I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 44 : Ayo Mencari Kekuatan!



Tahun 1236, 1 Mei.


Distrik Bangsawan, Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Siang Hari.


Hmm, aku sudah menunggunya sejak pagi, namun ia tetap saja tidak kunjung menjemputku.


Apakah terjadi sesuatu dengannya?


Excel hanya melamun karena memikirkan hal lain disaat ia menunggangi kuda perangnya di jalanan distrik bangsawan ibukota.


Beberapa kali kuda perangnya telah menabrak seorang bangsawan dan ksatria yang berjalan kaki karena pikirannya yang sedang tidak fokus.


Namun, karena mereka mengetahui bahwa yang menabrak mereka adalah seorang putri yang memiliki pengaruh luar biasa, mereka hanya dapat terdiam sembari menahan rasa sakit akibat terinjak dan tertendang kuda perang hitamnya yang bernama Lykan.


Tak jauh dari tempat Excel berada, seorang pemuda dari kalangan aristokrat yang berasal dari rumah dengan pangkat Viscount yang diikuti oleh rombongannya, berjalan menuju ke arah yang sama dengan arah yang dituju Excel sehingga Excel berada di belakang mereka.


"Tuan Muda, apakah Anda benar-benar berniat menemui Margrave tanpa janji apapun?" tanya seorang pelayan di belakang pemuda tersebut dengan nada khawatir.


"Aku harus bertemu dengan Margrave Rueter agar aku dapat menjadi satu-satunya pewaris rumah!" jawab pemuda tersebut dengan sedikit kesal.


"Tapi..." timpal pelayan tersebut seolah keberatan.


"Ck, meskipun Ares merupakan seorang bangsawan tingkat tinggi, dia hanyalah seorang pemula diantara kami!" balas pemuda itu dengan ketus.


Tentu saja, bertemu dengan seorang bangsawan tanpa janji merupakan suatu perbuatan yang tidak terpuji dan bahkan dapat membuat pihak lain tidak ingin bertemu dengannya lagi. Namun, banyak bangsawan yang mengabaikan hal tersebut dikarenakan merasa bahwa dirinya sendiri merupakan seseorang yang paling penting.


Hal ini disebabkan karena masa kecil mereka yang terlalu dimanjakan sehingga berakhir menjadi seseorang yang sangat egois dan tidak memiliki etiket seorang aristokrat.


Excel seketika terkejut saat ia mendengar nama Ares disebutkan dari tempat yang tak jauh dari tempatnya berada. Dia pun segera memfokuskan pikirannya dan memacu kudanya ke arah para bangsawan tersebut.


Pltak!


Pltak!


BUGH!


"Argh!" teriak dua orang ksatria pengawal tersebut karena kesakitan.


Dua ksatria pengawal pewaris viscount tersebut seketika terpental karena tertabrak oleh Lykan dimana mereka tidak siap menghindar akibat kecepatan Lykan yang sangat cepat.


Pewaris viscount dan pengikutnya secara serentak berbalik menuju penyebab dua ksatria pengawal terpental dan menemukan sosok Excel yang memiliki ekspresi sangat kesal.


Tentu saja, tidak ada yang tidak mengetahui wajah Excel dikarenakan semua bangsawan yang telah mengetahui wajahnya saat audiensi kemarin. Mereka pun segera berlutut dengan gemetar karena ketakutan akibat nafsu membunuh yang dipancarkan oleh Excel sembari sang pewaris viscount berkata, "Mohon maafkan sikap kami, Yang Mulia Putri Excel."


Excel pun segera turun dari tunggangannya dan berkata dengan kesal, "Kalian, kalian tadi mengatakan jika kalian ingin bertemu dengan tunanganku?!"


"I—itu..." jawab pewaris viscount itu dengan ketakutan.


Jika tunanganku dihambat oleh para kerdil ini, aku tidak dapat berangkat lebih cepat untuk mencari hadiah pernikahanku bersamanya!


Tidak, Ares dapat menolak jika itu berasal dari rumah bangsawan tingkat rendah seperti serangga di depanku ini.


Apakah itu karena dia diganggu oleh bangsawan setingkat Marquis dan Duke?!


Ck, aku benar-benar sangat kesal!


Segera, Excel mengarahkan kakinya untuk menendang dagu pewaris viscount tersebut.


DUAK!


"Argh!" teriak pewaris viscount tersebut kesakitan.


