
Tahun 1236, 30 Juni.
Mansion Margrave Rueter, Ibukota Lombart.
Menjelang Sore Hari.
Tidak sabar.
Hanya hal tersebut yang dapat dirasakan tidak hanya oleh Warren dan Ann, namun keseluruhan bangsawan yang diundang oleh Ares.
Apakah kamu mengundang kami hanya untuk memperolok-olok kami?!
Apakah maksudmu adalah memerintahkan kami agar merendahkan kepala kami kepada keluarga kerajaan seperti yang kau lakukan?!
Tatapan mata Warren tercermin kekesalan yang sangat dalam ketika melihat Sang Tuan Rumah tersenyum.
Ares pun sangat mengerti dengan ekspresi yang tercermin di wajah para bangsawan, meskipun beberapa dari mereka dapat menyembunyikan ekspresinya dengan baik.
"Bagaimana Anda... akan mewujudkan hal tersebut untuk kami? Mohon maaf, namun kami tidak mempercayai perkataan Anda yang terdengar sangat tulus tersebut," tanya Warren dengan nada sarkasme.
Menatap kembali Warren—yang bagi Ares telihat sangat panas meskipun ia terlihat sangat tenang dari luar—hanya senyum masam yang dapat Ares lukiskan di wajahnya.
Mengulurkan tangan kirinya ke samping, Ares segera memberi tanda pada ksatria penjaga yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ksatria tersebut segera meneruskan tanda yang ditujukan kepada para pelayan yang bersiaga di salah satu sudut aula pertemuan sembari menunggu aba-aba dari Tuannya untuk menyajikan camilan.
"Mungkin... suasana ini sedikit menjadi berat. Bagaimana apabila kami meringankan suasana dengan sedikit kue dan teh sembari melanjutkan diskusi kami? Saya baru saja membeli teh terbaik yang terdapat di Kerajaan Rowling dan bermaksud membuat Anda mencicipinya juga karena saya sedikit tidak menyukai apabila hanya menikmatinya sendiri," timpal Ares dengan tersenyum.
"Oh, dan juga, camilan ini adalah camilan yang dibuat oleh perusahaan saya dan akan dipasarkan dalam beberapa waktu ke depan," sambung Ares.
Glup.
Suara ludah yang tertelan oleh beberapa pewaris rumah bangsawan tersebut samar terdengar. Meskipun Ares tidak mungkin membunuh mereka dengan racun, namun kemungkinan besar terdapat racun seperti penyakit berat dan bahkan kelumpuhan pada camilan ringan tersebut.
Acuh tak acuh, para pelayan segera mendorong kereta makanan yang telah dipersiapkan di sudut ruangan untuk menyajikannya kepada para tamu undangan.
Tidak mungkin menolak dikarenakan Ares yang merupakan seorang bangsawan yang memiliki pengaruh sangat kuat—yang mana entah apa yang akan terjadi kepada rumah mereka apabila mereka menolak—para bangsawan hanya dapat pasrah dan menerima takdir mereka disaat mereka mengambil kue yang menurut mereka terlihat sangat aneh tersebut.
Mata Ann terbuka lebar, sangat berbeda dengan persangkaan buruknya sebelumnya, dia menilai bahwa kue kering yang disajikan menurutnya adalah kue terenak yang selama ini telah dia rasakan—tidak terkecuali Warren yang merasakan hal serupa.
Mereka menyadari bahwa kualitas makanan di wilayah mereka tidak sebaik yang Ares miliki.
Tentu saja, hal tersebut menandakan bahwa Ares memiliki segalanya.
Gula, buah, dan bahan-bahan kue menandakan bahwa Ares memiliki persediaan makanan yang sangat melimpah—atau dapat dikatakan sebagai uang—menjadi kekuatannya seolah membuat para bangsawan tersebut telah dipastikan bertekuk lutut.
Kue tersebut seolah menjadi pesan kepada para bangsawan yang mengatakan bahwa Ares memiliki sumber daya—termasuk kekuatan militer—yang melimpah, jadi patuhlah padanya.
Singkatnya, Ares akan memberikan apapun yang mereka inginkan dan dapat mewujudkan segala tujuan yang mereka miliki.
Memandang sebuah kue berwarna warni dengan krim di dalamnya—yang hanyalah sebuah Makaron bagi Ares—sedikit membuat Warren dan para bangsawan lainnya menjadi rendah diri.
Tidak ada dari para bangsawan tersebut yang akan mengira harga diri dan martabat mereka akan diinjak-injak hanya dengan sepotong kue Makaron. Tentu saja, penyajian kue tersebut akan memiliki makna yang sangat berbeda apabila kue tersebut disajikan dalam suatu pesta teh.
