I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 144 : Konvensi Scandiva?



Tahun 1237, 30 April.


Ibukota Kerajaan Natrehn, Scandiva.


Pagi Hari.


"Sebelumnya, sebagai pertanggung jawaban atas perbuatan kedua Pangeran Kerajaan Rowling yang telah melanggar isi Perjanjian Ligard dengan menginvasi wilayah para bangsawan Kerajaan Natrehn, Margrave Rueter berjanji akan mengganti seluruh kerugian yang Anda sekalian alami." Kata-kata Ares membuat tidak hanya para bangsawan Natrehn terkejut, para bangsawan Rowling, Sieg, dan bahkan Excel pun tercengang terhadapnya, menyisakan Alfr dan Astrid yang kebingungan.


"A—apa yang kau katakan, Sayang?!" Tanpa sadar, Excel mengatakan tanpa sedikitpun keformalan dalam nadanya, yang juga membuatnya semakin mengencangkan cubitannya hingga membuat kening Ares berkerut menahan rasa sakit yang begitu besar.


"B—benarkah?!"


"A—apakah Anda benar-benar akan melakukannya?!"


"To—tolong jangan berikan harapan tinggi kepada kami! Kerugian seluruh bangsawan Natrehn bisa saja melebihi jumlah satu tahun anggaran negara!" Berbeda dengan suara-suara penuh harapan yang dilontarkan para bangsawan Natrehn, Kristin berteriak keras menentang.


Teringat kembali saat dirinya mendapat perawatan oleh Ares—yang menyebabkannya tanpa sadar hampir jatuh cinta kepadanya—Kristin segera menganggap bila bualan Ares hanya omong kosong dan berupa harapan palsu belaka, yang ia tolak dengan halus.


Ares menepuk-nepuk tangan Excel yang mencubitnya dengan cepat hingga penderitaannya berakhir. Tanpa sedikitpun mengubah wajah datarnya, sembari ia membelai lembut kulitnya yang telah membiru, Ares kembali membuka kedua bibirnya, "Berapa jumlah anggaran Natrehn dalam satu tahun?"


"Empat..." Kristin sejenak menghentikan perkataannya, sedikit takut menyebutkan sebuah angka yang tidak akan pernah keluarganya miliki.


"Empat?" timpal Ares.


"Empat ratus... juta G." Kristin melanjutkan perkataannya dengan nada yang semakin lirih.


Heh?


Mental kalian masih berada dalam kemiskinan, bukan?


Ares tersenyum kecut, timbul sedikit perasaan bangga karena ia dapat menekan para bangsawan lain dengan uangnya, "Dua kali lipat."


"Apa... yang Anda maksud, Margrave?" tanya Kristin yang tidak mengerti.


"Saya akan menawarkan ganti rugi sebesar dua kali lipat anggaran tahunan Natrehn dengan syarat bila setengah dari rampasan perang serta seluruh wilayah yang berada di bawah kekuasaan langsung Keluarga Kerajaan Natrehn jatuh kepada saya." Para bangsawan Natrehn sejenak tidak bergeming terhadap perkataan Ares, bahkan Sieg serta gadis di sampingnya tanpa sadar sedikit menganga karena sangat shock dengan jumlah yang Ares tawarkan.


"Sayang, apa yang ingin kau lakukan?!" bisik Excel.


"Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir. Modal kita akan segera kembali, meskipun dalam bentuk yang lain," timpal Ares dengan berbisik.


"Hm." Excel sedikit menggelembungkan kedua pipinya karena tidak puas, "Jangan melakukan sesuatu yang dapat membuatku khawatir!"


Balasan lirih yang kuat dari istrinya membuat Ares kembali tersenyum kecut, "Ya, jadi tolong tenanglah."


Serangan pertama, kekuatan finansial.


Untuk menggerakkan suatu wilayah, para bangsawan juga tetap membutuhkan uang. Mereka bukanlah kelompok yang memiliki keuangan tidak terbatas. Terlebih lagi, mereka baru saja berperang yang membuat mereka sangat panik untuk mengisi dompet mereka yang sangat tipis.


"Aku mau." Tanpa sadar, seorang gadis berambut merah gelap panjang dengan ketinggian rata-rata yang memiliki wajah cantik dengan kesan dewasa mengungkapkan keinginannya.


"Um, maaf?" Meskipun Ares mengetahui identitasnya, akan sangat tidak wajar bila ia tidak berkenalan terlebih dahulu, yang membuat Ares memiringkan kepalanya, berpura-pura tidak mengenalnya.


"Ah." Gadis tersebut menutup mulutnya dengan cepat dan dengan cepat menundukkan kepalanya, yang mana membuat Sieg juga sangat terkejut dengan perkataan gadis tersebut, "Permintaan maaf terdalam saya."


