I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 23 : Aku Mengingat Senjata Terbaik!



Tahun 1236, 12 Maret.


Distrik Kelas Bawah, Kota Hauzen, Wilayah Margrave Rueter.


Pagi Hari.


Pat.


Sraakk.


Pat.


Sraakk.


"Tuan Muda, sebaiknya Anda beristirahat terlebih dahulu," pinta Robert dengan mengerutkan keningnya.


Ares menghentikan pekerjaannya, lalu ia berdiri tegak dari posisinya semula dan berkata dengan heran, "Hm? Apa maksudmu?"


"Jika Anda terus melakukan ini, martabat Anda akan runtuh," jawab Robert yang tetap mempertahankan ekspresinya.


"Yah, bukannya aku keberatan. Lagipula, pekerjaan ini akan selesai lebih cepat," timpal Ares acuh tak acuh lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Meskipun Anda berkata seperti itu..." balas Robert seolah menyerah dan mulai menyekop kembali.


Pat.


Sraakk.


Pat.


Sraakk.


Di bawah sinar mentari pagi, seorang aristokrat muda berambut biru ditemani oleh para prajuritnya, para pejabat, para buruh, serta para penduduknya, secara serempak membangun kanal dengan menyekop tanah di tempat yang telah ditentukan sebelumnya.


Selama beberapa hari terakhir di pagi harinya, Ares menyibukkan dirinya untuk membangun kanal-kanal yang masih berada dalam tahap pengerjaan atau bahkan pada lahan yang masih belum tersentuh.


Mengapa Ares melakukan ini?


Singkatnya, para prajurit dan buruh yang mengerjakan proyek ini memulai pekerjaannya setelah matahari terbit yang membuat Ares tidak sabar.


Apa yang terjadi bila seorang penguasa daerah dengan pangkat margrave, melakukan pekerjaan buruh sebelum matahari terbit?


Tentu saja, itu akan menyebabkan seluruh prajurit, para pejabat, para buruh, dan bahkan para penduduk kota juga turut memulai pekerjaan sebelum matahari terbit. Dan juga, Ares mendapatkan keuntungan karena dapat melepaskan dirinya untuk sementara dari pekerjaan kantornya yang terlampau padat.


Ya, dengan ini, pembangunan telah direncanakan berakhir lebih awal daripada yang seharusnya.


Tentunya, Ares menghentikan pekerjaannya sebelum matahari berada di atas kepala karena ia tidak ingin membuat kulitnya menghitam.


Pat.


Sraakk.


Pat.


Sraakk.


"Ugh... aku belum sarapan," keluh seorang pejabat yang meneteskan keringat dengan lirih.


"Lelah sekali..." keluh seorang buruh yang wajahnya dipenuhi keringat dengan lirih.


Setelah mendengar banyak keluhan secara samar yang ditujukan kepadanya, Ares berhenti dan menancapkan sekopnya di atas gundukan tanah.


Pat.


Seketika, semua orang disekitarnya menghela napas karena lega, "Hah..." dan beberapa diantara mereka bahkan jatuh terbaring di atas tanah.


Cih, menyedihkan.


Setelah melihat semua orang yang kelelahan dengan tatapan mengejek, Ares mengalihkan pandangannya menuju tanah yang saat ini telah berbentuk selokan.


Yah, kurasa kami telah menyekop cukup banyak titik untuk pagi ini.


Ayo istirahat.


Ketika Ares mengambil kembali sekopnya, dia segera tersadar akan hal yang benar-benar penting.


Tunggu sebentar.


Bukankah sekop adalah senjata yang digunakan dalam perang dunia pertama di duniaku sebelumnya?!


Ares pun memandang sekopnya dengan seksama seolah ia benar-benar mengamati suatu hal yang sangat penting.


Karena keheranan dengan ekspresi Tuannya, Robert semakin mengerutkan keningnya sembari bertanya, "Ada apa, Tuan?"


