I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Alternation : Setelah Sekian Lama



Tahun 1236, 12 September.


Gerbang Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Pagi Hari.


"Aku pulang."


Berbalut jubah hitam yang membungkus tubuhnya, Ares memandang penuh kerinduan kepada gerbang Kota Ereth dimana banyak pelancong dan kereta pedagang yang sedang mengantri masuk.


Ares mengalihkan perhatiannya kepada dua orang yang berada di belakangnya.


Hmm...


Jika aku melepaskan penyamaranku, aku pasti akan segera dibawa menuju kastil dan melakukan banyak pekerjaan merepotkan.


Meskipun aku sangat merindukan anakku...


Tetap saja, ayo hidup bebas untuk seharian ini seperti seorang pria lajang!


"Marie, Arthur, kita akan memasuki kota dengan tetap menyamar sembari bersenang-senang!" perintah Ares tegas.


"Aye!" ujar Marie penuh semangat sembari mengangkat tinggi tangan kanannya.


Berbeda dengan Marie yang riang, Arthur seketika membelalakkan kedua matanya karena sangat terkejut dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Tuannya tersebut.


"Tu—tunggu—" ucap Arthur.


"Ayo!" ajak Ares dengan keras.


Salah satu kelopak mata Arthur berkedut disaat dirinya memandang Tuannya dan Marie yang berbaris bersama para rakyat jelata.


Berlari mengejar mereka, Arthur pun berbaris tepat di belakang Ares dan dengan panik berkata, "Tu—Tuan, Anda tidak dapat—"


"Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir. Akulah penguasa wilayah ini, aku dapat melakukan apapun yang aku sukai," timpal Ares acuh tak acuh.


Arthur sekali lagi hanya dapat terdiam oleh respon Tuannya tersebut. Menilik kembali perjalanan selsma dua bulan bersama Tuannya, Arthur benar-benar mengerti jika Ares telah memutuskan sesuatu, dia tidak dapat sedikitpun melarangnya—meskipun Arthur mengerti jika Tuannya tetap dapat menerima suatu saran terhadap keputusannya tersebut.


Arthur menghela napas dalam, bersama-sama Marie dan Ares, mereka berbaris untuk menunggu hingga antrian di depannya memasuki gerbang.


Setelah memberi izin seorang pelancong yang berada di depan Marie untuk memasuki tembok kota, seorang ksatria penjaga gerbang menatap penuh kecurigaan terhadap tiga orang berjubah di depannya yang masing-masing dari mereka menyembunyikan wajahnya di balik tudung.


"Dari mana kalian berasal?" tanya ksatria penjaga tersebut.


Duk.


Ares mendorong ringan tubuh Marie sebagai tanda untuk menjawabnya. Bertentangan dengan harapan Ares, Marie pun segera berlindung di belakang tubuhnya yang membuat Ares sangat bingung.


Ap—apa yang kau lakukan?!


Sebuah kesalahan komunikasi. Marie menganggap Ares hendak menjawabnya yang membuatnya melangkah mundur.


Sialan!


"Ka—kami... berasal dari Wilayah Count Dupent di utara, benar!" jawab Ares sedikit gelisah.


Tidak memiliki sebuah perkamen yang menyebutkan data pribadinya, Ares tentu diketahui tidak berasal dari Wilayah Rueter, di samping dirinya yang berpenampilan sangat mencurigakan.


"Buka tudungmu, Sialan!" teriak prajurit penjaga gerbang tersebut.


Merasakan situasi yang semakin gawat, Arthur pun melangkah maju untuk melindungi Ares sembari berkata, "Apa yang kau lakukan?! Perlakukan beliau dengan penuh hormat!"


"Hah?! Jangan macam-macam denganku, Sialan!" teriak penjaga gerbang tersebut.


Hendak membuka tudungnya dengan paksa, Arthur menepis lengan Sang Penjaga Gerbang dengan sigap.


Melihat di salah satu gerbang rakyat jelata sedang berada dalam kekacauan, Gnery, yang bertugas menjadi komandan garnisun tembok kota, menghela napas dalam.


Hah...


Anak baru...


Memikirkan kembali nasibnya yang segera diperintahkan untuk menjadi komandan garnisun Kota Ereth setelah kembali dari tugasnya menjadi tukang kebun mansion ibukota, Gnery benar-benar ingin mengeluh.


Tentu saja, Gnery sangat iri kepada Dia, atasannya dahulu, yang selalu mendampingi Excel berkeliaran di kota bersama Milly dan beberapa gundik Ares yang lain untuk bersenang-senang.


Mendekati sumber keributan, Gnery pun berteriak dengan kesal, "Diam! Apa yang sebenarnya kalian lakukan?!"


Secercah harapan muncul, prajurit penjaga segera memasang ekspresi penuh kemenangan.


