I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 113 : Snow and Blood



Tahun 1237, 16 Januari.


Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva.


Dini Hari.


Musim dingin.


Suatu masa yang dapat mengisolasi mobilitas manusia dan pergerakan berbagai komoditas penting.


Seolah menjadi dewa kematian bagi para manusia, banyak dari mereka yang terancam mati kelaparan karena tidak memiliki banyak persediaan makanan sebelumnya. Entah karena pemerasan seorang bangsawan, gagal panen, atau bahkan kekurangan petani, musim dingin telah menjadi momok menakutkan bagi penduduk yang tinggal di daerah utara.


Pun tidak hanya hal tersebut, meninggal karena kedinginan hingga membeku juga menjadi salah satu sebab dari banyaknya kemungkinan yang menyebabkan tewasnya para penduduk.


Tak terkecuali dengan Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva, yang sedang diterpa ganasnya badai salju musim dingin.


Pintu-pintu tertutup rapat, rumah-rumah mengeluarkan kepulan asap hitam dari cerobong asapnya, para penduduk hanya dapat beraktivitas di dalam rumahnya hingga ganasnya musim dingin mereda.


Tentu saja, akibat dari dampak musim dingin, para bangsawan pada umumnya sejenak menahan manuver politiknya. Mereka mengerti jika bergerak dengan rencana yang tidak matang, musim dingin dapat menjadi pedang bermata dua yang dapat menebas leher mereka sendiri.


Namun, berbeda dengan apa yang seharusnya menjadi kebiasaan para bangsawan yang menahan gerakannya di saat musim dingin, suasana mencekam menyelimuti Istana Kerajaan Natrehn.


Di dalam ruangan gelap, Julius memiliki pedang yang terhunus di tangan kanannya. Langkah kakinya perlahan mendekati target yang sedang duduk terikat dengan sangat gelisah, yang merupakan ayah kandungnya sendiri.


Movic tidak mungkin melompati jendela karena ruangan yang dia tempati berada di lantai tertinggi istana.


Tidak lagi mengerti, beberapa bangsawan serta ksatria yang dianggapnya selalu berada di pihaknya, saat ini berada di balik tubuh anak sulungnya.


Tatapannya tertuju ke segala arah. Ruangan gelap telah dipenuhi oleh mantan bawahannya. Keringat deras pun membasahi pakaian tidurnya dengan wajahnya yang tidak luput dari cucuran air keringat.


"Julius! Jangan kira kau dapat terbebas setelah melakukan ini kepadaku!" Movic berteriak penuh amarah. Dia tidak lagi dapat berpikir dengan tenang, seolah bilah pedang telah berada di ujung pangkal lehernya.


Julius tersenyum kecut, tidak mengira jika ayahnya akan sangat naif hingga akhir hidupnya. "Ayah, tidak akan ada pihak yang dapat menghentikanku. Sangat tidak mungkin bagimu membalas perbuatanku, bahkan jika kau menggunakan Zelhard ataupun Val."


Movic telah merasakan bilah pedang di dekat kulit lehernya. Keringat semakin deras bercucuran di atas wajahnya.


"Apakah kau memiliki kata-kata terakhir untukku, Ayah?" Julius menahan kegeliannya, ada keinginan terpendam untuk mendengarkan kata-kata terakhir ayahnya.


Movic menyadari kematiannya yang telah berada tepat di depan mata. Kepalanya tertunduk lemah, Movic memiliki ekspresi penuh penyesalan, "Mengapa... kamu melakukan ini kepada ayahmu sendiri? Bukankah kamu... di masa depan akan menjadi seorang raja?"


Julius mendengus kesal, "Hah?! Jangan bercanda! Kau ingin membuat Wilhelm menjadi seorang raja, bukan?!"


Movic tidak dapat membantahnya, dia tahu jika hal tersebut merupakan kebenaran. Namun, itu terjadi setelah Movic merasakan perubahan besar pada diri Julius—yang mana setelah terhasut oleh perkataan Eina.


