I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 102 : Kewaspadaan



Tahun 1236, 21 September.


Kota Utama Windsor, Wilayah Margrave Francois.


Malam Hari.


Sebuah gulungan perkamen kecil yang terikat pada sebuah anak panah yang siap ditembakkan dari Zarrex Bow, menjadi perhatian penuh Lean yang saat ini menyamarkan dirinya di atas tembok terluar dari Kastil Windsor, yang menjadi tempat tinggal seluruh Keluarga Francois.


Anak panah ditembakkan dengan sedikit kekuatan tanpa sedikitpun suara dan hawa membunuh yang terpancar darinya, menjadikan anak panah tersebut seolah hanya berperan menjadi angin sepoi-sepoi.


Karena Ares yang hanya menugaskannya untuk memberikan sebuah gulungan perkamen kepada Warren, kepala Lean menjadi sangat sakit.


Dia benar-benar harus memikirkan sebuah cara untuk menyampaikan gulungan tersebut kepada penerima tanpa membuat pihak lain merasa kerepotan.


Tidak mungkin Lean mencoba menyerahkannya dengan menyelinap masuk dikarenakan hal tersebut dapat merusak hubungan Ares dan House of Francois secara keseluruhan.


Meskipun tidak dapat dikatakan "sopan," hanya sebuah cara ini yang dapat terpikirkan olehnya. Mengendap-endap masuk dengan mengamati kehidupan Warren selama dua hari penuh, Lean pada akhirnya menemukan kamar pribadi Warren dan memutuskan untuk menyerahkan gulungan perkamen dengan cara tersebut.


KRAK!


Suara kaca jendela yang retak terdengar di dalam ruangan. Warren dan Ann serentak membuka kedua matanya dan melompat sembari memasang sikap untuk bertarung dengan pedang pendek yang telah disiapkan di bawah tempat tidur mereka.


Hening, tidak ada satupun hawa kehadiran yang berada di sekitar.


Warren dan Ann memfokuskan perhatiannya pada keremangan ruangan yang disinari oleh cahaya bulan di sekelilingnya dan menemukan sebuah anak panah yang memiliki sebuah gulungan yang terikat padanya.


"Ann." Warren berada dalam kewaspadaan tinggi saat mendekatinya.


"Hati-hati," timpal Ann yang juga tidak melepaskan kewaspadaannya pada lingkungan sekitar.


Sejenak melindungi dirinya di balik dinding, Warren tidak merasakan serangan lanjutan. Perlahan, Warren meninju kaca jendela sembari mengambil anak panah yang sebelumnya tertancap.


"Hah?!" Ada sedikit kekesalan dalam nada Warren disaat dia melihat lambang House of Rueter pada segel gulungan.


Sembari mendekati suaminya yang sedang membuka gulungan perkamen, Ann mengerutkan kening, "Siapa?"


"Seorang anak pendiam yang telah berubah menjadi barbar," ungkap Warren sembari mengerutkan keningnya disaat dia membaca surat tersebut.


Meskipun ada sedikit ketidaknyamanan pada cara yang dilakukan Ares, Ann pun tersenyum masam.


"Apa isinya?" tanya Ann.


"Permintaan untuk menyerang konfederasi dan peringatan untuk waspada terhadap gerak Gardom." Warren menjawab sembari menurunkan tangannya yang menggenggam perkamen.


"Benarkah..." Ann memincingkan kedua matanya, sedikit curiga dengan gerak-gerik Warren yang seolah terlihat menyembunyikan sesuatu.


SRAT!


Ann menyahut cepat lembar perkamen yang berada dalam genggaman suaminya, Warren seketika menjadi panik dan mencoba merebutnya kembali dengan paksa, "Kembalikan, Ann!"


Salah satu tangan Ann menahan tubuh Warren yang berjuang keras mendekatinya sembari membacanya dengan menjauhkan perkamen dari suaminya tersebut.


Membaca cepat sebuah tulisan yang sangat formal dan terkesan penuh kehormatan tersebut, Ann segera mencapai baris terakhir pada surat Ares, "PS. Dalam beberapa bulan ke depan, aku akan segera memiliki tiga orang anak. Jadi... kapan Ann akan mengandung, Tuan Gagah Perkasa? Aku hanya mengingatkanmu bahwa adanya seorang penerus sangat menentukan kestabilan dari suatu wilayah."


Ann menurunkan tangannya yang memegang lembaran perkamen dan menatap tajam pada Warren, "Jadi... Tuan Gagah Perkasa, apa yang akan kau lakukan?"


Sialan!


Awas saja kau, Ares!


Aku pasti akan membalasmu!


