I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 25 : Anak Terkutuk? Ayo Jadikan Dia Kaki Tanganku!



Tahun 1236, 21 Maret.


Desa Korteca, Wilayah Margrave Rueter, Kerajaan Rowling.


Pagi Hari.


"Tuan, terima kasih telah meringankan beban desa kami," ujar Kepala Desa dengan membungkuk dalam diikuti oleh para pembantu di belakangnya.


"Ya," ujar Ares acuh tak acuh dari dalam gerbong dengan jendela yang terbuka.


Setelah itu, rombongan Ares pun berangkat meninggalkan desa tersebut menuju Kota Ereth.


Pada malam hari setelah membawa Esther pergi dari rumah kumuh tersebut, Ares menyerahkannya kepada para prajurit wanita untuk membersihkan tubuh Esther yang sangat kotor dan memberinya makanan meskipun mereka sedikit terlihat ketakutan.


Saat Ares bertanya kepada Kepala Desa mengenai keadaan Esther, ia menjawab bahwa Esther selalu memiliki tubuh yang gemetar dan terkadang berteriak tanpa sebab sejak ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Alasan lainnya adalah karena Esther yang memiliki mata kanan yang berwarna merah serta mata kiri yang berwarna kekuningan yang sangat aneh bagi para warga desa.


Kepala Desa juga menjelaskan bahwa Esther sejak dulu telah dihindari oleh hampir seluruh orang di desa dikarenakan warna kedua matanya yang sangat kontras.


Saat itu, Ares sangat ingin memukul kepala kakek tua tersebut.


Itu dinamakan heterochromia, sialan!


Juga, bukankah gadis itu gemetaran karena dia mengalami fobia?!


Sadarlah jika itu disebabkan oleh kalian semua!


Bagi Ares yang mengetahui ilmu dan keadaan dunia modern, ia merasa bahwa ia benar-benar ingin berteriak dan memukul seluruh warga desa yang menjuluki Esther sebagai Anak Terkutuk.


Meskipun begitu, beberapa warga desa pun masih memberinya makanan karena rasa iba mereka walaupun mereka ketakutan dengan Esther.


"Tuan... apakah ia baik-baik saja?" tanya Mia yang saat ini duduk di kursi yang berada di depan Ares.


"Ah, ya, mungkin saja," jawab Ares dengan membelai kepala Esther yang tertidur dengan kepalanya yang berada di pangkuan Ares.


Beberapa saat sebelum keberangkatan, Ares telah memerintahkan agar Esther memasuki salah satu gerbong pelayan atau perwira tingkat tinggi yang berbaris di belakangnya. Meskipun para bawahannya menerimanya, mereka terlihat benar-benar ingin menolaknya.


Setelah melihat keadaan para prajuritnya yang menyedihkan, ia pun memutuskan untuk membawa Esther bersamanya dengan ditemani oleh Mia yang seharusnya menempati gerbong pelayan.


Jika aku melihatnya kembali, bukankah ia sedikit memiliki kemiripan wajah dengan Putri Excel saat kami berada di tahun pertama Akademi?


Dan juga, ia memiliki rambut putih yang sama dengannya.


Tapi, bagaimana bisa ia memiliki kelincahan dan kecerdasan setinggi itu?


Meskipun begitu, kemampuan penguasaan senjatanya juga termasuk sangat tinggi untuk anak seusianya.


Setelah beberapa saat membelai kepala Esther sembari berbicara dengan Mia, tak terasa matahari hampir berada pada puncaknya.


Esther pun terbangun dengan membuka kedua mata heterochromianya secara perlahan saat kepalanya berada di pangkuan Ares.


"Uh..." ujar Esther yang masih kebingungan.


Saat melihatnya telah terbangun, Ares dan Mia menatap hangat pada Esther.


"Oh, bagaimana keadaanmu?" tanya Ares dengan lembut.


Setelah tersadar bahwa ia berada di pangkuan seseorang yang tidak dikenalnya, Esther pun bangkit dengan panik dan menjauhkan dirinya mendekati pintu di sisi lain Ares dengan ketakutan sembari berkata, "Ma—maafkan saya!"


Hmm, sangat berbeda dengan kemarin, bukan?


Bahkan, tadi malam, ia telah memakan semua makanan yang telah kuberikan dengan sangat lahap meskipun makanan tersebut sebesar 6 porsi untuk tentara.


Yah, kukira, kemarin dia secara tidak sadar bersikap seperti itu dan sangat ingin melampiaskan perasaannya kepada sesuatu hal yang lain.


"Tidak apa-apa, kemarilah," ujar Ares lembut.


Meskipun Esther telah diperlakukan dengan lembut oleh Ares, ia masih ketakutan karena memiliki fobia akibat perlakuan dari para penduduk desa.


Ares pun mengubah pendekatannya. Ia menggeser pantatnya untuk mendekati Esther yang tidak dapat pergi kemanapun karena telah tersudut.


Setelah mendekati Esther yang gemetaran, ia dengan lembut memegang tangan gadis tersebut dan bertanya, "Siapa namamu?"


Dengan takut-takut, Esther menjawab, "E—Esther, Tuan."


Ya, Ares tidak mungkin mengatakan nama gadis tersebut yang telah diketahuinya menggunakan kemampuan Appraisalnya.


"Begitukah? Jadi, Esther, apakah kamu mempunyai sebuah impian?" timpal Ares dengan menatap hangat padanya.


"Impian?" tanya Esther kembali karena tidak mengerti.


"Ya, sesuatu seperti tujuan hidup atau keinginan yang kamu idam-idamkan," jawab Ares dengan lembut.


