I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 119 : Kelahiran



Tahun 1237, 5 Maret.


Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Siang Hari.


Kegelisahan menyelimuti suasana kastil yang menjulang megah di tengah Kota Ereth. Para pelayan, pejabat, dan bahkan perwira militer berlarian untuk mengamankan suasana lingkungan kastil agar tetap tenang serta mempersiapkan kelahiran istri Tuan mereka sekaligus mantan Putri Kerajaan Rowling tersebut.


Pengamanan sangat ketat. Beberapa ksatria elit telah disiagakan di lingkungan kastil, pun tidak berbeda dengan suasana kota yang memiliki unit-unit prajurit yang berpatroli di seluruh kota, yang menyebabkan para penduduk Kota Ereth sedikit terintimidasi dan memiliki tanda tanya besar mengenai sesuatu yang saat ini sedang terjadi.


Tentu, tidak ada diantara para prajurit yang menjawab jika mendapatkan pertanyaan dari para penduduk. Bagi mereka, kelahiran seorang pewaris menandakan keamanan Wilayah Rueter secara keseluruhan.


Tidak hanya hal tersebut, beberapa anggota Klan Cornwall telah bersiaga penuh di dalam kota, mewaspadai sosok-sosok mencurigakan yang dapat membahayakan keselamatan Excel.


Meskipun begitu, tidak ada diantara mereka yang mengalami kepanikan. Para pelayan serta tabib wanita pribadi House of Rueter tentu telah memiliki pengalaman dengan prosesi kelahiran selir dan para gundik Tuan mereka. Tetap saja, tidak ada yang tidak khawatir mengenai keselamatan Excel serta pewaris House of Rueter yang akan terlahir.


Tidak hanya Esther dan Milly, bahkan Renne serta beberapa ksatria lain sedang menunggu di depan suatu pintu kembar berwarna putih dengan tenang.


Tidak hanya air panas dan kain basah yang telah disiapkan, bahkan semenjak kelahiran Nina, putri Ares dengan Sena, Ares telah memerintahkan penggunaan alkohol murni berkadar 7 banding 3 dengan air sebagai cairan yang digunakan untuk sterilisasi alat-alat medis.


Sudah beberapa saat berlalu, Excel mengalami rasa sakit yang luar biasa. Kedua tangannya menggenggam erat pegangan ranjangnya, ekspresinya terlihat penuh penderitaan.


Napasnya terengah-engah, kedua mata Excel pun tertutup seolah menahan rasa sakit. Pun tidak berbeda dengan dirinya yang menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan rasa sakit.


Para tabib dan pelayan menyemangati Excel, harapan besar agar bayi tersebut dapat segera terlahir.


Tidak berbeda dengan para tabib dan pelayan, kelegaan perlahan terlukis di atas wajah Excel. Terdapat rasa penuh syukur karena anaknya yang perlahan terlahir.


Meskipun Excel tahu jika suaminya sedang mempertaruhkan nyawa demi dendam ibunya, meskipun Excel juga memahami jika Ares sebenarnya benar-benar ingin duduk di sampingnya, perasaan tidak nyaman menyelimuti hati Excel karena menginginkan agar Ares berada di sampingnya sembari menyemangatinya.


"Hah... hah..." Napas Excel tersengal-sengal.


"Nyonya! Laki-laki!" ujar seorang tabib wanita yang menggendong bayi di atas kedua tangannya dengan nada penuh kebahagiaan.


Kedua mata Excel dengan lemah melirik seorang bayi mungil yang telah berada dalam gendongan tabib wanita. Mendengar isak tangis seorang bayi yang seketika memenuhi ruangan, Excel tersenyum penuh kebahagiaan.


Tanpa sadar, kedua sudut matanya meneteskan air mata. Besar kebahagiaan menyelimuti hatinya karena dirinya telah menjadi seorang ibu dan sekali lagi dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga, yang sangat hatinya rindukan sejak ibunya telah tiada.


Dalam lirikannya, Excel melihat perutnya yang masih memiliki sebuah gundukan kecil. Tidak hanya para tabib dan pelayan, Excel seketika mengetahui jika dirinya selama ini telah mengandung sepasang bayi kembar.


"Akh." Sekali lagi Excel mengejan, kedua tangannya pun segera meraih kembali pegangan kayu ranjangnya.


Beberapa tabib lain segera bersiap dengan para pelayan, meninggalkan seorang tabib wanita yang menggendong bayi laki-laki tersebut untuk menjauh.


"Hah... hah... heghh..." Excel merasakan beban berat pada kelahiran anaknya yang kedua. Napasnya semakin tersengal, remasan kedua tangannya pada pegangan ranjang juga semakin terasa kuat.


"Nyonya, harap bertahanlah..." Tabib melihat proses kelahiran dengan penuh kekhawatiran.


