I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 33 : Ayo Serang Benteng Pasokan Makanan Natrehn!



Tahun 1236, 7 April.


Benteng Ligard, Wilayah Perbatasan Kerajaan Natrehn.


Malam Hari.


Benteng Ligard, benteng yang difungsikan sebagai titik penyimpanan pasokan makanan utama bagi Tentara Kerajaan Natrehn, berada dalam suasana yang diselimuti oleh kegelapan malam sunyi dimana hanya terdapat beberapa prajurit yang berjaga di beberapa titik benteng dengan ditemani oleh beberapa obor yang menyala sebagai sumber pencahayaan bagi mereka.


Di tengah kegelapan lorong suatu bangunan yang berada di dalam benteng, dua orang prajurit Kerajaan Natrehn sedang melangkahkan kaki mereka menuju gerbang selatan untuk berganti shift jaga.


"Kemana kalian akan pergi?" tanya seorang pria dengan tubuh kekar.


Mereka berdua pun menghentikan langkah kaki mereka setelah keluar dari bangunan saat mendengar suara yang berasal dari pria tersebut.


Ketika mereka berbalik, mereka menemukan seorang pria yang memiliki pangkat Mayor yang sedang memegang botol minuman keras dan beberapa wanita di belakangnya yang mengenakan kalung besi dengan rantai yang ditarik oleh pria tersebut.


Menyedihkan.


Hanya satu kata yang ada di dalam benak mereka ketika melihat salah satu petinggi benteng tersebut berada dalam keadaan mabuk.


Tentu saja, para wanita tersebut merupakan hasil jarahan ketika para Tentara Kerajaan Natrehn menjarah desa-desa di sekitar gunung yang berada di dalam Wilayah Count Dupent.


Mereka pun memberi hormat kepada pria tersebut dan berkata, "Ya, Pak! Kami akan berganti tugas jaga gerbang selatan!"


"Cih, orang udik seperti kalian hanyalah barang sekali pakai bagi kami," jawab Mayor tersebut lalu pergi meninggalkan mereka.


Prajurit penjaga adalah para wajib militer yang direkrut dari desa-desa yang ada di Kerajaan Natrehn. Berbeda dengan para perwira yang berasal dari kalangan ksatria ataupun bangsawan itu sendiri.


Akan sangat tidak efisien apabila menempatkan prajurit elit di garis belakang dimana pasokan makanan disimpan sehingga para wajib militer dipilih untuk bertugas menjaga Benteng Ligard.


Kedua prajurit tersebut pun melanjutkan perjalanan mereka menuju gerbang selatan.


Setelah mencapainya, mereka berdua melihat para prajurit dari kalangan wajib militer yang juga tidak berbeda dari para perwira tersebut.


Ya, mereka sedang berjudi, mabuk, serta tertidur karena mereka merasa aman berada di garis belakang.


"Kami akan mengganti kalian berjaga," ujar salah satu prajurit yang datang.


"Oh, terima kasih, Sobat!" ujar seorang prajurit penjaga dengan wajah merah karena mabuk.


"Kami akan mengandalkan kalian!" ujar seorang prajurit penjaga yang lain.


Beberapa diantara mereka pun pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah menunggu hingga cukup larut, salah satu diantara mereka berkata, "Sudah saatnya."


"Oke," jawab prajurit lainnya.


Ya, mereka berdua merupakan mata-mata yang disusupkan oleh Canaria dengan menjadi seorang wajib militer.


Karena sifatnya yang berupa perekrutan, Ares tidak ingin menggunakan para wajib militer karena sangat rawan untuk disusupi mata-mata. Para wajib militer berasal dari wilayah yang berbeda yang menyebabkan mereka tidak mengenal satu sama lain.


Salah satu prajurit tersebut pun menarik tuas ke bawah.


KREEETTTT.


Tanpa penundaan, gerbang tersebut terbuka dan langsung diserbu oleh pasukan kavaleri Ares yang telah menunggu di luar benteng.


"Oohhh!"


"Berpencar!" teriak Ares memerintahkan para prajurit kavalerinya.


Sebelum memasuki benteng, Ares telah membagi pasukan kavalerinya menjadi tiga kelompok yang masing-masing memiliki tugas tersendiri.


Masing-masing bertugas untuk membakar gudang pasokan makanan, membuat kekacauan, serta menyelamatkan para sandera.


Namun, karena Excel meminta untuk menemaninya membantai Tentara Kerajaan Natrehn, Ares membagi tiga kelompok yang berisikan masing-masing 15 prajurit menyisakan Gnery, Esther, serta 3 prajurit terlelit yang ia miliki yang akan ikut dengannya.


Tentu saja, ketiga kelompok lain telah diperintahkan untuk tidak memaksakan diri dan kabur selama mereka berhasil membakar gudang pasokan makanan.


Ares benar-benar tidak ingin membuang seorangpun prajurit elit yang ia miliki.


Setelah mereka berpencar ke semua sisi benteng, kelompok Ares melaju seolah tidak mempedulikan para prajurit yang telah bermunculan dan menebas mereka seolah menjadi orang barbar.