Kepalanya terangkat kembali, gadis tersebut tersenyum cerah, "Izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, walaupun mungkin beberapa diantara Anda sekalian telah mengenal saya. Nama saya Charlotte vi Mana, Putri Pertama Kerajaan Mana. Senang bertemu dengan Anda sekalian."


Tatapan semua orang berpaling kepada Sieg—yang tiba tepat satu hari yang lalu—dimana tidak terdapat seorangpun diantara para bangsawan yang mengenalnya, terkecuali Kelompok Ares dan Charlotte.


Berbeda dengan Alfr serta Astrid yang telah memperkenalkan dirinya sebelumnya, Sieg sejenak terdiam, ia segera mengingat bahwa dia belum memperkenalkan dirinya sama sekali, yang membuatnya menjadi sangat panik, walau dia berhasil tetap mempertahankan wajah datarnya, "Mohon maaf."


Sieg menunduk dalam, "Nama saya Sieg vi Lethiel, Putra Mahkota Kerajaan Lethiel. Senang bertemu dengan Anda sekalian."


"Kalian sangat serasi." Kata-kata tanpa nada Ares menjadi penutup perkenalan keduanya, hingga membuat Excel, Kristin, dan beberapa bangsawan lain terkikik dengan menyembunyikan mulut mereka demi menjaga kehormatan dan wibawanya.


"Dan juga... mohon maaf, saya tidak menawarkan hal tersebut kepada Anda." Perkataan Ares membuat Charlotte kecewa, hingga tanpa sadar membuatnya sedikit tertunduk sedih.


"Menjawab penawaran Anda sebelumnya..." Kesepakatan dalam diam terbentuk diantara para bangsawan Natrehn, membuat Kristin mengutarakan pendapatnya, "Saya kira, kami membutuhkan waktu untuk memutuskan hal tersebut."


"Baik," timpal Ares.


"Jika begitu... saya akan menyingkirkan permasalahan pasca perang terlebih dahulu. Izinkan saya memulai dari permasalahan pertama." Kristin menarik napas dalam, mempersiapkan dirinya, "Seperti yang telah Anda ketahui sebelumnya, Keluarga Kerajaan Natrehn berasal dari Keluarga Keuskupan Gereja Arafant."


Kristin menyuarakan dengan terang, tanpa menyembunyikan sedikitpun informasi yang ia simpan sesuai dengan kesepakatan para bangsawan Natrehn, membuat masing-masing dari pendengar mengencangkan ekspresinya, "Ancaman terberat yang akan menimpa seluruh negara di Benua Barat adalah Ksatria Suci Arafant serta Kekaisaran Suci Alven."


"Mengapa kita tidak memerangi mereka?" Pertanyaan Astrid yang sangat polos membuat para bangsawan mengalihkan perhatiannya dengan takjub.


"Nona Astrid... bukan?" tanya Kristin memastikan.


"Benar," jawab Astrid.


"Mereka adalah salah satu pasukan terkuat di dunia. Tidak mungkin kita akan melawan mereka jika kita tidak menggabungkan seluruh pasukan kita... walau mungkin presentase kemenangan kita akan sangat rendah," jawab Kristin.


"Berapa banyak pasukan mereka?" Kening Alfr berkerut, ia merasa mustahil bila terdapat pasukan yang tidak dapat mereka kalahkan.


"Satu setengah juta." Meskipun telah mengetahui sebelumnya, banyak dari bangsawan yang takut untuk mendengar fakta tersebut, hingga tanpa sadar Alfr serta Astrid terdiam, sangat takjub dengan jawaban yang dilontarkan.


"Tidak perlu khawatir, mereka tidak akan menyerang." Kata-kata cerah yang terasa penuh omong kosong sekali lagi Ares lontarkan, membuatnya kembali menjadi pusat perhatian.


"Margrave, saya berkata dengan kesungguhan dari lubuk hati terdalam saya. Mohon untuk tidak mengatakan sesuatu tanpa adanya dasar yang kuat." Kristin menatap tajam pada Ares, tidak menginginkan adanya sebuah omong kosong dalam pertemuan.


"Tentu, saya tidak mengatakan hal tersebut tanpa adanya landasan yang kuat," timpal Ares.


"Bolehkah kami mengetahuinya?" Kristin berkata dengan tenang, namun matanya penuh akan celaan.


Ares mengangkat tiga jari tangan kanannya, menunjukkan bila terdapat tiga hal yang akan dipertimbangkan oleh Gereja Arafant hingga membuat mereka menolak melakukan invasi.


Kembali menutup jemarinya, perlahan jari telunjuk Ares terangkat, "Satu, dipastikan mereka akan mewaspadai Guild Pedagang."


