersebut sebelumnya tersegel dengan lambang keluarga bangsawan yang berada di bawah naungan House of Fonca.
Ares pun mendekatkan kedua gulungan tersebut tepat di depan wajah Kristin hingga membuatnya dapat sangat jelas membacanya.
Kedua mata Kristin sekali lagi terbuka lebar. Dia benar-benar sangat terkejut setelah membaca isi dari dua lembar perkamen di hadapannya.
Salah satu dari gulungan tersebut berisi tentang kesepakatan kerjasama balik layar Pangeran Movic, House of Fonca, House of Ginnes, serta beberapa rumah bangsawan besar lain untuk melakukan kudeta 30 tahun lalu.
Sedangkan lembar lain berisikan kesepakatan di balik layar Pangeran Julius, House of Fonca, serta beberapa rumah yang tergabung dengan kudeta yang dilancarkan oleh Julius, yang juga terdapat tanda segel dari Kerajaan Forbrenne yang menandakan keikutsertaannya.
"Apakah anggota dari keluarga yang melakukan kudeta puluhan tahun lalu berhak untuk keberatan jika menjadi korban sebuah kudeta?" tanya Ares dengan menarik kembali dua gulungan tersebut.
Dengan lemah, Kristin menggigit bibir bawahnya. Tatapannya hanya dapat tertuju ke bawah, kedua tangannya pun meremas seprai ranjangnya. Dia memahami, tanggung jawab pendahulu juga jatuh kepada penerusnya.
Ingin berteriak, membalas dendam, melepaskan perasaan yang terpendam. Namun Kristin tahu, jika hal tersebut tidaklah mencerminkan nilai-nilai seorang ksatria—yang selalu dia ungkapkan kepada Wilhelm sedari kecil.
Tanpa sadar, tetesan air mata sekali lagi terjatuh—yang membuat Ares hanya dapat tersenyum kecut.
"Bukalah mulutmu." Sedok sup ringan menabrak bibir Kristin. Meskipun tidak ingin, Kristin tetap membuka mulutnya karena Ares tetap menabraknya beberapa kali.
Setelah menelan, Kristin mengalihkan wajahnya yang menunjukkan betapa sebalnya kepada Ares, yang membuat Ares sekali lagi tersenyum kecut.
Namun, ekspresi tegas segera terlukis. Ares menatap tajam pada Kristin yang membuatnya sedikit takut.
"Dengar, jika terus seperti ini, seluruh benua barat akan hancur." Intimidasi sangat terasa pada nada perkataan Ares.
"Apa... yang kamu maksud?" tanya Kristin.
"Apa pendapatmu mengenai tujuan dari House of Fonca yang selalu mendukung gerakan kudeta? Dan juga, mengapa terdapat segel Keluarga Kerajaan Forbrenne pada lembar kesepakatan?" Pertanyaan Ares sejenak membuat Kristin termenung.
Segera, Kristin dengan cepat mengalihkan kembali pandangannya menuju Ares, meskipun itu sedikit membuatnya merasa sakit, "Ja—jangan... katakan?!"
"Seperti yang kamu pikirkan, dia adalah sosok yang ingin menghancurkan Natrehn dari dalam. Juga, apa yang terjadi jika satu-satunya penyandang nama 'Kona' yang tersisa tewas terbunuh?" timpal Ares penuh keseriusan.
Kona.
Nama yang disematkan kepada keluarga pendeta yang sebelumnya atau hingga masa kini pernah menjabat sebagai seorang uskup.
Bagi Rowling dan Natrehn, yang memiliki pemikiran supremasi bangsawan, tentu tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap ajaran Agama Arafant.
Berbeda dengan Keluarga Kerajaan Rowling yang sebelumnya merupakan bangsawan murni, Keluarga Kerajaan Natrehn berasal dari keluarga pendeta yang pahamnya berubah haluan menjadi bangsawan.
Berbeda pandangan dengan Paus terdahulu, Raja Pertama Natrehn meninggalkan Kekaisaran Suci Alven setelah perang besar dua agama dan mendirikan sebuah negara adidaya di Benua Barat, bersama dengan Kerajaan Rowling yang telah berdiri beberapa tahun sebelumnya.
Tentu, meskipun mereka telah meninggalkan ajaran, namun Keluarga Kerajaan Natrehn tetaplah dianggap sebagai keluarga pendeta oleh Paus dan Kaisar Suci Alven.
