I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 134 : Memutus Rantai Pengkhianatan



Tahun 1237, 8 April.


Desa Korgi, Jalur Helvia, Kerajaan Mana.


Siang Hari.


JRASH!


"Argh!"


Di bawah sinar mentari terik, Sieg menebas seorang prajurit Natrehn yang regunya ditinggalkan untuk menjaga pos-pos pada daerah penting yang telah Natrehn kuasai sebelumnya, yang mana merupakan desa-desa atau benteng kecil yang berada di perbatasan Kerajaan Mana.


Bau darah dan mayat menghinggapi indera penciumannya, Sieg tidak lagi merasakan adanya kehadiran musuh di dekatnya, yang mana semua dari mereka telah terbunuh dan berjatuhan di sekitar tempatnya berpijak.


Dengan kedua matanya yang sejenak menutup, Sieg mengambil napas dalam. Ia menyarungkan kembali Verze Sword—yang merupakan pedang pemberian Ares—pada salah satu pinggulnya.


"Yang Mulia!" Arthur bergerak cepat mendekat, seolah memiliki sesuatu hal yang penting untuk dikatakan.


"Ada apa?" Sieg berbalik. Tanpa sengaja, dia melihat seekor elang hitam yang telah terbang menjauh.


Besar kekaguman yang muncul dalam hati. Sieg tahu jika pelatihan burung pengantar pesan sangatlah sulit.


Pada umumnya, para bangsawan atau ksatria mengirimkan surat burung dengan elang hanya menuju tempat-tempat yang telah diketahui, seperti ibukota negara, kota utama para bangsawan wilayah, serta benteng perbatasan.


Melihat Arthur yang datang mendekat dengan sebuah gulungan perkamen yang tersegel di tangannya, Sieg sadar bila Ares memiliki beberapa teknologi pelatihan hewan pengantar pesan lebih baik serta rahasia lain, yang tentu saja tidak diketahui olehnya.


"Sebuah surat ditujukan pada Anda. Pengirimnya adalah Tuan Ares." Arthur menyerahkan gulungan di tangannya dengan sopan.


Harapannya benar. Sejenak, rasa rendah diri menyelimuti perasaan Sieg, yang segera terlepas karena Sieg sekali lagi tersadar bila Ares bukanlah seseorang yang berada dalam standar akal sehat manusia.


"Terima kasih." Sejenak melirik sekelilingnya, Sieg menemukan para prajurit Lethiel telah mengamankan seluruh area desa dan sedang menenangkan para penduduk yang sebelumnya telah tertawan.


Berpikir bahwa aman untuk melepaskan kewaspadaan, Sieg membuka segel dan membaca gulungan tersebut dengan seksama.


Lebih dari dua pekan telah berlalu semenjak Natrehn menarik mundur pasukannya kembali ke perbatasan.


Sieg, yang kala itu merupakan salah satu jenderal yang mengkomandoi pasukan kecil, dengan terpaksa mengerahkan sebagian pasukannya untuk mengambil alih wilayah yang telah terebut oleh para bangsawan Kerajaan Forbrenne.


Bersamaan dengan beberapa pasukan kecil Lethiel lain serta Tentara Kerajaan Mana, mereka berpencar menuju tiga arah yang berbeda yang mana menjadi jalur invasi Tentara Natrehn sebelumnya.


Bertentangan dengan harapannya, hanya menyerang beberapa pasukan yang bahkan tidak dapat dikatakan memiliki kemampuan standar, Sieg merasa sangat mudah menghadapinya.


Tentu saja, kemudahan tersebut disebabkan oleh bantuan yang diberikan Eina sebelumnya, yang secara mayoritasnya meninggalkan prajurit dengan latar belakang seorang wajib militer, meskipun tidak dipungkiri mereka juga dipimpin oleh ksatria yang memiliki kemampuan cukup baik.


Karenanya, Sieg hampir tiba di perbatasan, mengambil kembali wilayah yang telah Natrehn rebut.


Tidak hanya itu, Sieg juga terbantu dengan para prajurit Natrehn—yang mengetahui tidak akan mendapatkan bala bantuan karena mendapat kabar bila Kerajaan Rowling datang menyerang—yang memutuskan untuk segera melarikan diri setelah keadaan pertempuran berubah menjadi buruk untuk mereka.


Sejenak, kedua mata Sieg sedikit melebar saat membacanya. Tidak terpikirkan sekalipun oleh Sieg sebelumnya mengenai saran yang diberikan Ares, hingga membuat sebuah ketetapan kuat di dalam benaknya.


Tepat setelah menyelesaikan bacaannya, Sieg dengan cepat menatap Arthur dengan wajah tegas, hingga menyebabkan Arthur sedikit terkejut karena perubahan ekspresinya.


"Tuan Arthur, kita akan menuju ke perbatasan," ujar Sieg.


"Eh?" Arthur sejenak terdiam, sangat terkejut dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.


"Berkat bantuan Margrave, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membuktikan pengkhianatan Forbrenne." Ekspresi tegas penuh percaya diri, kata-kata Sieg seolah mampu menyihir Arthur hingga dapat menyebabkan dirinya mempercayainya.


"Bolehkah saya mengetahui rencana Anda, Yang Mulia?" Arthur dengan panik berusaha berjalan berdampingan dengan Sieg.