"Robert, aku akan kembali ke kastil untuk saat ini," jawab Ares acuh tak acuh dengan nada serius.


"Baik..." balas Robert yang masih keheranan.


Ares dan Robert dengan ditemani oleh beberapa prajurit pergi menuju tempat kuda mereka diikat dan menaikinya.


Setelah mencapai kastil, Ares turun dari kudanya dan memberikan tali pengikatnya kepada salah seorang prajurit di belakangnya. Ia disambut oleh beberapa pelayan dengan Mia sebagai pusatnya.


Dengan mengerutkan kening sembari menundukkan kepala, Mia dan para pelayan berkata, "Selamat datang kembali, Tuan."


Karena perilaku aneh Ares dalam beberapa hari terakhir, para pelayan, pejabat, serta perwira militer hanya dapat terdiam dengan mengerutkan keningnya saat menghadapinya. Mereka tidak dapat menegur perilaku Ares dikarenakan posisi yang mereka miliki cukup rendah.


Meskipun para atase militer, pejabat tingkat tinggi, serta Kepala Pelayan Owen dapat menegurnya apabila mereka melihat Ares yang sejak pagi telah melakukan pekerjaan buruh, tetap saja mereka tidak dapat melarangnya dikarenakan perilakunya yang tidak membawa kerugian bagi House of Rueter serta Wilayah Rueter secara keseluruhan.


Setelah melihat keadaan Ares yang kotor dan penuh keringat, Mia berkata, "Saya akan membimbing Anda untuk membersihkan diri Anda terlebih dahulu, Tuan."


"Robert, pergilah ke kantorku setelah mandi dan sarapan. Aku ingin berbicara secara empat mata denganmu," ujar Ares seolah tidak peduli lalu melangkah maju.


Karena kebingungan dengan perkataan Ares, Robert hanya dapat menjawab, "Ya?"


Saat berpapasan dengan Mia, Ares bergumam kecil, "Ayo, Mia."


Seketika, wajah Mia pun memerah, lalu ia menundukkan ringan kepalanya karena malu sembari menjawab, "Ba—baik, Tuan."


Setelah membersihkan tubuhnya bersama dengan Mia dan memakan sarapannya, Ares menuju ke ruang rapat yang memiliki beberapa meja bundar di dalamnya.


Di dalamnya terlihat Robert yang telah duduk di dekat salah satu meja bundar tersebut. Saat Robert melihat kedatangan Ares, ia berdiri lalu membungkuk sembari berkata, "Selamat datang, Tuan."


Ares pun duduk di dekat Robert berada.


"Aku akan langsung menuju ke intinya, aku ingin membuat sebuah regu yang dikhususkan untuk membawa senjata berupa sekop," ujar Ares serius.


Mata Robert pun membulat setelah mendengar perkataan Ares yang tidak wajar.


Hah?!


Ap—apa maksud Anda, Tuan?!


Untuk apa?!


Sebagai perwira menengah dan seseorang yang berasal dari abad pertengahan, Robert hanya kebingungan dengan perkataan Ares.


Bagi Robert, yang notabene merupakan perwira menengah, ia belum memiliki rekam jejak untuk menyusun strategi dalam suatu peperangan, berpikir bahwa lebih baik membentuk suatu regu mata-mata.


"B—bolehkah saya bertanya mengenai alasan Anda membuat regu seperti itu, Tuan?" tanya Robert dengan gelisah.


"Yah, aku akan menggunakannya untuk perang pengepungan," jawab Ares heran.


"Bagaimana?" tanya Robert kembali dengan heran.


"Regu tersebut nantinya akan bertugas untuk membangun parit-parit yang menghubungkan tempat perkemahan kami dan tembok benteng ataupun kota tersebut," jawab Ares dengan tersenyum.


Robert pun tersadar dengan strategi Ares, namun ia berpikir bahwa itu merupakan hal yang sia-sia.


