
Tahun 1237, 8 Juni.
Ibukota Argen, Kekaisaran Renacles.
Menjelang Matahari Terbenam.
Hiruk pikuk jalanan petang ibukota tidak sedikitpun membuat langkah pria tua dengan rambut penuh uban kehilangan arah. Connor Cornwall—Kepala Klan Cornwall—sangat memahami apabila Ibukota Kekaisaran Renacles, Argen, merupakan sebuah kota yang tidak pernah tidur.
Berbeda dengan kota-kota besar di negara lain, perputaran ekonomi di Ibukota Argen tidaklah pernah terhenti, bahkan jika malam telah menjadi larut dan tidak ada sedikitpun jaminan keamanan di atasnya.
Banyak perusahaan raksasa yang menjadi sebab, tidak mungkin mereka akan menghentikan aktivitasnya, yang mana dapat mengacaukan sektor lain dari perusahaan tersebut.
Connor menemukan sebuah bar yang cukup ramai, suara gaduh dari dalam terasa kental, lentera-lentera di dalamnya juga menampilkan banyak orang yang terduduk menikmati minuman mereka.
Perlahan menepi, melewati banyak orang yang berlalu lalang, Connor memasuki pintu kecil kembar yang sangat khas dengan sebuah bar.
BRAK!
"Wahahaha!"
"Hajar dia!"
"Ini kemenanganku, Sial!"
Seorang pria paruh baya duduk lemah tertunduk di sudut aula bar, dipukuli oleh beberapa laki-laki berotot kekar, banyak meja-meja yang berisi papan-papan kecil perjudian, beberapa meja lain memiliki kumpulan pemabuk di atasnya, walau beberapa orang diantaranya mengalihkan perhatiannya untuk menatap Connor.
Connor melangkah, acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar, kepada seorang bartender paruh baya di balik meja panjang, walau di sisi lain terdapat seorang wanita bertubuh sensual, sangat menggoda yang di sekitarnya memiliki banyak pelanggan laki-laki.
Connor mengeluarkan 2 koin perak dari sakunya, meletakkannya di atas meja dengan telapak tangan yang terlungkup, "Rekomendasimu."
"Apa kau baru saja tiba di ibukota, Pak Tua?" Pria paruh baya sangat terkejut dengan uang yang diberikan, menyembunyikan ekspresinya dengan segera mengambil koin tersebut dan meletakkannya di bawah meja.
"Ya." Bersamaan dengan kata-katanya, Connor sekali lagi meletakkan sebuah koin emas besar di atas meja, tanda bahwa ia berniat membeli banyak informasi.
Keterkejutan besar hinggap dalam benak Sang Bartender, membuatnya tanpa sadar sedikit membelalakkan kedua matanya. Baginya, membeli informasi pada umumnya akan dihargai paling mahal sekitar 1 perak besar, yang bernilai 1.000 G.
Dengan cepat mengambil koin tersebut, Bartender segera mempersiapkan cawan keramik hijau mewah dan mengisinya dengan wine berusia sekitar 100 tahun, minuman terbaik yang ia miliki.
"Bola besar kita sedang gencar, mengatur para semut, memblokade bola besar lain, dan menghancurkan bola kecil yang melawan." Sembari menyajikan wine, Bartender menjawab lirih.
Connor perlahan menutup kedua matanya, meneguk wine dengan elegan.
Bartender tidak mungkin mengatakannya dengan jelas, Connor mengerti akan kehati-hatiannya terhadap para ksatria berseragam sipil, yang tentu Connor dengan jelas memahami maksud di baliknya.
"Bola besar kita" merujuk pada Kaisar Renacles, yang saat ini mengatur para semut, atau dengan kata lain para pedagang. Pengibaratan semut berarti satu hal, para bangsawan dapat dengan mudah menginjak-injak golongan pedagang, membuat mereka lemah seperti seekor semut.
