
Tahun 1236, 17 Agustus.
Wilayah Utara Benua Barat.
Malam Hari.
Harek mengingat masa lalu kelamnya. Mengenang kembali disaat dirinya diangkat menjadi kepala suku, dia telah membunuh beberapa teman dan sahabatnya dengan kedua tangannya sendiri sebagai syarat untuk mendapatkan gelar dan posisi tersebut.
Melalui ritual keji yang telah berlangsung secara turun-temurun, Harek tidak dapat mengubahnya secara paksa. Dia tahu akan terjadi pertentangan berat dari para anggota sukunya.
Tidak mudah untuk mengubah adat istiadat yang berlaku di tengah kalangan masyarakat.
Beberapa kali Harek menjadi penonton ritual Battle of Death selama dirinya menjabat sebagai kepala suku, dia mengingat kata-kata Sang Shaman—yang juga telah diwariskan secara turun-temurun—yang selalu mengatakan hal serupa.
Pikiran-pikiran tersebut terngiang di dalam benaknya, Harek tidak ingin penyesalannya di masa lalu terulang kembali kepada penerusnya.
Pengalamannya memberitahunya, Harek mengerti jika kursi yang beberapa saat lalu dirinya duduki, hanyalah sebuah kursi kosong. Harek benar-benar ingin membuat para penerus kepala suku—yang merupakan pemuda terkuat di desa—mengerti.
Secercah harapan muncul. Sebuah kelompok asing datang dari luar tanah utara, Harek berharap agar mereka dapat secara cepat memahami kata-kata Sang Shaman disaat dirinya membuka ritual kematian, yang memiliki arti bahwa dirinya juga merupakan seorang calon persembahan bagi Sang Dewa.
Tentu, akibat dari penyesalan mendalamnya, Harek tidak sedikitpun memiliki keimanan terhadap Kronos, seorang dewa yang dipercayai oleh para barbarian.
Harek mengerti jika Kronos hanyalah sebuah patung pria besar berjenggot yang terpahat megah di salah satu sudut wilayah yang disucikan—yang berada tidak jauh dari desa Suku Utara.
Menatap tajam kepada para penduduk yang menjadi tanggung jawabnya, Harek kembali berteriak, "Ambil Moldan dan rawat dia!"
Dengan berat hati, beberapa pria yang duduk di salah satu sisi luar arena pun mendekatinya dan membawanya keluar dengan berhati-hati untuk melaksanakan perintah yang telah diberikan.
Harek merasa cukup beruntung karena Sang Shaman belum mengangkat seorang murid resmi untuk menjadi penerusnya, meskipun dia telah memiliki 3 calon murid sebelumnya.
Harek pun menuangkan cawan penuh darah Shaman tersebut dan menyiramkannya kepada bilah Greatswordnya yang saat ini tertancap dalam di tengah panggung berbatu.
Setelah membuang cawan emas kosong tersebut, Harek mengangkat tubuh Shaman tua tersebut beserta kepalanya yang telah terpenggal, lalu berjalan mendekati bara api yang menyala di salah satu sisi arena dengan perlahan dan melemparkan mayat Shaman tersebut ke dalamnya.
BLAR!
Keheningan melanda tempat diadakannya ritual, hanya beberapa kali terdengar suara ledakan tulang serta api yang membakar.
Sembari menatap proses terbakarnya mayat Sang Shaman, Harek pun berkata, "Janganlah kalian menjadi orang bodoh, bukalah kedua mata dan telingamu. Apa yang sebenarnya kalian dengar dari perkataan Shaman Yofet sebelum ritual dimulai?"
Tanpa respon, para anggota suku mengerti jika perkataan Ares adalah sebuah fakta, yang juga tidak berbeda dengan reaksi Askarr, Havarr, Alfr, dan Astrid. Namun, berat di hati mereka untuk menerimanya dengan patuh.
"Berkali-kali kalian telah mendengar hal yang serupa, mengapa kalian tidak paham juga?" tanya Harek.