"Apakah Anda bermaksud menghubungkan perkemahan kami dengan saluran air mereka? Saya tidak bermaksud untuk menyinggung Anda, Tuan. Namun, bukankah itu merupakan hal yang sia-sia mengingat kami dapat menunggu mereka kehabisan pasokan makanan ataupun menggunakan senjata terbaru kami?" timpal Robert dengan mengerutkan keningnya karena tidak setuju.


Setelah mendengar perkataan Robert, Ares bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ke dekat jendela untuk melihat keadaan di luar meninggalkan Robert yang masih kebingungan.


ZRASSHH!


ZRASSHH!


Hujan, kah...


"Apakah kamu mengetahui bagaimana bentuk meriam?" tanya Ares kembali dengan acuh tak acuh terhadap perkataan Robert.


"Saya mengetahuinya, Tuan," jawab Robert dengan heran.


"Apa yang ada di dalam benakmu apabila meriam tersebut diberikan dua buah roda atau dinaikkan pada suatu gerbong?" tanya Ares kembali dengan mempertahankan posisinya.


Mata Robert pun terbuka lebar karena tersadar. Setelah mendengarnya, ia berkata dengan panik, "Ti—tidak mungkin! Tidak ada yang pernah memikirkan hal tersebut sebelumnya!"


Tentunya, bagi Ares yang memiliki pengalaman dalam melihat sejarah peperangan di dunianya yang sebelumnya, dapat memprediksi berbagai perkembangan senjata, khususnya senjata api.


Meskipun beberapa negara maju telah menerapkan meriam sebagai suatu pertahanan tembok kota ataupun benteng, itu tetaplah tidak memiliki efek yang signifikan mengingat jarak tembakan yang buruk dan memiliki tembakan sangat melenceng jauh dari targetnya.


Karenanya, mayoritas pertahanan suatu tembok benteng atau kota lebih memanfaatkan pasukan pemanah.


Namun, Ares telah mengetahui bahwa di akhir permainan tersebut, musuh terakhirnya menggunakan meriam sebagai pertahanan dalam perang pengepungan.


Saat itu, Ares pun tidak memikirkan strategi yang mirip dengan perang dunia pertama dikarenakan tidak ada fungsi strategi seperti pembangunan parit di dalam game.


"Yah, tentu saja. Untuk saat ini," timpal Ares dengan acuh tak acuh.


"Saya juga berpikir... apabila teknologi meriam telah disempurnakan yang menyebabkan jarak tembakan semakin jauh dengan tembakan yang sesuai target, itu akan membuat seluruh strategi perang berubah secara drastis," balas Robert yang terpana.


Ares pun berbalik untuk melihat Robert kembali dengan memasang ekspresi wajah yang tersenyum. Lalu, ia berkata, "Nah, parit ditujukan untuk menanggulangi hal tersebut."


Bagi Robert, yang hanya merupakan perwira tingkat menengah dan belum melihat medan perang yang menggunakan strategi meriam, tentu saja tidak memahami bagaimana strategi parit akan bekerja.


"Yah, tolong tuliskan surat kepada Canaria untuk membuat beberapa regu—tidak, kompi untuk menangani hal tersebut. Aku akan kembali menuju Kota Ereth dalam dua hari, aku juga ingin mengetahui bagaimana wajah yang dapat dibuat oleh anakku," ujar Ares dengan riang saat mendekati Robert.


"Ya, Tuan!" timpal Robert tegas.


Ketika Ares mengalihkan pandangannya menuju jendela yang menampilkan suasana hujan, ia hanya berharap untuk dapat menguasai 16 negara di dunia ini hanya dalam waktu 15 tahun sesuai dengan waktu permainan yang telah ditempuhnya.


...----------------...


Catatan :


2 benua dan beberapa pulau yang terdapat di dalam dunia tersebut memiliki wilayah netral dimana itu tidak dikuasai oleh negara manapun.