
Tahun 1237, 8 April.
Perbatasan Timur Kerajaan Natrehn.
Malam Hari.
Di bawah gelapnya malam, Arthur, Sieg, serta 20 prajurit elitnya memasang mata pada gerbang benteng yang digunakan oleh Tentara Natrehn untuk menjaga perbatasan timur Kerajaan Natrehn.
Beberapa saat sebelum mentari tergelincir dari puncaknya, kelompok Sieg bergerak cepat dengan pasukan elitnya menuju perbatasan yang hanya berjarak setengah hari perjalanan normal dengan kereta kuda biasa.
Namun, mereka menjumpai adanya keanehan selama perjalanan. Suasana terlampau sepi, bahkan tidak terlihat satupun regu yang berpatroli di sekitar.
Perasaan tidak mengenakkan melanda. Hanya terlihat beberapa titik api sebagai penerangan dari sisi luar benteng, Sieg dan kelompoknya merasa bila penjagaan benteng tersebut tidaklah ketat.
"Yang Mulia." Salah satu ksatria Lethiel dengan lirih memanggil, hingga membuat Sieg memberi perhatian kepadanya, meskipun dia tetap mempertahankan pandangannya dengan mengangguk ringan sebagai tanda ksatria tersebut untuk melanjutkan perkataannya.
"Beberapa prajurit kavaleri datang dari arah timur!" Lirih, namun nada prajurit tersebut penuh ketegasan.
Tidak hanya Sieg dan Arthur, seluruh prajurit elit kelompok mengalihkan tatapannya ke arah yang dilaporkan. Samar dalam kegelapan, tiga prajurit kavaleri memacu kudanya mendekat seolah terlihat terburu-buru.
"Kita akan menunggu hingga mereka kembali." Selain untuk memastikan identitas ketiga prajurit kavaleri tersebut, Sieg perlu mengamankan bukti dimana Forbrenne telah melakukan pengkhianatan berupa melakukan kesepakatan balik layar dengan Natrehn.
Tidak mungkin Sieg akan melakukan tindakan preventif seperti mencegat mereka karena hal tersebut belumlah dapat dipastikan kebenarannya.
"Ya, Yang Mulia!" Arthur dan para prajurit elit lirih menjawab dengan tegas.
Hingga tiga prajurit kavaleri tersebut berada tidak jauh dari kelompok Sieg yang bersembunyi di dalam hutan persekitaran benteng, sebuah lambang Kerajaan Forbrenne yang penyamarannya terlihat sedikit terkelupas—karena dampak perjalanan mereka—terukir pada baju besi para prajurit.
Telah memiliki dugaan kuat sebelumnya, tetap saja Sieg dan para prajurit lain tidak luput dari keterkejutan dan amarah saat mengetahui bila sekutu mereka berkhianat, meskipun mereka tetap mempertahankan ketenangan dirinya.
Gerbang benteng sedikit terbuka, mempersilakan mereka segera masuk setelah melapor, seolah hal ini telah dilakukan beberapa kali sebelumnya.
Malam telah berjalan semakin larut, hanya keheningan yang berada di persekitaran benteng tanpa adanya regu patroli yang mengawasi. Tidak ada seorangpun diantara Kelompok Sieg yang tidak merasakan keanehan karenanya, hingga membuat mereka selalu bergantian menjaga dengan tetap memasang kewaspadaan tinggi.
Grraakk.
Suara gerbang kembar benteng yang terbuka samar terdengar, secara naluriah setiap orang dari Kelompok Sieg kembali bersiaga penuh. Tiga prajurit kavaleri Forbrenne segera keluar darinya dan pergi dengan kekesalan yang terlihat pada pergerakan mereka.
Apakah mereka tidak mendapatkan hasil yang baik?
Penilaian Sieg tepat, yang juga dirasakan oleh setiap prajurit dalam kelompoknya. Berbalik memandang para prajurit yang bersembunyi di belakangnya, terjadi kesepakatan dalam diam untuk menyerang disaat tiga prajurit Forbrenne berada tepat di depan semak-semak yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Sepuluh prajurit segera mempersiapkan busur dan anak panah. Membidik, mereka tidak hanya menargetkan anggota tubuh para prajurit, namun juga pada bagian tunggangan mereka yang tidak terlindungi.
Pltak!
Pltak!
Pltak!
Bunyi tapak kuda terdengar semakin keras, tanda bila tiga prajurit Forbrenne akan segera tiba. Segera, Sieg mengangkat rendah tangan kanannya sebagai tanda untuk menembak.
Tangan Sieg mengarah ke depan, para pemanah menembakkan anak panah mereka. Bersamaan dengannya, Arthur dan 10 prajurit lain melompat keluar dari persembunyian mereka dengan pedang yang terhunus.
JRAT!
JRAT!
Ngiiikk!
"Argh!"
Sebuah anak panah mengenai salah satu kaki seorang prajurit, sebuah anak panah lain melukai bahu seorang prajurit hingga menyebabkan keduanya terjatuh dari kuda mereka yang tetap melaju kencang. Bersamaan dengannya, sebuah anak panah mengenai kaki belakang kuda yang menyebabkan prajurit yang menungganginya terperosok jatuh.
