
Tahun 1236, 1 Juli.
Istana Kerajaan Rowling, Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.
Malam Hari.
Ksatria Protokoler tiba di salah satu sudut panggung. Membawa sebuah pedang panjang yang bilahnya disandarkan pada bahunya dengan sikap tegap serta mengenakan armor full plate berwarna keemasan, seolah membuat dirinya adalah seorang ksatria terbaik di seluruh penjuru kerajaan.
Langkah kaki berderap tanda para bangsawan segera berbaris. Mereka tahu bahwa Keluarga Kerajaan akan segera menaiki panggung.
Pun tidak berbeda dengan Ares dan Excel, yang beberapa saat lalu baru saja melakukan pertemuan dengan Pangeran Ketiga dan tunangannya. Bagi Ares, tidak ada sesuatu hal yang menarik darinya—benar-benar telah dianggapnya sebagai mangsa yang mudah untuk digigit.
Tidak memiliki pendukung, para bangsawan hanya berkeinginan pada kekayaannya yang bersumber dari perbendaharaan kerajaan yang melimpah. Satu-satunya hal yang mendukung dirinya hanyalah sosok Ratu Pertama Kerajaan Rowling, Ratu Milaine.
"Yang Mulia Raja Ectave III, Yang Mulia Ratu Pertama Milaine, Yang Mulia Ratu Kedua Nieve, hadir memasuki aula!" teriak Ksatria Protokoler dengan lantang.
Para royalti beserta pasangannya segera berbaris di barisan terdepan. Berjajar untuk menyambut keagungan raja, semua bangsawan berlutut segera setelah Ksatria Protokoler berteriak. Tak lama, tiga orang dengan aura keagungan yang luar biasa keluar dari tirai yang berada di sisi panggung.
Pakaian keagungan raja berwarna putih dengan jubah merah serta mahkota yang berlapiskan emas dengan beberapa permata merah, membalut tubuh Ectave yang sedikit besar untuk seseorang di usianya. Sepatu kulit berwarna putih, gelang dan kalung keemasan seolah menunjukkan kekayaan, kekuasaan, serta kebanggaan, membuat pakaian para royalti tidak dapat dibandingkan dengannya.
Pun tidak berbeda dengan kedua ratu, yang masing-masing mengenakan gaun yang sangat besar hingga menyeret lantai.
Ratu Pertama Milaine—yang sebelumnya memiliki nama Milaine von Holfart—memancarkan sebuah aura keanggunan yang bahkan melebihi Excel. Wajah cantik menawan dengan bibir merah merekah, mahkota keperakan yang menonjolkan rambut merahnya yang terulur panjang, gaun putih glamornya dengan hiasan sulaman merah yang menutupi dadanya yang besar hingga lehernya, sepatu hak tinggi berwarna merah yang dikenakannya saat berjalan dengan elegan, benar-benar membuat para bangsawan yang meliriknya terperangah disaat mereka menundukkan kepala.
Selaras, Ratu Kedua Nieve—yang sebelumnya memiliki nama Nieve von Alein—membalut tubuhnya dengan gaun putih panjangnya dengan sulaman biru yang menonjolkan dadanya yang kaya, mahkota perak yang menghiasi rambut putihnya yang terulur panjang, sepatu hak tinggi berwarna biru yang dikenakannya saat berjalan anggun seperti Milaine, hingga wajah oval putihnya yang sangat rupawan, juga membuat banyak bangsawan yang melirik seketika menelan ludahnya karena kagum.
Di belakang kedua ratu, juga terdapat dua ksatria yang mengenakan armor full plate berwarna emas dengan kelir hitam—menandakan keduanya merupakan ksatria yang berafiliasi dengan ordo ksatria yang berada di bawah perintah langsung raja—berjalan dengan tegap tanpa sedikitpun celah.
Duduk di atas singgasana dengan kedua ratu yang masing-masing duduk di sisinya dengan kedua ksatria yang berjaga di belakang mereka, seolah memberikan kesan bahwa Ratu Ketiga tidak pernah dianggap—yang sangat membuat Excel kesal.
"Angkat kepalamu," perintah Ectave.
Nada berat yang terdengar penuh keagungan, sangat menujukkan kehebatan sosok dirinya yang merupakan raja dari kerajaan besar.
Para bangsawan segera mengadahkan kepalanya. Menatap panggung, sekali lagi membuat mayoritas para bangsawan menelan ludahnya.
