I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 126 : Fall of The Lombart Capital City, part 5



Tahun 1237, 26 Maret.


Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.


Dini Hari.


"Excel tidak sekalipun memiliki hak untuk mahkota."


Kata-kata seseorang yang duduk di atas singgasana membuat Ares seketika menegang. Genggaman tangannya pada Rapier pun terasa semakin erat, ekspresi wajahnya sejenak diliputi oleh kemarahan.


"Apa maksudmu?" Ares menyembunyikan emosinya yang memuncak.


Ares tentu mengerti arti dari kata-kata Ectave. Sang Raja menganggap Excel tidak dapat menjadi seorang pewaris tahta, yang mana dia menyangkal keberadaan Excel sebagai putrinya.


"Seperti yang 'orang itu' katakan, Ratu Ketiga merupakan seorang putri terkutuk. Hanya orang gila yang akan menyentuh—argh!" Kata-kata Ectave membuat kemarahan Ares tidak lagi terbendung.


Sebuah tusukan Rapier melukai perut Ectave hingga darah membasahi jubah putih kebesarannya. Ares tidak ingin mendengar kata-kata Ectave lebih lanjut, dia sadar bila Ectave hanya ingin membuat pikiran dan mentalnya kacau.


JLEB!


"Argh!" Tanpa penundaan, Ares sekali lagi menusukkan ujung runcing bilah Rapiernya menuju dada Ectave hingga mulutnya mengeluarkan darah.


BUK!


Sembari menarik kembali bilahnya, Ares menarik pakaian Ectave hingga dia terangkat dan melemparkannya ke bawah.


"Uhuk! Uhok!" Batuk berdarah, Ectave merasakan langkah Ares mendekatinya.


Tatapan mencemooh terlukis di atas wajah, perasaan kacau pun menyelimuti hatinya. Walaupun di dalam game tidak diketahui asal-usul Putri Kerajaan Rowling, Ares tidak pernah mengira jika Excel bukanlah anak kandung dari Sang Raja.


Selain kekesalan Ares, hal ini berimplikasi besar pada rencananya ke depan. Sebelumnya, Ares berniat untuk mengubah tatanan Kerajaan Rowling menjadi sebuah kekaisaran dengan memberikan mahkota kepada istrinya.


Tentu, bila Kerajaan Rowling telah dihancurkan dan Excel diketahui bukanlah merupakan anak sah dari Sang Raja, akan sulit membuat para bangsawan yang telah mengabdi pada tahta bertekuk lutut.


Sangat mungkin membuat mereka semua kehilangan nyawa, namun Ares mengerti bahwa tidak mungkin menjalankan pemerintahan sebuah negara dengan mengganti pejabatnya secara keseluruhan.


Satu, dua, hingga beberapa tetes air mata membasahi wajahnya, emosinya benar-benar kompleks karena telah melewati malam kudeta yang begitu menyiksa mentalnya. Perlahan, Ares mengarahkan bilahnya menuju kulit leher Ectave, keinginan untuk mempercepat membunuh orang gila di hadapannya pun menguat.


"Kehancuran akan membayangi hidupmu. Kesalahan yang sangat fatal bagimu karena telah menerima darah terkut—aaaaargh!" ujar Ectave.


Sangat membuatnya kesal, Ares mengiris kulit Ectave hingga membuatnya menjerit kesakitan.


Pandangan Ectave pun semakin kabur, banyak organ tubuhnya yang tidak lagi berfungsi normal. Ectave menyadari jika kematiannya akan terjadi tidak lama lagi.


Kebahagiaan besar menyelimuti hatinya, Ectave berpikir jika kedua pasukan putranya akan mampu menghancurkan Ares—tidak, House of Rueter secara keseluruhan.


Kedua sudut bibirnya pun terangkat. Hanya dengan sebuah gerakan bibir, Ectave mengatakan seseorang yang telah membuat Ratu Ketiga memiliki seorang anak.


Kedua matanya sejenak terbuka lebar, Ares mengerti dengan jelas gerakan bibir Ectave hingga membuatnya mengangkat tinggi bilah Rapiernya dengan penuh amarah, "Sial!"


JLEB!


Ada keinginan untuk menyiksa Ectave terlebih dahulu sebelum membunuhnya, namun Ares memutuskan untuk segera membunuhnya disaat amarahnya memuncak. Dia tidak lagi dapat menahan beban perasaannya, hanya dengan membunuh Calvin telah membuat mentalnya sangat kacau.


Perlahan, Ares menarik kembali bilah Rapier yang menusuk jantung Ectave. Tatapannya terlihat kosong, wajahnya pun mengadah untuk melihat langit-langit ruangan yang dipenuhi oleh banyak lentera.


Tidak ada diantara para ksatria dan Ksatria Pengawal Raja yang masih hidup dan tertahan yang membuka mulutnya. Bahkan untuk mereka, tidak ada yang menyangka jika Excel bukanlah merupakan anak kandung Sang Raja.