Ingatan kelam dimana Movic membunuh saudaranya sendiri seketika muncul. Movic hanya dapat melukiskan perasaan yang penuh penyesalan.


"Apakah semua yang telah aku lakukan... adalah sebuah kesalahan?" Movic perlahan mengadah untuk kembali menatap putra sulungnya, "Kamu... akan menuai sesuatu yang sebelumnya kamu tabur, Julius."


JRASH!


Kepala Movic terpenggal. Julius sangat kesal, bahkan ketika kematiannya telah berada di ujung tanduk, Movic masih saja mengatakan sesuatu yang baginya membuat hatinya panas.


Menyarungkan kembali pedangnya. Tanpa memberi perhatian kepada mereka, Julius memberi perintah kepada para bangsawan serta ksatria yang berada di sekitanya, "Bersihkan ruangan ini. Bawa kembali mayat saudaraku, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


"Baik, Yang Mulia." Menatap Julius yang baru saja membunuh ayahnya sendiri, ekspresi para bangsawan serta ksatria di belakangnya dipenuhi oleh kebahagiaan.


Bagi mereka, Julius adalah batu loncatan untuk mencapai jabatan serta kekuasaan yang lebih tinggi. Tidak menyangka Julius dapat berubah dalam beberapa tahun, "kebodohan" adalah apa yang ada di dalam benak mereka disaat memikirkan pemuda di hadapannya.


Di salah satu lorong istana, bersama dengan sosok gadis bangsawan berambut putih yang diikat ekor kuda dengan wajah yang terlihat sangat cerdas yang mengenakan pakaian militer, seorang pemuda berambut pirang dengan fisiknya yang sangat terlatih dengan balutan pakaian tidur, sedang melarikan diri dari kejaran para ksatria dan bangsawan yang menghunuskan senjatanya kepada mereka.


Gadis tersebut terengah-engah, wajahnya penuh kepanikan karena tidak mengerti sekutu dan musuhnya, yang tidak berbeda dengan ekspresi yang ditampakkan oleh pemuda tersebut.


Keduanya mengerti apabila mereka tidak mungkin melakukan sebuah perlawanan, bahkan jika kedua langkah kaki mereka sejenak terhenti, mereka dipastikan akan terkepung.


"Yang Mulia! Hanya ada satu jalan terakhir!"


Pangeran Kedua Kerajaan Nathren, Wilhelm von Runel Kona Natrehn, menggigit bibir bawahnya setelah mendengar ucapan gadis yang membimbingnya, Kristin von Ginnes. Tidak dapat berpikir jernih, ekspresi keduanya sedari tadi telah keruh.


Kesepakatan dalam diam pun terbentuk, keduanya segera menuju pintu ruang bawah tanah yang berada di istana bagian dalam.


CPAK!


CPAK!


Krestin, cucu Zelhard yang diperintahkan untuk menjaga keselamatan Pangeran Wilhelm, tentu tidaklah mengetahui kondisi serta keberadaan pasti dari jalan rahasia.


Berbeda dengan jalan rahasia yang setiap anggota Keluarga Kerajaan Natrehn ketahui, Movic memberi informasi jalur rahasia yang dituju oleh keduanya hanya kepada Wilhelm.


Hanya mengandalkan ingatan samar di dalam kepalanya, Wilhelm, yang membimbing Kristin di balik punggungnya, hanya dapat berharap agar keduanya tidak terkena sesuatu yang buruk.


Sebuah lubang lingkaran yang mengarah ke bawah telah terlihat di ujung pandangan. Wilhelm seketika menarik napas penuh kelegaan, "Kristin, bantu aku membukanya!"


Keduanya segera memposisikan dirinya pada dua sisi lubang yang berbeda.


Wilhelm menarik sebuah kunci yang menggantung di lehernya, segera menancapkan di dalam lubang kunci yang berada di salah satu sisi lingkaran, keduanya mengangkat penutup lubang yang bagi mereka sangat terasa berat.


ZRAASHH!


Keduanya seketika terkejut.