Tidak kunjung mendapati sebuah jawaban, Harek pun berbalik untuk sekali lagi mengamati reaksi Ares yang berdiri di luar arena.
Dia memiliki otak.
Tapi... apakah dia memiliki kekuatan juga?
Jika melihat kembali kemampuan bawahannya, aku rasa dia juga cukup mampu.
Tatapan Harek teralihkan kembali kepada para penduduk desa yang hanya terdiam.
Apakah aku... dapat mempercayakan mereka kepadanya?
Harek sepenuhnya mengerti kekuatan militer Natrehn yang sangat luar biasa, yang bahkan tidak dapat ditandingi hanya oleh seluruh suku utara jika mereka bersatu.
Memiliki persenjataan canggih serta prajurit yang melimpah, Harek sejujurnya sangat menganggap tinggi Suku Selatan yang dapat bersaing secara teknologi melawan mereka dan dapat melakukan sebuah perlawanan dalam suatu pertempuran laut, meskipun pada akhirnya juga harus mengalami kekalahan.
Berjalan mendekati pedangnya, Harek pun mengambil Greatswordnya yang sebelumnya tertancap dan menghunuskannya kembali sembari mengalihkan tatapannya kepada Ares.
"Anak muda, siapa namamu?" tanya Harek.
Merasa tidak mungkin untuk berbohong, Ares membalasnya hanya dengan sebuah gerakan bibir. Mengetahui lawan bicaranya sedang dalam suatu penyamaran, sebuah senyuman masam pun segera tampak di atas wajah Harek.
"Lawan aku," ucap Harek.
Nadanya memerintah, auranya sangat menunjukkan bagaimana seharusnya kewibawaan seorang tetua dan kepala suku. Namun, tidak hanya hal tersebut yang dirasakan Ares, yang baginya terdapat suatu makna tersirat pada ucapannya.
Apakah kamu... benar-benar berniat untuk mati di tempat ini?
Mereka berdua memahami implikasi tindakan Harek sebelumnya. Seseorang yang menyalahi adat, tentu akan mendapatkan suatu anggapan negatif dari masyarakat, bahkan jika itu hanya terpendam dalam hati—yang juga dipahami oleh Havarr, Sang Kepala Suku Timur.
Meskipun begitu, kelegaan besar ada di dalam benak Harek. Tidak mungkin Suku Utara akan menjalani ritual tersebut di masa depan tanpa kehadiran seorang Shaman, yang juga tidak memiliki seorangpun penerus resmi.
Menerima tekad Harek, Ares melangkahkan kakinya untuk menaiki arena sembari menghunuskan Rapier dengan tangan kanannya.
Gale mengangguk ringan sebagai tanggapan, dia pun menuruni arena dan menyerahkan penjagaan Tuannya kepada Lean yang membidik dari tempat yang sedikit jauh.
Sekali lagi, dua orang berhadapan di atas arena. Tidak ada diantara penduduk desa yang mengerti tentang tindakan Harek, yang bagi mereka sangat aneh.
Sejenak berada dalam diam, mereka berdua memasang kesiapan untuk bertempur dengan kekuatan penuh. Masing-masing dari mereka memahami arti penting dari pertarungan yang akan mereka lakukan.
BLAR!
Sebuah tulang sekali lagi meledak dalam bara api, Ares dan Harek saling menerjang dengan senjata yang terhunus.
"Heaaaaaa!"
Harek berteriak keras. Bagi para penduduk, mereka melihat Harek seolah memancarkan aura keagungan seorang pejuang perang yang sangat berkesan kuat.
KRAK!
Seketika, Greatsword Harek hancur berkeping-keping.
Menggunakan efek senjatanya, Ares sangat menghormati Harek dari dalam lubuk hatinya dan memutuskan untuk menggunakan segala kemampuannya.
Kedua mata Harek sedikit terbuka lebar karena keterkejutan. Namun, hatinya segera dipenuhi oleh sebuah kepuasan yang begitu besar.
