I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Interlude : Ayo Rayakan Hari Ulang Tahun Excel!



Tahun 1236, 28 April.


Taman Bunga, Istana Kerajaan Rowling, Ibukota Lombart.


Pagi Hari.


Zzrrsshh!


Zzrrsshh!


Zzrrsshh!


Di dalam suatu gazebo yang berada di dalam Taman Bunga di salah satu sudut istana kerajaan, terlihat seorang wanita cantik berambut putih yang terduduk dengan menutup matanya tanpa ada satupun pelayan di dekatnya karena wanita tersebut yang menginginkan sebuah pertemuan pribadi.


Di depannya, seorang aristokrat muda berambut biru sedang memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah muda dengan hiasan pita merah. Ia pun meletakkan kotak tersebut di atas meja yang berada tepat di depan gadis tersebut.


"Buka matamu, Excel!" ujar Ares dengan nada riang.


Segera, Excel pun membuka matanya dan menemukan hadiah yang membuatnya terkejut.


"Apa ini, Ares?" tanya Excel penasaran sembari mengambil kotak tersebut.


"Buka saja," jawab Ares dengan melukiskan senyuman di wajahnya.


Excel menuruti perkataan Ares untuk membuka kotak tersebut dan menemukan beberapa Macaron berwarna-warni yang telah disajikan dengan cantik di dalam kotak.


"Selamat ulang tahun, Excel!" ujar Ares setelah melihatnya membuka kotak tersebut.


Sedikit bingung dengan perkataan Ares, Excel pun kembali menatap pria yang berada di depannya dan berkata, "Apa itu ulang tahun?"


"Oh, benar. Tidak ada budaya seperti itu, bukan? Yah, anggap saja kita merayakan hari kelahiranmu," jawab Ares dengan hangat.


"Apakah seperti itu..." ujar Excel dengan sedikit sedih ketika mengalihkan pandangannya ke luar gazebo yang menampilkan keadaan taman bunga yang basah karena hujan deras.


"Jika saja tidak hujan... kurasa kamu akan lebih menikmati hari ini," sesal Ares dengan tatapan sedih.


Excel menggelengkan kecil kepalanya. Seolah tidak setuju, Excel berkata dengan tersenyum, "Um, tidak. Aku benar-benar bahagia karena kamu begitu memikirkan diriku."


"Itu adalah buatanku sendiri, aku harap kamu menyukainya," ujar Ares dengan nada berharap.


Excel pun seketika menatap kembali beberapa Macaron tersebut dan tanpa penundaan, ia mengambil salah satu kue tersebut lalu memakannya.


"Terima kasih, Ares. Aku tidak menyangka kamu bisa memasak kue yang sangat enak... yang terasa lebih enak daripada buatan koki istana," ungkap Excel yang bahagia setelah menelan kuenya.


"Terima kasih... kupikir pujian itu terlalu berlebihan karena aku merasa bahwa kue itu tidak benar-benar terasa seenak itu," timpal Ares dengan sedikit malu.


"Tidak perlu terlalu merendah," balas Excel dengan tersenyum masam.


Dua hari telah berlalu semenjak Ares menghadiri audiensi dengan raja. Setelah mereka bertunangan secara resmi, Excel meminta Ares untuk memanggilnya tanpa keformalan apapun di setiap keadaan yang tentunya dituruti oleh Ares dikarenakan Excel yang lebih terlihat memaksa baginya.


Saat hendak meninggalkan kastil, Ares bertanya kepada salah satu pelayan istana mengenai hari kelahiran Excel.


Mengetahui bahwa ulang tahunnya akan berlangsung dalam dua hari, Ares menjadi panik dan segera membuat janji temu dengan Excel di hari ulang tahunnya.


Ia pun segera berlarian di ibukota untuk mencari bahan kue yang setidaknya dapat dibuatnya menurut pengalamannya di dunia sebelumnya saat dia membantu ibunya.


Setelah mengalami kegagalan beberapa kali dikarenakan suhu pemanggang yang tidak dapat diatur sesuka hati, pada akhirnya Ares berhasil membuat beberapa Makaron yang rasanya tidak dapat dibandingkan dengan saat di dunianya yang sebelumnya karena kekurangan bahan.


Tentu saja, jika itu dimakan oleh seseorang yang hidup di abad pertengahan, itu akan terasa sangat enak.


Menemukan bahwa turun hujan pada hari kelahiran tunangannya, Ares tetap memaksakan dirinya untuk tiba di istana kerajaan dimana Excel tinggal yang menyebabkan pakaiannya cukup basah.


Ketika Excel bertemu dengan Ares, yang mengatakan bahwa ia membawa sebuah hadiah untuknya hingga pakaiannya basah karena memaksakan diri memenuhi janji temu di hari dimana hujan turun, memutuskan untuk membasahi pakaiannya juga dengan membawa Ares menuju gazebo saat dia pertama kali melamar dirinya.


Meskipun Excel sangat bahagia karenanya, tetap saja dia masih kebingungan dengan alasan Ares memberinya hadiah. Ia pun berkata, "Tapi... aku tetap saja tidak mengerti mengapa kita harus merayakan hari kelahiranku..."


