I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 101 : Pencegahan Pengkhianatan



Tahun 1236, 21 September.


Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Menjelang Sore Hari.


Bagaimana agar Sieg tidak berkhianat di masa depan?


Ares telah memikirkannya dengan seksama.


Tentu saja, dengan membuat Sieg menganggap tinggi Ares serta berpikir bahwa dirinya akan merugi jika dia melakukan sebuah pengkhianatan.


Di dalam setting plot permainan sebelumnya, Sieg beralih pihak diakibatkan oleh pemilihan rute Ares di dalam game. Ares benar-benar tidak memiliki sebuah kendali emosi terhadapnya yang membuatnya tidak dapat berkutik disaat Sieg berkhianat.


Berbeda dengan dunia game sebelumnya, Ares dapat bertemu secara langsung dengan Sieg yang menyebabkan kemungkinan terjadinya pengkhianatan menurun drastis.


"Claire, kau juga," perintah Ares bernada sedikit keras.


"Y—ya, Pak!" jawab Claire sembari menegapkan posisi duduknya.


Ares menghentikan segala bentuk keformalannya, meskipun lawan bicaranya merupakan seorang royalti dari negara lain karena penilaiannya kepada mereka berada di titik terendah.


"Jika kau melakukan sebuah mediasi, lakukanlah seperti seorang pedagang," ujar Ares.


"Apa... yang kamu maksud?" Sieg tidak memahaminya dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk secara tidak sadar.


"Duduk tegak!" teriak Ares.


"Y—ya, Pak!" timpal Sieg yang sedikit terkejut dengan menegakkan kembali punggungnya.


"Dengar, jika kalian hendak membuatku menyelamatkan wilayah kalian, apa yang seharusnya kalian berdua katakan kepadaku terlebih dahulu?" tanya Ares sedikit sebal sembari duduk kembali di samping Excel.


Baru saja memasuki usia kedewasaan yang membuatnya sebagai pemain baru dalam praktik aristokrasi, Claire mengerti jika dirinya tidak memiliki satupun pengalaman yang membuatnya hanya dapat menutup rapat kedua bibirnya.


Tekanan yang diberikan Ares terasa begitu besar bagi Sieg, seorang penerus tahta dari sebuah negara kecil. Namun, kehormatan dan wibawa seorang bangsawan terasa seolah menyelimuti hatinya, "Kami... harus terlebih dahulu mengatakan kepadamu jika wilayah kami pantas untuk diselamatkan."


"60 poin," timpal Ares dengan cepat.


"Eh?" ungkap Claire yang tidak mengerti.


"Apa yang kau katakan memiliki makna terlalu luas. Mulailah dari keuntungan-keuntungan yang dapat kau berikan kepadaku jika aku menyelamatkan wilayah kalian. Kau tahu bukan apa yang kerajaanmu miliki?" balas Ares seolah bosan.


Tersadar akan kata-kata Ares, sedikit membuat keduanya tercerahkan. Segera, ekspresi Sieg dan Claire menjadi keruh. Mereka mengetahui jika Wilayah Kerajaan Lethiel secara keseluruhan hanya memiliki tanah yang subur.


"Tapi, kami tidak dapat—" Sieg mengatakannya dengan nada menyesal.


"Hutan," sela Ares.


Sebuah industri persenjataan militer.


Hal tersebut seketika terngiang di dalam benak keduanya. Sebagian besar Wilayah Kerajaan Lethiel terdiri atas hutan dan dataran tinggi dengan beberapa gunung aktif, Sieg dan Claire tentu memahami karakteristik wilayah mereka sendiri yang membuatnya seolah tersadar hingga sedikit membuka kedua matanya.


Namun, tidak hanya hal tersebut yang ada di dalam benak Ares.


Kondisi geografi dari suatu wilayah dengan banyak gunung aktif serta hutan yang belum terjamah, pikirannya seketika terjurus pada suatu hal.


Tambang logam mulia.


Di dalam game, Wilayah Kerajaan Lethiel memiliki sebuah tambang emas. Tentu saja, Ares tidak hanya akan mengandalkan pengetahuannya yang berasal dari game.