Sergapan pada pengantar pesan rahasia.


Rencana tersebut seketika muncul di dalam benak Sieg tepat disaat ia membaca surat yang dikirimkan oleh Ares sebelumnya.


Menilik kembali ingatan disaat Sieg menghadiri dewan perang bersama para bangsawan lain yang tergabung dalam pasukan konfederasi sebagai jenderal, Sieg menyadari bahkan serangan Tentara Kerajaan Rowling tidaklah berada dalam perhitungan mereka sebelumnya.


Menjadi sangat panik karena tidak sesuai dengan rencana yang telah mereka sepakati sebelumnya, sedikit kegelisahan terpancar dari raut wajah para bangsawan militer Kerajaan Forbrenne kala itu.


Ada satu hal yang terbesit dalam benak Sieg disaat para bangsawan Forbrenne memaksa para bangsawan besar Kerajaan Mana dan Kerajaan Lethiel untuk mengambil alih wilayah yang telah direbut oleh Tentara Kerajaan Natrehn sebelumnya.


Ya, mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan aktivitas balik layar mereka berkirim pesan pada para atase militer Tentara Natrehn yang berada di perbatasan.


Tentu, akibat pengaruh Eina serta invasi Kerajaan Rowling, para jenderal Natrehn tidaklah dapat memberikan jawaban positif kepada para bangsawan Forbrenne, yang menyebabkan para bangsawan Forbrenne menjadi semakin panik karena tujuan mereka yang kemungkinan besar tidak akan dapat tercapai.


"Mendapatkan sebuah bukti konkret." Sieg menjawab singkat.


Arthur hanya dapat kebingungan dengan jawaban yang baru saja diterimanya, ia memutuskan untuk diam dan dengan patuh mengikuti rencana Sieg, selama itu tidaklah membahayakan keselamatan dirinya.


Melihat Sieg dan Arthur berjalan mendekat, beberapa ksatria menegapkan tubuhnya sembari memberi hormat seorang ksatria.


"Aku akan membawa dua puluh prajurit kavaleri terelit ke perbatasan." Kata-kata Sieg membuat para ksatria serentak terkejut, "Selain dari itu, aku akan menyerahkannya kepadamu untuk tetap melanjutkan operasi, Kolonel Igsius."


"Ya, Yang Mulia!" Seorang pria paruh baya berambut coklat cepak bertubuh kekar dengan bekas luka menggaris di pipi kanannya menjawab tegas.


Tatapan Sieg teralihkan menuju sebuah rumah kumuh tak jauh dari tempat mereka berpijak, menemukan beberapa anak kecil serta remaja yang berdiri ketakutan membuat Sieg merasa sangat kasihan mengenai takdir yang telah mereka alami selama berada di bawah kekuasaan Tentara Natrehn.


"Bagaimana pemulihan para penduduk?" tanya Sieg.


Tidak hanya Igsius, bahkan beberapa perwira di dekatnya segera melukiskan ekspresi jelek.


Berbeda dengan Sieg yang sebelumnya segera maju untuk merebut pos militer lain, para prajurit yang ditinggalkan tentu merasa siksaan para penduduk terlampau berat, yang menyebabkan mereka melaporkan kepada ksatria tingkat tinggi Lethiel yang mengawal Sieg dengan hasil yang negatif.


Tidak mungkin memulihkan kesehatan mental anak-anak yang telah melihat beratnya siksaan para tentara terhadap orang-orang di desa mereka hanya dalam beberapa bulan saja.


"Maaf," sesal Igsius dengan sedikit tertunduk.


"Begitukah..." Sieg memahami jawaban yang akan didapatnya bila dirinya bertanya lebih jauh, hingga membuatnya hanya dapat menutup rapat kedua bibirnya dan tetap melakukan pemulihan secara bertahap kepada para korban.


Kedua kaki Sieg melangkah mendekati anak-anak yang mengintip dari balik tembok rumah. Dengan ekspresi cerah, Sieg berusaha untuk menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang ramah.


Ketakutan melanda, anak-anak tersebut terlihat gemetaran, wajah-wajah mereka juga terlihat akan menangis. Meskipun begitu, tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan teriakan serta melarikan diri, anggapan bila sakitnya hukuman akan menimpa mereka jika melakukan hal tersebut telah mengakar kuat dalam benak masing-masing dari mereka.


Sieg berlutut setelah dia berhadapan dengan seorang anak laki-laki di hadapannya, hingga membuatnya bertatapan wajah dengannya.


"Jangan khawatir... tidak akan ada orang yang akan menyakiti kalian lagi." Tangan kanan Sieg membelai lembut kepalanya, hingga tanpa sadar membuat anak tersebut deras meneteskan air mata.


Sieg sangat memahami bila dirinya tidak seperti bangsawan pada umumnya, terlebih lagi dia yang merupakan seorang royalti. Tidak mungkin seorang bangsawan akan bertekuk lutut dan berbicara dengan rakyat jelata yang lemah tanpa menggunakan seorang perantara seperti yang dia lakukan.


Tangan kirinya mengepal erat. Dengan tetap mempertahankan ekspresinya yang tersenyum penuh kelembutan, Sieg menahan hatinya yang dipenuhi kekesalan.


...----------------...


jangan lupa likenya!