"Tidak apa-apa, bukan? Di dunia ini, mungkin saja kamu adalah orang pertama yang merayakan hari kelahiranmu. Jadi, mari lakukan perayaan ini hanya untuk kita berdua," timpal Ares dengan tersenyum.


Seketika jantungnya berdetak kencang, Excel menahan perasaannya yang sangat senang agar tidak terlihat berlebihan di depan tunangannya meskipun wajahnya sedikit memerah.


Karena ingin mengalihkan topik agar dia tidak terlihat sangat bahagia, Excel bertanya, "Bagaimana keadaan Esther? Apakah dia telah terbangun?"


"Begitu, aku benar-benar berharap dia dapat segera sembuh," timpal Excel dengan nada khawatir.


Apa yang ingin kau lakukan kepadanya setelah dia sembuh?


Ares sedikit terpana dengan balasan yang diberikan oleh Excel. Dia tidak pernah mengira bahwa Excel dapat mengkhawatirkan seseorang karena dia yang sebenarnya sangat egois dan liar.


Sedikit penasaran dengan asal pedang kelas Ancient yang dimiliki oleh Excel, Ares bertanya, "Oh, benar. Bolehkah aku mengetahui bagaimana kamu mendapatkan pedang yang kamu gunakan kemarin, Excel?"


"Oh, aku mendapatkannya dari sebuah kuburan dimana pedang itu menusuk tanah seolah menjadi nisan saat perjalananku menuju Pegunungan Brenne yang sepertinya itu merupakan sebuah peninggalan. Karena aku merasa bahwa itu tidak digunakan lagi, jadi aku mengambilnya dan menyimpan pedangku yang biasanya kugunakan karena merasa pedang tersebut lebih baik," jawab Excel seolah ingat.


Me—mengapa aku tidak mengetahuinya?!


Apakah itu merupakan hadiah dari salah satu Side Quest yang aku abaikan?!


Aku merasa secara tidak langsung membuatnya lebih kuat tanpa aku sadari!


Juga, jika itu merupakan sebuah peninggalan, jangan mengambilnya!


Melihat ekspresi Ares yang terlihat sedikit shock, Excel bertanya dengan nada khawatir, "Ada apa?"


"Tidak... aku hanya merasa kamu entah bagaimana terasa semakin kuat..." jawab Ares dengan lesu.


"Apakah kamu ingin berlatih denganku? Bahkan, aku merasa tidak ada seorangpun ksatria di istana yang dapat melawanku yang menyebabkan aku sangat bosan," tanya Excel dengan sedikit bersemangat.


Menjadi panik atas tawaran yang diberikan Excel, Ares berkata dengan gelisah, "Tidak... kupikir lebih baik untuk memprioritaskan persiapan upacara pernikahan kami terlebih dahulu."


"Kupikir juga begitu," timpal Excel dengan nada yang terdengar bahagia.


Nah, sudah saatnya mengatakannya.


Setelah menyerahkan hadiah dan mengobrol beberapa topik ringan, Ares bermaksud untuk mengutarakan tujuannya menemui Excel yang sebenarnya.


Tentu saja, Ares berusaha keras untuk memberikan hadiah kepada Excel dikarenakan dia berpikir jika wanita lebih mudah dibujuk apabila dia disenangkan terlebih dahulu.


"Selama beberapa minggu ke depan, aku akan meninggalkan ibukota untuk menuju suatu kota tertentu. Jadi, mohon maaf apabila kami tidak dapat bertemu hingga pertemuan tengah tahun nanti," ujar Ares dengan nada meminta maaf.


"Eh?! Kemana?!" tanya Excel dengan nada sedikit keras karena panik.


Ku, tidak mungkin aku mengatakannya!


"I—itu..." jawab Ares dengan terbata.


Excel pun mengubah ekspresinya menjadi serius. Dengan bersungguh-sungguh seolah tidak menerima penolakan, Excel berkata, "Tolong katakan."


Bagaimana ini?!


Apa yang harus aku jawab?!


Sialan, aku benar-benar tidak ingin kamu mengetahuinya!


Kuh, terpaksa!


"Sebenarnya, aku tidak ingin mengatakannya... tapi aku akan mencari hadiah pernikahan untukmu," jawab Ares dengan gelisah.


Seketika, Excel sekali lagi menjadi sangat malu namun ia menahan perasaannya agar tidak terlihat.


"Maaf," ujar Excel yang terdengar bahagia.


"Tidak apa-apa, jadi mohon maaf aku tidak dapat me—" timpal Ares dengan nada meminta maaf.


"Aku akan ikut denganmu. Daripada dikejutkan, aku lebih menginginkan untuk melihat bagaimana perjuanganmu yang bersusah payah mencari hadiah untukku," sela Excel dengan melukiskan senyuman kebahagiaan di wajahnya.


Hanya ada satu kata yang dapat diucapkan oleh Ares karena sangat dikejutkan dengan perkataan Excel yang tanpa penundaan tersebut.


"Eh?" ujar Ares yang terkejut hingga diam mematung.


...----------------...