"Selamat datang para bangsawan penguasa wilayah, pejabat kerajaan, serta para bangsawan militer. Terima kasih dari lubuk hati yang terdalam bagi Anda sekalian yang telah memperkaya dan memakmurkan seluruh wilayah kerajaan selama bertahun-tahun terakhir. Aku, Ectave III, Raja Kerajaan Rowling saat ini, benar-benar sangat mengapresiasi diri Anda sekalian untuk hadir dalam Pertemuan Aristokrat Kerajaan Rowling pada pertengahan tahun ini," ujar Ectave lantang.
Sekali lagi para bangsawan sejenak menundukkan dalam kepalanya, Perdana Menteri—yang juga menjabat sebagai Duke Holfart—berkata seolah menjadi perwakilan dari seluruh bangsawan, "Kata-kata mulia Anda sangat tidak pantas bagi kami, Yang Mulia."
"Semoga kejayaan, kekayaan, serta kemakmuran akan selalu memberkati kerajaan ini pada setiap tahunnya!" ujar Ectave.
"Hidup Kerajaan Rowling!"
"Kemakmuran bagi Kerajaan Rowling!"
Gema teriakan dan sorakan yang penuh harapan segera terdengar dari satu-persatu bangsawan yang jumlahnya hampir mencapai angka ribuan di dalam aula.
Ares tentu mengetahui alasan disaat dia melirik tunangannya yang memiliki tatapan penuh dendam. Sejenak tatapan Ares terlihat bersedih saat melirik tunangannya, namun dirinya segera mengubah tajam tatapannya disaat dia melihat seseorang yang duduk di atas singgasana.
Untuk saat ini, bermimpilah...
Harapan itu... tidak akan pernah terwujud.
Ares mengubah rencananya—yang sedikit lambat pada awalnya—untuk segera bergerak setelah dirinya melangsungkan pernikahan dengan Excel pada awal pekan kedua Bulan Juli.
"Aku menerima kesetiaan kalian, berdirilah dan nikmati acara ini!" ujar Ectave.
Para bangsawan segera bangkit dari posisinya yang sebelumnya berlutut. Menundukkan dalam kepalanya ke hadapan Raja dan kedua Ratu, para bangsawan pun berpencar untuk menikmati pesta—yang pada hakikatnya mereka saling berkumpul dengan anggota faksinya.
Pertemuan Aristokrat Kerajaan Rowling—yang berlangsung selama 3 hari 1 malam—terdiri dari tiga susunan acara besar.
Malam pertama digunakan untuk sambutan dan awal berkumpulnya para bangsawan, dua hari berikutnya—yang dimulai sebelum matahari berada di puncaknya—para bangsawan tingkat tinggi hingga menengah, akan melakukan audiensi langsung dengan raja untuk melihat kesetiaan mereka. Hari terakhir digunakan sebagai acara penutup.
Namun, pertemuan aristokrat pada tahun ini sedikit berbeda. Karena adanya salah satu royalti yang akan melangsungkan pernikahan, keadaan ibukota akan semakin semarak dalam dua pekan ke depan. Pun tidak berbeda dengan para bangsawan yang memperpanjang masa tinggalnya di ibukota menjadi sekitar 12 hari.
Samar namun segera menguat, alunan musik mulai terdengar dari salah satu sudut aula. Para bangsawan memahami, mereka segera menyingkir dari bagian tengah aula yang biasa digunakan oleh para bangsawan untuk menari.
Ares, yang telah berjalan menjauhi panggung dan tiba di dekat salah satu meja penuh makanan—yang belum tersentuh—bersama Excel, segera memposisikan tubuhnya tepat di depan Excel dan mengulurkan tangan kanannya sembari tangan kirinya yang menyentuh dada.
"Apakah Anda ingin berdansa dengan saya, Tuan Putri?" tanya Ares dengan tersenyum lembut.
Pipinya merona, sarung tangan putih yang membalut telapak tangan kirinya segera menyentuh uluran tangan tunangannya. Dengan menahan malu, Excel menjawab, "Tolong bimbing diriku, Ksatriaku."
Saling tersenyum. Dengan bergandengan tangan, mereka berdua segera beranjak menuju bagian tengah aula dengan langkah yang sangat serasi.
Hm?
Bimbing diriku?
Apakah kamu tidak bisa berdansa?
Yah, tidak apa-apa.
Mari gunakan kesempatan ini untuk berbicara dengan Lucy setelah aku menari dengan Excel.
...----------------...