I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 69 : Pertemuan Aristokrat? Beri Informasinya!



Tahun 1236, 1 Juli.


Istana Kerajaan, Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Malam Hari.


Imut.


Hal tersebut seketika terlintas di dalam benak Ares saat melihat tunangannya yang memiliki wajah memerah.


Berjalan perlahan hingga tiba di tengah aula, Ares segera merapatkan tubuhnya untuk bersinggungan dengan tubuh Excel sembari menggenggam kedua telapak tangannya.


Kedua wajah pasangan tersebut menjadi sangat dekat, yang bahkan seseorang dapat mengira mereka berciuman apabila dilihat dari belakang tubuh salah satu dari mereka.


"Eh?! A—apa yang kamu lakukan, Ares?!" ujar Excel yang wajahnya sangat merah.


"Nah, nikmati saja dan ikuti gerakanku," timpal Ares yang tersenyum hangat.


"Eh?" balas Excel kebingungan.


Sedikit merenggangkan tubuhnya, Ares membawa tangan kanan Excel—yang digenggam dengan tangan kirinya—ke samping dengan sedikit mengangkatnya sembari menyentuh punggung Excel dengan tangannya yang lain.


"Sentuh bahu kananku dengan telapak tangan kirimu," bimbing Ares.


"Um..." timpal Excel mengikutinya.


Ares segera merenggangkan kedua kakinya lalu membawa kedua kaki tunangannya untuk melangkah ringan dan kembali. Menikmati alunan musik yang bertempo rendah, mereka secara perlahan bergerak ringan yang bahkan membuat para bangsawan di sekitarnya kebingungan.


"Lembut dan ringankan langkahmu agar terlihat seperti melayang," bimbing Ares.


Gerakan Ares—yang terasa asing baginya—perlahan diikuti oleh kedua kaki Excel dengan melangkah mundur membentuk suatu langkah segitiga dan kembali.


Perlahan, Excel mempelajari bimbingan dansa. Langkah kaki kanannya mundur dan diikuti oleh kaki kirinya melangkah yang segera dirapatkan. Mengikuti alur yang sama untuk melangkah maju, perlahan gerakan Excel semakin terlihat nyaman.


Tatapan kedua matanya sesekali melirik para bangsawan di sekitar, Excel sedikit resah karena gerakan kedua kaki mereka yang sangat berbeda dengan bangsawan di sekitarnya.


"Tidak apa-apa, cobalah untuk menikmati perbedaan ini," ujar Ares.


Nadanya menenangkan, perasaannya sedikit tertahan akibat perkataan tunangannya.


Beberapa saat merasakan Excel yang telah terbiasa, Ares berkata, "Nah, ikuti langkah kakiku setelah ini."


Serius, pandangannya sangat fokus untuk melirik kedua kaki tunangannya yang membuat Ares tersenyum masam.


Langkah kaki kiri Ares menapak miring. Kening Excel sedikit berkerut karena kebingungan, ia pun menapakkan kaki kanannya mengikuti kaki kiri Ares dengan sedikit keterlambatan.


Alunan musik bertempo lambat, membuat Excel nyaman setelah beberapa kali melakukannya hingga mereka berputar secara sempurna. Para bangsawan di sekitar sedikit kagum, beberapa pasangan mulai meniru langkah kaki Ares dan Excel.


Sedikit sebal akibat beberapa pasangan yang menirunya, Ares segera tersenyum dan berkata, "Baik, aku akan memutarmu."


"Eh?" timpal Excel.


Melepas tangan kirinya dan mengangkat tangan kanannya—yang menggenggam telapak tangan kiri Excel—sangat tinggi, Ares memutar tubuh tunangannya dengan tanda yang diberikannya melalui tangan kanannya dan segera mengambil kembali tangan Excel yang telah dilepaskannya.


Sedikit terkejut, Excel mememukan dansa ini sangat menyenangkan baginya. Tersenyum ceria, Excel berkata dengan lirih, "Lakukan lagi!"


"Eh, tidak," timpal Ares.


"Hah?!" balas Excel sedikit sebal.


"Aku akan menjatuhkanmu," timpal Ares dengan tersenyum kecut.


