
Tahun 1236, 17 Agustus.
Wilayah Utara Benua Barat.
Pagi Hari.
"Namaku Askarr, Perwakilan Suku Selatan!" ucap Askarr dengan keras.
Dengan berat, Askarr memaksakan dirinya untuk menjawab, meskipun keringat mengucur deras dari tubuhnya. Askarr tidak dapat merendahkan dirinya dengan bersikap ketakutan karena dia membawa nama kepala sukunya.
Sang Kepala Suku Utara, Harek, pun melangkahkan kakinya untuk mendekati Askarr secara perlahan. Tidak dipungkiri bahwa dia telah menjatuhkan kesan Askarr karena membuat kegaduhan dan berteriak dengan mengatakan apapun yang dia suka.
Rasa intimidasi semakin kuat membuat Askarr sedikit goyah. Harek pun berhenti tepat di hadapan Askarr.
Walaupun dia tahu bahwa dirinya berhadapan secara langsung dengan Sang Kepala Suku, Askarr tidak sedikitpun bersikap hormat dan tetap mendongak untuk memandang kepala Harek yang memiliki tinggi sekitar 3 meter tersebut.
"Apa yang kau inginkan dariku, Kepala Suku Utara?" tanya Harek dengan sedikit intimidasi.
Tangannya yang bergetar mengepal erat, Askarr memberanikan dirinya untuk menjawab. Dia tahu jika dirinya benar-benar membutuhkan pertolongan seseorang yang berada tepat di hadapannya.
"Tolong bantu Suku Selatan untuk berperang!" pinta Askarr.
Nadanya sedikit merendahkan diri, namun tidak dengan sikapnya yang tetap berdiri tegak demi memegang teguh kehormatan Kepala Suku Selatan untuk tidak tunduk kepada Suku Utara.
Harek menatap kuat pada mata Askarr yang tidak sedikitpun goyah untuk menilai hatinya.
"Apa yang akan kau berikan kepada kami sebagai imbalan atas jasa kami?" Harek membalas perkataan Askarr dengan nada seolah tidak mempedulikan sedikitpun masalah Suku Selatan.
Pikiran Askarr seketika kosong, dia hanya dapat terdiam mematung. Tidak mungkin Askarr akan mengatakan, "Segalanya," karena dia tidak mungkin membuat warga desanya menjadi budak Suku Utara.
Melihat Askarr yang tetap menutup mulutnya, Harek pun mengangkat salah satu sudut bibirnya untuk tersenyum mengejek.
"Tanah subur."
Kata-kata yang sangat tidak masuk akal terucap dari mulut seorang pemuda berambut biru yang berjalan mendekat. Perhatian semua orang seketika beralih kepadanya.
Berbeda dengan perawakannya yang terlihat lebih kecil dibandingkan dengan para barbarian, aura yang dipancarkan olehnya terlihat sangat besar.
Ares menghentikan langkah kakinya disaat dia berada tidak jauh dari penduduk suku desa yang berkumpul.
Sedikit panik karena tindakan Ares yang sangat berani, Astrid, Alfr, dan Havarr hanya dapat berharap agar Ares tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan pihak lain.
Mereka tahu jika mereka datang ke tempat ini juga bertindak sebagai perwakilan dua suku besar—yang bahkan Astrid juga mengharapkan agar Ares selamat karena menilai Harek memiliki kekuatan yang melebihi pamannya, Thorgils.
Tentu saja, Astrid hanya tertarik kepada seorang pemuda. Tidak mungkin memandang Harek, seorang pria tua, sebagai lawan jenis.
"Hahahaha."
Memandang Ares yang tetap tenang dengan memasang senyuman cerah, sangat menggelitik hati Harek karena tidak sesuai dengan apa yang dia utarakan sebelumnya.
Sekali lagi memandang Ares dengan seksama, Harek pun tersenyum kecut dan bertanya, "Siapa kalian?"
Ares memalingkan wajahnya kepada Astrid dan Havarr. Menjadi sangat panik, Astrid, Havarr, dan Alfr pun berjalan mendekat.
Tidak berbeda dengan langkah kaki Ares, Astrid dan Havarr tidak lagi menunjukkan ketakutan terhadap intimidasi Harek—meskipun Alfr tetap terlihat sedikit ketakutan.
"Akulah Havarr, Kepala Suku Timur!"
"Perwakilan Suku Barat, Astrid!"
Dua kalimat yang lantang terucapkan terdengar silih berganti. Ekspresi penuh percaya diri tampak di atas wajah Havarr dan Astrid.
"Apakah kalian begitu lemah hingga meminta bantuan kepada kami?" ejek Harek.
Merasa diremehkan, sejenak kemarahan muncul di dalam hati Astrid dan Havarr, yang segera menenangkan dirinya agar tidak terprovokasi dengan ucapan Harek. Berbeda dengan Askarr yang memiliki kerutan kecil di atas dahinya karena hatinya yang penuh dengan kekesalan.