Dapat menjadi alasan berkobarnya perang berkelanjutan, Paus dan Kaisar Suci dapat menggerakkan para Ksatria Suci untuk membumihanguskan seluruh Wilayah Natrehn, yang tentu saja Kerajaan Rowling tidak luput dari serangan.
Pengalamannya yang berasal dari game memberitahunya. Ares tidak dapat membunuh seluruh anggota Keluarga Kerajaan Natrehn yang dapat menggerakkan Ksatria Suci dan menyerang negaranya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun—yang langkah pertamanya dengan membuat Sieg membelot.
Akibatnya, Ares telah mempersiapkan beberapa hal yang dapat membuat negaranya stabil serta membuat negara lain bersikap menunggu dan melihat.
Mengkambing hitamkan Eina.
Selain kekuatan ekonomi dari Guild Pedagang, memerangi Eina yang telah membunuh Keluarga Kerajaan Natrehn yang menyandang nama Kona dan menyerahkan kepalanya pada mereka membuat Kekaisaran Suci Alven tidak lagi dapat berkutik.
Tidak memiliki alasan untuk melakukan penyerangan, terus berhati-hati dan bersikap waspada, Kekaisaran Suci Alven tentu tidak akan mencampuri urusan negaranya setidaknya selama 2 hingga 3 tahun ke depan.
Tubuh Kristin samar gemetar, Kristin mengetahui kemungkinan besar seluruh negara di Benua Barat dapat mengalami kekacauan besar.
"Kristin." Panggilan bernada berat membuat Kristin kembali memberi perhatian kepada Ares.
"Meskipun kabar belum terdengar karena terhalang oleh cuaca ekstrem, kedua Pangeran Rowling sedang mempersiapkan pasukan untuk berperang melawan Natrehn selama musim dingin," sambung Ares.
"Hah?!" Terkejut, Kristin segera menjadi panik, "A—apa katamu?!"
Tidak lagi mempedulikan rasa sakitnya, Kristin hanya mempedulikan nasib yang akan terjadi pada negaranya.
"Yah, dapat dikatakan... pasukan Lucas dan Zelhard telah saling berhadapan... meskipun mereka tidak melakukan satupun kontak karena terhalang badai salju yang mungkin terjadi. Selain itu, Zee telah mempersiapkan pasukan di perbatasan utara Rowling," ujar Ares.
Menegang, sejenak membuat pikiran Kristin kacau. Namun, dia sedikit menenangkan perasaannya, meskipun itu sedikit sulit karena pikirannya yang tidak dapat lepas dari prasangka buruk.
"Jangan berbohong! Mengapa kau mengungkap—ugh!" Berteriak, Kristin merasakan rasa sakit yang luar biasa yang menyebabkannya kembali terbaring lemas.
"Aku berbohong? Mengapa aku mengungkapkannya? Heh." Ares terkekeh. Ia pun meletakkan mangkuk sup kembali di atas meja dan sekali lagi mengambil dua gulungan perkamen dari sakunya.
Kedua mata Kristin sekali lagi terbuka lebar. Pandangannya tertuju pada nominal bantuan dana perang, persenjataan, serta pasokan makanan yang telah tersepakati diantara Ares dan Lucas serta Ares dan Zee.
"Mengapa kau melakuka—ugh!" Sekali lagi rasa sakit menjalar hebat, Kristin menguatkan giginya agar dapat menahan rasa sakitnya.
"Mengapa aku melakukan ini? Aku sangat khawatir jika salah satu pangeran akan membunuh Julius. Juga, meskipun aku memiliki pengaruh, tidak mungkin aku akan menolak permintaan kedua faksi pangeran, kau tahu?" Ares menggeleng ringan, "Lagipula, aku hanyalah seorang bangsawan lemah yang tidak berdaya."
"Guh..." Tubuh Kristin seketika melemah, hanya dapat memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi di masa depan, "Apa... yang harus aku... lakukan? Aku... tidak ingin... kehilangan apapun... lagi."
"Aku telah memikirkan beberapa jalan keluar dari kekacauan ini. Meskipun begitu, aku tetaplah membutuhkan bantuan kakekmu," ujar Ares.
"Kumohon..." Lemah, Kristin tidak lagi dapat memikirkan apapun.
"Beristirahatlah untuk saat ini. Lihat, keretanya datang!" ujar Ares yang mengarahkan sedoknya menuju mulut Kristin.
Mendengar candaan Ares, sedikit membuat ketenangan menyelimuti hatinya. Tersenyum masam, Kristin pun memutuskan untuk beristirahat dan perlahan membuka mulutnya.
...----------------...