Mengingat karakteristik tersebut, logam-logam seperti timah, besi, berlian, dan bahkan garam batu, dapat dengan mudah ditemukannya jika Ares melakukan sebuah penelitian terhadap wilayah tersebut.


Bagi Ares, yang akan membuat wilayahnya menjadi basis perdagangan, memiliki tambang logam akan menjadi suatu nilai yang sangat besar baginya.


Sejak awal, Ares telah berniat untuk membantu Kerajaan Lethiel yang berada dalam keadaan sekarat, yang mana pembicarannya sebelum ini dikarenakan dirinya yang berkehendak untuk mengubah kepribadian Sieg.


Memandang dua orang di depannya yang hanya dapat terdiam, Ares hanya dapat tersenyum masam.


"Apakah kalian begitu tersudut?" Pertanyaan Excel yang terasa penuh kekhawatiran memecah keheningan yang sejenak menyelimuti suasana.


Ekspesi wajah Claire berubah menjadi sulit, "Beberapa waktu berlalu... kami terpaksa memangkas persediaan makanan para penduduk demi memenuhi ransum makanan untuk kebutuhan militer dua negara konfederasi lain. Jika keadaan ini terus berlanjut... mengingat negara kami yang mengalami musim dingin... kami tidak tahu berapa banyak penduduk yang akan mati kelaparan di awal tahun nanti..."


"Begitu..." Excel mengatakannya dengan nada menyesal, ia pun mengalihkan wajahnya kepada suaminya seolah meminta bantuan, "Sayang..."


Kamu... sangat tidak tahu malu, bukan?


Aku tidak menyangka kamu akan memasang wajah seperti itu meskipun sejak beberapa hari lalu kamu tidak ingin berbicara sedikitpun denganku.


Menatap wajah wanita hamil yang duduk di sampingnya tersebut, Ares hanya dapat menghela napas berat.


Meskipun begitu, Ares merasa sangat lega karena karakter Excel yang melembut semenjak istrinya mengandung dan melaksanakan upacara pernikahan beberapa bulan yang lalu.


Sejenak terdiam, Ares pun menutup kedua matanya karena memikirkan bagaimana dirinya akan menyalurkan bantuan makanan untuk Kerajaan Lethiel.


Hmm, perjalanan laut ke utara akan memakan waktu sekitar 2 bulan.


Tapi, aku tidak mungkin mempersiapkan bantuan makanan dalam waktu kurang dari satu bulan...


Kupikir... aku harus meminta bantuan Askarr serta Havarr.


"3 bulan," ujar Ares setelah merubah ekspresinya menjadi serius.


"Apa... yang sebenarnya Anda maksud, Margrave?" tanya Claire yang terlihat sedikit memiringkan kepalanya.


"Aku akan mengirimkan bantuan makanan dalam 3 bulan. Tahanlah selama itu," jawab Ares.


Secercah harapan muncul, ekspresi Sieg dan Claire seketika dipenuhi kebahagiaan. Bersama-sama menundukkan dalam kepalanya, Sieg dan Claire serentak menunjukkan rasa syukur yang sangat tulus dari hati mereka yang terdalam, "Terima kasih, Margrave!"


"Untuk keamanan negara kalian, aku akan mengirim 5.000 prajurit bersama dengan bantuan makanan. Jangan khawatir, aku mengirimnya melalui jalur laut," sambung Ares.


"Apakah tidak apa-apa melewati rute laut? Meskipun tidak dapat dipastikan, ada kemungkinan besar kapal Anda akan bertemu dengan kelompok barbarian..." timpal Sieg yang mengandung keraguan.


"Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir..." Ares mengatakannya dengan acuh tak acuh. Meskipun begitu, Ares adalah seorang bangsawan tulen, dia tidak mungkin mengabaikan apa yang telah dikatakan oleh Sieg sebelumnya, "Jadi... kamu akan bersumpah setia kepadaku, bukan?"


"Eh?!" Tersadar kembali akan ucapannya beberapa saat lalu, Sieg merasakan sebuah penyesalan yang begitu dalam.


Pandangannya teralihkan kepada pemuda berambut biru di depannya yang terlihat memiliki senyuman di atas wajahnya tersebut, Sieg pun hanya dapat menyerah karena dirinya saat ini benar-benar membutuhkan uluran tangan Ares, "I—iya..."


