
Tahun 1236, 8 Juli.
Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.
Pagi Hari.
Langit cerah dengan sinar matahari yang terasa tidak terlalu panas karena tertutup awan, sekali lagi menyambut pagi Ibukota Lombart yang berada dalam kemeriahan sejak 10 hari terakhir.
Riuh-riuh menyebar hingga setiap sudut kota, yang bahkan mencapai Distrik Bangsawan dimana daerah tersebut selalu berada dalam keadaan tenang.
Berbagai pasar di banyak sudut ibukota dibuka, jalanan kota serta rumah-rumah dihias sangat ciamik, hingga istana kerajaan yang benar-benar memberikan kesan sangat indah daripada sebelumnya, seolah menjadi suatu perayaan atas kebahagiaan salah satu anggota keluarga kerajaan yang hendak melepas masa lajangnya.
Namun, kemeriahan tersebut tidak sampai pada hati seorang gadis yang sedang menapaki lorong istana menuju kamar seseorang yang saat ini berada dalam kesibukan luar biasa.
Aku... merasa menjadi seseorang yang benar-benar sangat berbeda.
Elsa merasa seperti seseorang yang tidak sesuai dengan kepribadiannya yang sebenarnya hingga membuat dirinya gelisah saat dia menapaki lorong Istana Kerajaan Rowling dengan panduan seorang pelayan yang berjalan di depannya.
Tidak ada yang tidak bertanya-tanya dengan sosok asing tersebut—karena tidak ada yang pernah melihat sosok Elsa di dalam istana sebelumnya. Entah itu seorang pelayan, ksatria, atau bahkan bangsawan yang berpapasan dengannya, sejenak akan menghentikan langkah kakinya untuk memberi perhatian ekstra kepada Elsa yang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
Bukan karena mencurigainya, namun karena parasnya yang saat ini benar-benar mengingatkan seseorang yang melihatnya kepada sosok Putri Kerajaan Rowling, Excel von Linius Rowling.
Tentu, hal tersebut dikarenakan permintaan kakak tirinya untuk menjadi pendamping Excel disaat hari pernikahannya.
Rambut putih yang sangat memukau, wajahnya menjadi sangat cantik yang sangat memiliki kemiripan dengan Excel karena telah dirias oleh Klan Cornwall, serta mengenakan gaun putih yang dibuat khusus dengan sepatu hak tinggi.
Jika seseorang yang bekerja di istana pada masa lampau, mereka benar-benar akan berpendapat bahwa Elsa memiliki kemiripan yang sangat banyak dengan sosok ibu Excel, meskipun dirinya tidak memiliki mata heterochromia.
Tentu saja, Elsa akan segera dijemput oleh Klan Corwall tepat setelah dirinya keluar dari tempat prosesi agar tidak terdapat seorangpun yang berbuat aneh kepadanya.
Pintu putih dengan hiasan mewah pun berada tepat di hadapannya. Dengan sedikit kegelisahan, pelayan yang memandu Elsa mengetuk pintu dan berkata, "Yang Mulia... Anda memiliki seorang pengunjung."
Siapa?
Excel tidak mengira akan mendapatkan sebuah kunjungan di hari yang baginya sangat penting. Sedikit membuatnya kesal, akan tetapi Excel berkata, "Bukalah," kepada pelayan yang berdiri di dekat pintu karena dirinya juga sedikit penasaran.
Namun, keterkejutan segera melanda hatinya disaat melihat Elsa yang memasuki ruangan. Tanpa sadar, Excel sedikit mengeluarkan air mata dan berkata dengan lirih, "Ibu?"
Para pelayan di dalam ruangan—yang sedang merias Excel serta mengenakan gaun padanya—hanya dapat kebingungan melihat reaksi Excel karena mereka tahu bahwa Ratu Ketiga telah meninggal.
Bergerak cepat mendekati wanita tersebut meninggalkan pelayan yang sedang meriasnya, Excel pun seketika menatap dengan kuat dan merasa bahwa wanita itu bukanlah ibunya.
"Siapa?" tanya Excel bernada penuh kekesalan.
Nafsu membunuh bocor. Tak berbeda dengan pelayan, tubuh Elsa juga menjadi sedikit gemetar. Namun, secara terbata, Elsa menjawab, "S—saya... adik tiri Tuan Ares... yang telah diperintahkan untuk mendampingi Anda, Yang Mulia..."
Mengapa Ares melakukan hal ini?
Excel tidak tahu bagaimana harus membalas perkataan tersebut. Entah itu kebahagiaan karena mendapatkan seorang pendamping yang sangat mirip dengan ibunya, atau harus merasa bersalah karena sangat merepotkan adik tunangannya.
Air matanya perlahan menetes lebih deras yang membuat sedikit riasannya luntur. Perasaannya benar-benar rumit. Excel segera merentangkan kedua tangannya dan memeluk Elsa hingga sedikit tersedu-sedu.
Keheningan melanda, suara isak tangis samar terdengar. Para pelayan yang bertugas untuk merias Excel tentu tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Begitupun dengan Elsa, yang hanya terdiam dan memeluk kembali tunangan kakaknya yang sedang terisak.
Beberapa saat berselang, Excel pun melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. Berbalik, Excel kembali duduk di atas kursi meja riasnya dan berkata, "Rias aku lagi."
Meskipun pelayan tersebut tidak memahami perilaku Excel yang sangat aneh, dia hanya dapat berkata, "Baik, Yang Mulia."