Sedikit bergetar karena ekspresi istrinya tersebut, Warren mengangkat kedua sudut bibirnya dengan paksa, "Be—benar! A—ayo lakukan! Kali ini pasti akan berhasil!"


Berbeda dengan suasana ruangan di dalam kastil yang seketika memanas, Lean—yang telah menjauh dari kastil dengan menapaki atap-atap banyak bangunan—sejenak memfokuskan pandangannya pada sosok berjubah hitam mencurigakan yang akan memasuki sebuah bar.


Selain dari Kepala Klan Cornwall, sepanjang hidupnya yang singkat, Lean hanya dapat merasakan aura samar yang baginya sangat menandakan sosok kuat dari Tuannya, Zelhard, serta Harek.


Namun, ada sedikit perbedaan samar yang dirasakan Lean disaat dia memandang sosok mencurigakan tersebut.


Berdarah.


Hal tersebut seketika terbesit di dalam benaknya.


Lean tentu memiliki kepercayaan diri jika dia dapat bertarung seimbang melawannya. Namun dia tahu, jika seseorang yang bekerja di balik bayang-bayang seperti dirinya, pasti memiliki beberapa kartu as yang tersembunyi di bawah telapak tangannya.


Lean mengambil napas dalam, dia memutuskan untuk menunggu dan melihat. Lean tahu bahwa dirinya tidak dapat melepaskan sosok tersebut begitu saja, yang sangat berpotensi merusak rencana Tuannya dengan Margrave Francois, ayah Warren.


Melompat jauh, Lean menapak pada suatu gang sempit yang berada diantara beberapa rumah kumuh.


Tanpa sedikitpun suara, tanpa menimbulkan kehadiran tertentu, Lean melakukan penyusupan seperti seorang pembunuh professional.


SRAT!


Lean menghindar sembari melompat mundur. Sebuah bilah pedang pendek yang seketika terhunuskan dari balik tubuhnya membuat Lean sedikit terkejut.


Perhatiannya teralihkan kembali menuju sosok berjubah di hadapannya. Lean entah mengapa dapat melihat sosok tersebut sedang tersenyum di balik tudung jubah hitamnya.


"Siapa?" tanya Lean tanpa nada.


"Aku tidak akan mendapatkan julukan 'Eye' jika aku tidak mengetahui apapun yang bergerak di kota ini." Eye's of The Queen tersenyum kecut sembari mempersiapkan dua pedang pendek pada masing-masing tangannya.


Kedua belati andalannya telah berada pada masing-masing tangannya. Lean memperhatikan gerak-gerik musuhnya tanpa sedikitpun cela.


Tes.


Keheningan melanda, terdengar suara tetesan air dari pipa yang tidak jauh berada dari mereka. Bersama-sama, Lean dan Eye's of The Queen pun saling menerjang maju.


TRANG!


TRANG!


BAM!


Pertarungan kotor, dengan memanfaatkan lingkungan sekitarnya, keduanya saling melempar benda-benda keras yang terdapat di sekelilingnya sembari tetap saling menebas.


Beberapa kali Lean bersilangan senjata dengannya, Lean tahu jika dia dapat memenangkan pertempuran apabila musuhnya telah mengeluarkan seluruh trik tersembunyinya.


Singkatnya, statistik kekuatan Lean sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan musuh. Namun, sebuah pertarungan tidak hanya mengandalkan kekuatan mentah.


Pasir, kerikil, hingga balok kayu, semua benda yang berada di sekeliling keduanya menjadi senjata untuk menyerang musuh.


TRANG!


BAM!


Tubuhnya terdorong mundur hingga menabrak tembok suatu bangunan kumuh—yang sengaja dilakukan Lean—untuk menciptakan sebuah jarak.


Hanya dalam dua detik, sekali lagi sebuah anak panah telah berada pada busurnya. Eye's of The Queen seketika berkeringat dingin, dia merasakan serangan busur tersebut dapat menghancurkan dirinya hanya dengan satu tembakan.


PAT!


"Kita akan bertemu lagi." Melompat tinggi menuju atap bangunan dengan menapaki pijakan-pijakan pada dindingnya, Eye's of The Queen pun segera meninggalkan area pertempuran.


"Cih." Lean mendecakkan lidahnya penuh kekesalan.


Tidak mengetahui berapa banyak rekan musuh, Lean memutuskan untuk tidak menggunakan senjata rahasianya agar efeknya tidak diketahui.


Akibat dari keberadaan sosok mencurigakan tersebut, Lean memutuskan untuk mengamati keadaan Kota Windsor selama beberapa hari ke depan dan melaporkannya kepada Warren dengan cara yang sama seperti sebelumnya sembari tetap memasang kewaspadaan tinggi.


...----------------...