I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 142 : The Last Battle, part 2



Tahun 1237, 23 April.


Daerah Sekitar Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva.


Malam Hari.


Pltak!


Pltak!


Kuda perang coklat yang menjadi tunggangan Kristin berlari cepat, dengan dukungan beberapa pengawal—termasuk Rea—di sekelilingnya.


Beberapa medan pertarungan antar prajurit mereka lewati, menebas banyak prajurit musuh dari atas kudanya. Pikirannya berpacu, mencari punggung seseorang yang ia telah kehilangannya.


Ketakutan menghantui perasaan Kristin. Perasaannya benar-benar tidak terasa nyaman sejak beberapa saat lalu, membuat Kristin sangat gundah dengan keadaan kakeknya, Zelhard von Ginnes.


Tak lama berselang, sebuah medan pertempuran hebat berada dalam bidang pandangnya. Kristin sangat mengetahui bila satu-satunya yang dapat menyebabkan hal tersebut hanyalah pertarungan Eina dengan kakeknya, membuatnya menarik tali kekang kudanya untuk membawanya mendekat dengan lebih cepat.


"Mohon tunggu, Nona!" Rea berteriak keras, Kristin meninggalkan para ksatria pengawalnya dengan sangat cepat, membuat mereka terbebani dalam pengejarannya.


Melewati beberapa prajurit yang bertarung, kedua mata Kristin terbuka lebar, membuat pikirannya sejenak dipenuhi kekosongan. Dalam bidang pandangnya, dua jenderal tertinggi Natrehn telah saling terbaring lemah.


"Kakek! Kakek!" Air mata deras menetes, Kristin melompat dari kudanya dan berlari mendekati sosok terakhir yang menjadi anggota keluarganya.


Pelarian Kristin tanpa sadar sejenak terhambat, perubahan suasana medan perang sangat kental dirasakan olehnya, meskipun pikirannya hanya dipenuhi oleh kakeknya seorang.


"Bala bantuan datang! Pasukan Margrave Rueter telah tiba! Jenderal Gnery akan menyelamatkan kita!"


Kristin tetap berlari, tanpa sedikitpun mengindahkan teriakan yang menyebabkan perubahan besar pada medan perang di sekitarnya.


Hingga berada di dekat tempat Zelhard berada, tubuh Kristin tertahan, membuatnya tidak dapat bergerak mendekati tempat dimana kakeknya terbaring, "Lepaskan aku!"


"Mohon tenanglah, Nona!" Seorang ksatria pengawal wanita Zelhard menahan langkah Kristin, bermaksud untuk menenangkan cucu Tuannya yang berada dalam ketidakstabilan emosi.


"Tidak mungkin! Aku harus menyelamatkan kakek!" Kristin berteriak keras, menggoyang-goyangkan tubuhnya agar dapat terlepas dari pelukan erat ksatria wanita tersebut.


"Nona! Apakah Anda tidak mengindahkan keinginan terakhir yang telah disampaikan Tuan kepada Anda?!" Kata-kata Sang Ksatria Wanita membuat tubuh Kristin seketika lemas tidak berdaya.


Terbesit kembali dalam ingatannya pada malam terakhir disaat Kristin berbicara empat mata dengan Zelhard. Sebuah pesan agar tidak mengganggu pertarungannya melawan Eina dan membiarkannya menemui ajal dengan tenang di tengah medan perang.


Zelhard sejak dulu telah lama memimpikan hal tersebut, membuat Kristin hanya dapat tertunduk lemah, menerima permintaan kakeknya dalam diam.


Dalam dekap pelukan, Kristin perlahan menangis, meneteskan air mata yang sangat deras, hingga membuat ksatria tersebut menguatkan pelukannya.


Tidak jauh dari tempat Kristin berpijak, 5.000 prajurit kavaleri yang berada di bawah pimpinan Gnery datang mendekat, membuat para prajurit Natrehn sangat ketakutan.


Ares mengubah gerakan pasukannya. Akan sangat lambat bila dia diharuskan membawa lebih dari 10.000 prajurit menuju Ibukota Scandiva, menyebabkannya membagi pasukannya menjadi dua dengan 5.000 prajurit kavaleri sebagai pasukan pendahulu serta 50.000 prajurit sebagai kekuatan utama yang bergerak terpisah dengan mereka.


Menyisakan 20.000 prajurit yang berada di bawah Warren untuk mengawal Pangeran Kedua kembali ke ibukota, Ares sangat yakin bila tidak ada seorangpun bangsawan yang akan menyebabkan masalah terhadapnya.


GOOONG!


GOOONG!


Berada di barisan terdepan dibersamai oleh Excel serta beberapa perwira lain, Ares mengangkat tinggi tangan kirinya, sebuah tanda untuk prajurit kavaleri yang membawa terompet—dengan ukuran yang lebih kecil—untuk meniupnya sebagai perintah penarikan mundur bagi seluruh Tentara Rowling, tanpa terkecuali.


Mayoritas dari para prajurit Rowling dan para perwira bertanya-tanya, sangat kebingungan dengan apa yang hendak dilakukan oleh Ares.


"Yang Mulia Pangeran Lucas, Yang Mulia Raja Julius, dan bahkan Jenderal Eina serta Jenderal Zelhard telah tewas terbunuh! Apakah kalian benar-benar ingin melakukan sebuah peperangan yang sia-sia seperti ini?!" Teriakan Ares yang sangat keras membuat keseluruhan medan perang terguncang, hingga mayoritas dari mereka menurunkan senjatanya.