"Ukh..." Excel tidak lagi mengetahui berapa kali dia telah mengeluarkan erangan karena rasa sakit yang dialaminya.


Excel berjuang keras. Menekan gigi pada sisi atas dan bawah di dalam mulutnya untuk tetap terhubung, Excel benar-benar mengharapkan rasa sakitnya sedikit mereda.


Tidak dapat dibandingkan dengan terluka akibat tersayat oleh bilah pedang. Excel sangat menyetujui hal tersebut.


Waktu perlahan mengalir, tidak ada diantara para tabib dan pelayan yang tidak khawatir dengan kondisi Excel yang melahirkan sangat lama. Sekujur tubuhnya telah basah oleh keringat, kekuatannya benar-benar menjaganya untuk tetap sadarkan diri.


Jika Ares melihat statistik yang dimiliki Excel, tentu dia akan sangat khawatir dan berlarian ke segala tempat demi memperkuat kondisi fisik istrinya tersebut.


"Tolong... pedangku..." Excel berkata lemah dengan ekspresi sulit di atas wajahnya.


Para tabib dan pelayan seketika mengerutkan kening. Muncul sebuah tanda tanya besar terhadap perkataan Excel yang sangat tidak wajar di tengah dirinya yang sedang melahirkan.


Seorang pelayan senior mengangguk ringan, tatapannya pun terlihat serius. Baginya, apapun yang diinginkan Excel, selama tidak membahayakan dirinya, para pelayan tentu akan mematuhi perintahnya.


Perintah tersebut diterima oleh pelayan di dekatnya dalam diam. Perlahan melangkah, pelayan tersebut segera mengambil sebuah pedang berwarna hitam yang pegangannya memiliki kain hitam yang melilit padanya.


"Terima... kasi—akh..." Excel menerima pedang tersebut dengan lemah.


"Baik, Nyonya..." timpal pelayan tersebut penuh kekhawatiran.


Beberapa pelayan datang mendekat, walau tidak terlalu berada di dekat Excel. Berjaga-jaga agar Excel tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan diri dan bayinya yang akan terlahir.


Perlahan, lilitan kain pada pegangannya pun terlepas. Excel dengan cepat menggenggam pegangan tersebut.


Sebuah kekuatan asing terasa mengalir masuk. Excel masih memiliki tanda tanya besar dengan kondisi yang menurutnya sangat aneh tersebut.


Tetap saja, kebahagiaan, rasa syukur, serta kelegaan besar menyelimuti hatinya. Excel benar-benar merasa beruntung dirinya telah dipertemukan dengan suaminya, yang berjanji akan selalu bersamanya.


Tidak memiliki seseorang yang dapat menahan punggungnya, Excel benar-benar ingin segera merasakan kehangatan keluarga kecilnya dengan dua anaknya.


Kekuatannya pulih seperti disaat dia melahirkan putranya, Excel merasa cukup hanya dengan hal tersebut.


"Nyonya... sedikit lagi..." ujar tabib wanita yang berada tepat di hadapan kepala bayi yang telah keluar.


"Mohon bertahanlah, Nyonya..." ujar pelayan di samping Excel penuh kekhawatiran.


"Eghh..." Semakin mengejan, Excel meremas kuat pegangan Ruberion Sword serta pegangan kayu ranjangnya.


Ekspresi penuh kebahagiaan segera nampak pada para tabib dan pelayan. Sekali lagi, Excel telah melahirkan bayi keduanya dengan selamat.


"Nyonya! Kali ini perempuan!" ujar tabib wanita dengan penuh kebahagiaan.


Mendengar isak tangis dengan nada yang berbeda, Excel kembali tersenyum penuh kebahagiaan.


Ada perasaan bila kesadarannya akan segera menghilang. Pun tidak berbeda dengan genggaman tangannya yang telah melepaskan pedang di sampingnya. Excel benar-benar menginginkan bila setidaknya dia dapat melihat kedua anaknya dengan mata kepalanya sendiri sebelum dia jatuh pingsan.


"Aku... ingin... melihat..." Kata-kata Excel terdengar semakin lemah.


Para tabib dan pelayan, yang telah membersihkan kedua bayi tersebut dengan air hangat dan menyelimutinya, seketika bergerak cepat untuk membaringkan keduanya tepat di samping Excel.


Pandangannya perlahan semakin kabur, sebuah senyuman kebahagiaan pun sekali lagi tampak di atas wajah Excel. Tanpa sadar, setetes air mata kebahagiaan terjatuh sebelum kesadaran Excel memudar.


Meskipun banyak orang mungkin akan membenci keberadaan kalian...


Meskipun seisi dunia mungkin akan menjadi musuh kalian...


Jangan khawatir...


Ibu dan ayah akan selalu menyayangi kalian.


...----------------...