"Bola besar lain" tentu dapat dikatakan Kekaisaran Suci Alven serta Agama Arafant, yang mana Kaisar Renacles akan memblokade perekonomian terhadap negara-negara sekitar yang di dalamnya Agama Arafant serta Kekaisaran Suci Alven memiliki pengaruh besar, dengan mengatur para semut tersebut.
Para bangsawan dan perusahaan besar dapat dikatakan sebagai bola kecil, yang memiliki pengaruh hingga dapat menyamai seorang marquis, seperti Firma Coulent.
Samar, suara tegukan terdengar, Connor kembali meletakkan cawannya di atas meja, "Hanya itu?"
Bartender sejenak mengalihkan pandangannya ke sekitar, mewaspadai seseorang yang dapat membahayakan nyawanya, "Troy, Vasina, dan Loic dari Coulent. Hanya itu yang aku tahu."
Bersamaan dengan kata-katanya, Bartender mengeluarkan secarik kecil perkamen dari sakunya, yang Connor segera ambil dengan cepat.
Connor tidaklah terkejut dengan kemampuan bartender di hadapannya. Bahkan, bagi Connor, broker informasi lebih pintar dibandingkan dengan bangsawan pedesaan yang mayoritas dari mereka tidaklah dapat membaca.
Meskipun begitu, Connor tidak menyangka bila perkataan Tuannya dua bulan yang lalu akan menjadi sebuah kebenaran.
Tepat setelah melancarkan kudeta di Ibukota Lombart, Ares memerintahkan Connor untuk segera bergerak menuju Ibukota Kekaisaran Renacles, Argen, untuk menjemput Loic karena merasakan ketidaknyamanan terhadapnya.
Bulan telah tampak, tidak sedikitpun membuat orang yang berlalu lalang menghentikan aktivitas mereka, membuat Connor kembali menyatu dengan kerumunan orang di jalan utama dan menuju tempat dimana para bangsawan tinggal.
Sejenak, Connor mengadah, pemandangan malam "Highland" begitu memekakkan mata. Istana Kekaisaran Renacles serta beberapa gedung pemerintahan berarsitektur Yunani terlihat sangat indah, walau berada di tengah kegelapan malam.
Hampir mendekati dimana tembok yang menjadi pembatas dengan tempat tinggal para bangsawan, sebuah barak ksatria berdiri megah, seolah mengintimidasi rakyat jelata agar mengetahui tempat mereka berada.
Connor menutupi kepalanya dengan tudung jubah gelapnya, langkahnya teralihkan menuju gang-gang sempit tak jauh dari barak ksatria berada.
Sebuah penutup lubang saluran pembuangan air samar terlihat di salah satu sudut gang, terasa menyatu dengan kekumuhan lingkungan sekitar.
Tentu, pengalaman serta keterampilan penyusupan selama puluhan tahun membuat Connor dengan mudah menemukannya. Dengan mengawasi sekitar, tidak terasa sedikitpun hawa keberadaan, membuat Connor dengan paksa membukanya dan memasuki lubang tersebut dengan cepat.
Bau yang khas.
Hanya hal tersebut yang dapat Connor rasakan tepat setelah menutup kembali lubang tersebut dan melompat untuk menapaki sebuah jalanan batu yang berada tepat di samping aliran air yang mengalir yang mengalir tenang.
Connor menyalakan lentera kecil yang redup, tidak membuat penglihatannya terganggu meski berada di tengah suasana remang. Dia melangkah menuju saluran yang menghubungkan barak ksatria dengan saluran pembuangan diselingi suara cicitan tikus yang khas dengan kewaspadaan tinggi.
Tak terdapat keanehan apapun, Connor mengadah dengan mendekatkan lenteranya, sebuah dudukan penutup yang mirip dengan penutup yang sebelumnya ia lalui terlihat jelas pada langit-langit saluran pembuangan, membuatnya mematikan kembali pencahayaan dan mempersiapkan dirinya untuk menyusup.
Tap.
Melompat, beberapa kali berpijak pada dinding batu, salah satu lengan Connor menangkap pegangan besi penutup, membukanya dengan paksa hingga sedikit terbuka.