"Eh?" timpal Excel.


Telapak tangan yang menahan tubuhnya seketika menghilang, Ares segera menarik tangan kanannya ke atas dan mendorong perutnya sehingga tubuh bagian atas Excel terdorong mundur hingga hampir terjatuh.


Kepanikan melanda perasaan Excel, namun itu segera pupus karena punggungnya yang merasakan tangan Ares kembali menahan tubuhnya.


Mengembalikan posisi tubuhnya seperti sedia kala sembari melakukan langkah dansa mereka, Ares bertanya lirih, "Bagaimana?" sembari memasang senyuman kecut.


Menggelembungkan kedua pipinya yang memerah, Excel berkata dengan lirih, "Muuu."


Namun, Excel menyadari bahwa gerakan tersebut sangat menarik yang membuat wajahnya sekali lagi merona.


Kekaguman melanda para bangsawan yang sedang berdansa dan menonton. Seolah kebanggaan mereka sedang diuji, banyak dari pasangan segera mempelajari dengan mengikuti gerakan Ares.


Tetap saja, terdapat beberapa kesalahan dari beberapa pasangan yang membuat Ares tersenyum kecut.


Lirikan kedua matanya tertuju pada Lucas dan Zee. Tentu saja, harga diri mereka akan terinjak-injak apabila mereka juga tidak dapat menari seperti Ares yang menyebabkan mereka berdua meniru dansa Ares bersama pasangannya.


"Fufufu," Excel terkikik kecil.


Meskipun telah menebaknya, Ares bertanya disaat dirinya memasang senyuman masam, "Ada apa?"


"Begitu," timpal Ares.


Irama musik melambat yang menunjukkan alunan akan berhenti. Dengan gerakan penutup, Ares segera mengakhirinya dengan ciamik disaat alunan musik akan berhenti.


Saling tersenyum dan menatap penuh kepercayaan. Kebanggaan diri telah mengalahkan dan mempermalukan bangsawan lain—meskipun hanya dalam medan perang dansa, sangat membuat Excel sangat ceria.


"Aku—" ujar Ares.


Jari telunjuk segera menutup bibir Ares. Tersenyum lembut, Excel berkata, "Aku tahu."


"Apakah tidak apa-apa?" tanya Ares sedikit khawatir.


"Bukankah kamu sudah berjanji?" tanya Excel kembali dengan tersenyum.


"Begitu..." jawab Ares.


Excel mengetahui jika Ares diharuskan untuk menjemput tangan wanita lain untuk menjaga hubungan mereka dengan faksi lain tetap netral. Melihat gerakan politik tunangannya yang tetap berada di bawah selama beberapa hari terakhir dan tidak membuat pernyataan yang cukup berani, Excel mengetahui bila tunangannya ingin berada dalam posisi yang aman untuk saat ini.


Tentu saja, tidak ada pria yang akan menjemput Excel karena gerakan terlampau indah yang baru saja dilakukannya, selain dari dirinya yang selama ini menjadi objek yang ingin dihindari.


"Maaf... aku akan kembali kepadamu setelah ini," ujar Ares saat melepaskan tangan tunangannya.


"Baik," timpal Excel lalu berbalik pergi untuk menepi.


Langkah ringan yang dilakukannya saat mendekati target—yang baru saja berdansa dengan Sang Pangeran dan telah ditinggal pergi—membuat banyak wanita di sekitarnya sedikit mengalami kekecewaan. Tentu, tidak ada wanita yang tidak ingin bimbingan dansa secara langsung dari Ares.


Dengan membungkukkan ringan tubuhnya, Ares memunculkan senyuman lalu mengulurkan tangan kanannya sembari bertanya, "Apakah Anda sedang sendirian, Nona?"


Meskipun baru saja mendapat ancaman bahwa dirinya akan disiksa setelah pertemuan aristokrat berlangsung, Lucy tetap menampilkan senyuman tulus di wajahnya. Menggapai uluran tangan Ares sembari tersenyum, Lucy berkata, "Mohon untuk membimbing saya, Tuan Margrave."


"Baik," timpal Ares.


