
Tahun 1237, 23 April.
Daerah Sekitar Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva.
Sore Hari.
JRASH!
Berada di tengah medan perang bersama dengan beberapa pengawal elit di sekelilingnya, Zelhard menghunus Longsword yang berada dalam genggaman tangan kananya dan menebas leher seorang prajurit Rowling.
Keningnya berkerut, Zelhard telah mengetahui letak keberadaan Julius, target balas dendamnya, namun ia tidak dapat menemukan keberadaan Eina, seseorang yang benar-benar ia waspadai.
Akan sangat berbahaya bila dia membunuh Julius tanpa mengetahui keberadaan Eina.
Pasukan dapat tercerai-berai, menyebabkan tidak hanya para prajurit yang dapat terinjak-injak, namun juga banyak prajurit kavaleri yang kabur meninggalkan medan perang tanpa sedikitpun memperhatikan keselamatan orang lain, yang tentunya membuat Pasukan Zelhard berada dalam bahaya karena tersebar di seluruh penjuru medan peperangan.
GOOONG!
Suara gaungan terompet perang Natrehn sekali lagi terdengar, tanda bila Tentara Natrehn diharuskan untuk kembali memperbaiki formasinya yang akan hancur.
Terbesit kembali di dalam benak pemikirannya beberapa malam lalu, Zelhard bertanya-tanya mengapa Eina mengerahkan pasukannya dalam skala penuh.
Apakah itu untuk menahan Lucas yang diketahui telah menarik mundur pasukannya secara bertahap?
Ataukah strategi Eina dimaksudkan untuk memancing dirinya agar keluar menampakkan diri?
Zelhard tidak dapat memikirkan alasan Eina melakukan sesuatu yang sangat kompleks. Bagi Zelhard, menghemat sumber daya adalah kunci utama untuk memenangkan sebuah peperangan.
Sangat berbeda dengan peperangan modern, menggerakkan sebuah pasukan dalam skala penuh benar-benar sangat merugikan.
Tidak hanya meningkatkan kemungkinan seorang prajurit mengalami kematian yang sia-sia, hal tersebut juga dapat mengeringkan banyak pasokan senjata seperti anak panah, tameng, serta tombak dan bahkan minyak karena digunakan dalam jumlah besar.
Ssrrtt!
Ssrrtt!
Tak jauh dari tempatnya berada, beberapa prajurit Rowling seketika tertebas secara berurutan, membuat darah dari leher mereka deras menyembur.
Zelhard sangat mengenal sosok kilat yang bergerak mendekatinya. Bersama menjabat sebagai Jenderal Besar Kerajaan Natrehn, tentu Eina dan Zelhard telah mengetahui karakteristik pertarungan satu sama lain, meskipun keduanya tidaklah menampakkan kekuatan penuhnya.
"Dia datang!" Zelhard menghunuskan pedang kelas Ancientnya. Bersama-sama dengan para ksatria pengawal, mereka berlari mendekati tempat Eina berada.
TRANG!
Dua Longsword kelas Ancient saling menangkis, tanah dimana keduanya berpijak seketika menjadi cekung karena dampak, angin kencang menyebar ke sekeliling hingga membuat beberapa prajurit yang sedang bertarung terlempar.
"Sudah lama tidak berjumpa, Pembunuh Putraku." Kata-kata sambutan Zelhard membuat kedua sudut bibir Eina terangkat.
"Kau juga tidak berbeda denganku," timpal Eina.
Tidak ditampakkan, Zelhard tetap memfokuskan pikirannya pada sosok mengerikan di hadapannya, meskipun hatinya sangat terguncang dengan kata-kata yang baru saja Eina lontarkan.
TRANG!
Eina menarik kembali Longswordnya dan hendak menebas pria di hadapannya, yang sekali lagi ditangkis oleh Longsword Zelhard.
BWOSSHH!
Sekali lagi, pertemuan kedua pedang tersebut sangat berdampak pada lingkungan sekitar, membuat para prajurit menjauhi medan pertempuran Zelhard dan Eina secara naluriah, termasuk para pengawal Zelhard karena mereka menganggap bila diri mereka hanya dapat menjadi beban bila membantu Tuannya.
"Apa maksud—" Kata-kata Zelhard terputus.
"Blue Hexagram. Apakah kau mengingatnya?" sela Eina.
Salah satu mata Zelhard yang tersisa terbuka lebar. Dia sangat terkejut dengan fakta yang ditimpakan kepadanya.