JRASH!


JRASH!


Dengan pedangnya, Excel memenggal para prajurit yang datang ke arahnya ketika ia sedang berkuda.


Setelah mencapai tempat yang sedikit lebih dalam, Excel pun menghentikan kudanya dan berteriak, "Ares, Esther, ayo turun dan bersenang-senang!"


"Baik, Yang Mulia!" teriak Esther lalu tersenyum gelap dan turun mengikuti Excel.


Ares dan para prajurit lainnya hanya terpana ketika melihat Excel yang turun dari tunggangannya dengan membawa sebuah botol di tangan kirinya.


Tentu saja, itu adalah bom molotov yang telah diuji coba oleh Ares sebelumnya.


Excel pun menarik pedangnya menggunakan tangannya yang lain dan berlari menuju para prajurit musuh yang telah bergerombol.


Kuh!


Jangan terlalu percaya diri!


Benteng ini memiliki lebih dari 2.000 prajurit!


Leherku akan putus jika kau mati, sialan!


Meskipun tidak resmi, Excel telah melaporkan dirinya yang berangkat berperang untuk membantu Ares.


Ares dan para prajurit yang lain pun turun dari kudanya dan berlari mengikuti Excel dengan membawa beberapa bom molotov.


JRASH!


Setelah menggorok leher seorang prajurit, Excel bergerak ke arah lain seolah mengetahui ada prajurit lainnya. Lalu, ia mengarahkan pedangnya kepadanya.


KRAK!


"Hah?!" ujar prajurit tersebut ketika menangkis pedang Excel namun pedangnya hancur.


JRASH!


Meskipun tidak mengetahuinya, Excel dapat merasakan serangan ketiganya yang selalu memiliki dampak yang luar biasa.


Karenanya, ia membuat serangan kombo dimana serangan pertamanya digunakan untuk menggorok leher prajurit musuh, serangan kedua untuk mengenai apapun yang ia bisa tebas, lalu serangan ketiga yang akan ia gunakan untuk menggorok beberapa leher prajurit secara langsung atau menghancurkan senjata lawannya.


Tentu saja, itu terus bersiklus.


"Ahahaha!" teriak Excel kegirangan.


Setelah melihat banyak prajurit bergerombol, ia menggesekkan ujung botol dengan cepat menggunakan bilah pedangnya sehingga menimbulkan titik api dan melemparkannya kepada mereka.


DUAARR!


"Argh!"


"Aku terbakaaar!"


"Aaarrgghhhhh!"


Melihat banyak prajurit yang mati terkena bom dan berlarian karena memiliki pakaian yang terbakar membuat Excel semakin gembira.


Ares, terima kasih telah memberiku kejutan yang sangat spesial!


Tanpa disadari oleh Excel, sebilah pedang terhunus menuju ke arah kepalanya.


TRANG!


JLEB!


Esther pun dengan sigap menangkis dengan mendorong pedang musuh yang menyebabkan pedang prajurit tersebut menjauh. Lalu, ia menggunakan kecepatannya untuk menusuk dadanya.


"Argh!" teriak prajurit tersebut lalu jatuh tersungkur.


Meskipun tidak melihatnya karena ia tidak berbalik, Excel mengagumi kemampuan Esther yang sangat tangkas, ia pun berkata, "Esther, jadilah penjaga belakangku."


"Baik, Yang Mulia," timpal Esther lalu tersenyum dengan sorot mata gelap.


Ares tidak percaya pemandangan di depannya dimana Excel dan Esther membantai musuh yang baginya terlalu menakutkan. Ares juga melihat salah satu mata Esther yang berwarna merah menyala dengan terang.


Aku tidak mengira mereka berdua sangat kuat!


Mengapa kalian terlihat seolah sedang bermain game musou?!


Juga, bukankah Esther sangat lemah?!


Karena penasaran, Ares merapal "Appraisal" dengan menargetkan Esther.


......................


...[Status]...


Nama : Esther (Alter)


Umur : 13 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : Gundik Margrave Rueter (Ksatria Putri Kerajaan Rowling)


Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 45 (+45)


Kelincahan : 77 (+13)


Kepandaian : 79 (+0)


Tubuh : 39 (+51)


Kepemimpinan : 30 (+0)


Loyalitas : 100


Moral : 100


Pelatihan : 65


......................


Apa-apaan Alter itu?!


Juga, mengapa tiga statistiknya meningkat menjadi 90 poin?!


Aku tidak mengerti!


TRANG!


JLEB!


"Argh!" teriak prajurit lalu jatuh tersungkur.


Karena berada dalam keadaan panik, Ares tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan para prajurit musuh.


Ia pun hanya menangkis serangan dengan mendorong pedangnya ke atas lalu menusuk dada prajurit yang baru saja menyerangnya tanpa menghiraukannya.


...----------------...


Catatan :


Double chapter at 10 AM!


Masih berperang!


Juga, aku berharap untuk like pada setiap chapter sebagai penyemangatku menulis novel ini.


...----------------...