"Mereka tidak ingin menunjukkan wajah dan identitas mereka, Pak!" jawab Prajurit Penjaga.


Memandang tiga orang dengan tatapan penuh kecurigaan tersebut, sebuah ide kotor muncul di dalam pikiran Gnery.


"Biarkan mereka masuk dengan biaya 200 G untuk setiap orang," perintah Gnery lalu tersenyum mengejek.


Meraba kantongnya yang kosong, Gnery benar-benar muak dengan gaji serta tunjangannya yang diserahkan kepada istrinya secara langsung yang membuat dirinya tidak memiliki uang sepeserpun.


Kedua mata Ares seketika terbuka lebar. Kedutan pun terlihat pada salah satu kelopak matanya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa mantan pengawalnya akan memeras dirinya hingga kering.


Meskipun Ares juga tidak dapat menghapus praktik pungutan liar hingga membuatnya menutup mata, namun dia tidak dapat membiarkan jika pungutan liar tersebut melebihi sepuluh kali lipat nilai retribusi untuk memasuki gerbang kota.


Ares tentu mengetahui jika Kota Ereth mengambil biaya sebesar 2 G hingga 15 G bergantung pada status sosial, maksud dan kebutuhan memasuki gerbang kota, serta barang bawaan mereka.


Jika itu adalah pungutan liar senilai 1 G hingga 5 G, tentu Ares hanya akan menutup rapat kedua bibirnya.


"Kau, kau merampokku?!" tanya Ares bernada takjub.


Seketika, Gnery tersadar akan suara seseorang yang benar-benar diingatnya, tidak mungkin baginya melupakan suara seseorang yang telah membuatnya menjadi seorang tukang kebun.


Hatinya menjerit, seketika tubuhnya pun deras bercucuran keringat. Memandang Tuannya yang sedang menyamar tersebut, Gnery segera memberi hormat.


"Ti—Tidak, Pak! Silakan masuk! Saya akan membimbing Anda secara pribadi!" timpal Gnery dengan panik.


"Diamlah! Lanjutkan pekerjaanmu!" Berbalik kembali menghadap Ares, Gnery melukiskan senyuman cerah dengan paksa sembari mempersilakan dengan tangan kanannya, "Ba—baik, mohon ikuti saya... Tuan."


Memandang tiga orang berjubah yang dibawa pergi oleh komandannya tersebut, ksatria penjaga gerbang hanya dapat melukiskan ekspresi aneh.


Berjalan membimbing Tuannya beserta dua orang berjubah tersebut, Gnery tetap tidak dapat merilekskan pikirannya, bajunya yang berada di balik balutan sebuah baju besi juga telah sangat basah.


"B—bolehkah saya mengetahui tujuan Anda, Tuan?" tanya Gnery bernada gelisah.


"Jalan-jalan menikmati kota," jawab Ares acuh tak acuh.


Takjub, sejenak kedua langkah kaki Gnery pun terhenti. Dia benar-benar tidak pernah menyangka jika Tuannya merupakan seseorang yang sangat tidak bertanggung jawab.


"Apa yang kau tunggu? Tunjukkan aku toko terbaik di distrik rakyat jelata." Ares memerintahkan Gnery disaat dia menyalipnya.


Seketika, muncul sebuah tempat yang akhir-akhir ini selalu berada dalam pengawasan para ksatria. Menilai Tuannya akan baik-baik saja jika mengunjungi tempat tersebut, Gnery pun segera menyusul Ares.


"Saya mengetahui tempat yang hendak Anda tuju, Tuan," ujar Gnery tersenyum cerah.


"Nah, bimbing aku," timpal Ares.


Para penduduk kota memandangi sesosok ksatria berpangkat tinggi sedang mengawal tiga orang berjubah, menganggap bahwa Gnery adalah sosok korup yang mengijinkan orang mencurigakan memasuki gerbang kota.


Seolah memandang sosok tersebut sebagai sampah masyarakat, yang tentu saja tidak sedikitpun diacuhkan oleh Gnery yang memusatkan perhatiannya kepada Ares.


Tidak lama mereka berjalan, nampak sebuah bangunan yang sangat bagus dengan banyak warna ciamik seolah baru saja dilakukan sebuah renovasi padanya.


Para prajurit yang berafiliasi dengan unit pasukan khusus pun memandang Gnery dengan tatapan aneh. Mereka tentu bertanya-tanya mengapa dia membawa tiga orang mencurigakan tersebut. Namun, karena berada dalam penyamaran sebagai rakyat jelata, mereka tidak sedikitpun menggubris perilaku aneh Gnery.


Tidak berbeda dengan reaksi Ares yang sedikit menilai anehnya suasana di sekitar akibat banyaknya ksatria yang berada di tempat ini.


Kriett.