"Aku akan membunuh siapapun dari kalian yang mengungkapkan kebenaran ini." Nada yang terdengar sangat mengintimidasi. Menilai dari reaksi para ksatria, Ares menganggap jika berita ini belum menyebar.


Dalam diam, meskipun mereka merupakan musuh hingga beberapa saat lalu, terbentuk sebuah kesepakatan diantara para ksatria untuk menaati perintah Ares.


Tentu saja, akibat dari perkataan Ectave, Ares benar-benar tidak menginginkan untuk membuat istrinya duduk di atas tahta. Baginya, lebih baik mendirikan sebuah negara baru dibandingkan dengan mengenakan istrinya sebuah mahkota yang telah tercemar yang berada di atas kepala Ectave tersebut.


Seorang perwira tingkat tinggi House of Rueter memasuki ruang tahta dengan langkah cepat. Menilai Raja telah terbunuh, perwira tersebut segera berlutut tepat di belakang Ares dengan menundukkan dalam kepalanya, "Lapor! Pangeran Ketiga Nick dan Duke Holfart telah terbunuh! Kami telah menahan Ratu Pertama Milaine dan Ratu Kedua Nieve di penjara bawah tanah!"


"Kirimkan tanda untuk menghentikan operasi. Kumpulkan semua pejabat bangsawan yang telah kalian tahan," jawab Ares.


"Ya, Tuan!" timpal Perwira tersebut dengan menunduk dalam lalu bangkit untuk meninggalkan ruangan.


Sedikit terhuyung, Ares terduduk dengan cukup keras hingga membuat pantatnya terasa sakit. Kembali mengadah, kekosongan tetap terlukis pada ekspresi wajah yang dibuat Ares.


Jauh di dalam kota, kekacauan hingga menyebabkan banyak penduduk berlarian menyelamatkan diri, meskipun tetap ada yang berdiam diri di dalam rumahnya. Ledakan keras yang sering kali terdengar dari beberapa sudut ibukota membuat mereka sangat ketakutan.


Akibat dari hal ini, meskipun para prajurit tidak menginginkannya, mereka memutuskan untuk membunuh beberapa penduduk untuk membuat operasi mereka sukses. Terlebih lagi, pada baju besi para prajurit terdapat lambang Kerajaan Natrehn sehingga mereka dapat merasa aman dari kemarahan para penduduk pasca kekacauan ibukota.


Tanpa penundaan, dari arah distrik bangsawan ibukota, ribuan prajurit kavaleri yang mengenakan baju besi yang terukir lambang House of Rueter berpencar ke seluruh penjuru distrik dimana para rakyat jelata tinggal.


Bertujuan untuk mengusir musuh, Robert—perwira tingkat tinggi House of Rueter yang memimpin salah satu unit—mengangkat tinggi pedangnya disaat dia menunggang kuda perangnya.


"Seraang!"


Walaupun hanya sebuah kepura-puraan belaka, pertempuran nyata diantara dua belah pihak terlihat sangat nyata bagi para penduduk yang melihat.


TRANG!


Bersama beberapa bawahannya, Robert menghunuskan pedangnya dan saling bersilangan dengan prajurit musuh. Pengejaran Robert membuahkan hasil, para prajurit yang mengenakan baju besi Natrehn perlahan-lahan terarah menuju gerbang utara ibukota.


Banyak pedang saling bersilangan, tombak-tombak saling tertangkis, para prajurit yang mengenakan baju besi Natrehn segera menarik pasukannya untuk meninggalkan ibukota setelah cukup tersudut.


Di salah satu sudut distrik rakyat jelata, Robert mengangkat tinggi pedangnya, ia berteriak dengan nada penuh kebanggaan seolah telah memenangkan peperangan, "Natrehn telah dipukul mundur! Ibukota telah aman dan berada di bawah perlindungan Margrave Rueter!"


"Ooohhhhh!"


Meskipun hanya sedikit penduduk yang berada di sekitarnya, teriakan keras bergema hingga diikuti oleh beberapa tempat di setiap sudut ibukota. Tidak hanya itu, beberapa penduduk melemparkan batu-batu kecil yang dapat mereka temukan kepada prajurit Natrehn yang sedang ditarik mundur.


Rasa kepercayaan diri menyelimuti para penduduk ibukota, kebanggaan karena berhasil melindungi tanah kelahiran mereka merasuk pada hati masing-masing penduduk, yang sangat berbeda dengan suasana distrik tempat tinggal para bangsawan yang mencekam karena kudeta Ares.


Saat itu, tidak ada diantara para penduduk yang mengira jika Sang Raja serta banyak bangsawan Kerajaan Rowling telah gugur mempertahankan keamanan ibukota, yang mana suasana berkabung akan menyelimuti ibukota selama beberapa hari ke depan.


...----------------...