Kegelapan malam serta suara sunyi senyap anak panah yang melesat tidak membuat ketiganya waspada. Mereka bahkan tidak memprediksi bila Kelompok Sieg telah mengintai karena menganggap daerah persekitaran benteng adalah tempat yang aman.
Arthur serta 10 prajurit elit Lethiel mendekat dengan cepat dan menahan ketiga prajurit tersebut, yang segera diikuti oleh Sieg dan para pemanah.
"Sial! Lepaskan aku!" Seorang prajurit kavaleri yang kudanya terjatuh berteriak keras.
Tidak ada yang tidak terkejut setelah melihat jelas sosoknya. Tubuh besar kekar dengan garis bekas luka pada wajahnya, Kelompok Sieg tahu jika pria tersebut merupakan tangan kanan Jenderal Tertinggi Kerajaan Forbrenne, Garford Belzec.
Perasaan Sieg dipenuhi amarah, dia segera mengambil kerah pakaian ksatria Garford dan mengangkatnya tinggi, "Bajingan pengkhianat!"
BRAK!
"Argh!" Garford berteriak penuh kesakitan setelah Sieg melemparnya kembali ke atas tanah.
Berbeda dengan dua prajurit lain yang meregang nyawa karena tidak kuasa menahan luka, tubuh Garford lemas tidak berdaya, beberapa tulangnya telah patah setelah tersungkur dari tunggangannya.
Dengan bantuan para prajurit, Arthur mencari dokumen yang dapat menjadi bukti pengkhianatan Forbrenne, meninggalkan Sieg yang ditahan oleh para prajurit lain karena telah menghunuskan pedangnya untuk membunuh Garford.
"Yang Mulia!" Salah satu prajurit yang menahan Sieg memanggil, "Mohon bersabar agar tidak membalasnya sekarang!"
Mengabaikan Sieg, Arthur menemukan sebuah gulungan perkamen di balik saku pakaian ksatria yang berada di bawah balutan armor ringannya.
Dengan cepat, Arthur membacanya dengan cermat. Meskipun telah menebak hingga batas tertentu, Arthur tidak menyangka bila pengkhianatan Forbrenne berada di luar perkiraannya.
Setelah pihak konfederasi mengalami kekalahan, Forbrenne berniat untuk menjadi wilayah bawahan Kerajaan Natrehn serta mendapatkan sebagian Wilayah Kerajaan Mana dan Kerajaan Lethiel. Tentu, akibat dari permainan Eina, Forbrenne semakin sulit untuk berdiplomasi dengan Natrehn.
Tap.
Tap.
Bunyi langkah kaki datang mendekat, membuat Sieg kembali bersikap waspada dan menenangkan perasaannya dengan bertahap.
Setelah berbalik, mereka menemukan seorang prajurit yang mengenakan baju besi berlambangkan Natrehn melangkah mendekat dengan perlahan, seolah tidak terdapat ketakutan apapun padanya pada musuh yang berjumlah 22 orang bersenjata lengkap.
"Siapa kau?!" tanya Sieg dengan kewaspadaan tinggi.
Tetap tidak menghentikan langkahnya, prajurit tersebut melambaikan ringan salah satu tangannya hingga membuat Kelompok Sieg keheranan, "Tidak perlu khawatir, Pangeran Lethiel."
Beberapa langkah terasa telah berada di dekat Kelompok Sieg, prajurit tersebut mengambil beberapa lembar perkamen dari saku pakaian ksatrianya dan melemparnya kepada Kelompok Sieg.
"Tuan saya, Marquess Fonca, memberikan pesan kepada Anda, 'Manfaatkan semua bantuan yang telah kuberikan pada kalian, dan bersiaplah menunggu Ksatria Suci datang setelah Pembawa Nama Kona terakhir tewas terbunuh.'" Bersamaan dengan kata-katanya, para prajurit menangkap beberapa gulungan perkamen yang terlemparkan.
"Pembawa nama 'Kona' terakhir?" Sieg tidak mengerti, begitu pula dengan Arthur serta para ksatria lain yang hanya dapat terdiam.
"Ya, Julius von Runel Kona Natrehn. Orang terakhir yang memiliki darah keturunan murni dari Keluarga Natrehn, salah satu Keluarga Keuskupan yang berasal dari Gereja Arafant." Tanpa penundaan, ksatria tersebut segera berbalik karena telah merasa menyelesaikan tugasnya.
Tidak memiliki sedikitpun kesopanan, namun tidak ada yang mempermasalahkan perlakuan ksatria tersebut pada mereka yang menjadi musuhnya.
Tentu, Sieg, Arthur, dan para prajuritnya hanya dapat terdiam karena tidak mengerti. Tidak ada seorangpun yang mengetahui informasi tersebut terkecuali Ares dan para bangsawan besar Kerajaan Natrehn.
Dalam kebingungan karena telah mendapatkan banyak bukti sekaligus, Kelompok Sieg hanya dapat mengamati kepergian ksatria tersebut dengan penuh kewaspadaan.
...----------------...
jangan lupa likenya!