I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 71 : Serangan!



Tahun 1236, 4 Juli.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Malam Hari.


Terhina.


Sejenak terpengaruh emosi.


Tidak pernah sekalipun Klan Cornwall mengalami kegagalan operasi secara berturut-turut dalam suatu misi pembunuhan—yang bahkan target mereka saat ini tidak memiliki satupun ksatria pengawal berkualitas.


Akibat dari perkataan Ares, sedikit kekesalan muncul di dalam benak masing-masing pembunuh. Tetap saja, pelatihan dan pengalaman yang berlimpah tidak membuat mereka mudah terpancing.


"Formasi A," perintah Lean.


Tenang, bernada acuh tak acuh. Lean memberikan perintah lugas dengan memberi tanda berupa dua jari terpanjang diarahkannya ke depan.


Dua anak panah dari atas segera meluncur jatuh. Seolah tak ingin tertinggal, enam orang pembunuh segera bergerak menyerang tanpa sedikitpun suara dan kehadiran yang terasa.


"Appraisal," ungkap Ares lirih.


Pikiran Ares berputar sangat cepat, segala informasi muncul di dalam bidang pandangannya. Memaksakan kemampuannya untuk terus aktif, tanpa sadar tetesan darah mengalir dari kedua matanya saat Ares mencabut Rapier sembari tangan kirinya memegang kedua gagang pedang yang tersarung di pinggulnya secara bersamaan.


TRANG!


Gerakan cepat, Ares menangkis dua panah yang melesat sangat cepat menuju kepalanya sekaligus. Meskipun keterkejutan muncul di dalam benak mereka, para pembunuh telah memahami bahwa Ares tidak dapat dibunuh hanya dengan hal seperti itu.


Beberapa waktu berlalu, dengan menggunakan kemampuan Appraisalnya, Ares mengetahui bahwa efek bertumpuk akan didapatkan hanya jika telapak tangannya memegang gagang atau pegangan suatu senjata.


Mengetahui dirinya yang tidak nyaman disaat dia menggunakan dua pedang untuk bertarung—meskipun keahlian menggunakan senjatanya meningkat—Ares memikirkan ide pertarungan dimana dia menggunakan Rapier dengan tangan kanannya sembari memegang gagang dua pedang—dimana merupakan batas lingkar telapak tangannya—yang tersarung di pinggul kirinya dengan tangannya yang lain.


Seketika telah merunduk di bawahnya dengan belati yang terhunus, tiga pembunuh segera mengarahkan belatinya kepada Ares dari tiga arah yang berbeda—yang bagi mereka sangat mustahil untuk bereaksi, bahkan untuk pembunuh terbaik yang mereka ketahui.


Ketenangan tetap ada di dalam benaknya.


Ares telah memperkirakan pola serangan seperti ini sebelumnya. Ia pun memiringkan tubuhnya hingga terlihat seperti garis horizontal yang membuat tubuhnya jatuh ke bawah.


Sangat cepat.


Tidak ada yang menyangka Ares akan melakukan hal yang menurut mereka sangat mustahil tersebut. Belati mereka pun menebas ruang kosong di udara karena tubuh Ares yang telah meluncur jatuh ke bawah.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, dua kakinya—yang tepat berada di depan perut dua pembunuh—segera menendang perut mereka sembari mengarahkan tangan kirinya untuk menarik kaki pembunuh yang berdiri di sisi kepalanya.


BUAK!


"Argh!" teriak dua orang tersebut.


Kaki yang ditarik seketika membuat pembunuh tersebut kehilangan keseimbangan yang membuatnya jatuh ke belakang.


Tiga orang lain segera datang dari atas. Menilai bahwa Ares tidak dapat berkutik, mereka menghunuskan pedang pendeknya ke bawah dimana tubuh targetnya berada.


Memanfaatkan statistik Tubuhnya yang telah melebihi angka 100—yang bahkan tidak lagi dapat dibandingkan dengan Excel—Ares segera melemparkan tubuh pembunuh ke atas hingga dia menabrak tiga rekannya yang lain.


BUGH!


Berguling, Ares menghindari empat orang yang meluncur jatuh ke tempat dimana dia berada sebelumnya sembari bangkit dengan melompat serta menyarungkan Rapiernya kembali.


BAK!


Empat orang telah jatuh ke tanah, Ares pun menarik Rapier yang tersarung kembali dan memukulkannya kepada enam orang yang terbaring di tanah dengan memanfaatkan kecepatannya yang sangat luar biasa—yang menyebabkan mereka seketika pingsan.


Sangat tidak masuk akal.


Hanya hal tersebut yang terlintas di dalam benak Lean dan 22 anggota lain yang sedang bersiaga disaat mereka melihat kejadian yang terjadi hanya dalam rentang waktu sekitar 10 detik tersebut. Pikiran segera berputar cepat, tidak mungkin menyerang Ares secara bersamaan yang bisa saja mereka tertusuk oleh rekan mereka sendiri.