Sembari menutup kedua matanya, Harek berbisik, "Aku... serahkan mereka kepadamu, Kepala Suku."
"Ya," jawab Ares.
JRASH!
Harek melukiskan senyuman, hatinya benar-benar dipenuhi kelegaan dan rasa syukur yang begitu dalam, meskipun dadanya telah tertusuk oleh Rapier.
Tatapan semua orang seketika dipenuhi oleh kekosongan. Meskipun tidak ada diantara mereka yang menduga Harek akan kalah begitu cepat, namun entah mengapa anggapan bahwa Harek telah meninggal dengan kepuasan besar secara kuat melekat di dalam hati mereka.
Tidak ada diantara para penonton yang menganggap Harek lemah. Mereka merasakan sebuah aura yang dipancarkan olehnya, yang sangat mengindikasikan Harek mengeluarkan seluruh kemampuan penuhnya.
Ares menopang tubuh Harek yang hendak terjatuh. Para penduduk desa pun tersadar akan Kepala Suku mereka yang sekarat tepat di hadapan mereka.
Merasakan para penduduk yang berlari mendekat, Ares membaringkannya di atas arena dan memberikan sebuah penghormatan khas seorang ksatria dengan meletakkan bilah Rapiernya di atas dadanya.
Para anggota Klan Cornwall merasakan keberadaan Tuannya yang berada dalam bahaya. Namun, Ares segera memberikan sebuah tanda tangan untuk mengabaikannya.
BRUGH!
Tidak hanya Harek yang sedang berbaring, Ares pun tidak luput dari terjangan para penduduk yang marah. Tubuhnya pun terangkat di udara oleh seorang pemuda kekar, yang wajahnya berlinang air mata.
"Apakah kalian akan menodai ketetapan hati Kepala Suku kalian?" tanya Ares.
Pertanyaan bernada berat yang terasa penuh cemoohan membuat para pejuang menghentikan tindakannya kepada Ares dengan menurunkannya kembali.
"Pernahkah kalian berpikir mengenai sebuah ritual yang sebenarnya tidak berarti bagi kalian?" tanya Ares.
"Hah?! Apa maksudmu?!" tanya seorang pejuang muda yang mengangkat kerah Ares sebelumnya.
"Kepala suku kalian, Harek, memiliki sebuah penyesalan yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun." Ares mengatakannya dengan ekspresi serius.
"Ap—" timpal Pejuang Muda tersebut.
"Mengapa kalian tidak menyadari, setiap kepala suku terpilih, telah membunuh temannya dengan kedua tangannya sendiri? Bukankah adat istiadat yang kalian anut hanyalah suatu kesia-siaan belaka?" sela Ares.
Meskipun hal tersebut tidak diketahui Ares sebelumnya, namun dia segera mengerti akibat tindakan Harek.
Hanya dapat terdiam. Meskipun mereka mengerti jika hal tersebut telah mereka lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya, mereka menyadari bahwa mereka tidak sedikitpun mendapatkan suatu hal darinya—meskipun itu hanyalah sebuah ketenangan hati.
Moldan, yang terbaring di salah satu sudut arena, tentu menyadari hal tersebut. Meskipun dia benar-benar telah menyiapkan hatinya untuk membunuh teman seperjuangannya dengan kedua tangannya sendiri, tentu Moldan sebenarnya tidaklah merasa sanggup melakukannya.
Air mata deras mengucur. Suasana malam segera diliputi oleh kesedihan, Ares pun menyarungkan Rapiernya kembali dan melangkah pergi.
Kurasa, julukan yang tersemat padamu di dalam game sangatlah benar.
Walaupun aku tahu jika ini sebenarnya tidaklah mungkin...
Kuharap... aku memiliki kesempatan untuk dapat bertemu kembali denganmu di masa depan nanti.
Greatest Man from The Northern Land, Harek.
...----------------...