"Dan juga... saya akan memberikan Claire kepada Anda demi terjaganya hubungan baik diantara kita," sambung Sieg.


Salah satu lengan Ares sekali lagi terasa sangat kesakitan akibat dampak cubitan yang sangat kuat. Menjadi panik di dalam hatinya, Ares pun menolak pemberian Sieg, "Tidak, aku tidak akan menikahi Claire."


"Eh?" Claire sangat terkejut dengan respon yang diberikan Ares, "Kenapa?"


Claire tentu sedari dulu telah menyiapkan dirinya sebagai alat politik. Bagi para bangsawan pada umumnya, sebuah pernikahan politik lebih memiliki kekuatan dibandingkan dengan perjanjian biasa, hal itu membuat Claire sedikit merasa heran dengan kepribadian Ares.


Hmm...


Meskipun mungkin saja Sieg akan sedikit berubah, namun aku tetap membutuhkan sebuah pengekang agar dia tidak mengkhianatiku.


"Apakah kamu memiliki seorang tunangan, Sieg?" tanya Ares yang tidak mengacuhkan pertanyaan Claire.


"Belum..." jawab Sieg dengan sedikit menahan malu.


"Dalam empat bulan ke depan, menikahlah dan buatlah seorang anak." Kata-kata Ares tidak hanya membuat Sieg terbelalak, bahkan Claire dan Excel juga tidak berbeda dengannya.


"Setelah dia berumur 5 tahun, pindahkanlah dia menuju ibukota kekaisaran agar dia menjadi tunangan anakku," sambung Ares.


"Eh?" Claire tidak memahami perkataan Ares, "Ibukota kekaisaran?"


"Tentu saja, ibukota dari negara yang akan aku buat di benua barat setelah kekacauan ini," timpal Ares sembari tersenyum masam.


Hening.


Sieg dan Claire sejenak mematung akibat pernyataan Ares yang sangat luar biasa tersebut.


Apakah dia... dapat menjanjikan kami hal seperti itu karena dia akan mengkudeta kerajaan ini?


Kupikir... aku benar-benar sangat menyedihkan.


Apakah aku bisa menjadi pribadi yang dapat bersanding dengannya?


Menghapus ekspresinya yang dipenuhi keterkejutan sebelumnya, Sieg mengutarakan pendapatnya, "Tapi, saya belum mengetahui jenis kelamin—"


"Tidak masalah, aku memiliki banyak anak, kau tahu?" sela Ares.


Terdapat sedikit rasa rendah diri di dalam benak Sieg. Dia tidak menyangka bahwa Ares, yang terlihat memiliki umur yang sebaya dengannya, dapat dengan percaya diri mengatakan hal tersebut.


"Baik..." timpal Sieg yang menyerah.


"Lalu, mari buat nota kesepakatan dengan para pejabat lain." Bersamaan dengan kata-katanya, Ares bangkit dari kursinya diikuti oleh Excel.


Sieg dan Claire pergi terlebih dahulu meninggalkan Ares dan Excel. Sedikit rona merah muncul di atas wajahnya, namun Excel sedikit menunduk lemah karena penyesalannya yang sejenak terpengaruh emosi, "Terima kasih... dan maafkan aku..."


"Tidak apa-apa, bukankah aku telah berjanji kepadamu pada saat itu?" timpal Ares.


Kedua sudut bibirnya terangkat, muncul sebuah kelegaan serta kebahagiaan besar di dalam hati Excel. Meskipun dia memprotes suaminya dengan mencubitnya beberapa saat lalu, Excel tentu mengerti dan telah menerima bila suaminya mengambil Claire sebagai istri kedua—walaupun dia memiliki perasaan berat terhadapnya.


Memandang perut buncit istrinya tersebut, Ares hanya dapat tersenyum tipis.


Jika kamu adalah seorang laki-laki, ayah akan membuatmu memiliki impian dari seluruh pria di dunia ini, Nak.


Meskipun begitu... Sieg, mungkin jika itu adalah adikmu, kamu dapat beralih pihak kepada musuh dan melawannya.


Tapi... bagaimana jika itu adalah darah dagingmu sendiri?


Apakah kau benar-benar dapat membuatnya berada dalam bahaya, Sieg?


...----------------...