"Benar. Perkumpulan para pedagang yang saling bekerja sama untuk melindungi dan meningkatkan aset satu sama lain. Tentu saja, organisasi tersebut akan berada di bawah perlindunganku," timpal Ares.


"Bukankah mudah bagi bangsawan dan pendeta untuk menekan para pedagang?" Merupakan organisasi yang baru dibentuk untuk pertama kalinya di dunia, Charlotte tidak memahami bagaimana cara guild akan bekerja yang membuat Ares memakluminya dengan tersenyum masam.


"Pertanyaan bagus, Yang Mulia." Ares mengambil beberapa batu kecil dari dalam sakunya dan menyebarkannya di atas meja, membuat para bangsawan dapat dengan jelas melihatnya.


"Ibaratkan beberapa batu kecil tersebut adalah para pedagang. Dalam kondisi mereka saat ini, tangan saya, yang dapat Anda bayangkan sebagai Kekaisaran Suci Alven atau bahkan Kekaisaran Renacles, dapat dengan mudah mengambil mereka satu persatu," ucap Ares.


Kata "Kekaisaran Renacles" yang baru saja disebut Ares, tanpa sadar mengintimidasi para bangsawan, yang tidak berbeda dengan Kristin walau ia dapat menahan perasaan tersebut.


"Namun, apa yang akan terjadi bila Anda diharuskan untuk mengambilnya sekaligus?" Ares mengumpulkan batu-batu kecil tersebut, berusaha untuk mengambil batu tersebut hanya dengan salah satu tangannya.


Tentu, telapak tangannya tidak akan cukup, dan bahkan akan terasa sakit akibat kontur bebatuan kecil yang tidak rata tersebut.


Tak.


Tak.


Tak.


Tak.


Serentak, banyak batu-batu kecil berjatuhan karena telapak Ares yang tidak mencukupi untuk menggenggam keseluruhan dari mereka, yang membuatnya sekali lagi tersenyum.


"Tentu saja, mereka diharuskan menekan para pedagang dengan kekuatan tambahan." Ares kembali mengambil batu-batu kecil dengan kedua tangannya, "Yang tentu saja, dengan sebuah kekuatan besar, yang tidak mungkin mereka bangun secara cepat."


Para bangsawan—termasuk Kristin, Charlotte, serta Sieg—sangat terkagum, meskipun mereka masih memiliki keraguan terhadapnya.


Serangan kedua, pengaruh politik dan diplomasi.


Para bangsawan sekali lagi dipaksa untuk menyadari kemampuan pemuda berambut biru pendek tersebut. Terlebih lagi, kekuatan militernya tidak perlu diragukan karena rekam jejaknya melawan Barlock dan Zelhard.


"Dua." Ares menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya, "Suasana dunia timur yang sedang memanas."


"Eh?" Sieg bingung.


Bagi Kekaisaran Suci Alven dan pihak gereja, akan sangat membuang-buang sumber daya untuk sebuah perang yang mereka tidak yakin akan kemenangannya disaat mereka diharuskan untuk tetap berfokus pada pergerakan Kekaisaran Renacles.


Banyak bangsawan yang tidak memperhatikan keadaan politik di luar dari benua dan negaranya, membuat mereka buta terhadap perputaran kekuatan dunia, walau mereka tetap mengetahui siapa negara besar yang patut untuk diwaspadai.


Serangan ketiga, intelejen dan informasi.


Tidak mungkin Ares akan berbohong di tengah pertemuan besar, akan sangat memalukan bagi seorang bangsawan jika mengutarakan sebuah kebohongan di atas meja perundingan.


Harga diri serta kehormatan mereka akan runtuh, mereka dipastikan akan dipandang sebelah mata oleh para bangsawan lain, menyebabkan banyak dari bangsawan seringkali memberikan sebuah jawaban yang rancu dan mengambang, yang tidak berbeda dengan seorang politikus suatu negara pada umumnya.


"Apakah itu benar?" tanya seorang bangsawan Natrehn yang masih ragu.


"Memalukan bagi seorang aristokrat untuk mengatakan sebuah kebohongan di atas meja perundingan." Pembawaannya kuat, seolah memberikan kesan mendalam dalam benak setiap lawan bicara.


Tanpa mendapat suatu respon karena para bangsawan yang hanya dapat terdiam, Ares menegakkan jari manisnya, "Tiga."


Bersamaan dengan kata-katanya, Ares mengeluarkan dua lembaran perkamen dari sakunya, berisi dua lukisan yang membuat Excel sangat bangga saat melihatnya.


Ares menggeser lukisan tersebut menuju Kristin dan Astrid untuk melihatnya pertama kali.


Tidak berbeda dengan Astrid, Kristin sangat tercengang, sangat kagum dengan lukisan tersebut. Penglihatannya berisi sebuah lukisan meriam beroda kayu yang sangat besar, berbeda dengan Astrid yang lembaran perkamennya terlukis sebuah kapal perang besar bersenjatakan puluhan meriam besar.