Tentu saja, Ares tidak bertanya mengenai masa lalu Esther dikarenakan akan membangkitkan ingatan kelamnya. Ia memilih topik agar Esther memiliki semangat serta keinginan untuk hidup yang lebih baik.


"Saya... tidak tahu..." kata Esther dengan gelisah.


"Begitu... tidak apa-apa untuk memikirkannya dengan perlahan," timpal Ares dengan lembut.


Esther pun terdiam karena tidak dapat membalas perkataan Ares. Setelah terjadi keheningan selama beberapa saat, Ares menggeser tubuhnya untuk menjauhi Esther dan mengalihkan pandangannya menuju jendela untuk melihat keadaan di luar gerbong.


"Kau tahu... sebenarnya, banyak anak yang mengalami nasib yang sama sepertimu," ujar Ares saat melihat langit yang cerah melalui jendela gerbong.


"Eh?" timpal Esther terkejut.


Esther tidak menyangka bahwa terdapat beberapa orang lain yang bernasib seperti dirinya. Karena perspektifnya yang sangat sempit akibat ia yang hanya tinggal di sebuah desa, ia merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang paling menderita di dunia ini.


Meskipun begitu, Esther tidak serta merta langsung percaya dengan hal tersebut karena anggapan pada dirinya sendiri yang seperti itu, ia pun berkata dengan nada yang bergetar, "A—apakah itu benar, Tuan?"


Setelah mendengarnya, Ares mengalihkan pandangannya untuk menatap Esther kembali. Lalu, ia tersenyum dan berkata, "Jika itu di wilayah lain... tentunya. Jika kamu tidak mempercayainya, apakah kamu ingin melihatnya sendiri?"


"Ti—tidak, Tuan! Saya tidak bermaksud untuk meragukan Anda!" timpal Esther panik.


"Yah, bukannya aku keberatan," balas Ares yang tidak mempermasalahkannya.


"Um..." ujar Mia yang hendak mengatakan sesuatu.


"Ada apa, Mia?" tanya Ares dengan lembut.


"Sebenarnya... saya telah mendengar beberapa kejadian menyedihkan yang berasal dari Ivy," jawab Mia dengan sedikit gelisah.


"Apa itu?" tanya Ares kembali penasaran.


"Ivy pernah menceritakan kepada saya bahwa beberapa budak yang dijual merupakan orang yang diculik di negara lain. Bahkan, beberapa diantaranya telah mengaku bahwa desa mereka telah dijarah serta banyak wanita dari desa tersebut yang telah diperkosa oleh para bandit. Ivy pun tidak lepas dari penderitaannya sebelumnya karena ia dijual oleh kedua orang tuanya karena kekurangan makanan di musim dingin," jawab Mia dengan nada sedih.


Setelah mendengar perkataan Mia, Esther pun segera tersadar bahwa dunia ini memiliki banyak orang yang menderita seperti dirinya. Tanpa sadar, ia pun meneteskan air mata karena mengingat kehidupannya sebelum dijemput oleh Ares.


Setelah melihat keadaan Esther, Ares mendekatinya kembali lalu memeluknya. Mia hanya dapat melihat interaksi mereka berdua dengan ekspresi yang terlihat sedih karena mengetahui keadaan Esther selama tinggal di desa tersebut.


"Tidak apa-apa. Kami akan selalu bersamamu," ujar Ares yang menenangkannya.


Setelah menunggunya hingga tenang kembali, Ares melepaskan pelukannya dan bertanya dengan nada lembut, "Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"


"Saya..." jawab Mia yang masih terisak dengan tidak menyelesaikan ucapannya.


Setelah menunggu beberapa saat dalam suasana hening, Ares bertanya dengan nada lembut, "Apabila kamu melihat seseorang yang memiliki keadaan yang sama sepertimu... apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?"


Akibat perkataan Ares, ada sesuatu yang timbul di dalam hati kecil Esther.


Perasaan yang ingin menyelamatkan banyak orang yang telah tersiksa seperti dirinya sangat menggebu-gebu di dalam hati Esther. Tanpa sadar, ia telah kembali meneteskan air mata.


Setelah merasakan penderitaan seperti itu... apakah aku dapat membiarkan mereka menderita sepertiku?


Apakah aku... dapat mengubah hidup mereka seperti yang Tuan ini lakukan padaku?


Aku... ingin menjadi seseorang seperti Tuan yang telah menyelamatkanku dari penderitaan itu...


Ibu...


Ayah...


Aku... akan terus hidup...


Terima kasih... karena telah menyayangiku meskipun aku adalah seorang anak terkutuk...


"Apabila kamu ingin melakukan hal itu, tentunya kamu harus memiliki kekuatan terlebih dahulu... agar kamu dapat menyelamatkan banyak orang yang menderita seperti dirimu," ujar Ares setelah melihat ekspresi Esther.


"Baik, Tuan... mohon bimbing saya..." ujar Esther dengan terisak.


Ares dan Mia hanya tersenyum hangat kepada Esther setelah mendengar pernyataan yang baru saja diucapkannya.


Tentu saja, arti dari senyuman yang dipancarkan oleh Mia sangat berbeda dengan senyuman yang diekspresikan oleh Ares.


Bagus, aku berhasil!


Aku telah mendapatkan seorang irregular seperti Putri Excel untuk menjadi salah satu kaki tanganku. Setelah ini, aku akan melatihnya agar ia menjadi salah satu perwira terbaikku.


...----------------...


Catatan :


Aku mengubah genre novel ini menjadi fantasi barat karena aku hampir tidak merasakan elemen game di novel ini kecuali kemampuan Appraisalnya Ares.


Juga, likenya dong gan, dari awal... satu like yang tidak terlewat sangat berarti bagiku. *Ngemis mode on*


...----------------...