"Silakan, Tuan." Gnery membuka pintu sembari mempersilakan Ares memasuki bangunan.


Namun, sejenak langkah kaki Ares terhenti.


"Gnery, aku akan mengangkatmu menjadi seorang jenderal dan memimpin sebagian pasukanku." Gnery dibuat sangat terkejut, dia segera mengubah ekspresinya menjadi penuh kebahagiaan.


"Tapi, karena kau baru saja memalakku, gajimu akan kuberikan secara langsung pada istrimu dan tidak ada tunjangan bagimu," sambung Ares sembari melangkahkan kakinya kembali.


BRUK!


Jatuh tersungkur, Gnery menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Ekspresi wajahnya seketika dipenuhi oleh penderitaan, ia pun berteriak, "Sialaaan!"


Para ksatria yang berjaga di luar seketika mendekati Gnery karena menimbulkan suatu kebisingan dan membawanya menuju pos dengan dirinya yang tetap berteriak histeris.


Sekali lagi, langkah kaki Ares terhenti. Memandang takjub kepada suasana di dalam ruangan, kelopak mata Ares sekali lagi dibuat berkedut.


"Hahahahaha!"


"Ayo, Nyonya Besar! Kalahkan dia!"


"Rampas semua harta mereka, Nyonya Besar!"


"Wahahaha, semua kemenangan adalah milikku!" teriak seorang wanita hamil dengan kedua tangannya yang memegang beberapa papan kayu kecil.


Ya, Ares melihat Excel serta Dia yang berada di sampingnya, sedang berjudi dengan beberapa pria dan wanita rakyat jelata di atas sebuah meja bundar dengan banyak koin emas di atasnya, serta beberapa orang penonton yang mengitari mereka.


Sejenak, Ares mengalihkan perhatiannya kepada bibinya yang terlihat baru saja menangis.


Apakah kamu... telah dikalahkan?


Mendekati tempat Excel berada, beberapa ksatria yang menyamar segera menghadang Ares untuk tidak mendekat.


Muak, Ares pun membuka tudung jubahnya hingga membuat para ksatria tersebut menjadi panik hingga ketakutan.


"Apa... yang sebenarnya kalian lakukan di tempat ini?" tanya Ares bernada takjub.


Para ksatria seketika berlutut dengan menundukkan dalam kepalanya, yang bahkan beberapa diantara mereka memiliki tubuh yang terlihat gemetaran.


Excel serta Dia, yang mengalihkan perhatiannya kepada Ares, seketika menyembunyikan papan kayu di balik bajunya dan bangkit menuju meja lain yang diatasnya memiliki beberapa piring makanan, seolah apa yang mereka lakukan sebelumnya adalah suatu kebohongan.


Beberapa pria dan wanita yang berjudi, bangkit dan menuju Ares untuk mengungkapkan kekesalannya karena mereka yang tidak mengetahui wajah Ares—yang segera dijatuhkan oleh para ksatria di dekat mereka.


"Ini masih pagi, kau tahu?! Kalian berjudi di pagi hari?!" tanya Ares sedikit keras.


Hening, tidak ada yang berani menjawabnya, termasuk Excel dan Dia yang menyantap makanan mereka seolah kejadian di hadapannya tidak terkait dengan diri mereka sendiri.


Berjalan mendekati istrinya tercinta, Ares pun memasang senyuman penuh arti serta kerutan kecil di atas dahinya tersebut.


"Apa yang dilakukan oleh seorang wanita hamil di dalam sebuah bar di pagi hari? Kamu tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan bukan, Sayang? Lagipula, apa-apaan itu 'Nyonya Besar'?" ujar Ares.


Tidak ingin merasa disalahkan, Excel seketika teringat obrolannya dengan Milly beberapa minggu yang lalu.


"Aku... hanya menyantap sarapanku, Sayang. Lagipula, bukankah kamu sebaiknya meminta maaf kepada Milly dan para wanitamu yang lain?" tanya Excel bernada penuh kemarahan yang terpendam.


"Hah?" Ares sedikit terkejut dengan balasan yang diberikan Excel, "Apa maksudmu?"


"Cih, laki-laki sampah. Kamu telah memperkosa mereka, bukan?" timpal Excel ketus.


"Hah?!" timpal Ares yang sangat terkejut.


Me—mengapa kamu mengetahuinya?!


Ekspresi Ares seketika berubah menjadi penuh ketakutan. Ares tidak menyangka bahwa Milly atau para gundiknya yang lain akan memberi tahu kebenarannya kepada Excel.


Kelegaan besar muncul di dalam hati Excel. Berhasil membuat suaminya tidak membicarakan aktivitasnya di kota selama satu bulan terakhir, dia pun memutuskan tidak berbicara dengan Ares untuk sementara waktu.


...----------------...