Gelap, terasa seperti di tengah ruang bawah tanah saat Connor mengintipnya. Memeriksa sekeliling, tercium bau darah yang sangat pekat, walau Connor tidak menemukan keberadaan apapun.
Ruang penyiksaan, kah?
Connor dengan segera bersembunyi meratap pada tembok tepat setelah menutup lubang tersebut kembali, memanfaatkan jubah gelapnya dan menyamarkan diri dengan lingkungan.
Genggaman tangan kanannya terdapat belati, Connor mengendap-endap dengan kewaspadaan tinggi, hingga menemukan beberapa sel penjara dengan seorang manusia yang masing-masing berada di dalamnya tak jauh dari tempat lubang pembuangan.
Beberapa wanita dengan tubuh penuh luka, yang juga terdapat cairan keruh pada mahkotanya seperti korban pemerkosaan. Beberapa pria lain mendiami sel dengan anggota tubuh yang terpotong-potong, seolah membuat mereka menjadi obyek suatu eksperimen manusia.
Namun, seorang pemuda berambut hitam yang menjadi target Connor ada diantara mereka. Ekspresinya yang penuh ketakutan terlukis di atas wajahnya yang tidak sadarkan diri, tubuhnya entah mengapa masih dapat dikatakan lengkap, walau beberapa sayatan pisau telah terukir di atas kulit hingga tubuhnya dipenuhi nanah.
Connor mendekati sel Loic, merusaknya tanpa sedikitpun menghadirkan sebuah suara dengan memanfaatkan keahliannya.
Dengan cepat, Connor mengeluarkan obat rahasia klannya—yang juga digunakan Night Walker pada Lucy di masa lampau—dan mengoleskannya pada luka-luka yang terukir di atas tubuh Loic.
"Ukh..." Beberapa saat berselang, Loic perlahan membuka kedua matanya karena merasakan tubuhnya yang membaik, hingga mendapati seorang pria tua di dekatnya yang sangat membuatnya ketakutan, "Hii! Ma—af—"
Meskipun lirih, terasa lemah, Connor segera menyumpal mulut Loic, "Tenanglah. Apa yang terjadi padamu?" Meski bertanya, Connor memperhatikan sekelilingnya, bersiap untuk melakukan sebuah pertarungan jika situasi menjadi buruk.
Tidak mendapat jawaban, Loic hanya dapat melukiskan ketakutan. Matanya berair, hendak menangis, seolah telah melalui masa-masa yang begitu kejam.
"Aku adalah utusan Tuan Ares von Rueter." Mendengar kata-kata Connor, kedua mata Loic terbuka lebar. Sebuah angan, harapan untuk diselamatkan, telah datang kepadanya.
"To... long... aku..." Loic berusaha menggerakkan salah satu tangannya. Tubuhnya lemah penuh memar, tidak memiliki sedikitpun kekuatan, menyebabkan tangannya hanya dapat gemetar tidak terangkat.
KLANG!
Tap.
KLANG!
Tap.
Suara pukulan besi dan langkah kaki terdengar semakin keras, Connor memutuskan untuk membawa Loic keluar dari tempat siksaan ini terlebih dahulu, walau itu menyebabkan tubuh Loic merasakan rasa sakit akibat lukanya yang tidak dapat dikatakan telah menutup.
Tepat saat Connor mengintip sebelum benar-benar menutup lubang saluran pembuangan, seorang gadis berambut pirang twintail bertubuh pendek dibersamai dua ksatria pengawal bertubuh sangat besar memasuki ruangan.
Meski Connor sangat meyakini bila gadis tersebut tidak menyadari keberadaannya karena hawa kehadirannya yang tersembunyi, tatapan Connor bertemu dengan mata merah gadis tersebut, yang segera mengangkat salah satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman menakutkan, tanda bahwa ia telah mengetahui keberadaan Connor, walau ia tidak bergerak mengejar pelariannya.
...----------------...