Bagi Tentara Natrehn, dua jenderal adalah pilar moral mereka. Seperti yang terjadi pada Barlock, apa yang akan terjadi bila dua jenderal tersebut dikabarkan tewas pad saat yang sama di tengah medan perang?


Tentu saja, moral para prajurit terperosok hingga ke dasar tanah, meskipun Zelhard telah dihukumi melakukan sebuah pengkhianatan sebelumnya.


Untuk itu, para Ksatria Pengawal Zelhard hanya dapat terdiam, menggigit bibir bawahnya karena sangat menyesalkan perkataan Ares yang menyebarkan berita tersebut.


Tidak berbeda dengan Natrehn, para prajurit Rowling hanya dapat tercengang. Sangat terkejut dengan kabar kematian pemimpin tertinggi pasukan, hanya petinggi militer saja yang mengetahui pelarian Lucas, meskipun banyak diantara mereka yang telah terbunuh.


"J—jangan berbohong! Yang Mulia Pangeran Lucas masih hid—" Ketidakpercayaan tetap melekat kuat di dalam benak, salah satu perwira bangsawan berpangkat Viscount memprotes dengan mengarahkan pedangnya kepada Ares.


"Aku membawa jasadnya," sela Ares dengan wajah serius.


Tanpa penundaan, dua ekor kuda yang menarik kereta bak terbuka mendekat.


Dihias dengan sangat rapi dan mewah, banyak bunga-bunga serta dekorasi yang berada di dalamnya, namun semua orang akan setuju terhadap dua kotak kayu besar—salah satu kotak tersebut berbentuk kubus, yang lainnya berbentuk balok—yang menjadi pusat perhatian jika seseorang melihatnya.


Dengan sedikit takut, perwira tersebut berjalan mendekat. Albert—paman Ares serta ayah Milly—yang berada di atas kereta segera membuka tutup dan memperlihatkannya pada orang-orang yang mendekat.


"Aku menemukan jasad Yang Mulia Pangeran Lucas dalam keadaan demikian." Nada Ares terdengar semakin sedih, sedikit isak tangis samar terdengar dalam suaranya.


"Aku merasa sangat sedih... tidak pernah sekalipun diriku menyangka apabila para bangsawan Faksi Yang Mulia Pangeran Zee akan begitu keji dengan merencanakan pembunuhan hingga membuat tubuh Yang Mulia Pangeran Lucas tidak lagi berada dalam keadaan yang layak untuk dimakamkan," sambung Ares.


Bersamaan dengan perkataan Ares, banyak mata memandang yang terbuka lebar. Tidak ada yang tidak terkejut dengan kotak kubus yang berisi kepala Lucas serta kotak panjang yang berisi potongan tubuh Lucas.


Tidak dapat berkata-kata, para prajurit Rowling hanya dapat terdiam, tidak lagi bergerak dan dengan patuh memutuskan untuk mundur.


Ares mendekati para bangsawan Kerajaan Natrehn, melewati banyak prajurit Natrehn yang tersebar di sekelilingnya dengan menunggang kuda perang putihnya.


Tidak sedikitpun gentar, sebuah kesungguhan untuk mengambil sebuah pembicaraan dengan para bangsawan Natrehn, walau tangan kanannya tetap menggenggam pegangan Rapier sembari tetap menggunakan kemampuan Appraisalnya secara penuh, waspada terhadap sesuatu yang dapat terjadi tanpa ia duga sebelumnya.


Dalam bidang pandangnya, Ares melihat Kristin berurai air mata di dalam pelukan seorang ksatria wanita, yang membuat Ares sejenak pergi mendekati tempatnya berada dan turun dari tunggangannya.


"Lama tidak berjumpa, Kristin." Terasa hangat, Ares benar-benar berniat untuk menghibur Kristin, walau sejenak melirik kedua orang tua yang telah terbaring di atas tanah serta memberi tanda bagi seorang wanita berambut bob hitam untuk melakukan tugasnya.


Kristin mengalihkan perhatiannya kepada Ares. Wajahnya berurai air mata, yang segera ia usap dengan lengan jubahnya.


Merasa sangat malu, sedikit rona merah muncul karena Ares telah melihat wajah Kristin yang sangat tidak sedap dipandang, hingga ia sedikit mengalihkan wajahnya agar tidak secara langsung ditatap oleh Ares.


"Ya..." jawab Kristin.


"Aku... turut menyesal dengan apa yang terjadi pada Margarve Ginnes..." Sedikit tertunduk, bukti bahwa Ares menyampaikan perasaannya yang terdalam, hingga Kristin tanpa sadar mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Tak apa, aku sangat berterima kasih atas kepedulianmu," timpal Kristin.


"Aku hendak membuat kesepakatan gencatan senjata selama beberapa hari... bagaimana pendapatmu?" tanya Ares.


"Kakek... memberikan sebuah wasiat yang memerintahkan agar kami mengikutimu setelah kepergiannya." Sebuah kerinduan terasa dalam nada Kristin. Meskipun begitu, dia segera mengencangkan wajahnya karena telah kembali berperan sebagai seorang ksatria.


"Begitu, terima kasih." Ares berbalik dan kembali menaiki tunggangannya, bergerak mendekati dimana para bangsawan Natrehn berpijak.


Saat itu, walaupun terjadi kesepakatan gencatan senjata selama enam hari dengan akses Ibukota Scandiva—yang disebabkan kota tidak lagi memiliki perputaran ekonomi, Ares tidak menyangka bila malam itu Excel akan menyiksanya karena sangat cemburu akibat interaksinya terhadap Kristin.


...----------------...