"Menjawab pertanyaan Tuan Warren sebelumnya, saya benar-benar sedikit sedih dengan anggapan tersebut. Saya menyadari bahwa diri saya saat ini tidak memiliki dukungan seorangpun dari kalangan bangsawan, namun saya benar-benar berjanji bahwa saya dapat melakukan hal tersebut," ujar Ares.
"Ya, apakah ada sesuatu yang hendak Anda sampaikan, Nona Lydia?" tanya Ares dengan nada hangat.
"Jangan berbelit-belit, katakan sejujurnya apa yang kau inginkan dari kami!" teriak Lydia dengan kesal.
Segera menutup kedua pandangannya saat mendengar Lydia berteriak, Ares hanya mendengarkannya dalam diam.
"Saya... benar-benar berharap agar Anda sekalian untuk tidak mengambil langkah yang menyelisihi langkah politik saya di masa depan... meskipun saya mengetahui bahwa hal tersebut hanya dapat diputuskan oleh Kepala Keluarga dari rumah Anda," jawab Ares dengan sarkastik.
Mengerikan.
Hanya satu kata yang segera muncul di dalam benak para bangsawan yang menjadi tamu undangan Ares.
Apa yang akan terjadi bila Ares bergabung dengan faksi istana dan mendukung Lucas ataupun Zee untuk naik tahta?
Tentu saja, hanya kematian yang akan menanti mereka apabila mereka tidak mengambil langkah politik terhadap Ares.
Namun, bukan hal tersebut yang muncul di dalam benak Warren dan Ann yang terlihat membuka lebar matanya. Mereka segera menduga Ares—yang mendapat pengaruh besar akibat prestasi militernya beberapa bulan lalu—hendak mengangkat Excel sebagai seorang Ratu.
Saling menggenggam tangan, Warren dan Ann saling melirik dan mengangguk kecil untuk bulat mendukung permintaan Ares kepada mereka. Mereka sadar bahwa Ares bukanlah orang yang tidak menepati janjinya—yang mana dia dapat mengembalikan kehormatan Keluarga Francois yang telah dipermalukan oleh Duke Linius bertahun-tahun terakhir—meskipun dia telah bertunangan dengan Excel.
Mereka menyadari bahwa istri pertama Pangeran Lucas, Putri Duke Linius beserta sepupu dari Putri Excel, terlihat lebih mendapatkan favoritisme dari Duke Linius sendiri dibandingkan dengan Sang Putri.
Tidak memahami perkataan Ares, Lydia berdiri dari tempatnya duduk dan kembali berteriak dengan nada yang sangat kesal, "Jangan bercanda! Bukankah kamu hanya ingin menginjak-injak kami?!"
Mengangkat kecil tangannya kepada para ksatria yang hendak mendekati Lydia, Ares hanya dapat menghela napas kecil.
"Maafkan saya karena tidak mengatakannya secara lugas. Namun, saya tidak bermaksud untuk menundukkan kepala kepada Yang Mulia Pangeran Lucas maupun Yang Mulia Pangeran Zee sehingga Anda dapat menenangkan diri Anda," timpal Ares seolah bosan.
"Eh?" ujar Lydia yang terkejut.
Malu.
Lydia kembali terduduk di kursinya yang empuk dengan wajah yang memerah karena malu.
Salah paham atas suatu hal, Lydia—yang kakak perempuannya juga menjadi salah satu korban pemerkosaaan Zee—segera menundukkan ringan kepalanya dan berkata, "Mohon maafkan perilaku saya yang sangat tidak sopan beberapa saat lalu, Margrave."
Tersenyum lembut kepadanya, Ares berkata dengan nada hangat, "Tidak apa-apa, saya juga merasa tidak tahan apabila salah satu keluarga saya telah pergi dengan kepergian yang sangat tidak wajar."
Mendengar perkataan Ares yang sangat menjurus kepada hal yang mereka pikirkan sebelumnya, Warren dan Ann memutuskan untuk mengambil sikap positif.
"Seperti yang saya nyatakan sebelumnya, saya berjanji bahwa saya akan mengembalikan kehormatan rumah Anda. Namun, saya hanya meminta hal tersebut dari rumah Anda sebagai imbalan saya," ujar Ares lugas.
Para bangsawan saling memandang, mereka tentu saja mengerti bahwa Ares yang hendak menjadikan Excel sebagai Ratu.
Tetap saja, mereka—tidak terkecuali Warren dan Ann—sedikit kebingungan mengapa Ares tidak meminta dukungan langsung dari mereka.
Aku kira... kami harus sedikit berbicara secara pribadi setelah pertemuan ini berlangsung.
Menatap tajam pada Ares, yang menurutnya menjadi seseorang yang sangat berbeda dari yang dikenalnya dahulu, Ann hanya dapat berharap agar salah satu teman baiknya di Akademi tidak menapaki jalan yang dirinya tidak mungkin untuk kembali lagi.
...----------------...