Menunggu sejenak, Elsa hanya dapat terdiam disaat memandangi tunangan kakak tirinya yang mengenakan gaun putih pernikahan dengan tudung transparan tersebut.
Excel pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Elsa. Menggapai tangan Elsa dan erat menggenggamnya, Excel dengan lirih berkata, "Terima kasih..."
"Senang dapat membantu Anda, Yang Mulia," timpal Elsa sembari tersenyum lembut.
Keluar dari ruangan, mereka perlahan berjalan menyusuri lorong istana menuju ke salah satu taman bunga di taman yang telah didekorasi dengan altar untuk upacara pernikahan mereka.
Melewati jalur belakang yang telah disiapkan secara khusus agar tidak ada seorangpun yang mengetahui penampilan Excel, mereka pun tiba di salah satu bilik putih yang sengaja dibuat khusus di taman dengan bimbingan seorang pelayan dan menunggu hingga Ares menaiki altar terlebih dahulu.
Di sisi lain, Ares—yang telah berjalan menyusuri jalanan taman dan tiba di ujung pintu masuk tempat prosesi—menjadi sangat gelisah.
A—apa yang harus kulakukan?!
Aku belum pernah menikah sebelumnya!
Cih, jika saja aku tidak sok keren menolak dan rendah hati menerima bimbingan Dia...
Tepat berada di depan karpet merah, bertentangan dengan penampilan dirinya yang mengenakan tuksedo putih dan sepatu kulit hitam yang terlihat sangat elegan, samar terlihat kegugupan pada diri Ares.
Wajahnya pun mengadah. Ares dapat melihat banyak bangsawan telah terduduk di atas barisan kursi yang berada di dua sisi karpet dengan ujung karpet berupa panggung altar dengan anak tangga pendek.
Tentu, pandangan para bangsawan tertuju pada mempelai pria yang membuat Ares menjadi lebih gugup daripada sebelumnya.
Namun, seolah pertolongan tertuju kepadanya, Warren—yang duduk di dekat pintu masuk yang hanya berupa dua tiang batu putih tinggi dengan tembok tempat prosesi berupa semak dedaunan hijau yang telah dibentuk—memberi tanda kepada Ares dengan menunjukkan sikap berjalan menuju altar.
Langkah kakinya berjalan tegap menapaki karpet merah. Ares sedikit mengangkat tangan kanannya seolah sedang dibersamai oleh ayahnya yang telah meninggal, sangat menunjukkan ketenangan dirinya.
Perlahan menaiki tangga, Ares melirik tiga pangeran bersama para pasangannya duduk di kursi terdepan dan segera bertemu dengan seorang kakek tua penghulu yang mengenakan pakaian hitam formal dengan jubah yang menandakan kebesarannya.
"Kakek... apa yang harus saya lakukan?" tanya Ares dengan lirih.
Kakek tua penghulu tersebut sedikit membelalakkan matanya setelah mendengar ucapan lirih Ares. Keningnya sedikit berkerut, perasaannya menjadi sangat tidak menyenangkan mengingat dirinya yang harus membimbing seorang pemula sembari menjaga prosesi berjalan tetap khidmat.
"Berbaliklah," timpal Kakek Tua Penghulu.
"Baik, Kek," balas Ares.
Ares membalikkan tubuhnya untuk melihat pintu masuk kembali. Namun, kejutan segera menyerang dirinya yang tidak berbeda dengan para bangsawan lain.
"Mustahil..."
"Bagaimana..."
Samar, suara-suara para bangsawan tua pun terdengar. Tidak ada diantara mereka—yang sebelumnya telah melihat wujud fisik Ratu Ketiga—yang mempercayai pemandangan dua wanita yang berjalan menapaki karpet merah.
Tudung putih panjang dengan gaun pernikahan putihnya yang menyeret lantai, sangat membuat Ares terpana karena kecantikan dan aura yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.
"Margrave, berbaliklah menyamping," ujar Kakek Tua Penghulu dengan lirih.
"Baik..." balas Ares.
Langkah Elsa terhenti. Dirinya memberi aba-aba agar Excel menaiki anak tangga.
Excel pun berbalik menghadap Ares. Dengan penghulu yang berada di samping tengah, mereka berdua pun mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Kakek Tua Penghulu.
Tanda Sang Penghulu telah tiba. Hati keduanya menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka telah sering bersama hingga terbiasa, namun entah mengapa keduanya tidak dapat menahan dirinya untuk menampakkan emosi kebahagiaan.
"Excel von Linius Rowling, aku mengambil engkau untuk menjadi istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
"Ares von Rueter, aku mengambil engkau untuk menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
Janji pernikahan terdengar silih berganti. Saling tersenyum yang menampakkan kebahagiaan, Ares membuka tudung transparan yang menutupi wajah wanita yang saat ini telah menjadi istrinya tersebut.
Air mata sekali lagi menetes dari salah satu sudut matanya. Excel tidaklah pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Merasakan bibirnya yang perlahan menghangat, dia hanya dapat menutup kedua matanya dengan perasaan penuh kebahagiaan.
Ibu... aku telah menemukan seorang pria yang benar-benar aku cintai dari lubuk hatiku yang terdalam...
Jadi tolong... beristirahatlah dengan tenang...
Karena...
Aku akan selalu bersamanya.
...----------------...