Mengingat kembali awal operasinya di Tanah Utara para barbarian bersama Val, Zelhard tentu mengetahui bila terdapat seorang gadis korban pemerkosaan yang melingkarkan kalung dengan lambang tersebut di lehernya.
Meskipun saat itu Zelhard samar merasakan sebuah hal yang mengganggunya, ia memutuskan untuk mengabaikannya karena itu hanya sebuah persangkaan buruknya.
Dorongan Eina semakin menguat, membuat Zelhard melompat mundur menghindar dari tebasan Eina.
"Bunuh pengkhianat itu!" Derap langkah kuda perang terdengar semakin kuat, Zelhard mengalihkan tatapannya dan menemukan Julius serta banyak ksatria elit hendak mengepungnya.
"Tch." Merasa keadaan yang tidak lagi berada dalam kendalinya, Zelhard mencoba melompat mundur, namun serangan Eina tidak menghendaki langkahnya.
TRANG!
Tangkisan sekali lagi tercipta, Eina pun melukiskan kecerahan di atas wajahnya tanpa sedikitpun mengendurkan serangannya, "Jangan khawatir, dia tidak akan dapat mengganggu pertempuran kita."
"Apa maksud—" Zelhard sedikit mengalihkan pandangannya di saat beradu pedang, sebuah anak panah meluncur cepat mendekati punggung Julius, seperti telah direncanakan sebelumnya.
JLEB!
"Urgh!"
Anak panah dengan mata yang telah berlumur racun mengenai punggung Julius, membuatnya seketika jatuh tersungkur dari atas kuda perang putihnya.
"Kau—kau telah merencanakannya?!" Zelhard sangat terkejut, meskipun ia mendapati Eina berpihak pada Julius, namun akal pikirannya tidak dapat mengerti alasan Eina berkhianat kepadanya.
Para ksatria pengawal Julius segera membuat blokade, menyelamatkan Raja mereka dengan membawanya kembali ke garis belakang, meskipun itu berakhir sia-sia karena Julius menghembuskan napas terakhirnya dengan segera.
TRANG!
TRANG!
Meskipun dia tetap bergerak menghindar dan menyerang Eina, Zelhard tidak dapat melontarkan perkataan apapun kepada wanita tua yang bertarung dengannya.
"Raja Julius telah mati! Raja Julius telah mati!" Teriakan sangat keras terdengar keras dari salah seorang prajurit Rowling, membuat moral Tentara Rowling meningkat tajam.
"Jangan gentar! Rumah kalian berada di balik punggung kalian! Ingatlah nasib keluarga kalian jika kalian kalah!"
"Oooohhhhhhh!"
Salah seorang perwira yang berafiliasi dengan House of Fonca segera berteriak, membangun kembali moral Pasukan Natrehn hingga berada dalam puncaknya.
Para prajurit Natrehn tahu bila mereka masih memiliki Eina, salah satu dari tiga jenderal terbaik kerajaan. Terlebih lagi, alasan beban tanggung jawab lebih mengena di hati para prajurit dibandingkan dengan kematian seorang bangsawan.
Hal ini tentu sangat berbeda jika pertempuran tidak dilakukan di dekat Ibukota Scandiva, para prajurit dipastikan akan kabur menyelamatkan nyawa mereka sendiri karena merasa telah terdesak.
Berapi-api, semangat para prajurit mempertahankan apa yang dicintainya membuat Pasukan Kerajaan Rowling sedikit tergerak mundur.
TRANG!
Dampak tangkisan pedang yang terasa sangat berat bagi Zelhard membuat tanah yang dipijaknya tenggelam. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Eina segera melompat dengan bilah pedang yang hendak menebas leher Zelhard yang hanya dilindungi oleh jubah gelap.
KLANG!
"Kau tetap tidak berubah, keras kepala seperti biasanya." Mendapati Zelhard sekali lagi menangkis serangan kilatnya, Eina pun melompat mundur.
Zelhard hanya terdiam, dia benar-benar tersudut akibat kondisi fisik Eina yang baginya sangat luar biasa.
Berumur hampir tidak terpaut jauh dengannya, Zelhard seharusnya tahu bila Eina hanya mampu bertarung tidak begitu lama. Terlebih lagi, Zelhard mengerti bila Eina lebih menyukai pekerjaan di balik layar yang membuatnya tidaklah sekuat Eina di hadapannya.