Setelah melihatnya terpental karena dampak tendangan dengan statistik tubuh yang mencapai lebih dari 80 poin, Excel segera menunggangi Lykan dan bergegas menuju Mansion Margrave Rueter dimana tunangannya berada.


Ketika ia hampir tiba di mansion tunangannya, Excel menemukan bahwa di depan gerbang mansionnya sangat ramai karena banyak bangsawan yang ingin bertemu dengan Ares.


Segera, Excel memacu Lykan dengan cepat sehingga kuda perangnya menabrak banyak orang yang berada di luar gerbang mansion.


BUAK!


"Argh!"


"Ugh!"


Setelah melihat beberapa orang diantara mereka yang terpental, mereka semua pun segera mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang menunggang kuda perang tersebut dengan ekspresi kesal.


Tetap saja, setelah menemukan Excel yang melukiskan kekesalan di wajahnya, hampir semua dari mereka segera berlutut dengan gemetar karena Excel yang seketika mengarahkan nafsu membunuh kepada mereka.


"Yang Mulia!" ujar hampir semua orang yang berlutut.


"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Excel dengan nada sangat kesal.


Hampir tidak ada dari mereka yang berani untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Excel. Namun, tetap saja terdapat beberapa bangsawan bodoh diantara mereka.


Seorang bangsawan yang terlihat seperti pria paruh baya yang memiliki tubuh gemuk pun tetap berdiri karena kesal dengan perlakuan Excel terhadap para ksatrianya yang membuatnya merasa diejek.


"Meskipun kau seorang putri, kau tidak dapat memperlakukan kami dengan semena-mena seperti ini!" teriak pria gendut itu karena kesal.


"Hah?! Siapa yang berani membalas perkataanku?!" teriak Excel sangat kesal lalu turun dari kudanya.


"Aku, Baron Berney, akan melaporkan perbuatanmu kepada Yang Mulia Ra—" ujar pria bangsawan gendut itu sebal.


CRASH!


Kepala pria tersebut pun seketika terputus dari lehernya karena Excel yang menghunus pedangnya dengan sangat cepat. Melihat kepala yang menggelinding di jalanan berbatu, tentu saja menyebabkan semua orang di sekitarnya menjadi semakin ketakutan.


"Aku tidak peduli, sialan," ujar Excel acuh tak acuh.


Excel pun melihat kembali para aristokrat yang berlutut dengan gemetaran. Merasa malas berurusan dengan mereka karena ingin segera bertemu dengan tunangannya, Excel berteriak, "Pergilah, Serangga!"


Cih, menyebalkan.


Segera, Excel melangkahkan kakinya mendekati gerbang dan menemukan beberapa penjaga gerbang yang ketakutan. Bahkan, ada seseorang diantara mereka yang celananya terlihat basah karena mengompol.


Malas berbicara dengan mereka, Excel mengalihkan tujuannya untuk mendekati salah satu perwira yang cukup sering dilihatnya.


"Kamu... jika tidak salah... Gnery, bukan?" tanya Excel dengan sedikit kesal.


"I—iya, Yang Mulia," jawab Gnery yang sedikit gemetar.


"Aku ingin bertemu dengan Ares," timpal Excel dengan mengintimidasi.


Merasa Ares tidak pernah memberitahunya apabila Excel akan berkunjung ke mansion, sangat membuat Gnery gelisah. Tentu saja, itu berarti Excel juga tidak memiliki janji temu dengan Ares.


Singkatnya, Excel sama saja seperti bangsawan lainnya.


Menyerah dengan intimidasi Excel, Gnery berkata, "Saya... akan membimbing Anda, Yang Mulia," sembari berharap agar Ares tidak semakin memotong gajinya dan menurunkan pangkatnya karena ia beberapa kali telah meloloskan bangsawan tingkat tinggi.


Excel pun dibimbing oleh Gnery memasuki mansion dan tiba di depan pintu putih dengan hiasan emas yang cukup mewah.


"Mengapa kamu berhenti?" tanya Excel sebal.


"Sebenarnya... Tuan Ares sedang melakukan pertemuan dengan seorang bangsawan tingkat tinggi saat ini, Yang Mulia," jawab Gnery yang gelisah.


"Cih," ujar Excel yang mendecakkan lidahnya.


BRAK!


Excel pun segera menendang pintu tersebut hingga rusak dan memasukinya.


Ares dan seorang pria paruh baya berambut pirang yang duduk di depannya merasa sangat terkejut dengan pintu yang tiba-tiba didobrak dan segera mengalihkan pandangannya.


