I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 78 : Gerak Faksi Istana



Tahun 1236, 8 Juli.


Istana Kerajaan, Ibukota Lombart.


Malam Hari.


Siapa sebenarnya wanita itu?!


Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya!


Mengapa dia sangat mirip dengan bibiku?!


Di dalam suatu ruangan dengan pencahayaan minim di istana kerajaan bagian dalam, Katherine melangkahkan kecil kakinya dengan terburu-buru karena hatinya yang sangat gelisah.


Hingga sampai di suatu titik yang tak jauh dari tempatnya beranjak sebelumnya, dirinya pun berbalik dan berjalan kembali seolah sangat menunjukkan kebingungannya yang luar biasa.


Tidak ada seorangpun di dalam ruangan tersebut hingga dirinya dapat dengan leluasa mengeskpresikan karakternya yang sebenarnya.


Kegelisahan Katherine—bersama dengan para bangsawan faksi istana lain—dimulai ketika mereka melihat seorang wanita yang mendampingi Excel saat prosesi upacara pernikahan. Tidak hanya itu, Katherine bersama para bangsawan faksi pun segera kehilangan sosok tersebut tepat setelah keluar dari tempat upacara dilangsungkan.


Tidak mungkin bertanya kepada Excel dan Ares karena Katherine tahu bahwa mereka berada dalam posisi yang beroposisi.


Kriieet.


Pintu kayu perlahan terbuka yang menyebabkan Katherine memperbaiki sikapnya seperti sedia kala.


Seorang pria paruh baya berambut putih pun memasuki ruangan bersama dengan suaminya, Pangeran Lucas, yang segera diikuti oleh sosok Perdana Menteri, Duke Holfart.


"Apakah ayah telah menemukan wanita itu?" tanya Katherine dengan nada khawatir.


"Belum," jawab Duke Linius.


Ucapan berat seolah menunjukkan amarah yang terpendam, sedikit membuat Katherine takut karena ayahnya yang tidak pernah menunjukkan perlakuan ini kepadanya.


Tentu, kata "belum" dan "tidak" memiliki arti yang sangat berbeda. Mereka bertiga tahu bahwa Duke Linius tidak akan pernah melepaskan saudara perempuannya yang telah menjadikan nama baik Keluarga Linius jatuh—karena dianggapnya telah membuat garis keturunan Linius tercemar oleh kutukan.


"Beberapa hari lalu, aku mendengar kabar bahwa Margrave melakukan pertemuan dengan para pedagang. Di samping kasus dengan seseorang berwujud Ratu Ketiga, aku merasa bahwa kita harus bergerak melawan Ares," ucap Lucas.


"Tidak, mohon untuk tidak terburu-buru. Apakah Anda telah melupakan bahwa Ares memenangkan perang melawan Natrehn? Kita tidak dapat bertindak dengan gegabah mengingat bahwa kita tidak mengetahui satupun kartu yang tersingkap di balik tangannya," timpal Perdana Menteri.


"Di samping itu, perilaku tikus Alein semakin mencurigakan. Mohon untuk tidak membuang-buang waktu dengan Ares untuk saat ini, meskipun saya akan tetap mencari keberadaan dari wanita yang berwujud Ratu Ketiga," sambung Duke Alein.


"Kuh..." timpal Lucas.


Tidak dapat membantah, Lucas hanya dapat menerima saran yang disampaikan oleh kedua pendukung politiknya tersebut, meskipun dirinya benar-benar tidak menginginkan Ares—yang telah merebut semua prestasi militernya—dan Excel—seorang wanita yang dibencinya—untuk hidup dengan tenang.


"Saya mengerti kegelisahan Anda, Yang Mulia. Maka dari itu, saya akan mengirimkan seseorang kepada mereka. Jika dia terbunuh, maka kami tidak dapat secara serampangan menyentuhnya," balas Duke Alein.


Perasannya menjadi sedikit cerah. Lucas pun menyetujui dan berkata, "Aku mengerti. Jika itu terjadi, kita harus memfokuskan gerakan faksi melawan Zee untuk sementara sembari mempersiapkan rencana untuk menghadapi Ares dengan lebih matang."


Duke Alein memejamkan kedua matanya. Sejenak keheningan untuk memberikan persetujuan kepada perkataan Lucas, dia pun berkata, "Falcon."


"Akan," jawab suara tanpa nada yang bergema di dalam ruangan.


Mereka berempat telah terbiasa. Sosok tanpa kehadiran tersebut telah menjadi kaki tangan untuk melakukan segala pekerjaan kotor Duke Linius.


Merasa pembunuh tersebut telah pergi, Lucas mengalihkan wajahnya kepada Katherine dan berkata, "Bagaimana keadaannya?"


"Tidak masalah," jawab Katherine.


Percakapan tanpa sedikitpun kepedulian di dalamnya.


Bagi Lucas dan Katherine, yang menikah tanpa ada perasaan saling menyukai diantara mereka, tentu menganggap anak mereka—yang belum berusia satu tahun—hanya sebagai alat untuk meneruskan kekuasaan rumah mereka.


Tanpa satupun belas kasih, Lucas bertanya mengenai keadaan anaknya agar tidak terjadi masalah—dimana dirinya benar-benar menjaga alat politiknya di masa depan, yang juga tidak berbeda dengan tiga orang lainnya.


Keluar melalui salah satu sudut istana kerajaan, Falcon—bersama lima bawahannya—mengendap-endap menyusuri Distrik Bangsawan menuju kediaman Rueter di ibukota.


