
Tahun 1236, 30 Juni.
Mansion Margrave Rueter, Ibukota Lombart.
Siang Hari.
Langit cerah menyambut langkah seorang aristokrat muda berambut biru menapaki halaman mansionnya.
Tak jauh dari tempatnya berada, seorang aristokrat muda tampan berambut kuning emas dengan perawakan tinggi mengenakan pakaian glamor yang ditemani oleh istrinya, seorang wanita cantik dengan kesan "ibu" yang memiliki rambut coklat panjang dan mengenakan gaun formal—yang baru saja turun dari gerbong kereta kuda mereka—segera mendekati pria yang datang kepada mereka.
Tentu saja, pria tersebut adalah pewaris salah satu dari dua rumah bangsawan Kerajaan Rowling yang memiliki pangkat Margrave, Warren von Francois, serta istrinya yang berasal dari rumah Count, Ann von Francois.
Segera bertemu, Ares mengulurkan tangannya untuk menjabat sembari berkata, "Lama tidak berjumpa, Tuan Warren."
Menerima uluran tangannya, Warren pun segera tersenyum kecut dan membalas, "Sejak Akademi bukan, Margrave?"
Pandangannya teralihkan menuju wanita di samping Warren. Menundukkan ringan kepalanya, Ares berkata, "Anda juga, Nyonya Ann."
"Fufufu, saya sedikit merindukan masa-masa kami bersama menjadi anggota organisasi kesiswaan di Akademi dahulu, Margrave," timpal Ann dengan terkikik.
Hanya senyum masam yang terlukis di wajah Ares karena dia mengingat masa-masa yang baginya sangat "polos" dahulu. Lalu, dia membalas, "Mari saya bimbing menuju tempat yang telah kami persiapkan."
Berjalan sedikit di belakang, Warren pun mengerutkan keningnya karena menilai sikap Ares yang tidak pada tempatnya.
Untuk apa dia mengundang kami, yang merupakan faksi oposisi dengan Duke Linius dan Keluarga Kerajaan, sedangkan dia sendiri telah bertunangan dengan Excel?
Berharap agar pria di depannya menyadarinya, Warren berkata dengan niat sarkasme, "Hidup ini tidak pernah benar-benar sesuai dengan ekspektasi kami, bukan? Saya tidak pernah menyangka bahwa Anda akan bertunangan dengan Yang Mulia tepat setelah menjadi seorang Margrave."
Ares—yang tentu saja menyadari bahwa dirinya dianggap sebagai Anjing Keluarga Kerajaan—segera tersenyum masam karena Warren yang dianggapnya hanya mengetahui Excel dari permukaannya saja.
Hanya terdiam, Ares tidak ingin membuang tenaganya hanya untuk menanggapi sarkasme Warren, yang merupakan teman satu kelasnya dahulu, dan membalas dengan nada bertanya-tanya, "Yah... saya juga tidak pernah menyangkanya."
Ares menyadari bahwa mayoritas bangsawan faksi oposisi yang diundangnya tidak menghadiri dan diwakilkan oleh penerus rumah mereka yang seharusnya para kepala keluarga mereka juga datang untuk menghadiri acara pertemuan bangsawan tengah tahun besok.
Melihat beberapa bangsawan yang sebelumnya telah datang, Ares menilai bahwa mereka kebanyakan menghadiri undangan hanya untuk menghormati House of Rueter, yang mana mereka tidak ingin menjadi musuh dari rumah bangsawan yang telah membabat habis 80.000 tentara Natrehn sebelumnya.
Di depan pintu aula besar berwarna kecoklatan yang di setiap sisinya terdapat seorang pelayan, segera terbuka di saat mereka tiba.
Di dalammya, beberapa bangsawan yang telah datang segera berdiri dari kursinya untuk menyambut bangsawan paling berpengaruh di dalam faksi oposisi setelah mereka melihatnya berjalan mendekati kursi.
Menyelesaikan sambutan dan sapaan ringan mereka sebagai formalitas bagi seorang bangsawan, mereka pun segera duduk di tempat yang telah disediakan.
"Selamat datang di Kediaman Rueter, Tuan dan Nyonya. Saya, selaku Margrave Rueter dan pengirim undangan, sangat berterima kasih atas partisipasi Anda yang bagi saya benar-benar sangat berharga," sambut Ares dengan menundukkan ringan kepalanya.