Tentu, Zelhard tidaklah mengetahui sistem penambahan poin, yang hanya dapat diketahui oleh Ares, seorang pengguna kemampuan Appraisal.
Tubuhnya sangat lelah, nafasnya berhembus berat, Zelhard memiliki beban yang lebih berat dimana dia harus menyusuri hutan semenjak pagi dan menyelinap untuk memasuki medan perang.
Tidak jauh berbeda dengan kondisi fisik Zelhard, tubuh Eina juga sangat lelah. Beban tubuhnya meningkat tajam, pertarungan antar dua pengguna Ancient Longsword juga sangat merugikan Eina dengan dampak akibatnya, meskipun Eina tidak menampakkan kelelahannya di atas wajahnya.
Dalam diam, keduanya saling mengerti bila mereka akan saling melancarkan sebuah serangan terakhir, yang akan menjadi titik balik keberhasilan mereka.
Sebuah pembuktian. Zelhard dan Eina saling tersenyum, tidak hanya berniat untuk membalaskan dendam keluarganya, gelar jenderal terbaik juga akan tertambat pada salah seorang dari keduanya.
TAP!
Keduanya berlari cepat, mendorong tubuhnya dengan salah satu kakinya hingga membuat tanah yang dipijaknya hancur.
Saling menghunuskan senjata yang sama, saling beradu pangkat militer serta gelar bangsawan yang setara, Eina dan Zelhard memutuskan untuk tidak membawa dendam mereka ke alam baka.
JRASH!
"Ack!"
"Argh!"
Dada Zelhard tertusuk, tepat pada jantungnya karena ia hanya menggunakan armor kulit yang melapisi tubuhnya yang berada di balik balutan jubah gelap.
Eina merasakan panas dari salah satu bagian perutnya. Darahnya deras mengucur, seragam militer hijau gelap yang berada di balik balutan armor ringannya basah hingga berwarna gelap.
"Uhok!" Zelhard memuntahkan darah, kondisinya seketika menjadi kritis. Meskipun begitu, sebuah kepuasan menyelimuti hatinya, yang juga dirasakan oleh Eina.
"Kali ini... aku menang, 175 kemenangan dari 349 pertandingan." Kata-kata Eina membuat Zelhard tersenyum masam.
"Terserah kau, wanita rubah," timpal Zelhard.
Tidak ada diantara para prajurit—termasuk prajurit Rowling—di sekitar yang menganggu pertarungan keduanya. Mereka mengerti bila pertarungan tersebut terasa sangat sakral, membuat mereka hanya dapat terdiam disaat keduanya saling melukai, bahkan untuk para ksatria pengawal yang mendampingi Zelhard sekalipun.
BRUK!
Keduanya saling terbaring, menunggu kematian mereka yang akan tiba. Keduanya telah menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan. Tidak ada sebuah penyesalan di dalam hati, mereka merasa bila ini adalah saat yang tepat untuk meninggalkan dunia.
Suasana medan perang samar berubah, yang semakin kental terasa hingga membuat Eina dan Zelhard sejenak memfokuskan seluruh inderanya pada lingkungan sekitar.
"Bala bantuan datang! Pasukan Margrave Rueter telah tiba! Jenderal Gnery akan menyelamatkan kita!" Tak berselang lama, teriakan tersebut keras terdengar, membuat para prajurit Rowling mengalami kenaikan moral yang sangat tajam, meskipun mereka tidak mengetahui nama seorang jenderal yang disebutkan.
Rekam jejak telah menjadi bukti, Ares diketahui telah mengalahkan Pasukan Jenderal Barlock yang berkekuatan sekitar 100.000 prajurit hanya dengan 12.000 prajurit, membuat Tentara Natrehn merasa gentar.
Tidak hanya itu, penyebutan Jenderal Gnery membuat ketakutan Tentara Natrehn semakin menjadi. Tidak ada yang tidak mengetahui jika Gnery berhasil membuat Zelhard terluka hingga menarik mundur pasukannya, yang diketahui hanya dapat disetarakan dengan Jenderal Eina seorang.
Kesepakatan yang mereka buat telah terpenuhi, hingga keduanya melemaskan seluruh tubuhnya dan siap menerima ajal. Mata Zelhard dan Eina perlahan tertutup, sekali lagi keduanya saling membentuk sebuah senyuman, terasa sangat penuh akan kepuasan.
Kami... tinggalkan mereka padamu.
Ares von Rueter.
...----------------...