Klan Cornwall tentu saja mengetahuinya. Memiliki kebanggaan sebagai pembunuh bayaran—meskipun telah bersumpah setia—tentu tidak ada suatu operasi pembunuhan yang tidak dapat digagalkan sekalipun—kecuali hanya oleh Tuannya.


Di salah satu jendela bangunan kosong, Lean pun tetap diam dengan membidik dan menunggu hingga Kelompok Falcon tiba di sebuah persimpangan gang kecil yang diapit oleh dua bangunan kantor pemerintah.


Lean mengambil napas dalam, ia mengeluarkannya secara perlahan sembari berkata, "Fuhh..."


Anak panah seketika terlepas dari tangannya. Tanpa sedikitpun kehadiran dan nafsu membunuh yang dikeluarkannya, anak panah segera menusuk salah seorang bawahan Falcon.


Memandang rendah para pembunuh di bawahnya yang berada tidak jauh dari tempatnya berpijak, Lean meletakkan busurnya di balik punggungnya dan mengeluarkan dua belatinya sembari melompat turun dari jendela bangunan yang berada di lantai tiga—dengan gerakan cepat tanpa mengeluarkan sedikitpun nafsu membunuh dan hawa keberadaan.


Hening, tidak ada diantara para pembunuh Duke Linius yang tidak terkejut. Bagi mereka, yang dianggap sebagai pembunuh terbaik di seantero Kerajaan Rowling, menganggap aneh kejadian rekan mereka yang terbunuh—yang mana tidak seorangpun merasakan anak panah yang melesat ke arah mereka.


Meskipun Falcon dan bawahannya memiliki statistik Tubuh yang tinggi, namun mereka tentu tidak dapat mengelak dari kematian akibat tembakan "one hit kill" Zarrex Bow—yang bahkan Ares juga akan seketika terbunuh.


Sepasang mata abu-abu sejenak bersinar dari balik bangunan—yang tidak diketahui Falcon dan para bawahannya. Lean bergerak cepat mendekati salah satu bawahan mereka dengan belati yang terhunus.


Seketika melihat musuh berada tepat di pelupuk matanya, salah satu pembunuh berkata, "Eh?"


JRASH!


Leher pembunuh pun terputus. Semua anggota yang memasang sikap waspada segera mengalihkan pandangannya menuju sumber suara dan tidak menemukan seorangpun kecuali rekan mereka yang tewas—karena Lean yang segera melompat mundur setelah membunuhnya.


Falcon tahu bahwa musuhnya kali ini berada jauh di atas level kelompoknya. Dia pun memutuskan untuk memberi tahu Tuannya dan memerintahkan salah satu bawahannya untuk kembali dengan memberi tanda berupa gerak tangan.


"Berpencar," perintah Falcon.


Empat orang pembunuh yang tersisa segera berpencar menuju arah yang berlainan. Namun, salah seorang dari mereka menyadari musuh terlihat tepat di sampingnya.


JRASH!


"Argh!" teriak pembunuh tersebut.


Melihat pembunuh tersebut jatuh tersungkur setelah lehernya tertebas, Lean melompat dengan memanfaatkan kecepatannya menuju salah seorang pembunuh yang mencoba kabur.


Nafsu membunuh pekat yang sengaja dikeluarkan Lean membuat seorang pembunuhpun mencoba berbalik menghadapinya. Seolah tidak mengizinkan gerakan lengkap, Lean segera menendang perutnya sembari menusukkan belati ke punggungnya.


"Ugh," teriak pembunuh tersebut.


Berbalik sembari mencabut belati, Lean melihat dua pembunuh telah berada sedikit jauh darinya. Merasakan busur yang telah dapat digunakan kembali, Lean menarik busur beserta satu anak panah dari punggungnya sembari membidik bawahan Falcon.


JRASH!


Kurang dari dua detik, anak panah meluncur dan membunuh bawahan terakhir Falcon dengan menusuk punggungnya—hingga seluruh tulang punggungnya retak.


Mengganti senjatanya kembali, Lean pun mengejar Falcon hingga berada di ujung gang yang hampir memasuki jalan utama distrik.


Bertaruh nyawa.


Hanya hal tersebut yang dapat Falcon pikirkan disaat dirinya merasa bahwa kematian akan terjadi kepadanya jika dia tetap memaksakan berlari menuju istana. Falcon berbalik dengan menghunuskan pedang pendeknya.


Melihat Lean yang berlari ke arahnya, Falcon menerjang Lean dengan pedang yang terhunus.


TRANG!


TRANG!


Cepat.


Falcon tidak pernah melawan sosok pembunuh yang mampu mengimbanginya.


Penyesalan pun segera terukir di hatinya.


Menghunuskan senjatanya dari samping untuk menebas leher Lean, Falcon pun seketika tidak merasakan apapun di tangan kanannya yang menggenggam pedang.


Hal tersebut dikarenakan Lean telah menebas tangan Falcon dengan belati di tangannya yang lain.


JRASH!


Kekalahan telak.


Falcon segera merasakan kepalanya yang tidak lagi tersambung dengan tubuhnya karena terkena tebasan belati Lean. Tubuhnya jatuh tersungkur dengan banyak darah yang mengucur darinya.


Memandang rendah pada Falcon yang tubuhnya bersimbah darah, Lean pun membersihkan kedua belatinya dengan mengayunkannya ke depan sembari berkata, "Che, perkakas sekali pakai."


...----------------...


Catatan :


Last chapter from The Capital City Lombart sub arc. Setelah ini memasuki Northern Barbarian sub arc (Barbarian Utara) lalu sub arc utama dari Arc Kudeta, Chaos of The West Continent (Kekacauan Benua Barat).


...----------------...