"Tidak ada maksud khusus bagi saya untuk mengirimkan sebuah undangan kepada Anda sekalian. Namun... perasaan saya menjadi sedikit sedih karena melihat kurangnya partisipasi langsung dari para pemilik rumah..." sambung Ares dengan menatap penuh kesedihan.
Para bangsawan yang diundang oleh Ares—dimana mayoritas dari mereka adalah faksi oposisi Ectave dan bangsawan tingkat rendah yang putri mereka menjadi korban Pangeran Kedua—segera mengambil sikap kontra yang terlukiskan di wajah mereka dikarenakan mereka yang merasa diolok-olok.
Hal tersebut dikarenakan Ares—yang merupakan bangsawan dengan kekuatan besar dan tunangan dari anggota keluarga kerajaan—mengatakan kepada mereka bahwa kepala keluarga dari rumah mereka adalah seorang pengecut karena tidak berani menghadiri undangannya secara langsung.
Tidak dapat menolak dan memprotes dikarenakan perkataan Ares adalah sebuah fakta, beberapa bangsawan hanya dapat menggertakkan giginya.
Tentu saja, tidak ada dari mereka yang merupakan kepala keluarga bangsawan dari rumah Lily—seorang wanita yang dicintai Ares sebelum menerima transmigrasi jiwa—yang menjadi korban pemerkosaan Pangeran Kedua dikarenakan rumahnya yang telah dihancurkan.
"Saya mengundang Anda hanya bermaksud untuk mengajak Anda sekalian untuk kembali memperbaiki nama baik dan kehormatan Anda," sambung Ares.
Tatapan para bangsawan tertuju pada senyum Ares yang membuat mereka semua sedikit geram. Tak terkecuali Warren dan Ann—yang mengenal baik Ares semenjak mereka berada di Akademi—mereka tidak menyangka bahwa Ares, yang sebelumnya mereka kenal sebagai seorang anak pendiam, akan mengalami perubahan yang sangat tidak wajar.
Menatap tajam pada Ares, Warren bertanya dengan nada berduri, "Bolehkah saya mengetahui apa maksud dari kehormatan yang Anda katakan tersebut?"
Tentu saja, Warren dan Ann sangat mengenal baik seseorang yang memiliki julukan White Demon dan Jenderal Tanpa Pasukan. Karena sifatnya yang sangat mudah dipermainkan emosinya, mayoritas bangsawan yang hadir memenuhi undangan Ares menganggap Excel sebagai boneka Keluarga Kerajaan—yang mana mereka tidak mengetahui permusuhan Excel dengan Duke Linius, Duke Holfart, beserta ayahnya, Ectave III.
Tepat seperti apa yang Ares harapkan. Seorang pewaris—yang merupakan seorang aristokrat muda yang baginya hanyalah seseorang dengan umur setahun jagung—tentu saja mudah terpancing dengan provokasi Ares. Mempermainkan emosi lawan dan menggiring mereka menuju apa yang dia harapkan adalah caranya dalam melakukan setiap perundingan.
Tentunya, sebelumnya Ares telah mengira para kepala keluarga hanya akan mengirimkan pewaris mereka untuk bertindak sebagai perwakilan mereka. Bagi mereka, mayoritas menganggap Ares hanyalah seorang anak kecil yang sedang naik daun karena keberuntungan. Tidak mengira bahwa hal tersebut merupakan tujuan Ares sebenarnya.
"Kehormatan rumah aristokrat yang wilayahnya telah direbut secara paksa, kehormatan rumah aristokrat yang kesucian putrinya telah ternodai, kehormatan rumah yang telah dipermainkan dan dipermalukan selama puluhan tahun terakhir," jawab Ares.
Gonggongan seekor anjing.
Hanya hal tersebut yang mayoritas para bangsawan segera anggap setelah mendengar kata-kata tersebut. Ann, yang sangat mengenal baik Ares, benar-benar tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut akan terucap dari mulutnya.
Mengapa kamu memerintahkan kami untuk bersujud patuh kepada faksi istana?
Tentu saja, tidak ada yang mengira Ares hendak melakukan sebuah kudeta. Tidak terpikirkan oleh mereka bahwa Ares—yang hanyalah seorang bangsawan pedesaan seperti mereka—akan menggulingkan kekuasaan.
Sedikit muak karena merasa telah dipermainkan. Hanya hal tersebut yang ada di dalam benak mereka. Kata-kata yang hanya berisi umpatan seolah telah berada di ujung lidah dan akan segera terlontar apabila Ares semakin merendahkan martabat para bangsawan tersebut.
...----------------...