Mereka berdua segera pergi menuju tengah aula dengan berpegangan tangan yang terlihat anggun.


Lagu perlahan mulai bersenandung kembali. Tetap menggunakan alunan musik tempo lambat, Ares berkata, "Mohon ikuti petunjuk saya, Nona."


"Baik," timpal Lucy.


Ares melakukan hal yang sama kepada Lucy pada awal dansa. Merasa bahwa gadis di depannya telah dapat mengikuti ritme musik dan langkahnya, Ares bertanya dengan lirih, "Seberapa besar pengaruhmu di dalam faksi?"


Sejenak tatapan matanya menunjukkan kesedihan. Kembali tersenyum, Lucy berkata lirih dengan acuh tak acuh, "Boneka."


Kamu... sudah rusak, bukan?


Kerutan kecil terbentuk di kening Ares, ia pun berkata dengan lirih, "Di masa depan, aku akan mengirimkan seseorang untuk berkomunikasi denganmu. Juga, berapa banyak yang kamu ketahui?"


"Jika itu secara garis besar, banyak hal yang aku ketahui," timpal Lucy.


"Tidak masalah," balas Ares.


Ares—yang tentu saja mengerti tabiat dan rencana busuk seorang bangsawan—dapat menebak dengan sangat akurat tujuan dan langkah strategi mereka dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun ke depan.


Tarian mereka menjadi sangat ciamik—yang mana Lucy benar-benar menyerahkan kendali seluruh gerak tubuhnya pada pria di depannya.


"Dalam satu tahun ke depan, aku hanya mengetahui mereka bermaksud untuk mengumpulkan makanan. Aku juga mengetahui bahwa para bangsawan faksi sedang merencanakan untuk membakar lumbung beberapa desa, namun aku tidak mengetahui secara spesifik desa yang akan dibaka—" ujar Lucy lirih.


"Aku akan memutarmu," sela Ares lirih.


Mengangkat tangan kanannya yang menggenggam tangan kiri Lucy sangat tinggi, Ares segera memutar tubuhnya dan sekali lagi menggenggam tangan yang dilepaskannya sebelumnya.


Mendengar perkataan Lucy, Ares segera mengetahui bahwa faksi Zee berniat untuk membuat ibukota kerajaan kekurangan makanan sehingga faksi istana dapat berhutang budi kepada mereka. Secara geografis, letak Wilayah Alein lebih dekat dengan Ibukota Lombart dibandingkan dengan wilayah duke lain.


Karenanya, mereka dapat memutus pasokan makanan menuju ibukota dari wilayah asal bangsawan faksi istana dengan mengirimkan bandit—dalam arti tertentu tentara yang menyamar—atau pencuri sehingga mereka hanya dapat bergantung kepada Duke Alein.


"Untuk jangka panjang, bangsawan faksi berniat untuk merebut wilayahmu... yang aku tidak tahu waktu akan terjadinya hal itu," timpal Lucy.


"Begitu, terima kasih. Aku akan membantumu sebanyak yang aku bisa," balas Ares.


Nada yang menunjukkan penyesalan yang sangat dalam. Meskipun Lucy meminta bantuan Ares, namun dirinya tidak sepenuhnya dapat mempercayai Ares dapat melakukannya, yang baginya hanyalah sebuah harapan kosong.


Lucy tahu, kehancuran dirinya yang pasti akan terjadi di masa depan. Meskipun begitu, dia menyerahkan harapannya kepada satu-satunya pria yang mengulurkan tangan kepadanya—walaupun dia tahu bahwa dirinya hanya dimanfaatkan.


Setetes air mata samar terjatuh. Melihat pria di depannya yang tersenyum lembut kepadanya—yang mana Ares berniat untuk menenangkan Lucy—setitik kecil perasaan bahagia pun muncul jauh di dalam lubuk hatinya.


Meskipun aku tahu bahwa apa yang kulakukan tidaklah cukup untuk membalasmu...


Meskipun aku juga tahu bahwa aku tidak dapat bersamamu untuk membalas kebaikanmu...


Tetap saja... terima kasih karena telah menjadi satu-satunya penyelamatku.


...----------------...