Tatapan penuh keraguan segera terbentuk disaat Harek menatap dengan seksama pada Havarr. Sedikit merasa aneh, Harek tentu mengetahui secara pribadi bagaimana perawakan Sang Kepala Suku Timur sebelumnya.
Dia juga tidak berpikir bahwa Thorgils, Kepala Suku Barat dan memiliki sebuah Greatsword yang juga menjadi incarannya sejak dulu, akan mengirimkan perwakilan kepadanya untuk meminta bantuan.
Begitu, keadaan telah menjadi sangat gawat dibandingkan dengan apa yang telah aku perkirakan sebelumnya.
Sebagai seorang kepala suku, tentu Harek mengetahui secara akurat kekuatan tiga kepala suku besar lainnya. Tetap saja, tidak mungkin dirinya menerima tawaran dengan mudah tanpa sebuah keuntungan besar bagi Suku Utara.
Mengingat kata-kata yang dilontarkan Ares beberapa saat lalu serta perilakunya yang tidak menunjukkan sedikitpun ketakutan terhadap intimidasinya, Harek pun menganggap jika pemuda berambut biru di depannya adalah seseorang yang benar-benar harus diwaspadai bersama dengan tiga orang lain yang bersamanya—yang merupakan anggota dari Klan Cornwall.
"Bagaimana mungkin kau dapat menyerahkan itu sebagai imbalan untuk kami, Nak?" sangkal Harek dengan ekspresi mengejek.
"Tentu saja itu mungkin, karena akulah pemilik tanah ini," jawab Ares dan tersenyum masam.
Ares mengeluarkan kesombongannya agar Harek dan para pejuang Suku Utara memberi perhatian ekstra kepadanya, meskipun itu berasal dari sudut pandang negatif.
Sama halnya dengan Alfr dan Havarr, Astrid hanya dapat memandang penuh kekhawatiran kepada Ares.
Berbeda dengan Lean dan Gale yang bersikap acuh tak acuh, Arthur hanya dapat menahan kepalanya karena sangat lelah dengan perilaku Tuannya yang sangat tidak logis—meninggalkan Marie yang melompat-lompat dengan riang gembira seolah menikmati dirinya sendiri di kejauhan.
Setelah menenangkan dirinya, Harek kembali memandang Ares dengan cermat lalu mengangkat salah satu sudut bibirnya seolah tersenyum mengejek.
"Moldan," panggil Harek dengan tetap menatap Ares.
Para penduduk desa Suku Utara seketika membuka jalan. Seorang pemuda kurus bermata tajam yang memiliki rambut coklat tua dengan pupil hitam melangkah maju.
"Ya," jawab Moldan singkat.
Setelah sejenak melirik Moldan—yang merupakan seorang pejuang muda yang mana Harek memiliki harapan besar padanya—Harek kembali menatap Ares dan berkata, "Cobalah untuk membuktikan kata-katamu sebelum mengatakan hal besar seperti itu, Nak."
"Appraisal," ucap Ares menargetkan Moldan dengan lirih.
......................
...[Status]...
Nama : Moldan
Umur : 20 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : Pejuang Suku Utara
Afiliasi : Suku Utara, Wilayah Utara Benua Barat
Statistik
Keahlian Senjata : 67 (+0)
Kelincahan : 80 (+0)
Kepandaian : 15 (+0)
Tubuh : 75 (+0)
Kepemimpinan : 25 (+0)
Loyalitas : 85
Moral : 83
Pelatihan : 80
......................
"Begitukah? Yah, kurasa aku juga harus membuktikan posisiku kepadamu, Pak Tua. Gale," timpal Ares sembari tersenyum masam.
"Oh?" timpal Harek yang sedikit terkagum.
Mendengar namanya dipanggil, Gale menghela napas lega dan melangkah maju. Baginya, melakukan perkelahian dapat membuat hatinya sedikit cerah setelah merasakan kekesalan karena tingkah laku Alfr dan Havarr yang menurut Gale sangat menyebalkan.
"Eh?!" ujar Alfr yang terkejut.
"Tu—tunggu, Ina!" protes Havarr bernada panik.
Tak mengacuhkan kedua pria tersebut, Gale pun tiba di samping Ares dan memasang sikap tenang.
"Apakah aku harus melawannya?" tanya Gale.
Mendengar perkataan Gale, Ares mengalihkan pandangannya kepada Harek untuk membiarkannya memutuskan. Tidak menyangka Ares akan sangat percaya diri terhadap kemampuan bawahannya, Harek pun tersenyum puas.
"Ayo mulai ritualnya," ujar Harek lalu berbalik pergi memasuki desa.
"Oohhhh!"
Mendengar adat serta tradisi Suku Utara yang sebelumnya sangat jarang dilakukan, para pejuang serta penduduk desa pun bersorak gembira.
...----------------...