Hanya ada satu hal yang ada di dalam benak Ares saat melihat tunangannya secara paksa memasuki ruangan.


Akhirnya aku bebas!


Aku benar-benar sangat mencintaimu, Excel!


Tentu saja, Ares, yang hanyalah seorang Tuan Feodal biasa meskipun dia memiliki pengaruh yang luar biasa, tidak dapat menolak secara langsung pertemuan dengan seorang bangsawan berpangkat Marquis yang berada di hadapannya dan merupakan menteri keuangan kerajaan ini.


Dia haruslah bercakap-cakap ringan dengannya terlebih dahulu serta menolak dengan lihai setiap jilatan menteri tersebut yang bermaksud untuk memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya. Tentu saja, Ares melakukan hal ini agar tidak menjatuhkan nama baiknya.


Banyak bangsawan di Kerajaan Rowling yang tentunya telah berpikir apabila Ares serius untuk memperebutkan tahta dengan menjadikan Excel bonekanya, dia pasti akan menang dikarenakan militernya yang telah membabat habis Pasukan Utama Kerajaan Natrehn yang berkekuatan 80.000 prajurit serta memiliki dana yang sangat berlimpah.


Menteri tersebut yang mengetahui kedatangan Excel yang sangat tidak sopan, hanya dapat segera berlutut bersama Ares dikarenakan mereka berdua yang merasa sia-sia berbicara dengan Excel.


"Ares, apakah kamu tidak kunjung menjemputku karena orang ini?" tanya Excel ketus.


Menteri tersebut pun seketika menjadi sangat panik. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini Ares memiliki janji dengan Excel.


"I—itu tidak benar, Yang—" jawab Menteri tersebut dengan panik.


"Itu benar, Excel," jawab Ares lugas.


Ketika menteri tersebut melirik Ares, dia hanya membalasnya dengan senyuman yang membuatnya menjadi sangat panik.


Karena tidak dapat membunuh orang di depannya yang merupakan pejabat tingkat tinggi negara meskipun ia sangat kesal, Excel hanya dapat berkata, "Oh, aku akan memohon kepada Yang Mulia Raja agar menurunkan posisimu."


Seketika, semua perjuangan yang dilakukannya pupus hingga menyebabkan kedua matanya memiliki tatapan kosong.


"Pergilah, sialan!" teriak Excel ketus.


Tersadar akan Excel yang masih memaafkannya, menteri tersebut segera berkata dengan panik, "Mohon maafkan saya, Yang Mulia!" sembari berlari keluar ruangan.


Rasakan!


Melihat Menteri tersebut yang lari terbirit-birit sangat membuat Ares bahagia. Namun, seketika perasaan baiknya itu pupus saat ia mendengar wanita di dekatnya yang berkata dengan bersemangat, "Ayo berangkat! Bukankah kamu menjanjikanku untuk melakukan perjalanan hari ini?!"


"Baik... apakah kamu telah memberi laporan kepada ista—" timpal Ares dengan sedikit lesu.


"Tentu saja! Bahkan, mereka berkata untuk segera berangkat!" sela Excel yang riang gembira.


Sadarlah jika mereka itu ingin segera mengusirmu dari ibukota!


Sekali lagi, dahi Ares berkerut setelah mendengar jawaban tunangannya.


"Oh, benar. Kami tidak akan pergi menuju Wilayah Rueter, namun kami akan pergi ke tempat lain," ujar Ares dengan nada lesu.


"Eh, mengapa?" tanya Excel heran hingga memiringkan kepalanya.


"Yah, itu dikarenakan hadiah pernikahanmu yang berada di tempat lain," jawab Ares lalu tersenyum.


"Baik!" timpal Excel dengan nada bahagia.


Melihat tunangannya yang riang gembira, Ares hanya dapat bersedih dikarenakan ia tidak dapat melihat anaknya yang sudah lama tidak ditemuinya.


Setelah mendengar bahwa Excel yang ingin ikut dengannya, Ares mengubah rencana perjalanannya yang sebelumnya hanya menghabiskan waktu sekitar 4 pekan menjadi 7 pekan.


Tentu saja, itu dikarenakan sangat sia-sia untuk tidak memanfaatkan tunangannya yang memiliki kekuatan luar biasa.


"Jadi, ayo membuatmu lebih kuat," ujar Ares dengan tersenyum.


"Eh?" timpal Excel yang kebingungan.


Dan aku juga... tentunya.


Ares hanya dapat menatap tunangannya yang kebingungan dengan melukis senyuman di wajahnya.


...----------------...