I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 89 : Unpredicted War Event, part 5



Tahun 1236, 11 Agustus.


Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.


Malam Hari.


Sedikit merasakan hal aneh. Tatapan Ares segera tertuju kepada dua orang yang sedang bertarung dengan sangat ganas di depannya.


"Appraisal," ucap Ares dengan menargetkan kedua orang tersebut.


......................


...[Status]...


Nama : Val von Renus


Umur : 18 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Earl, Kerajaan Natrehn


Afiliasi : Earl Renus, Kerajaan Natrehn


Statistik


Keahlian Senjata : 80 (+0)


Kelincahan : 78 (+0)


Kepandaian : 55 (+0)


Tubuh : 77 (+0)


Kepemimpinan : 52 (+0)


Loyalitas : 64


Moral : 74


Pelatihan : 80


......................


......................


...[Status]...


Nama : Astrid


Umur : 17 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : Pemimpin Pejuang White Deer Suku Barat


Afiliasi : Suku Barat, Wilayah Utara Benua Barat


Statistik


Keahlian Senjata : 77 (+3)


Kelincahan : 74 (+4)


Kepandaian : 18 (+0)


Tubuh : 83 (+5)


Kepemimpinan : 50 (+0)


Loyalitas : 89


Moral : 76


Pelatihan : 90


......................


Luar biasa...


Greatsword itu... bukankah itu adalah sebuah senjata tingkat Rare?


Kedua mata Ares segera melirik seseorang yang berlari di sampingnya. Merapalkan, "Appraisal," kepadanya, tiga layar transparan secara sekaligus terbentuk tepat di hadapannya.


......................


...[Status]...


Nama : Arthur


Umur : 18 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Sersan Satu


Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 51 (+0)


Kelincahan : 56 (+0)


Kepandaian : 60 (+0)


Tubuh : 62 (+0)


Kepemimpinan : 81 (+0)


Loyalitas : 78


Moral : 68


Pelatihan : 74


......................


Hmm, lemah...


Tidak, Arthur lebih lemah daripada dua orang tersebut.


Yah, terserah.


"Arthur, aku akan meminjamkan pedangku. Lawanlah mereka berdua," perintah Ares acuh tak acuh.


"Hah?!" balas Arthur yang sangat terkejut.


"Jika kau dapat kembali hidup-hidup, aku akan mengangkatmu untuk memimpin satu batalyon pasukanku," timpal Ares sembari menyerahkan Verze Sword kepada Arthur.


"Ta—tapi—" Ucapan Arthur terputus disaat bagian punggungnya menghangat.


"Jadi, pergilah!" timpal Ares sangat keras.


"Eh?! Gyaaaaa!"


Dorongan kuat dari balik tubuhnya membawa Arthur terlempar menuju medan pertarungan Val dan Astrid sembari menjaga pedang di tangannya baik-baik agar tidak terlepas.


Berbalik menuju arah lain, Ares menerjang sembari menghindari banyak orang bertarung disaat dirinya menuju dua kepala suku yang masing-masing bergerak menuju tempat Zelhard berada.


Kepanikan melanda. Arthur sangat tidak siap jika dilemparkan menuju sebuah pertarungan ganas di depannya. Di dalam hatinya, Arthur bertanya-tanya apa yang menjadi tujuan Tuannya melemparkannya kepada pertarungan kedua orang tersebut.


Tenang.


Ayo tenang.


Menghirup napas dalam, Arthur segera mengeluarkan Verze Sword dari sarungnya beserta pedang pribadinya yang lain dan menggenggamnya dengan masing-masing tangannya.


Apakah aku harus mengganggu pertempuran mereka?


Dirinya hampir tiba. Arthur merasa sedikit aneh dengan kekuatan Tuannya yang dapat melemparnya dari jarak yang sangat jauh—yang tentunya Ares melemparkan Arthur dengan menggunakan statistik tambahan dari Rapiernya.


TRANG!


TRANG!


Menyilangkan kedua pedang, Arthur pun menerjang ke tengah-tengah medan pertarungan dua pasukan dan tepat mendarat diantara Val dan Astrid yang membuat mereka seketika mundur.


"Siapa?!" tanya Astrid jengkel.


Tidak digubrisnya, Val pun menebas Arthur yang segera ditangkisnya.


TRANG!


"Hah?!" teriak Astrid kebingungan.


Tanpa penundaan, Val kembali menerjang kedua belah pihak sekaligus yang membuat masing-masing dari mereka bertempur secara tiga arah.


Tanda telah diberikan oleh Ares yang telah berada di tengah medan perang. Gale dan Marie pun bergegas mendekati Ares setelah banyak membantai ketiga belah pihak tanpa pandang bulu sesuai apa yang telah diperintahkan kepadanya.


JRASH!


BAK!


"Argh!"


"Gnery, apa yang akan kau lakukan?" tanya Marie.


Nada ucapannya terdengar sangat bersenang-senang. Meskipun baru saja melemparkan ujung rantainya yang berupa bola besi yang memiliki banyak duri tajam, Marie melukiskan senyuman indah di atas wajahnya.


