I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 118 : The Great Commander, part 3



Tahun 1237, 5 Maret.


Perbatasan Natrehn.


Pagi Hari.


Empat ribu prajurit kavaleri Rowling memacu kuda perangnya dengan cepat, berharap jika Natrehn masih berada di dalam hutan perbatasan.


Count Roen, komandan yang berada di barisan terdepan, samar nampak siulet beberapa penunggang kuda yang memasuki hutan. Count Roen mengangkat tinggi bilah pedangnya dan segera menghunusnya ke depan, "Seraaaang!"


"Ooohhh!"


Tidak pernah terpikirkan bila Kristin telah mempersiapkan jebakan di dalam hutan dengan matang. Baginya yang telah diliputi oleh emosi, menganggap jika Natrehn hanya melancarkan serangan kejutan dan bergegas kembali menuju perbatasan.


Bersama dengan bawahan elitnya, Count Roen memacu kudanya melewati pintu masuk hutan yang lebar yang kedua sisinya terapit pepohonan. Ribuan prajurit kavaleri lain juga memasuki hutan dengan melewati sela-sela pepohonan yang cukup besar.


SRAAKK!


"Aaaarrghh!"


Mimpi buruk pun menjadi kenyataan. Beberapa puluh prajurit kavaleri yang menyusuri sempitnya sela-sela pepohonan, harus berpijak pada lubang yang telah disamarkan hingga berasimilasi dengan lingkungan di sekitarnya.


Tanpa penundaan, karena tidak dapat menghentikan laju kuda perangnya, beberapa prajurit kavaleri di belakang mereka juga terperosok jatuh.


Kematian instan karena tertimbun rekan mereka sendiri. Ratusan prajurit kavaleri Rowling seketika tewas hanya dalam hitungan detik.


BRAK!


Ngiiikk!


"Arghh!"


Tidak hanya hal tersebut, ratusan prajurit kavaleri lain menginjak jebakan tali senderhana yang menyebabkan beberapa rekan di belakangnya seketika tewas tertimpa beratnya batang pohon yang tiba-tiba terjatuh. Pun tidak berbeda dengan para prajurit kavaleri di belakangnya yang menabrak keras batang pohon di hadapannya.


Teriakan; rintihan; serta permintaan bantuan, menyelimuti hutan yang disinari cahaya mentari dari sela-sela dedaunannya. Count Roen pun tersadar jika mereka telah memasuki perangkap musuh.


"Sialan!" Count Roen menunjukkan ekspresi penuh kekesalan.


Tidak mungkin untuk kembali, Count Roen dan para bawahannya memahami hal tersebut. Kemungkinan besar terdapat sergapan prajurit kavaleri Natrehn yang bisa saja bersembunyi di pintu masuk hutan, meskipun Count Roen juga tidak menampik adanya kemungkinan sergapan tersebut berada di pintu keluar dimana Wilayah Natrehn berada.


Singkatnya, dia menyadari jika tidak terdapat satupun jalan keluar untuknya.


Jantungnya berdetak semakin kencang, keringat telah mengucur membasahi sekujur tubuhnya. Count Roen hanya dapat memikirkan bagaimana cara mendapatkan keselamatan untuk dirinya sendiri—meskipun dia juga memiliki harapan setidaknya beberapa ksatria elitnya dapat terselamatkan.


KRAK!


Suara aneh yang terdengar keras di dekatnya. Count Roen serta para prajurit yang mengikutinya seketika membuka lebar kedua matanya terhadap bayangan yang perlahan bergerak.


BRAK!


"Argh!"


"Jangan! Jangan!"


"Tida—ack!"


Puluhan ksatria di belakang Count tewas tertimpa batang pohon yang terjatuh ke arah mereka dengan tiba-tiba. Beberapa menabrak, yang menyebabkan dengan terpaksa prajurit di belakangnya menggunakan mereka sebagai pijakan untuk melompati batang pohon yang sangat besar bagi lompatan kuda perang mereka.


Siulet penunggang kuda samar terlihat memacu kudanya dari balik pepohonan. Count Roen segera merasakan kegelisahan besar di dalam hatinya. Pikirannya berputar cepat, banyak hal buruk yang kemungkinan besar terjadi kepadanya dan para prajuritnya.


Prasangka Count benar. Puluhan prajurit kavaleri Natrehn dari kedua sisi jalur seketika melompati semak yang membatasi mereka dan bersisian dengan kavaleri Rowling yang berpacu menyusuri jalan besar hutan sembari menghunuskan senjatanya.


JRASH!


JRASH!


"Argh!"


SRAAAKK!


"Urgh!"


Beberapa prajurit seketika terjatuh dari kudanya, beberapa prajurit lain memaksakan diri mengendalikan kudanya. Pun tidak berbeda dengan beberapa leher kuda yang seketika tertebas hingga membuat penunggangnya juga terjatuh.


Tanpa penundaan, para prajurit kavaleri Natrehn kembali melompati semak-semak serta menghindari batang pohon dan bergegas menjauh.


Menabrak, menjadi pijakan, serta melompati prajurit yang terjatuh di hadapannya, pasukan kavaleri Rowling seketika menjadi kacau.


Meskipun Count Roen mengetahui jarak untuk melewati hutan perbatasan tidak terlalu jauh—yang mana hanya membutuhkan waktu beberapa puluh menit berkuda dengan kecepatan penuh—Count merasakan jika jarak tempuhnya menjadi semakin panjang.


Secara naluriah mereka memacu kudanya lebih cepat hingga berada dalam kecepatan penuhnya. Tidak ada yang memikirkan beban tunggangan mereka yang menapak pada medan hutan yang tidak rata serta telah kelelahan.