"Jarak terjauh 1500 meter, jarak efektif tembakan 650 meter. Dan tentu saja, versi produksi massal." Bersamaan dengan keduanya melihat, Ares menjelaskan dengan lugas.


Kristin mengalihkan pandangannya kepada Ares dengan patah, sangat ketakutan dengan sosok di hadapannya yang berpeluang besar menjadi seorang raja iblis bagi dunia, membuat Ares tersenyum masam, "Ada apa?"


Memberikan lukisan tersebut kepada bangsawan yang duduk di sampingnya, Kristin memiliki tatapan kosong, "Bagaimana..."


Kristin merasa sangat shock. Jika apa yang dikatakan Ares merupakan sebuah kebenaran, teknologi militer House of Rueter telah berada dua ratus tahun lebih maju dibandingkan dengan perkembangan teknologi militer dunia.


Excel sangat bangga atas keberhasilan penelitian tersebut. Hanya dalam rentang waktu kurang dari dua tahun—dibantu dengan pengetahuan Ares dari dunia sebelumnya—Ares dapat menyempurnakan meriam menjadi jauh lebih baik, yang membuatnya sangat kagum dengan kecerdasan suaminya.


Serangan keempat, pengetahuan dan teknologi militer.


Tersudut oleh ketinggian Ares. Tidak hanya para bangsawan Natrehn, bahkan Sieg dan Charlotte pun demikian. Satu persatu, para bangsawan hanya dapat terdiam mematung. Tidak ada yang pernah menyangka bila di hadapan mereka terdapat seseorang yang mungkin saja menjadi seorang raja iblis.


Terlebih lagi, dengan kekuatan luar biasa Excel hingga menyebabkannya memiliki nama kedua "White Demon," tidak ada yang tidak berpikir bahwa mungkin saja dunia dapat ditaklukkan olehnya.


"Jadi... apakah Tentara Suci benar-benar dapat membahayakan kita?" tanya Ares dengan tersenyum menakutkan.


Terasa kosong, Kristin; diikuti oleh satu persatu para bangsawan sekutunya; Sieg; hingga beberapa bangsawan Natrehn yang sebelumnya netral dan memihak beberapa pangeran lain bangkit dari kursinya, membuat Ares dan bahkan Excel serta para bangsawan Rowling sangat bingung dengan perilaku mereka, meskipun Charlotte tetap terdiam dengan ekspresi sulit karena hal ini menyangkut masa depan negaranya.


Alfr serta Astrid—yang memiliki perbedaan budaya—pun mengikuti. Memiliki perbedaan bentuk dan tata cara, tidak sedikitpun membuat keduanya ragu karena berada dalam satu tujuan yang sama, demi mewujudkan kedamaian di tengah keheterogenan.


Mundur dari meja hingga Ares dapat melihat keseluruhan dari mereka dengan jelas, Kristin dan para bangsawan tersebut serentak berlutut, menundukkan dalam kepalanya, "Kami, para pembesar; para ksatria; para manusia yang membawa beban berat di atas pundaknya, mengharap sebuah bimbingan, pertolongan, kekuatan, harapan, dan masa depan."


"Kami tidaklah mampu mewujudkan tujuan serta impian dengan kedua tangan ini. Sebuah tujuan untuk mencari keselamatan, tidak hanya atas diri serta keluarga, namun juga atas para penduduk yang berada di bawah naungan, serta impian atas kekayaan; kemakmuran; hingga kebahagiaan dapat tercipta di atas tanah-tanah yang menjadi milik dan tanggung jawab kami," sambung Kristin.


"Kami mohon, dengan sumpah kesetiaan tertinggi yang berasal dari lubuk hati terdalam, kami benar-benar memohon, kepada Ares von Rueter, agar menjadi seseorang yang mampu menerima permohonan kami tanpa satupun syarat yang menyertai," sambung Kristin hingga tanpa sadar meneteskan air mata.


Reaksi yang sangat tiba-tiba, Ares tidak mengerti bagaimana ia dapat membalas perkataan mereka yang diwakilkan oleh Kristin, membuatnya merasa sangat ingin menarik kembali perkataan yang sebelumnya telah ia ungkapkan.


Berbeda dengan dunia game, menjadi seorang penguasa membuatnya mengemban sebuah beban yang sangat berat di atas kedua bahunya, yang baru saja disadari oleh Ares.


Besar penyesalan timbul di dalam hati, Ares mengerti bila ia tidak dapat melangkah untuk kembali. Dengan tersenyum lemah, Ares mengukir sebuah keputusan besar dengan menggunakan lisannya, "Ya..."


...----------------...