Benar-benar menunjukkan sosok sadis seorang psikopat yang sesungguhnya.


Ares sejenak mengabaikan pertanyaan Marie. Mendapati Gale telah berlari di sampingnya, Ares sejenak memejamkan kedua matanya disaat mereka menghindari banyak pertarungan di depannya.


"Aku akan menyerang Zelhard, lindungilah dua kepala suku itu," perintah Ares.


"Dimana Lean?" tanya Gale.


"Aku memberikan misi khusus padanya," jawab Ares cepat.


"Perintah diterima," balas kedua orang tersebut.


Berpisah kembali menuju tiga arah berbeda, Gale bergerak menuju Havarr serta Marie yang menerjang musuh sembari bergerak menuju tempat Thorgils bertarung.


"Appraisal."


......................


...[Status]...


Nama : Zelhard von Ginnes


Umur : 64 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Margrave, Kerajaan Natrehn


Afiliasi : Margrave Ginnes, Kerajaan Natrehn


Statistik


Keahlian Senjata : 110 (+24)


Kelincahan : 89 (+23)


Kepandaian : 68 (+0)


Tubuh : 99 (+17)


Kepemimpinan : 81 (+0)


Loyalitas : 72


Moral : 75


Pelatihan : 80


......................


......................


...[Item]...


Nama : Hallen Longsword


Kelas : Ancient


Efek :



Keahlian Senjata +16


Kelincahan +18


Tubuh +17



Efek Khusus :



Keahlian Senjata +8 (2 jam, cooldown 6 jam)


Kelincahan +5 (1 jam, cooldown 5 jam)


Attack Speed +3%



......................


Tatapan kuat tertuju kepada Zelhard yang berjarak sedikit jauh darinya. Ares tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya dan menyerang tanpa satupun jaminan keamanan.


Menunggu kedua kepala suku tiba di dekat salah satu dari tiga jenderal terbaik Kerajaan Natrehn tersebut, Ares berniat untuk sejenak membantai para prajurit Natrehn dengan Rapiernya.


Berada di dekat kelompok Suku Timur, Gale diharuskan untuk menghindari injakan Coumbi Elephant serta tanduk White Deer yang datang menyerangnya.


JRASH!


JRASH!


JRASH!


Menebas tengkuk beberapa prajurit Natrehn yang baru saja dilewatinya dengan kecepatan penuh, para pejuang yang sedang bertarung dengan prajurit tersebut merasa sangat kebingungan.


Tidak berbeda dengan Havarr yang sedang memutar kapak perangnya di udara segera memotong beberapa prajurit di dekatnya sekaligus.


Hawa dingin sejenak terasa di punggung Havarr. Sebuah tombak pendek meluncur cepat ke arah punggungnya yang tanpa sedikitpun perlindungan.


Segera, dari balik punggung prajurit yang menyerang Havarr, terlihat sepasang mata oranye yang bersinar di tengah kegelapan medan perang.


JRASH!


"Hah?!" Havarr terkejut.


Leher prajurit penyerang seketika terputus. Havar mengalihkan wajahnya dan menemukan sosok Gale yang sedang membuka tudung jubah hitamnya.


Glup.


Terpana akan wajah Gale yang sangat cantik, tanpa sadar Havarr menelan ludah. Namun, keseriusan segera terlukis pada wajah Gale yang membuat Havarr kembali mengubah ekspresinya.


"Zelhard akan datang." Peringatan tegas diberikan Gale.


Memalingkan wajahnya kembali, Havarr segera melihat para pejuangnya yang satu persatu terbunuh karena tertebas oleh sosok pria tua yang perlahan menuju ke arahnya.


Mengepalkan erat tangannya yang menggenggam pegangan kapak, Havarr segera menerjang mendekati Zelhard yang sedang menuju ke arahnya.


JRASH!


CRASH!


BAK!


Tidak berbeda dengan Thorgils yang sejak tadi berusaha mendekati Zelhard. Terhalang oleh banyaknya para prajurit Natrehn, membuatnya harus membersihkan jalan terlebih dahulu.


Berkali-kali dirinya mendengar rintihan dan teriakan para prajurit dan pejuang. Disaat dirinya hendak menebas salah seorang prajurit, seketika leher prajurit tersebut segera terpisah dan tampak sepasang mata ungu di baliknya—yang segera menghilang.


"Hah?" ungkap Thorgils yang sedikit terkejut.


Mengadahkan wajahnya, Thorgils menyadari bahwa beberapa prajurit yang berada di jalannya menuju Zelhard seketika telah tewas terbunuh.


Meskipun merasakan keanehan, namun dia tidak memiliki waktu untuk sejenak memikirkan hal tersebut. Tatapan Thorgils pun secara naluriah tertuju kepada Zelhard yang membantai banyak pejuang.


Amarah kembali muncul. Mengangkat tinggi Greatsword yang dimilikinya, Thorgils pun dengan ganas menerjang seseorang yang merupakan komandan musuh tersebut.


"Oooohhh!"


...----------------...