Harapan mereka segera sirna. Sebuah bayangan gelap segera tertuju kepada mereka hingga membuat kedua mata Count Roen dan prajurit yang menyertainya terbuka lebar.


Count Roen tidak pernah menyadari jika pagi ini akan menjadi pagi dimana dia menghembuskan napas terakhirnya.


BLAR!


BLAR!


BLAR!


Tak jauh dari pintu hutan perbatasan Natrehn, Zelhard memandangi hujan puluhan batu berdiameter sekitar 1,5 hingga 2 meter tersebut dengan wajah datar. Namun, hatinya merasa takjub dengan apa yang telah dikatakan Ares kepadanya.


Mengingat kembali isi surat yang dikirimkan melalui cucu perempuannya tersebut, Zelhard masih saja merasakan keanehan dengan Ares yang dapat memahami jalan pemikiran serta keputusan yang akan diambil oleh Lucas.


Bahkan, disaat dia mendapat informasi jika Lavreigh yang akan memimpin penyerangan, Zelhard hanya dapat sejenak terdiam karena kagum.


"Lucas tidak menyukai orang-orang yang hanya menjadi beban baginya. Aku berpikir jika Lucas akan mengirimkan Count Dupent muda untuk menyerangmu dengan 40.000 prajurit atau kurang dari itu dan pergi menuju Scandiva untuk berperang melawan Zee dan Eina. Jika aku menjadi dirimu, aku akan mengevakuasi para penduduk perbatasan dan meracuni sumur desa dengan mayat hewan serta mengambil persediaan makanan mereka. Dengan syarat, kau harus menghabisi seluruh kavaleri mereka agar mereka tidak dapat menjarah kota dan desa yang jauh dari bentengmu. Lalu, lakukanlah perang pengepungan sebagai pihak yang bertahan."


Meskipun kata-kata tersebut tidak mengandung sedikitpun keformalan, entah mengapa Zelhard merasa nyaman disaat dia membacanya. Zelhard memiliki harapan penuh jika Eina akan bergerak sesuai dengan apa yang diprediksi Ares, walau dia memahami bila dirinya tidak dapat bergantung penuh dengan hal tersebut.


BLAR!


BLAR!


BLAR!


Sekali lagi ketapel batu ditembakkan, membuat pasukan kavaleri Rowling luluh lantak. Beberapa prajurit kavaleri kembali memasuki hutan—yang segera dikejar oleh prajurit kavaleri Natrehn yang berada di dalam hutan.


Beberapa yang lain hanya dapat menjadi mayat bersama kuda perang tunggangannya, beberapa prajurit lain pun berpencar ke segala arah dengan meninggalkan kudanya.


Kristin—komandan pasukan kavaleri yang melancarkan serangan kilat—datang mendekati kakeknya dengan kuda perangnya.


Tak jauh darinya, Kristin pun segera turun dari tunggangannya dan bersikap hormat kepada Zelhard, "Lapor! Infanteri berat Rowling akan segera memasuki hutan! Perkiraan prajurit kavaleri yang kabur kurang dari 100 orang!"


Sejenak, Zelhard memandangi wajah cucunya yang penuh luka dengan seksama, hingga membuat Kristin merasa sedikit tidak nyaman.


"Kembalilah dan bersihkan wajahmu," timpal Zelhard.


"Ya, Pak!" Meskipun memiliki keinginan untuk menyembunyikan wajahnya, Kristin menahannya dan tetap mempertahankan postur tubuhnya.


Pandangannya pun teralihkan menuju perwira yang berdiri di dekatnya, "Mundur."


"Ya, Pak!"


Terbesit di dalam benak Zelhard jika Julius—penyandang nama "Kona" terakhir—tewas terbunuh, yang mana Kerajaan Natrehn didirikan dengan statuta Raja Pertama. Bagi Zelhard yang memiliki kesetiaan tinggi hanya kepada Movic I, tentu tidak akan mematuhi perintah Julius meskipun dia juga merupakan penyandang nama "Kona."


Zelhard memiliki rencana memerdekakan wilayahnya setelah membunuh Eina untuk membalaskan dendamnya kembali. Namun, dia segera mengurungkan niatnya.


Jika Julius terbunuh, Zelhard menyadari jika dirinya tidak mampu untuk sendirian menghadapi Ksatria Suci yang memiliki kemungkinan untuk tetap menyerang, walaupun mereka telah mendapatkan kepala Eina.


Selain darinya, Zelhard juga memiliki perasaan jika dirinya tidak dapat bergerak leluasa seperti Ares karena pemikirannya yang telah memiliki standar tersendiri, yang justru akan menghambat perkembangan ilmu militer dan pengetahuan di masa depan.


Hmm...


Haruskah House of Ginnes menjadi pendukungmu, Margrave?


Langkah kaki Zelhard sejenak terhenti. Mengalihkan perhatiannya kepada Kristin yang belum bergerak, Zelhard pun memasang wajah serius, "Kristin."


"Y—ya, Pak?!" Kristin berjalan mendekati Zelhard dengan kegelisahan besar karena ekspresi kakeknya yang berubah drastis.


"Pikirkanlah pernikahanmu," timpal Zelhard dan segera berbalik pergi.


Terbesit kembali ingatan Kristin dimana dirinya bersama Ares beberapa waktu yang lalu.


Wajahnya memerah, Kristin seketika menjadi sangat sebal dengan kakeknya. Memandang Zelhard dengan tatapan permusuhan, Kristin berharap agar setidaknya kakeknya jatuh terpeleset agar dia dapat menyadari alasan kesialannya tersebut.


...----------------...


Catatan :


Author tidak enak badan setelah vaksin. Gatau bisa up/nggak. Juga, males crezi up kalo like cuma ch terakhir, hm.


...----------------...