"Formasi D, Formasi E, lakukan serentak," perintah Lean.


Empat anak panah melesat dari bidang atap bangunan. Tidak berbeda dengan delapan pembunuh yang bersiaga di beberapa sudut kegelapan, bergerak menerjang Ares dengan senjata yang terhunus.


Tangan kiri Ares sekali lagi memegang kembali dua gagang pedang yang tersarung di pinggul kirinya. Menghindari anak panah yang memiliki kecepatan sekitar 5 kali kecepatan penuh kuda perang berlari, Ares pun mengarahkan sarung Rapier—yang juga berbentuk lancip—kepada ulu hati salah satu pembunuh.


DUK!


"Ugh!" teriak Pembunuh tersebut kesakitan.


Tusukan kuat membuat pembunuh tersebut sedikit terdampak mundur hingga tidak sadarkan diri. Meskipun tersarungkan, namun hal tersebut tidak membuat efek Rapier—yang berupa pertambahan Critical Rate sebesar 20%—menghilang.


Tentu, tidak ada sikap selayaknya seorang ksatria saat bertarung melawan sebuah klan yang bernaung di dalam kegelapan dunia. Merasakan empat senjata akan mengenai tubuhnya, Ares segera menarik jubah pembunuh yang baru saja diserangnya dan melemparkannya ke arah salah satu senjata yang terhunus tersebut sembari bergerak ke arah dua senjata lain.


Tombak pendek dan pedang satu mata yang menurut Ares sangat mirip dengan Katana, terhunus ke arahnya. Tebasan pedang yang meluncur dari samping, segera dikaitkannya dengan Rapier yang tersarung dan membuangnya menuju tombak pendek yang hendak menyerangnya.


"Hah?!" ujar Pembunuh dengan pedang.


BUGH!


Pedang pendek dipastikan akan mengenai rekannya yang ada di baliknya. Tidak ingin membuang bawahan kompeten, Ares pun segera menendang Pembunuh bersenjata pedang pendek tersebut tepat mengenai alat vital bagian bawahnya.


Ada sedikit perasaan syukur yang muncul dari Pembunuh yang hampir terkena tusukan pedang pendek, namun harapan itu segera pupus disaat ulu hatinya terkena tusukan sarung Rapier Ares. Tidak berbeda dengan rekan di sampingnya yang seketika jatuh pingsan saat kepalanya terkena tebasan sarung Rapier Ares.


Berlari menaiki gerbong karena merasa empat pembunuh lainnya mendekat, sekali lagi empat anak panah melesat ke tempat Ares berada.


BRUK!


Atap gerbong kereta kuda seketika pecah karena telah dipersiapkan sebelumnya, Ares meluncur masuk ke dalamnya dan segera menarik kain lebar disaat kakinya menendang pintu gerbong.


Segera dari balik pintu, sebuah tombak pendek—yang merupakan senjata kelas Rare—melesat menuju kepalanya yang membuat Ares tersenyum tipis. Mengayunkan Rapiernya ke depan hingga terlepas dari sarungnya sembari menggenggam dua gagang pedang di pinggul kirinya setelah melepas kain, Ares pun sekali lagi mengayunkan Rapiernya secara vertikal disaat ujung tombak pendek tersebut berjarak 2 meter tepat di depannya.


KRAK!


Seketika hancur berkeping-keping.


Tidak ada diantara anggota Klan Cornwall yang tidak membuka lebar matanya karena pemandangan yang sangat tidak masuk akal tersebut.


Mustahil!


Bagaimana bisa?!


Cih, kami terpaksa untuk serentak menyerangnya dan menggunakan senjata rahasia jika seperti ini!


"Formasi H," ujar Lean.


Gale dan beberapa anggota klan lain di dekatnya seketika menatap tidak percaya kepada Lean, namun mereka segera memantapkan hatinya untuk melaksanakan perintah.


"Appraisal," ungkap Ares lirih kepada dirinya sendiri.


......................


...[Status]...


Nama : Ares von Rueter


Umur : 17 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Margrave, Kerajaan Rowling


Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 63 (+115)


Kelincahan : 61 (+114)


Kepandaian : 64 (+70)


Tubuh : 61 (+91)


Kepemimpinan : 64 (+80)


Kewilayahan dan Militer


Jumlah Prajurit : 45.000


Moral : 82


Pelatihan : 81


Pasokan Makanan : 7.251.450


Jumlah Dana : 8.126.057.128 G


......................


Melirik kedua pedang di pinggulnya, Ares pun kembali tersenyum masam karena mengingat saat dirinya bersujud kepada Excel untuk meminjam dua senjata terbaiknya yang menyebabkan Excel sangat keheranan.


Terima kasih!


Aku benar-benar sangat mencintaimu, Excel!


Jadi, keluarkan senjata andalan kalian, Cornwall!


...----------------...