Aliran deras air memenuhi bagian dalam. Kristin dan bahkan untuk Wilhelm, tidak pernah memprediksikan hal ini sebelumnya.


"Cih." Wilhelm mendecakkan lidah.


Wilhelm tidak menyangka jika saudaranya telah mengetahui jalur rahasia yang hanya diketahui Movic dan dirinya sendiri—yang mana merupakan salah satu dari sekian banyak bantuan Eina.


Derap langkah semakin keras. Keduanya tahu musuh telah berada sekitar satu persimpangan lorong, Wilhelm dan Kristin pasti akan terkejar.


Tatapan putus asa tercipta di atas wajah Kristin, air mata terlihat semakin deras menetes.


Melihat gadis di depannya, Wilhelm teringat akan kata-kata yang pernah terucap dari mulut ayahnya.


"Aku memiliki hutang budi kepada Zelhard dan Eina."


Namun, perasaan Wilhelm seketika menjadi keruh disaat dirinya setiap kali memikirkan Eina. Ada ketidaknyamanan besar di dalam hati Wilhelm jika dia bercakap-cakap dengan Eina.


Meskipun tidak memiliki bukti, meskipun perasaannya bahkan masih ragu, Wilhelm entah mengapa merasa tidak dapat mempercayai Eina.


Namun, salah satu dari mereka tetaplah harus memasuki lubang. Ada perasaan khawatir yang sangat besar pada benak Wilhelm karena dapat tewas terhanyut, namun tetaplah memiliki peluang keselamatan yang lebih tinggi dibandingkan tetap berada di tempat ini.


Selain dari hal itu, Wilhelm memahami jika Kristin tidak akan berada dalam bahaya jika dia terbunuh di tempat ini. Wilhelm mengerti jika saudaranya tidak akan melakukan pencarian sia-sia hanya untuk Kristin karena adanya badai musim dingin.


Segera mengangkat paksa tubuh gadis di depannya, Wilhelm memasukkannya ke dalam lubang yang dipenuhi oleh aliran air deras.


"Apa yang hendak Anda lakukan, Yang Mulia?!" tanya Kristin dengan panik sembari berpegangan pada sisi lubang.


"Kristin, jangan pernah sekalipun mempercayai Eina," ujar Wilhelm.


"Apa yang Anda maksud, Yang Mulia?!" tanya Kristin dengan kepanikan karena tangannya tidak lagi kuat menahan tubuhnya.


Wilhelm kembali tersenyum, dia tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan kegelisahannya terhadap Eina.


Tanpa penundaan, Wilhelm segera mengubah ekspresinya menjadi penuh keseriusan, "Kristin, aku, Pangeran Kedua Kerajaan Natrehn, Wilhelm von Runel Kona Natrehn, memberikan sebuah Dekrit Kerajaan untukmu."


Kedua matanya terbuka lebar, air mata semakin deras menetes. Kristin tidak menyangka jika Wilhelm akan memberikan perintah yang harus dipatuhi oleh seluruh subyek yang dimiliki Kerajaan Natrehn.


"Ak—aku tidak akan pernah mematuhinya!" protes Kristin.


Memandang gadis yang akan terjatuh di dalam pandangannya, Wilhelm hanya dapat tersenyum.


"Selamatkan dirimu."


Kata-kata terakhir Wilhelm pun terucap disaat kedua tangannya tidak lagi merasakan apapun.


Perlahan tubuhnya melayang disaat dirinya terjatuh, kedua tangan Kristin mencoba kembali menggapai tempatnya terjatuh. Namun tetap saja, hanya kekosongan yang dapat diraihnya.


Melihat lubang yang perlahan menutup, Kristin hanya dapat menatapnya dengan penuh penyesalan sebelum dirinya kehilangan kesadaran.


Meskipun sejak kecil aku selalu membual jika aku akan menjadi sosok seorang ksatria yang dapat kamu andalkan...


Maaf...


Karena aku... tidak sekalipun dapat melakukannya.


...----------------...